
Acara walimatul hamli yang diadakan untuk Yola berlangsung khidmat disertai dengan doa-doa para keluarga, kenalan tetangga dan orang-orang terkasihnya utamanya, mama, papa, Ilham, Ammar dan semua orang yang hadir disitu. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Semua anggota keluarga lengkap, meski ketidakberadaan Atok Yahya Nirwan membawa rasa sedih di hati mereka.
Putri,Andini, dan Eva yang menginap di sana dari semalam entah bagaimana bisa mereka saling cocok satu sama lain. Mereka terlihat akrab dan bersahabat meski Eva mempunyai umura yang lebih tua dari pada Putri dan Andini.
Usai acara tujuh bulanan itu, Yola yang begitu lelah memilih untuk istirahat di kamar. Menjadi seseorang yang menjadi alasan dibuatnya acara ini membuat Yola harus berada di antara kumpulan para tamu selama beberapa jam tanpa bisa meregangkan kakinya, membuat dia merasakan seolah kakinya kebas seperti mati rasa.
"Macam mana? Penat?" Ilham kini telah berada di ambang pintu, menyusul Yola yang sedari tadi terlihat berjalan terpincang ke kamar. Ilham yang sedang berbincang dengan papa dan mertuanya merasa perlu mengecek sendiri kondisi sang istri.
Persendian istrinya itu nampaknya agak sedikit bermasalah akibat kesulitan menopang berat badannya yang semakin bertambah dari hari ke hari.
"Kakiku kebas, Abang." Yola mengadu dengan manjanya pada sang suami.
Ilham tersenyum mendengarnya, kemudian perlahan dia beranjak mendekati Yola ke ranjang. Dibantunya wanita itu menaikkan kaki dan meluruskannya di atas tempat tidur. Lalu dengan inisiatif sendiri, Ilham memijat kaki Yola, dari betis hingga telapak kaki, menyentuh dengan lembut titik-titik akupresur di kakinya.
"Aaa ... di situ, iya Abang! Yang itu!" Yola tak henti menginstruksikan pada Ilham di mana lagi suaminya harus menyentuhnya.
"Macam mana? Merasa lebih baik?" tanya Ilham sambil tangannya masih memijat pergelangan kaki Yola.
Yola mengangguk mengiyakan.
"Hu um. Makasih, Abang!" ucapnya tulus begitu Ilham menyelesaikan pijatannya.
Ilham mengusap bahu Yola.
"Iya, Honey. Kau rehatlah dahulu. Jangan sampai penat. Kau mesti jaga kesihatan supaya kuat melahirkan Ammar Bro nanti," kata Ilham sembari berdiri.
"Biar kuat juga untuk planning kita nanti," imbuh Yola.
Mendengar itu Ilham yang sudah berdiri kembali duduk di samping Yola.
"Sepertinya tak payah Yola ikut dalam misi itu. Abang risaukan Yola kalau berbuat hal-hal berbahaya macam tu," kata Ilham.
"Nggak kok Abang. Dia nggak akan bisa melakukan hal yang buruk padaku. Abang nggak dengar pas dia bilang kalau aku harga yang sebanding dengan ayahnya. Berarti bukankah itu artinya aku berharga untuk mereka?"
"Tapi Yola, yang kite hadapi ini bukan orang biasa. Mereka orang berbahaya. Macam mana kalau mereka membuat Yola celaka? Juga Pnom Penh itu jauh di luar negara. Sedangkan kamu tak Abang ijinkan ke Jakarta nak lakukan walimatul haml, macam mana Abang boleh ijinkan Yola untuk pergi melakukan hal semacam ini?"
Yola menghela napas berat.
"Demi kebenaran Abang. Kalau begini Lucas akan keenakan donk bebas berkeliaran di luar sana. Ingatlah apa yang sudah dia lakukan pada keluarga kita, keluarga Gunawan dan Nirwan? Selama beberapa tahun ini hidup kita kacau balau, Abang! Belum lagi soal Atok, pasti dia yang menyuruh Yuri melakukan itu," lanjut Yola lagi.
Ilham berpikir Yola banyak benarnya tapi membiarkan Yola melakukan misi seberbahaya ini juga bukankah sebagai seorang suami dia terlalu tega?
"Aku akan hati-hati," kata Yola pada suaminya itu.
