Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Ingin Bekerja Lagi


__ADS_3

"Abang, biarkan aku bekerja lagi di N-one, ya?" bujuk Yola saat keduanya sedang berada di rumah Atok Yahya saat ini.


Rumah Atok Yahya kini telah bisa ditempati kembali. Dan police line telah dilepas kembali. Namun hasil penyelidikan tentang siapa yang membunuh Atok Yahya belum terungkap. Polisi sementara hanya bisa menyimpulkan kalau orang yang membunuh Atok Yahya, kemungkinan kenal dengan almarhum. Cara Atok Yahya yang menyuruh Hafiz pergi sebelum kejadian dirinya dibunuh adalah bukti kalau orang tua itu kemungkinan besar kenal atau minimal pernah berjumpa dengan si pembunuhnya. Atok Yahya kemungkinan tahu kalau orang itu adalah orang yang sangat berbahaya. Oleh karena itu dia ingin melindungi Hafiz.


"Yola, jangan macam tu, Sayang. Kau tahu ape alasan abang tak nak kau bekerja mase ni. Kau sedang mengandung," kata Ilham.


Yola mendekat pada Ilham lalu menggenggam tangan lelaki itu.


"Ya ampun, Abang. Aku tau abang cuma ingin protektif melindungi aku dan calon adiknya Ammar. Tapi kan nggak sebegitunya juga kali. Banyak kok orang hamil yang masih tetap bisa beraktivitas. Malah kalau orang yang sedang hamil kurang gerak, yang ada pas lahiran nanti jadi susah keluarnya," kata Yola berdalih.


"Tetap tak boleh," tolak Ilham pada permintaan Yola.


"Alasannya? Kan aku udah bilang, kehamilan tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti beraktivitas," kata Yola mulai jengkel.


"Alasan? Abang bagi tahu ya. Menjadi pengarah marketing berarti kau akan banyak sangat beraktivity. Kau mesti banyak berjumpe dengan orang banyak. Siang ni kau berjumpe dengan perwakilan syarikat A, sore pula bertemu perwakilan syarikat B. Esoknya pule kau mungkin akan berjumpe dengan perwakilan syarikat C,D,E dan seterusnya. Kau tak penat ke?" tanya Ilham mencoba memberi pengertian pada Yola.


Tetapi yang mengesalkan wanita itu malah menggeleng.


"Aku nggak capek, abang! Nggak akan penat. Justru capeknya terasa banget kalau di rumah aja. Boleh, ya? Ya, ya? Abaaang ..." bujuk Yola dengan merengek.


Ilham geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang seperti anak-anak yang sedang meminta dibelikan permen.


"Tetap tak boleh," kata Ilham.


Yola berpikir sejenak alasan apa kira-kira yang bisa digunakannya untuk meluluhkan hati Ilham. Sampai kemudian Yola memiliki ide untuk bisa membujuk suaminya itu.


"Abang, kalau begitu jadikan aku ketua pengarah N-one aja, gimana? Nggak usah jadi pengarah marketing," rayu Yola.


Ilham terkekeh mendengar permintaan sang istri.


"Hey, Puan Nirwan! Baru sahaja berkahwin dengan Abang, Puan Nirwan dah pun minta dipromosi menjadi Ketua Pengarah. Abang nih jadi meragu sebenarnya Puan Nirwan ni cinta dengan Abang ke atau cinta dengan jawatan," goda Ilham sambil mencubit kecil hidung Yola yang sedang bergelayut manja padanya.


Yola bagaikan oase yang dia temukan di dalam kekeringan hatinya. Hatinya masih sedih tentunya atas kepergian sang Atok yang mendadak. Tapi Yola ada di sisinya itu membuat suasana hatinya menjadi sedikit lebih baik.


"Iss, Abang!!!" desis Yola. "Abang jangan lupa ya, Abang tu menjadi Presiden Directur karena perolehan suara dan saham dari siapa coba? Dari Yola kan? Apa susahnya ngasih jabatan Ketua Pengarah pada istri sendiri? Is, is, is, aku jadi meragu kalau abang ni sebenarnya hanya cinta saham dari pada isteri sendiri," balas Yola tak mau kalah.


"Oh, macam tu? Jadi Yola menyesal tolong abang dapat jawatan Presiden Direktur? Baiklah kalau macam tu, Yola mau mendukung Tuan Lucas sahaja?" tanya Ilham dengan ekspresi pura-pura sedih.


Yola terkekeh. "Makanya ijinkan aku ke kerja lagi, Abang!" rengeknya lagi.


"Nanti abang pikir-pikir dahulu," kata Ilham.

__ADS_1


"Jangan lama mikirnya!" desak Yola


"He um ," jawab Ilham.


Sesaat mereka terdiam sejenak, larut dalam pikiran mereka masing-masing. Hingga akhirnya Yola membuka suara lagi.


"Abang, aku boleh tanya nggak?" tanya Yola.


"Hmmm tanya sahaja," jawab Ilham.


"Kenapa papah sama Makcik Hanifah nggak punya saham di N-one?" tanya Yola.


Dia ingat saudara perempuan dari ayah mertuanya itu tidak bisa hadir dalam resepsi pernikahan mereka. Bahkan saat Atok meninggal pun wanita itu tidak bisa datang.


"Mereka tak tertarik pada N-one," kata Ilham.


"Kenapa bisa?" tanya Yola tak mengerti.


