
Yola tak menyangka kalau perkataanya pada Sonia yang menyinggung Mr. Y saat memperkenalkan Yuri akan membuat reaksi tak terduga pada Sonia.
Sonia langsung geleng-geleng kepala dan dengan histeris mencoba memberontak. Tangannya yang lemah tadi tiba-tiba entah dari mana punya kekuatan menggebrak meja dan menggerak-gerakkan badannya ke kanan dan ke kiri seakan ingin melepaskan diri.
Situasi itu sontak membuat yang lain bingung. Sonia menghentak-hentakkan kakinya pada pijakan kursi roda, juga menarik taplak meja makan tak kalah dramatis, membuat beberapa piring dan mangkok berjatuhan hingga berpecahan setelah terjun bebas ke atas lantai. Sonia menangis terkadang juga meraung. Ya, dia merasa di fase hendak gila saat ini.
Bagaimana mungkin di saat tubuhnya fit dan baik-baik saja selama ini, sekarang seperti barang rongsokan yang tak ada gunanya. Di saat dia sudah bercerai dengan Ilham, harusnya saat ini jika bukan karena pria itu, dia masih bisa menegakkan kepalanya, berlagak bersikap sombong seolah dia tegar, namun yang terjadi saat ini malah sebaliknya. Dia malah menjadi parasit di dalam keluarga Nirwan. Dia juga harus kuat hati menyaksikan mantan suaminya dengan istrinya saling pamer kemesraan satu sama lain setiap harinya. Sementara dirinya dari hari ke hari hanya menjadi semakin tidak berguna. Bahkan ke toilet sendiri saja pun dia sudah tidak bisa. Sungguh menyedihkan!
Mengingat semua itu membuat Sonia mengamuk semakin menggila. Dia yakin sekali, kalau kematian Atok Yahya di hari itu pastilah ada kaitannya dengan perempuan di depannya itu. Sonia menjadi semakin takut, dia menggapai-gapai apa saja yang ada di dekatnya. Sementara Yuri hanya bisa terkesima.
"Ilham!! Ape hal ni?" Mamah Zubaedah tiba-tiba datang setelah mendengar keributan yang terjadi di ruang makan. Tak ketinggalan asisten rumah tangga yang lain.
"Ck!" Ilham berdecak, terkesan menyalahkan Yola.
Yola sendiri tak menyangka kalau eksperimen yang coba dia lakukan ternyata berdampak sampai seperti ini. Padahal awalnya dia hanya coba-coba mengetes, apakah Yuri dan Sonia telah saling kenal sebelumnya.
"Sonia, Sonia ..." Ilham berusaha menenangkan Sonia.
Kali ini Ilham tak bisa mengelak lagi menghindari mantan istrinya itu.
"Hey, tenanglah! Ada aku di sini, Sonia! Ada aku, Ilham! Cuba tengok!" bujuk Ilham.
Tetapi tidak semudah itu membujuk Sonia, wanita itu tetap memberontak. Hingga akhirnya Ilham berinisiatif memberikan pelukan padanya.
"Hey, tenanglah. Tenang, Sonia!! Ini aku Ilham!" bujuk Ilham lagi.
Sonia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Ilham, namun sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk berontak. Tenaga yang tadi entah dari mana datangnya tiba-tiba kini hilang kembali entah kemana.
__ADS_1
Yola tercengang melihatnya. Begitu sangat berpengaruhnya Ilham bagi Sonia. Hanya dengan sebuah pelukan dari pria tercinta bisa membuat Sonia kembali tenang seperti sebelumnya. Dan itu membuat Yola semakin sadar betapa kedua orang itu memang pernah dekat sebelumnya.
Ilham melepaskan pelukannya, setelah tangis wanita yang pernah jadi istrinya itu mereda.
"Makcik, tolong bersihkan semua kekacauan ni," perintah Ilham sambil menunjuk beberapa piring, mangkok dan gelas yang kini tak berbentuk lagi di atas lantai. "Aku hantar Sonia ke bilik dahulu."
Lalu Ilham pun tak lagi memikirkan apa pun lagi, apakah itu mungkin akan menyakiti Yola atau tidak. Yang dia tahu saat ini Sonia merasa terancam karena orang lain yang berada di situ. Dan hampir bisa dikatakan 99,9% yang membuat dia histeris seperti ini penyebabnya adalah Yuri. Dan lelaki itu segera mendorong kursi roda Sonia menuju ke kamarnya, meninggalkan Yola dan Mamah yang masih terpaku melihat kekacauan yang berada di depan mereka.