***
Satu Minggu setelah acara tujuh bulanannya Yola, tampak di sebuah pasar tradisional Martin sedang menatap dari kejauhan dua orang perempuan. Di telinga Martin terpasang earphone yang tersambung dengan ponsel yang menghubungkannya dengan panggilan telepon milik Yuri. Yola tidak mengetahui kalau Yuri sejak tadi sengaja menelepon Martin agar lelaki itu bisa mengetahui pembicaraan mereka agar dia lebih menguasai situasi yang terjadi agar bisa menjalankan rencananya dengan lancar.
"Kamu mau bawa aku kesini buat apaan sih?" tanya Yola.
"Buat belikan baju-baju buat calon keponakanku lah," jawab Eva. Sementara itu Martin masih fokus mendengarkan.
"Tumben kamu baik, kesambet apaan kamu?" Yola masih curiga rupanya.
"Anggap aja ini sekalian ucapan terimakasihku karena udah bawa aku kembali ke sini. Di Alor Setar aku nggak kenal siapa-siapa, jadi bersyukur banget bisa diajak balik ke sini!" terdengar riang suara itu.
Yola tertawa sinis.
"Makanya kamu jangan cari gara-gara sama aku, emangnya enak di mutasi jauh gitu ke sana? Syukur-syukur kamu cuma di kirim ke Alor Setar. Kalau ke Zimbabwe gimana? Hahahaha" ledek Yola.
"Tapi bisa nggak sih kalau aku resign aja dari N-one? Aku mau balik aja ke Indonesia," rengek Eva terkesan memohon pada Yola.
"Bisa aja sih," jawab Yola acuh.
"Tapi aku terikat kontrak dengan N-one," jawab Eva meragukan.
"Dan presiden dan wakil presiden direktur N-one itu adalah aku dan suamiku, Kakak sepupu," kata Yola lagi menyombongkan diri. "Jadi kalau hanya pembatalan kontrak gampang aja aku urus, asal ada syaratnya."
"Apa itu?" tanya Eva mengernyit keningnya.
Yola berpikir-pikir sejenak.
"Jadi pengasuhnya anakku nanti, mau? Hahahaha...." tawa Yola terdengar berderai.
Martin yang memperhatikan mereka dari hanya menyunggingkan senyumnya mendengar kata-kata yang terdengar seperti hinaan pada Eva itu.
"Kau memang pecundang!" gumamnya lirih.
Terlihat olehnya Eva yang tampak geram akibat perkataan Yola itu. Saat ini gadis itu pasti darahnya sedang mendidih dan sudah tak sabar lagi ingin memberikan pelajaran pada bumil itu.
__ADS_1
"Ya, ya, ya ... terserah syaratnya apa. Tapi sekarang kita makan dulu gimana? Aku belum makan ini," rengek Eva.
"Belum mulai belanja masa belanja duluan?" protes Yola. "Bilangnya mau belikan anakku perlengkapan baby ..."
"Iya, makanya itu, kita makan duluan kan? Biar kuat jalan keliling-keliling nyari yang pas," kata Eva.
"Kamu juga kenapa kita nggak belanja di mall aja? Kenapa musti di pasar tradisional? Di sini rame, pengap!" gerutu Yola.
"Aku sesuaikan sama isi dompetku lah, beli di mall mahal!" jawab Eva lagi.
Martin mengikuti kedua orang itu. Dan saat keduanya masuk ke dalam sebuah warung, tak lama Martin pun masuk dan mencari meja yang lumayan jauh dari keduanya, lalu ia pun kembali memperhatikan mereka.
"Mau minum apa kamu?" tanya Eva pada Yola.
"Limau Ais," pesan Yola pada pelayan warung.
"Es jeruk?"
"Hmmm ..." jawab Yola.
Mereka pun sambil menunggu pelayan mengantarkan pesanan kembali mengobrol banyak hal utamanya tentang pengalaman Eva bekerja di cabang N-one Alor Setar.
"Duuuh, toilet dimana ya? Mau pipis ni," keluh Yola sesaat setelah meminum es jeruk yang baru saja di antar pelayan warung.
Eva mencari-cari dengan matanya hingga kemudian matanya tertumbuk pada simbol toilet tak jauh dari mereka.
"Disitu!"tunjuk Eva.
"Aku ke toilet dulu deh, beser rasanya. Ini nih nggak enaknya kalau lagi hamil," keluh Yola.
Eva mengiyakan.
"Udah buruan, entar keburu keluar di sini lagi!" suruhnya sambil mengibas-ngibaskan tangannya pada Yola seakan menyuruh Yola untuk menjauh.