"Entah. Abang pun tak tahu. Makcik Hanifah dan Papah sedari dulu mereka memang tak suke dengan segala urusan syarikat. Mereka lebih suke mengejar cita-cita mereka sendiri. Yah, macam Papah tu kau tengok sendirilah. Dari dahulu Papa bercita-cita menjadi seorang diplomat hingga cita-citanya tercapai, Papah puas berkelana melanglang buana bekerja di negara-negara berbeza hingga Papah pensiun pun Papah masih juge tak nak duduk (tinggal) kat KL sini. Hingga sekarang kau tengoklah, Atok meninggal belum sampai 40 hari, dah pun pergi lagi," kata Ilham lagi.


"Kalau Makcik Hanifah tu?" tanya Yola lagi.


"Dia seorang Cik Gu kat Brunei sana. Tak de anak. Suami dia sakit, lumpuh. Sejak tu Makcik Hanifah, tak dapat bekerja lagi. Hingga sekarang pun Makcik tu kerana uruskan dia punya husband sangat jarang balik kat sini. Kau pun dapat tengok sendiri Atok berpulang pun Makcik tak dapat pulang," keluh Ilham.


Ilham menarik napas berat dan mengangguk.


"Oleh kerana itu, kita tak dapat paksa pula. Tapi nanti kata dia, kalau iparnya dah balik entah dari dia cakap abang pun lupa, dia akan datang berziarah kat sini ke makam Atok," kata Ilham pula.


Yola mengangguk-angguk.


"Terus soal harta warisan Atok, Makcik tu masa nggak dapat saham di N-one dari Atok?" tanya Yola polos.


"Yola usah risaukan tu. Harta warisan Atok tak hanya syarikat N-one. Dan Atok juge dah pun mewariskan hartanya yang lain pada Ayah dengan Makcik," kata Ilham.


"Bukan hanya N-one?" Yola tertegun.


Ilham mengangguk.


"Ya, Atok ade banyak properti. Macam rumah yang dia kasih pade kita di Green House. Yola sangka Atok hanya punya satu ke? Atok ade punya banyak pun. Tak hanya kat KL tetapi hampir setiap kota kat Malay," kata Ilham menjelaskan. "Itu semua ade yang disewakan. Ade pula yang diperjualbelikan."


Yola mengangguk-angguk tanda paham sekarang.

__ADS_1


"Terus Abang sendiri, apa dari dulu nggak punya cita-cita lain selain mengurus N-one? Biasanya seseorang di masa kecilnya punya cita-cita sendiri. Entah itu jadi dokter, jadi polisi, jadi guru. Abang nggak punya kah?" tanya Yola.


Ilham menggeleng.


"Sedari abang masih kecil, Abang sering dibawa dengan Atok kat N-one. Atok selalu cakap 'Ilham, kau tengok ni. N-one ni adelah punya kau seorang. Di mase kau dewasa nanti, kau jage dan majukan N-one ni sampai keseluruh negeri, kau dengar tak?'" Ilham menirukan kata-kata sang Atok dan air matanya hampir jatuh lagi mengingat betapa cepatnya Atoknya pergi.


Yola yang menyadari hal itu langsung memeluk sang suami.


"Abang, jangan sedih. Yola akan bantu abang mewujudkan harapan Atok, ya!" bujuk wanita itu.


Ilham membenamkan wajahnya di bahu Yola sembari mengangguk. Sungguh, dia tak akan sanggup andai wanita ini menghilang lagi dari hidupnya.


"Yola, jangan tinggalkan abang lagi, hmm?" pintanya sambil menahan air matanya.


Yola mengangguk.


"Yola nggak akan kemana-mana lagi, abang. Yola akan selalu ada di sisi Abang. Udah, Abang jangan menangis. Nanti Yola ikutan nangis gimana?" kata Yola.


"Abang tak menangis," bantah Ilham.


"Iya, cuma mewek," ledek Yola.


"Mewek tu ape?" Ilham melepaskan pelukannya pada Yola sambil mengelap air mata di sudut-sudut air matanya.


"Abang kursus bahasa Indonesia aja gih," ledek Yola.


"Ape mewek?" Ilham masih penasaran.


"Bebek," jawab Yola asal.


"Yola, abang seriuslah, mewek tu ape?"


Yola masih bersikeras tak memberitahu. Yang ada dia malah semakin iseng menggoda suaminya itu. Keduanya bak pasangan muda yang baru menjalin cinta. Tawa mereka terdengar cekikikan dari teras samping hingga Sonia yang berada dalam kamar pun bisa mendengar jelas kemesraan itu. Sungguh, Yola benar-benar keajaiban yang bisa membuat Ilham tertawa bahagia seperti itu setelah kepergian sang Atok. Sonia sendiri tidak yakin dia bisa melakukan itu andai dia dan Ilham belum bercerai. Dalam diam, di kamar itu, Sonia menarik napasnya dan menghembuskan napasnya. Apakah ini yang disebut sebagai kerelaan?


Pasangan suami istri itu masih saling bersenda gurau satu sama lain saat ponsel Ilham bergetar. Ilham buru-buru mengangkatnya setelah tahu kalau yang menelepon dari kantor polisi.


"Halo ...."


"Tuan Ilham, maaf kalau kami mengganggu. Kami nak kabarkan, hasil pemeriksaan ubat yang ditemukan dalam bag punya Melisa tu, dah keluar. Itu bukan ubat biasa. Sila Tuan Ilham ke balai polis, bila berkenan," kata polisi itu.


****

__ADS_1


Hai, hai... Maaf othor agak lemot updatenya ya reader semua. Author kesehatannya kurang fit jadi ngaruh ke nulis. Jangan lupa like dan koment ya...


__ADS_2