Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Bukti Baru


__ADS_3

Kedua orang yang sedang dilanda kasmaran dan baru meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih itu, kini berjalan bersama di samping rumah. Tak ada yang bersuara. Mereka pun bingung hendak berjalan kemana. Apakah sebaiknya masuk ke dalam rumah dulu, atau lebih baik mengobrol dulu di taman bunga di belakang rumah. Ah, ruwet!


Keduanya membisu dan tak memilih larut dalam pikiran masing-masing, hingga Hafiz akhirnya berinisiatif meraih tangan putri dan menggenggamnya.


"Jadi, kite dah sah sebagai pasangan kekasih?" tanya Hafiz membuka percakapan di antara mereka kembali.


"Ihh, Hafiiiz ... nggak usah dibahas," rengek Putri.


"Kenape? Kite mesti memperjelas hubungan kite. Abang tak nak Putri ingkar kembali atas kata-kata Putri tu," kata Hafiz menghentikan langkahnya tepat di dekat pintu samping rumah itu.


"Aku malu," jawabnya lugu. Dia sepertinya memang benar-benar malu.


Hafiz tersenyum geli melihatnya.


"Kau nampak comel kalau macam tu. Abang jadi tak sabar nak ke Indo untuk meminang Putrilah," kekeh Hafiz.


"Isss ... Hafiz!" protes Putri.


"Abang, bukan Hafiz!" ralat Hafiz.


"Tau ah!"


"Biasakan panggil Abang dari sekarang supaya Putri terbiasa kalau kelak kite dah berkahwin," kata Hafiz.


"Diiih pedenya, soal itu aku belum setuju ya," cibir Putri.


"Oh macam tu? Baiklah,tapi abang rasa sejak peristiwa di bilik air ketika di rumah Yola, Putri tak akan dapat lagi berkahwin lagi kalau bukan dengan abang lah," Hafiz balas mencibir.


"Ihhh, kok nyumpahin sih! Jahat banget!" omel Putri sambil mendorong bahu Hafiz.


Pria itu menjadi tertawa tergelak melihat reaksi Putri.


"Memanglah, kalau tak percaya cuba sahaja, ape kau masih dapat berkahwin dengan orang lain," tantang Hafiz.


"Abang dah tengok pun semua," lanjutnya dengan berbisik.


Putri langsung melotot matanya mendengar godaan Hafiz itu. Dan berikutnya tak ayal dia pun menghujani pria itu dengan pukulan-pukulan tangan kecilnya.


"Ihhh, jahat banget! Ngolokin aku mulu nih orang. Udah ah, aku tarik lagi kata-kata aku yang tadi. Di cancel aja jadiannya!" tukas Putri merajuk.


Hafiz tertawa semakin kencang sehingga membuat Putri semakin sebal karenanya.


"Aku balik ke kamar aja kalau gitu," tukasnya dan buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman tangan Hafiz. Tetapi yang terjadi pria itu malah menariknya dan merangkul pundak Putri dengan tangannya.


"Dahlah tu, usah merajuk. Abang hanya bergurau je. Hehehe," Hafiz cengengesan.


Cengengesannya dibalas oleh bibir manyun Putri.


"Makanya jang ..."


Putri spontan mendorong Hafiz hingga rangkulan pria itu terlepas dari pundaknya, ketika tiba-tiba dia melihat sosok Yola yang sedang mendekat ke arah pintu samping rumah untuk mencari mereka.


"Hafiz? Kamu disini? Aku nyariin kamu loh sejak tadi. Putri juga disini?" tanya Yola penuh selidik dan curiga.


Hafiz dan Putri sama-sama memalingkan wajah mereka ke arah yang berlawanan. Tertangkap basah sama Yola! Greget!


"Kamu cari aku ada ape?" tanya Hafiz untuk mengalihkan perhatian Yola yang nampaknya mulai mencium bau-bau asmara di antara dia dan Yuri.


Yola tak langsung menjawab. Pokoknya dia tetap curiga pada Hafiz dan Putri. Dia memang tak sempat melihatnya dengan jelas, tetapi kalau dia tidak salah sepertinya kedua orang itu seperti saling melepaskan diri antara satu dengan yang lain tadi. Astaga, apakah mereka berdua berpelukan tadi? Pikiran kotor mulai menghinggapi Yola. Apakah Hafiz dan Putri sudah resmi berpacaran?


"Yola?"


