
"Dari siape?" tanya Ilham pada Yola setelah melihat perubahan ekspresi pada istrinya itu.
Yola menggeleng.
"Hafiz?" tebak Ilham.
Dan ada nada cemburu dalam kata- katanya itu. Tetapi kemudian kecemburuan itu kembali teredam saat Yola menggeleng. Itu membuat Ilham mencoba menebaknya sekali lagi.
"Papa?"
Yola menghela napas. Kemudian perlahan dia mengangguk. Yola ingin membalas pesan dari papanya tapi pada akhirnya dia memilih untuk mengurungkan niatnya itu. Apa pun yang akan dikatakan dan dijelaskannya nanti Yola tahu itu pasti akan percuma. Papa tidak akan bisa menerima pendapat atau keinginannya.
Ilham mengusap rambut Ammar seakan memberi tahu Ammar untuk menunggu dulu sementara Ilham berbicara dengan mommy-nya.
"Yola usah stress, Ok? Abang akan selesaikan masalah ni. Abang dah pun ade rencana untuk bertolak ke Jakarta untuk membicarakan pasal ni pada Papa Abi. Abang akan minta pengampunan dari Papa untuk Abang. Macam mana pun papa mesti memberikan kite restu untuk boleh bersama kembali. Kite harus pertahankan keluarga kecil kite. Kita berdua, Ammar dan adiknya Ammar nantinya. Kerana itu abang minta jangan lemah, Sayang. Kau harus kuat, hmmmm?"
Yola mengangguk.
"Kalau macam tu don't be sad, Mommy. Berketepatan ini weekend, macam mana kalau kite ke green house sahaja? Kite bermalam di sana. Nanti malam kita bolehlah masak barbeque kat sana. Mommy Ammar mahu tak?" tanya Ilham.
Yola mengangguk lagi tanda ia setuju.
"Lekas ganti baju, sebentar kita bertolak kat sana."
Yola mengangguk dan menuruti permintaan Ilham.
Setelah berkemas- kemas dan membawa baju untuk ganti di green house, keluarga kecil itu pun berangkat dengan menggunakan mobil milik Ilham.
"Ammar, kamu mau makan malam apa hari ini?" tanya Yola di dalam mobil.
"Apa sahaja yang Mommy masak mestilah Ammar makan, Mom ... " jawab bocah itu.
"Duuh ... Manisnya anak Mommy ... " puji Yola sembari mencubit pipi Ammar gemas. "Daddy Ammar, kalau begitu kita mampir ke swalayan dulu beli sesuatu yang bisa dimasak di sana nanti."
Ilham tersenyum sumringah saat mendengar Yola memanggilnya dengan sebutan Daddy Ammar. Seakan mereka sekarang adalah suatu kesatuan yang dipersatukan oleh anak bernama Ammar. Anak yang terlahir karena cinta mereka berdua.
"Ok!!! Kalau Mommy Ammar dah cakap macam tu, let's go!!!"
Ilham membawa mereka ke sebuah swalayan yang masih searah dengan tujuan mereka. Layaknya keluarga kecil bahagia ketiganya pun menikmati moment kebersamaan mereka di swalayan itu.
Ilham mendorong Ammar yang langsung naik di atas troli. Pertama- tama Ilham membawa Yola ke rak yang menjual berbagai macam merek susu hamil. Setelah berdebat beberapa saat karena Yola tak mau mengkonsumsi susu bumil akhirnya wanita itu mengalah juga dan pasrah saat troli itu diisi oleh beberapa kota susu hamil rasa coklat.
__ADS_1
"Abang mau makan apa?" tanya Yola bingung saat mereka kini berada di bagian bahan- bahan masakan untuk memilih daging dan sayuran.
"Abang rasanya nak makan barbeque," jawab Ilham.
"Ihh, tapi aku nggak pintar masak barbeque, Abaaang!" protes Yola. "Yang gampang- gampang aja, ya ..."
"Eh, Yola. Kalau kat sini jangan suka cakap gampang ya ... Tak baik sayang, tak elok kedengaran di kuping," tegur Ilham.
"Memang kenapa?" protes Yola tak terima.
"Pokoknya artinya tak baik. Abang paham maksud Yola. Tapi di lain mase, Yola boleh ganti kate gampang dengan 'senang' je kalau kat sini, oke?"
"Ya udah deh," jawab Yola agak cemberut.
Kemudian Ilham membawa troli yang dinaiki Ammar itu ke freezer dimana tumpukan daging di pajang.
"Kalau Yola tak pandai masak barbeque, biar abang sahaja yang masak nanti. Yola cukup jadi Yang Mulia Ratu sahaja nanti, kawani Abang masak, Ok? Biar abang yang akan jadi chef kali ini!"
"Isss Abang, mana ada ratu yang menemani chef masak?" jawab Yola geli.
"Ade. Ratunya ratu Yolanda, akan menemani chef Ilham memasak malam ni," jawab Ilham tak mau kalah.
