Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Jenius?


__ADS_3

"Hafiz, kau tak boleh lupakan die ke?" tanya Diana.


"Apa maksud Kakak tanya macam tu?" tanya Hafiz balik.


Diana ingin sekali membatalkan pertanyaan yang tadi tapi apa daya, ucapan yang telah terucap tak akan bisa ditariknya kembali.


"Kalau Yola tak pernah berhubungan badan denganmu, mungkinkah dia melakukan itu dengan ex- husband die?" tanya Diana lagi.


Dan kini dia semakin mengutuk mulutnya yang tak bisa mengontrol perkataannya di hadapan Hafiz.


Sementara Hafiz sendiri tanpa sadar mengepalkan tangannya mendengar pertanyaan dari Diana. Terbayang olehnya saat malam itu dia pulang dari Serawak dan tak menemukan Yola di apartemennya. Tak terpikirkan yang lain olehnya selain Yola pergi dengan Ilham. Karena itu dia coba pergi ke Green House, rumah hadiah dari atok untuk pernikahan Yola dan Ilham. Dengan telinganya sendiri dia mendengar kalau wanita yang telah menjadi tunangannya itu sedang bercinta dengan lelaki yang paling dia benci. Ya Hafiz sangat membencinya.


Mata Hafiz terpejam mengingat kembali malam itu.


"Ape maksud Kakak?"


Lagi, dia mencoba sabar kali ini. Kalau mengingat hubungan antara tiga hati dia, Yola dan Ilham rasanya Hafiz ingin meluapkan ketidakberdayaannya mengatasi masalah ini. Dia tentu saja tak bisa meluapkan apa yang diarasakan pada Yola. Dia tak bisa tegas pada wanita itu.


"Kakak rase Yolanda tengah mengandung masa ni," jawab Diana hati- hati.


Dia sungguh tidak ingin menyakiti Hafiz tetapi jika benar dugaaannya maka Hafiz tak boleh gelap mata seperti ini. Dia harus menyadarkan sang adik.


Degg!!!


Jantung Hafiz seakan terpukul. Mengandung?


"Ma- maksudnya?" tanya Hafiz dengan tubuh gemetar menahan rasa tergoncang akan kata- kata sang kakak.


"Ini hanya perkiraan Kakak sahaja. Kakak juge wanita. Kakak boleh tengok tanda- tanda itu ade pade die. Oleh kerana itu Kakak bertanya dengan engkau, sejauh ape hubungan kalian. Semoga Kakak yang salah memperkirakan," kata Diana.


Hafiz merasa terhenyak mendengarnya. Mengandung? Yola?


"Tapi Hafiz, bilamana itu betul macam mana? Ape yang akan kau lakukan?" tanya Diana lagi.


Hafiz terdiam, dia kalut. Tentu saja. Tapi kalau ditanya bagaimana? Apa yang harus dia lakukan? Tentu saja dia tidak akan pernah melepaskan Yola. Itu bukan sesuatu yang perlu untuk dipertanyakan karena jawabannya sudah pasti. Dia tetap akan mempertahankan Yola.

__ADS_1


"Jika dia mengandung bukan anakmu, mungkinkah dia mengandung anak pria itu? Ex husband-nya itu?"


Hafiz meremas rambutnya sendiri.


"Kakak pergilah tidur lebih dahulu. Aku tidur kat sini sahaja," kata Hafiz mencoba mengalihkan pembicaraan sekaligus ingin mengusir wanita itu dari dekatnya. Dia sudah tidak tahan mendengar segala hal tentang Yola.


"Hafiz, kalau Kakak boleh memberi masukan. lupakanlah dia, Dik. Ini belum terlambat. Jangan diteruskan rencana perkahwinan ini!!!" kata Diana tegas.


Hafiz bangkit dari duduknya. Usahanya mengusir Diana agar pergi tidur nampaknya tidak membuahkan hasil. Ya sudah, kalau begitu dia saja yang pergi dari ruangan ini.


Hafiz segera masuk ke kamar Yola. Ingin mencari bukti apakah wanitanya itu benar- benar hamil. Satu- satu Hafiz memeriksa lemari Yola, juga laci- laci di meja rias Yola mencari- cari testpack atau bukti kunjugan ke dokter kandungan. Tapi Hafiz tak menemukannya di mana pun dalam kamar ini. Dia sedikit merasa lega dengan itu.