"Ahh, aku tadi mau minta pendapatmu bagaimana sebaiknya membawa Sonia ke Penang. Perjalanan darat atau udara? Menurutmu kami seharusnya ke sana pakai transportasi apa?" Pertanyaan itu lolos bertubi-tubi begitu saja pada Hafiz.


Sebelum Hafiz benar-benar menjawab pertanyaan Yola, Putri menyela untuk pamit dari situ.

__ADS_1


"Eh, aku ke dalam dulu ya?" pamitnya canggung.


"Eh, kok ...?" Yola belum selesai bicara, gadis itu sudah ngacir duluan masuk ke dalam rumah.


Itu membuat Yola memandang Hafiz dengan tatapan memicing.


"Hafiz? Bisa kamu jelaskan?"


"Jelaskan ape? Kamu yang mesti jelaskan pasal Sonia tadi. Kamu nak cakap ape?" tanyanya untuk mengalihkan perhatian Yola.


Yola tercenung, bingung hendak lanjut mengorek tentang hubungan Hafiz dan Putriz dulu atau lanjut menanyakan pendapat Hafiz tentang rencana mereka membawa Sonia berobat. Lalu kemudian Yola memutuskan untuk membahas masalah Sonia dulu. Itu lebih penting.


"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Yola setelah dia mengulangi pertanyaan tentang bagaimana baiknya membawa Sonia ke Penang.


Hafiz berpikir sejenak sebelum kemudian dia mengemukakan pendapatnya.


"Kalau menurut pemikiran aku, kalau memang kau memaksa untuk tetap ikut tetapi kau risau takut doktor tak memperbolehkan kau naik plane, macam mana kalau naik kereta sahaja? Atau ETS?"


Electric Train ServiceĀ atau yang biasa disingkat ETS merupakan layanan kereta api tanpa lokomotif dan digerakkan oleh tenaga listrik.


"Mobil? Kereta api?" Yola bertanya memperjelas kata-kata Hafiz.


"Train lah, bukan kereta api. Kalau kat cakap macam tu kat sini orang akan menyangka mobilnya ada api, hahaha," kekeh Hafiz.


"Ih, Ndut! Serius nih!" gerutu Yola.


Perbedaan bahasa Indonesia-Malaysia, memang acap kali membuat mereka saling meledek satu sama lain. Tetapi tentu saja dalam konteks yang wajar, bukan untuk saling merendahkan satu dengan yang lain.


"Iya, iya, sorry. Sampai mana tadi?"


"Jadi menurutmu, kalau aku ikut baiknya naik apa? Pesawat? Train atau mobil?" tanya Yola.


Hafiz berpikir sejenak.


"Dengan plane hanya perlu waktu 50 minit sampai ke sana. Jika dengan kereta perlu 6 jam, sementara jika menggunakan train memerlukan waktu selama 4 jam sahaja. Jika membawa Sonia tentu lebih baik membawa kereta. Tetapi perjalanan akan sedikit lama. Dengan plane lebih lekas sampa,i tetapi kau sendiri belum tahu doktor akan memberi ijin atau tidak," kata Hafiz mengemukakan pendapatnya.


Hafiz ikut berpikir.


"Entahlah, aku belum pernah lihat orang sakit macam dia dibawa bepergian dengan ETS.Jika di plane mesti ade flight attendent (pramugari) yang akan menolong penumpang sakit jika hendak ke tandas ke, nak tolong turun ke. Kalau kat train sepertinya tak ade macam tu. Jadi kite nak urus sendiri. Belum lagi dengan dia punya kerusi roda (kursi roda). Aku ragu bagasi kat ETS tak dapat menampung kerusi roda tu," kata Hafiz dengan kening mengerut karena berpikir.


"Masa kursi roda aja nggak muat di bagasinya?" tanya Yola.


Sepertinya Yola tertarik bepergian dengan kereta api elektrik itu. Dia pernah menumpanginya saat di Amerika dulu.


Hafiz mengingat-ingat lagi bagasi di kereta api elektrik yang sudah lama tidak pernah ditumpanginya itu. Terakhir kali sudah tahunan lalu dia pergi ke Penang dengan mengenderai ETS. Dia sudah tidak ingat lagi suasana di dalam gerbong kereta itu. Seingatnya bagasi hanya tempat menyimpan hand bag di atas kursi penumpang.