Yola pun segera pergi ke toilet yang ditunjuk oleh Eva tadi. Sepeninggalan dia ke toilet, Eva mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Lalu dengan matanya dia mencari keberadaan Martin. Saat dia menemukannya, dia segera menunjuk botol kecil yang ada di tangannya dan menunjukkannya pada Martin, lalu dia pun memberi kode Ok, bahwasanya misi mereka siap dilakukan.
Kemudian Martin menyaksikan sendiri bagaimana Eva membuka tutup botol kecil berisi obat penenang dosis tinggi yang telah mereka haluskan kemarin hingga berbentuk puyer. Eva pun langsung mengaduk minuman itu dengan sendok sebelum Yola datang dari toilet. Beruntung saat Yola keluar dari toilet, dia telah selesai melarutkan obat itu ke dalam minuman jeruk punya Yola.
"Aduhh, lega juga akhirnya!" kata Yola setelah dia kembali ke meja mereka. "Makanannya belum datang?"
"Mungkin sebentar lagi," jawab Eva pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Martin membaca pesan dari Eva, kemudian membalasnya dengan singkat.
[Ok]
Lalu persis seperti harapan mereka, Yola pun langsung menyeruput lagi minuman itu hingga hampir habis.
"Pesan lagi donk, haus banget ini. Mana harinya panas lagi!" gerutu Yola. "Tapi kok minumnya agak pahit ya? Tadi perasaan nggak gini deh."
"Perasaan kamu aja kali," jawab Eva santai.
Lalu tak lama Yola pun kelihatan , mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia juga memegangi kepalanya.
"Aduh, aku kenapa ya, Va?" kepalaku pusing.
"Hah? Pusing kenapa?" tanya Eva dengan sandiwaranya.
Yola dengan hati-hati mencoba duduk di kursi mereka.
"Kamu kenapa, Yol? Kita pulang aja, yuk!" ajak Eva.
Yola memegangi kepalanya yang terlihat sangat sakit, dan tidak lama kepalanya telah terkulai di atas meja.
"Yola!!! Yola!!!" panggilnya pada Yola yang kelihatannya tidak sadarkan diri itu. Lalu dia pun menyempatkan diri untuk memberi kode pada Martin.
"Ya Tuhan, Yola!! Kamu kenapa? Aduhh, tolongin sepupu saya, donk! Siapa aja tolooong!" jeritnya.
Di saat itu Martin pun segera datang, sebelum orang lain yang keburu datang untuk menolong Yola dan membuat rencana mereka gagal.
"Ya Tuhan, dia ini kenapa?" tanya Martin.
"Entah, tiba-tiba aja dia pingsan. Siapa aja tolong donk bawa sepupu aku ke rumah sakit! Siapa yang punya mobil?" tanyanya terlihat panik.
Akting yang maksimal, Eva! batin Marti! dengan terkekeh.
"Maaf, gimana kalau pakai mobil saya aja," kata Martin dengan akting menawarkan bantuan.
Eva termenung beberapa saat.
__ADS_1
"Mas, mas orang indonesia?" tanya Eva balas akting.
"Iya. Ada mobil saya di luar. Kita bawa dulu sepupunya Mbak ke mobil saya baru kita antar ke rumah sakit," kata Martin masih berlagak tak kenal.
"Ba-baiklah, tapi bagaimana cara kita membawanya?" tanya Eva.
"Bantuin aku papah dia," jawab Martin.
"Susah dipapah kayaknya. Ini harus digendong," kata Eva.
Lalu dengan dibantu oleh beberapa orang pengunjung, mereka pun menggotong tubuh Yola ke arah parkiran di mana mobil Martin berada.
Meski dengan susah payah mengangkat tubuh hamil itu, Eva dan Martin pun akhirnya kini bisa berada di dalam mobil dengan Yola yang tak sadarkan diri berada di kursi belakang kemudi dengan bantuan dari beberapa orang para pengunjungp warung tadi.
"Jadi mau diapain nih anak?" tanya Eva ingin tahu saat melihat Yola yang terbaring begitu saja di bangku belakang.
Martin menyunggingkan senyumannya.
"Mau dibawa ke Pnomh Penh," kata pria itu.
"Hah? Buat apa?" tanya Eva sambil melirik Yola ke belakang.
"Aku butuh sesuatu di tubuhnya," katanya.
"A-apa itu?" Eva menjadi meradang mendengarnya.