Hafiz memang menyadari kalau Yola terlihat lebih berisi sepulang dia dari Serawak ini. Tetapi dia tidak pernah berprasangka kalau Yola sedang mengandung. Sekarang Hafiz merasa lega karena setidaknya dia tidak menemukan bukti apa pun tentang prasangka Diana yang mengira kalau Yola mungkin hamil.


Sedikit lelah karena memikirkan hal itu, membuat tenggorokannya kering dan menuntunnya untuk mengambil air minum dalam lemari es di dapur.


Hafiz membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dalam botol kemasan. Dia meneguknya beberapa kali untuk menghilangkan dahaganya. Pada tegukan terakhir pria itu tiba- tiba tak sengaja melihat pada lemari gantung di dapur. Dengan rasa penasaran yang tinggi, dan juga rasa harap semoga apa yang dia takutkan tak ada di sana, Hafiz pun membuka lemari itu satu persatu dan ....


Jantungnya berdegup kencang dan hatinya serasa diremas, sakit, sungguh hatinya terasa remuk sekarang. Beberapa kotak susu untuk ibu hamil ada di sana. Tak lupa beberapa suplemen obat ada dalam sebuah bungkusan plastik. Dan pada plastik obat itu ada label klinik di daerah Penang dan pada kertas resep ada stempel dokter kandungan yang menangani pemilik suplemen itu. Siapa lagi kalau bukan Yola?


Yola!!! Kenape kau tega lakukan ini pada aku? Apa salahku??!!! jeritnya dalam hati.


Rasanya dia butuh sesuatu yang bisa menghilangkan frustasinya malam ini.


***


Sementara itu mobil yang dikenderai Ilham dan Yola memasuki pelataran Jewel Hotel. Sebelumnya Yola telah menelepon papanya dan menanyakan di kamar nomor berapa papanya menginap.


Yola mengetuk pintu dan dibukakan oleh Abimanyu.


"Mommy!!! Daddyyy!!!" seru Ammar riang.


Ammar langsung melompat ke pelukan sang Mommy. Itu membuat Ilham merasa sport jantung.


"Ammar!!! Daddy dah kate, hati- hati sikit. Don't jump like that!!! Kalau Mommy jatuh macam mana?" omel Ilham.

__ADS_1


"Kakek tengok? Daddy lebih sayangkan Mommy daripada Ammar!" kata Ammar mengadu pada Abimanyu.


"Ayo ke sini kalau begitu, kamu sama kakek aja!" ajak Abimanyu sembatu menarik Ammar dari pelukan Yola.


Masih terlihat gurat sebal yang tak bisa disembunyikannya pada Yola dan Ilham.


"Ammar, kamu lagi buat apa dengan kakek?" tanya Yola berusaha menghilangkan ketegangan di antara mereka.


"Ammar sedang bantu atok membaca grafik saham, Mom," kata bocah itu riang.


Apa katanya? Grafik saham? Yola menggaruk kepalanya dengan jari telunjuk ranpa sadar. Apa dia tidak salah dengar?


"Grafik saham? Ammar paham grafik saham?" tanya Yola.


Tentu saja dia tidak benar- benar bertanya arti grafik saham yang sebenarnya pada anak itu. Baru ikut dengan papanya berapa hari saja Ammar sudah mendapat kosa kata seperti itu. Bagaimana kalau seminggu? Sebulan? Entah apa yang akan diajari Papa pada Ammar! begitu pikir Yola.


Ammar mengangguk manis khas bocah lugu.


"Ehmmm!!" Abimanyu berdehem untuk mengusir kecanggungannya sebelum buka suara.


Yola menoleh ke Abimanyu namun menarik tangan Ilham ke sofa di kamar itu meskipun tidak dipersilahkan


"Papa rasa anakmu memiliki kecerdasan di atas rata- rata. Dia jenius," kata Abimanyu mencoba menurunkan gengsinya dengan mengajak Yola berbicara.


"Maksud Papa?" tanya Yola bingung.


"Dia bisa membaca grafik saham dan memprediksi saham mana yang akan melonjak harganya hari ini. Yola, Ammar papa bawa ke Jakarta, ya?"


Swiiiiiiiingggg!!!!


Ilham dan Yola merasa seperti ada pesawat yang melintas di atas kepala mereka.


****


Malam reader aku? Salam cinta untuk kalian. Sudahkah dirimu like dan koment di bab sebelumnya. Kalau lupa di like lagi beib... kalau bisa dari awal bab satu donk, biar author rajin updatenya... Kalian malas like dan koment semangat author jadi mengendur buat update.

__ADS_1


Like dan koment lagi yang banyak ya!!!


__ADS_2