"Yola, ape hal ni? Mengapa Sonia jadi macam tu?" tanya Zubaedah khawatir.
Tentu saja wanita yang sudah mulai mendekati usia senja itu, cemas melihat Sonia yang biasanya hanya pasrah dengan keadaannya kini berontak dan terlihat histeris itu. Sonia yang kondisinya seperti ini saja sudah sangat membuatnya was-was. Zubaedah khawatir kalau-kalau kondisi kesehatan Sonia semakin memburuk dari waktu ke waktu dan tak bisa tertolong lagi, tentunya Ilham dan keluarga Nirwanlah yang akan disalahkan semua pihak karena tak bisa menjaga Sonia dengan benar. Dan apakah sikap memberontak Sonia tadi pertanda kalau penyakitnya semakin parah? Sungguh mengkhawatirkan.
"Nanti aja Yola ceritakan, Mah. Yuri, maaf nih, kalau kamu nggak keberatan, kamu bisa pulang sekarang aja nggak? Aku rasa kondisi Sonia saat ini karena aku memperkenalkan kamu sebagai anak angkat Mr. Y atau Lucas. Aku sebenarnya nggak bisa menyimpulkan lebih jauh dulu. Tapi aku rasa dia takut sama kamu, Yur. Itulah sebabnya aku meminta kamu untuk pulang dulu," kata Yola mencoba memberi pengertian pada Yuri.
Yuri mengangguk. Situasi itu memang sudah t membuat dirinya ikut merasa tidak nyaman juga.
Persis seperti yang dikatakannya, Yola pun mengantar Yuri ke depan dan meminta tolong pada supir untuk mengantar Yuri hingga sampai dengan selamat ke depan rumah.
Usai mengantar Yuri, Yola pun beranjak ke kamar Sonia ingin mengetahui keadaan wanita itu. Yola tahu, Sonia tidak bersandiwara tadi. Dia benar-benar ketakutan.
"Kau usah takut. Malam ni aku akan suruh Makcik Dijah kawani kau tidur kat sini, hmm?"
Yola di ambang pintu memperhatikan Ilham yang masih berusaha memberi ketenangan pada Sonia. Hatinya merasa tersentuh melihat Ilham memperlakukan Sonia dengan lembut. Tidak, dia tidak cemburu. Bagaimana pun sebelum dia hadir dalam kehidupan suaminya bukankah kedua orang itu bersahabat? Yola hanya sedikit menyesali kenapa jalan hidup harus seperti ini. Sonia yang bodoh itu harusnya bisa hidup lebih baik. Kenapa harus memilih jalan hidup seperti kan.
"A-a ..." Sonia sepertinya kesulitan mengucapkan sesuatu.
Dia masih menangis, entah karena apa. Ilham menghapus air mata itu.
__ADS_1
"Kau takut pada Yuri?" tanya Ilham.
Sonia mengangguk.
"Il-il ... ham .. A-a ..."
"Dia sudah pergi!" kata Yola.
Yola kini masuk ke dalam kamar Sonia dan duduk di ranjang, di samping Sonia.
"Maafkan aku," ucap Yola. "Aku nggak menyangka kamu sangat ketakutan seperti itu. Apa dia pernah menyakitimu?"
Sonia tidak menjawab. Dia tidak menggubris Yola. Meski dia sudah mengikhlaskan Ilham pada Yola, tetapi dia tidak ingin beramah tamah dengan Yola. Sudah cukup dia merelakan Ilham padanya, dia tidak ingin terlihat lebih menyedihkan dari itu.
Ilham sepertinya mengerti apa yang dirasakan Sonia dan memberi kode pada Yola untuk tidak memaksa Sonia dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dia sukai. Yola pun mengangguk paham dan bersiap bangkit dari sana.
"Baiklah, aku balik ke kamar dulu kalau begitu," katanya sambil menghela napas.
"A-a ... A-a-tok ... a-tok!"
Yola dan Ilham saling pandang.
"Ape maksudmu atok, Sonia?"
***
Selamat pagi, reader kece-keceku ... tetap support autor melalui like dan koment ya ...
__ADS_1