"Kerusi roda Sonia sebesar ape?" tanyanya polos. Dia ingin mengira-ngira ukuran dan bentuknya, apa kira-kira memungkinkan untuk dibawa ke dalam kereta.


"Emm, ya seukuran kursi roda biasanya lah, Ndut? Memang mau sebesar apa lagi? Kan bisa dilipat?" jawab Yola.


Jawaban Yola itu kelihatannya tak serta merta membuat Hafiz puas. Dia harus melihatnya sendiri.


"Jom, aku tengok dahulu sebesar ape kerusi roda tu kalau dilipat. Habis tu, kire-kire perjalanan 4 jam dia tak penat ke dalam train macam tu? Kerusi dalam train tak dapat dibuat miring agaknya, kalau aku tak salah ingat. Dia mesti duduk tegak selama 4 jam," kata Hafiz lagi.


Hafiz kini berjalan masuk ke dalam rumah, diiringi Yola di belakangnya.


"Masa sih, Ndut? Perasaanku lihat di tv-tv kursinya empuk-empuk kok. Nyaman-nyaman aja," sangkal Yola.


"Entahlah. Aku lupa. Tetapi yang menjadi persoalan adalah kerusi roda Sonia nanti. Lepas tu macam mana kalau dia nak ke tandas?" lanjut Hafiz lagi.


"Pakai diaperslah biar nggak ke WC terus. Ahhh, begitu aja kamu pusingin. Dia kemarin sama Leon pas berobat, fine-fine aja kok. Leon nggak ngeluh tuh," tukas Yola lagi.


Kini Yola jadi kepikiran juga, bagaimana cara Leon membawa dan mengurus Sonia waktu berobat saat itu. Ah, harusnya dia bertanya pada Leon, bukan pada Hafiz yang bukannya memberi saran yang membuat dia terbantu, tapi sebaliknya malah membuat dia bingung.


Mereka sampai di depan pintu kamar Sonia saat ini. Hafiz langsung membuka pintu kamar itu dan mencari-cari kursi roda Sonia yang berada di sisi ranjang sebelah sana. Yola mengikuti.

__ADS_1


"Nah, itu kursi rodanya!" tunjuk Yola pada Hafiz yang justru sedang berusaha melipat benda itu.


Sonia sendiri yang sedang berbaring di ranjang, hanya melihat kedua orang itu dengan bola matanya.


"Hai, Kakak Sonia! Gimana kabarmu hari ini? Merasa lebih baik?" sapa Yola, sembari menunggu Hafiz yang masih sibuk dengan kursi roda Sonia.


Sonia mengangguk. Tentu dia sedang tidak sehat, tetapi dijelaskan pun akan terasa sulit. Berkomunikasi ringan saja merupakan hal yang tidak mudah baginya saat ini, apalagi menjelaskan betapa tidak enaknya kondisi tubuhnya. Sekarang dia merasa tangan dan kakinya sering terasa keram, seperti mati rasa. Lidahnya kaku, liurnya terasa pahit. Bagaimana cara menjelaskan semua itu? Satu-satunya yang bisa dia lakukan saat ini adalah mengangguk, mengiyakan saja mesti keadaan sebenarnya tak sama dengan yang dilihat orang-orang.


"Oh, syukurlah kalau sudah merasa lebih baik. Beberapa hari lagi kita akan ke Penang ya. Kakak harus berobat di sana. Aku dan abang sendiri yang akan mengantar. Tetapi mungkin kami tidak akan bisa lama menemani di sana, soalnya kami juga mesti mengurus N-one juga di sini. Tetapi jangan khawatir. Di Penang banyak keluar kita, maksudku keluarga Atok dan abang yang akan ikut mengurusmu di sana selain perawat tentunya. Mau ya?" Yola mengelus-elus pundak Sonia.


Sonia mendongak menatap Yola yang berdiri di sampingnya. Berobat? Dia sungguh-sungguh dengan ucapannya semalam? Cepat sekali ...


"Sebelum kita pergi, nanti aku dan abang juga akan meminta ijin dulu ke rumahmu untuk memberitahu mamanya kakak Sonia kalau kami akan membawamu berobat," imbuh Yola lagi.


Sonia terdiam. Mengingat sang Mama yang keras kepala tak mau menerima dia sebelum dia sembuh seperti sedia kala sontak membuat Sonia merasa sedih.