"Hey, kenapa wajahmu terlihat marah begitu? Tenanglah! Aku nggak akan ngapa-ngapain dia. Kamu kira yang kubutuhkan ditubuhnya itu apa? Ckckck," decak Martin.
"Oh, terus apa yang kamu butuhkan kalau bukan itu?" serang Eva sok galak.
"Hey, itu apa? Hahaha, biasa aja donk. Kamu kira aku butuh apa darinya? Tubuhnya buat enak-enak gitu? Apa bagusnya cewek hamil?" gerutu Martin sambil geleng-geleng kepala. "Kamu terlalu cemburuan!"
Cemburu katanya? Dalam hati Eva mengumpat Martin. Dia akan membalas pria ini nanti.
"Terus apaan donk yang kamu mau dari dia?" tanyanya mencoba sabar.
Martin menatap lurus ke depan, masih sambil mengendarai mobil.
"Aku butuh sidik jarinya," katanya.
"Untuk?"
Martin melirik Eva.
"Tidak semua urusanku kau harus tau, Yolanda!" katanya memperingatkan.
Eva mencoba menahan geram. Martin sungguh tidak peduli padanya, bahkan hanya untuk menjaga perasaannya. Biasanya juga dia tidak seperti ini. Jadi, apakah karena Yola sudah berada di tangannya sehingga Martin tidak memerlukan dia lagi? Karena itulah sikapnya tak lagi semanis dulu. Baiklah, dia akan ikut permainan Martin dulu.
"Jadi kau ingin membawa Yola ke Kamboja, kau sanggup mengurusinya selama di sana? Terus terang saja aku katakan padamu. Yolanda itu orang yang sangat sulit untuk diatur. Kau tidak akan mampu mengurus dia sendirian, apalagi dalam kondisinya yang hamil begini. Kau tidak lihat perutnya sebesar itu?" tunjuk Eva pada Yola.
"Terus terang saja, katakan apa yang kamu inginkan, jangan bertele-tele!" kata Martin memberi ultimatum.
"Aku tidak tahu ada urusan apa Yola denganmu, tetapi kalau kau tidak keberatan ijinkan aku ikut ke Pnom Penh, aku akan urus dia untukmu. Setidaknya aku bisa menjamin kalau dia tidak akan melarikan diri atau membuatmu kesulitan," ujar Eva menawarkan bantuannya.
"Aku tidak butuh bantuanmu, Eva!"
Baiklah, akhirnya Martin tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Yolanda. Berarti selama ini dia melakukannya benar-benar hanya untuk menjilat saja, memanfaatkan rasa bencinya pada Yolanda untuk mencapai tujuannya.
"Kau butuh bantuanku, Martin! Orang yang kau culik saat ini, bukanlah orang sembarangan. Dia anak dari pemilik PT. Guna-1 Indonesia, dan juga istri dari presiden direktur syarikat N-one Grocery, Tengku Ilham Nirwan. Kau kira setelah menculiknya kamu bisa merasa aman begitu saja? Dalam mimpimu! Atau kau memang ingin membunuhnya hingga kau akan jadi buronan seumur hidupmu? Lalu demi apa?" Eva mulai memprovokasi Martin.
Lelaki itu mulai berubah pikiran karena perkataan Eva.
"Kalau aku ikut, aku bisa memastikan kau akan aman, setidaknya aku bisa memohon pengertia papa dengan mencari berbagai macam alasan. Dan setelah urusanmu selesai, dia bisa dikembalikan ke keluarganya tanpa meninggalkan resiko yang besar untukmu. Hanya butuh sidik jarinya kan?" desak Eva lagi.
Martin merasa kali ini Eva benar.
"Baiklah, kenapa kau baik sekali, Sayang?" Martin kembali ke mode penjilat.
"Karena aku sayang padamu, Martin. Aku tidak mau kamu sampai kenapa-kenapa kalau bertindak nekad seperti itu tanpa persiapan yang memadai," katanya..
Dan tak disangka dia segera mendapat ciumaan juga dari pengkhianat itu.
"Terima kasih, Sayangku, Yolanda ...."
Dalam hati Eva dia mengumpat lelaki itu. Benar-benar menjijikkan.
Di kursi belakang kemudi, Martin mungkin tak menyadari kalau sedari tadi Yola mendengarkan semua percakapan mereka tanpa melewatkan apa pun.
****
__ADS_1
Hai! Like dan komentar donk Beib .....