Setelah memilah- milih daging beberapa saat akhirnya pilihan Ilham jatuh pada tenderloin sapi atau daging sapi has dalam yang memang bertekstur lebih lembut dibandingkan oleh daging sapi bagian luar atau sirloin.
Sedang asyik- asyiknya mereka pilah memilih daging, tiba- tiba saja seseorang mendekati dan menyapa mereka.
"Wah Ketua Pengarah N- one ada kat sini rupanya .... "
Yola dan Ilham bahkan Ammar sampei menoleh pada asal suara itu.
"Ketua Pengarah ade di sini membawa anak dengan Pengarah Marketing tak takut dengan paparazzi ke?" tanya orang itu sedikit kekeh, terdengar sinis.
"Victor?" gumam Yola tak menyangka.
Dia tak mengira kalau mereka akan berjumpa dengan Victor di sini.
"Victor?? Kau dah ada janji pun kalau kau akan memanggilku abang. Yola lupa ke?" tanya pria matang itu.
Ilham segera melotot tak senang pada Victor. Dan Yola bisa menangkap raut itu.
"Ah hahaha ... Maafkan aku, Bang. Abang di sini ada urusan apa?" tanya Yola berbasa- basi.
__ADS_1
Dan ucapan Yola yang memanggil Victor sebagai abang itu semakin membuat mata Ilham melotot tajam padanya.
"Aku ade urusan kat sini. Jadi ape kabar, Ketua Pengarah? Tuan Pengarah sangat jarang sekali terlihat di depan umum dengan Mrs. Nirwan dan sekarang malah berada di sini dengan ex- wife?"
Ilham seketika menjàdi semakin tidak senang ketika Victor mengatakan kalau Yola adalah istrinya. Sementara Yola sendiri merasa tak percaya kalau Victor akan se-frontal itu menyerang Ilham. Dia mungkin tidak tahu kalau Victor mulai menaruh hati padanya sejak pertama kali mereka bertemu.
"Victor! Cakap kau jangan kelewatan. Meski antara N-one dan hotel Victoria ada jalinan kerja sama, tapi itu bukanlah saye yang menginginkan dan saya tak akan keberatan pabila kerja sama itu ditarik kembali. Yang kedua, aku bagi tahu kau Yolanda saat ini adalah masih isteri aku, dari dulu hingga sekarang. Dia tak pernah jadi ex- wife untukku. Jadi tak de problem kalau aku nak bawa anak isteriku kemana kami nak pusing- pusing untu membeli belah ape pun yang kami suka," kata Ilham mengingatkan.
"Lalu macam mana dengan Sonia?" tanya Victor geram.
"Aku dah ucapkan talak padenya. Kalau kau nak ambil dia, ambillah!" jawab Ilham remeh.
BUGGGHHH!!!!
"Akhhhhhpp!!!" Yola memekik spontan membekap mulutnya dengan tangannya.
"Daddy!!!" teriak Ammar. Yola spontan menghampiri Ammar dan memeluknya.
Mendengar perkataan Ilham yang nampak merendahkan Sonia dan Victor, sebuah bogem mentah pun langsung mendarat di wajah Ilham oleh Victor.
"Kau jangan berbuat sesukamu, Ilham! Kau berkahwin dengannya dan kini kau campakkan dia kerana kau dah ada wanita lain pula. Kalau kau tak cinta dengan dia, kenapa kau berkahwin dengannya dahulu, haaa??!!!"
Ilham mengusap pipinya yang baru saja ditonjok oleh Victor itu.
"Kalau kau mahu tahu ape alasan aku berkahwin dengan Sonia, kau tanyakan sahaja dia. Kerana dia, aku terpaksa berpisah dengan isteri aku yang sesungguhnya selama 7 tahun lamanya. Kau tahu tak?? Kalau kau tak tahu, kau sebaiknya diam sahaja!!!" kata Ilham sembari mendorong troli kembali dan menarik tangan Yola. Sebelum orang- orang berdatangan dan mereka diusir oleh pihak keamanan.
Yola mengikuti langkah kaki Ilham setelah mengambil beberapa bumbu yang diperlukan dari rak.
"Abang tak apa- apa?" tanya Yola sambil menyentuh sedikit memar di pipi Ilham ketika mereka berada di kasir.
"Berani- berani sekali kau panggilkan dia abang. Kau cari mati ke, Mrs Nirwan?"
Yola hanya memanyun-manyunkan bibirnya pura- pura merasa tak bersalah.
"Mrs. Nirwan akan dapat hukuman nanti di green house. Kau tunggu sahaja," bisik pria itu di telinga Yola setelah menerima credit cardnya kembali dari kasir.
Pipi Yola memerah mendengar kata- kata ambigu itu. Hukuman apa? Dia kan tidak salah? Memang Victor beda usia 12 tahun di atasnya. Apa yang salah kalau dipanggil abang?
***
Semakin rajin like dan koment, author akan semakin semangat buat update. Karena itu yang rajinlah kalian like dan koment beib....
__ADS_1