Yola duduk di ranjang dan menyugar rambut Sonia yang pagi nampaknya lebih bersih dan segar. Sepertinya ART yang diperingatkannya tadi malam sudah menuruti perintahnya untuk lebih memperhatikan kebersihan Sonia. Buktinya mereka telah mengeramas rambutnya hari ini. Yola sempat merasa senang sebelum dia melihat kuku Sonia yang masih dipanjang dan belum dipotong.


"Ya Tuhan, mereka belum memotong kukumu?" tanya Yola sambil memperhatikan kuku panjang di jari-jari tangan yang kurus itu lekat-lekat.


Sonia menggeleng lemah. Dia tidak peduli akan hal itu.


"Tunggu sebentar, biar aku aja yang potong kalau begitu. Aku ambil gunting kukunya dulu," kata Yola sembari berdiri dan keluar dari kamar untuk mencari gunting kuku


Sepanjang Yola pergi, Sonia memperhatikan Hafiz yang kini telah menyetel kembali kursi roda itu ke setelan siap pakai, setelah mengukur-ngukur bisa tidaknya kursi roda itu di taruh di bagasi ETS atau tidak.


Hafiz tak mengatakan apa pun soal kursi roda itu. Dia hanya mengerucutkan bibirnya, kemudian mengangguk-angguk paham.


Sesaat Yola kembali dari mengambil gunting kuku di luar. Dia langsung duduk di samping ranjang dan meraih tangan Sonia. Bak kakak sendiri dia mulai memotong kuku-kuku panjanng Sonia yang sebagian menghitam entah kotoran dari mana.


"Kakak ipar aku baik, kan?" celoteh Hafiz yang ditujukan pada Sonia. "Ups, maaf. Saye lupa kau pun ex kakak ipar juga."


Hafiz terkekeh mengatakan itu, membuat Yola memasang mata melotot pada pria itu.


"Hafiizzz!" tegur Yola pada sang adik ipar yang juga adalah mantan tunangannya itu.


Dia tak setuju dengan tindakan Hafiz mengungkit-ungkit hal itu. Dia sudah sepakat berdamai dengan masa lalu. Untuk hidup yang lebih tenang tentunya.


Sementara itu Sonia langsung memasang ekspresi sebal sekaligus sedih akan kata-kata Hafiz.


"Jangan dengarkan dia. Si Ndut memang gitu orangnya," kata Yola menghibur Sonia.


Hafiz hanya tertawa kecil dipelototi begitu oleh Yola. Tak menghiraukan perasaan Sonia tentunya. Kini dia berjalan ke arah jendela kamar Sonia. Jendela yang katanya disinilah Sonia melihat Yuri hari itu.


"Jadi kau tengok Yuri ade kat jendela sini?" tanya Hafiz, kini menoleh pada Sonia lagi.


Sonia tak menjawab. Dia enggan berkomunikasi dengan Hafiz, pria menyebalkan yang dulu pernah jadi adik iparnya.


Hafiz melompat keluar dari jendela. Jendela itu memang tak berjeruji. Hanya jendela kaca berbingkai kayu yang lebar, khas jendela rumah orang jaman dulu. Semua jendela di rumah ini modelnya sama.


"Kau tengok dia macam ni? Atau macam ni?" Hafiz mempraktekkan kepalanya dalam berbagai posisi saat memunculkan kepalanya di jendela.


Namun Sonia masih tak bergeming. Malas meladeni Hafiz.


Tetapi kemudian saat Hafiz hendak naik lagi ke jendela, Hafiz baru saja sadar akan sesuatu. Ada bekas jejak sepatu bertanah yang memudar di tembok bawah jendela kamar Sonia. Hafiz memperhatikannya dengan teliti. Dari ukurannya dia yakin itu bukan jejak kaki lelaki dewasa. Mungkin wanita?


Pikirannya melayang pada Yuri. Mungkinkah itu memang dia? Sebab di rumah ini tak akan ada orang yang iseng memanjat jendela, apalagi dengan menggunakan sepatu.


Hafiz mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari-cari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan bukti. Tetapi apa? Hingga kemudian tak sengaja pandangan matanya tertumbuk pada sebuah rumah berlantai dua, yang letaknya agak jauh dari rumah Atok.


Sebuah benda kecil yang melekat di langit-langit balkon rumah itu menghadirkan titik terang bagi Hafiz.


Bukankah itu CCTV?


****

__ADS_1


Hai reader-reader ketce badai! Jangan lupa tinggalin jejak ya!


__ADS_2