
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam waktu setempat di Pnom Penh, Cambodia saat Ilham menelepon. Hafiz baru saja selesai menunaikan sholat maghrib. Sementara Ilham sendiri masih mengenakan sarungnya setelah baru saja dia menunaikan sholat Isya. Antara Malaysia dan Kamboja memang memiliki perbedaan waktu satu jam. Malaysia satu jam lebih cepat tentunya.
"Ndut, abang pikir kau tak dapat lagi dihubungi. Sedari siang tadi abang tengok kau susah sangat dihubungi, macam perdana menteri sahaja, cih," cibir Ilham berusaha menahan-nahan rasa kesalnya.
"Hmm, maaf abang! Hafiz ade banyak sangat urusan," jawab pria itu.
"Urusan ape? Urusan dengan wanita itu ke? Hafiz kau jangan lupa! Dia tuh wanita tak baik!" kata Ilham memperingatkan.
"Hmm, aku tahu!" jawab Hafiz singkat.
"Habis tu, kau tahu tapi masih juge dia kau dekati, sampai berdua bermesraan kat kedai ais krim pula. Hafiz! Kau ni sedang menjalin kasih dengan dia ke?" todong Ilham dengan pertanyaan pada Hafiz.
"Astaghfirullah, abang! Abang ni kirim mata-mata sampai kat sini ke? Abang tak percaya dengan aku?" tanya Hafiz terdengar tak suka.
"Abang bukan tak percaye dengan kau, tapi abang tak percaye dengan Lucas. Kalau kau tak merase seperti yang abang tuduhkan cepat bagi tahu abang planning ape yang kau rencanakan?" desak Ilham di telepon.
"Tak de planning apa pun, aku memang nak cuba menjalin hubungan dengan Yuri," jawab Hafiz.
"Heuh? Ape maksudmu, heh?" tanya Ilham mulai tak senang.
Hafiz terdiam sejenak dia menghela napas sambil mengedarkan pandangannya ke beberapa sudut kamar hotel ini. Hafiz tahu, Lucas pasti telah memasang kamera tersembunyi atau pun perekam suara di kamar hotel ini.
"Sedari awal, aku memang dah ade rencana nak kahwinkan Yuri, abang lupa ke?" tanya Hafiz.
"Tak lupa. Tetapi itu sebelum dia ketahuan pura-pura mengandung anakmu. Dia tu pendusta, sadarlah Hafiz!" Lagi-lagi Ilham mencoba menyadarkan Hafiz di telepon.
"Abang tak payah pikirkan tu, aku dapat urus pasal hubunganku sendiri dengan wanita mana pun. Dah lah tu, abang aku tutup talipon ni dulu, hmm? Aku nak cari makan dahulu kat resto hotel," kata Hafiz buru-buru mematikan telepon.
__ADS_1
Hafiz tak peduli apa yang akan dipikirkan Ilham saat ini. Tapi yang pasti pria itu merasa sangat genting saat ini, sejak dia tahu dari Yuri kalau Lucas dan Mr. Y adalah orang yang sama.
Beberapa hari yang lalu, di hari kedua mereka berada di Pnom Penh, Yuri dan Hafiz diajak perwakilan staf pegawai Indopenh Grup untuk mengelilingi gedung kantor perusahaan bernama Indopenh Grup itu yang berarti pemilik perusahaan itu mengambil nama perusahaan dari gabungan kata Indo dan Pnom Penh, ibu kota Cambodia.
Di gedung perkantoran itu nampak baik-baik saja, layaknya perusahaan lainnya, sama seperti N-one juga. Tetapi saat mereka mengunjungi pabrik kosmetik dan obat-obatan yang dimiliki Indopenh Grup, Hafiz mulai mencurigai sesuatu. Dia bukan ahli kimia, tetapi saat masuk ke ruangan pabrik yang memproduksi produk kosmetik, Hafiz bisa mencium bau obat-obatan kimia yang sangat menyengat hidung bahkan dia telah memakai masker pun bau menyengat itu tetap tercium tajam.
Yang membuat Hafiz semakin curiga adalah saat melihat seorang karyawati pabrik yang terus menerus mengucek-ngucek matanya. Tidak! Bukan hanya satu ternyata, sebagian besar dari mereka. Mungkin orang lain tidak akan memperdulikan masalah seperti itu sampai sebegitunya. Tapi Hafiz berbeda. Dia merasa pasti ada yang salah di bahan-bahan kimia yang dipakai untuk pembuatan produk kosmetik itu.
"May I know, what products are being made here? And are the ingredients safe?" tanya Hafiz. (Kalau boleh saya tahu, produk apa yang sedang dibuat di sini? Apakah bahan-bahannya aman?)
Lelaki yang menjadi pemandu mereka itu menerjemahkan pertanyaan Hafiz dalam bahasa khmer pada pengawas produksi pabrik itu. Pengawas bagian produksi itu sempat melemparkan tatapan kurang bersahabat pada Hafiz sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Hafiz dengan bahasa daerah setempat yang sedikit pun Hafiz tidak mengerti. Mungkin pertanyaan Hafiz tidak dia sukai membuat Hafiz semakin curiga saja.
"Dia bilang, di sini diproduksi produk-produk seperti sabun dan shampoo bayi. Dan bahan-bahan yang dipakai aman," kata Yuri menjawab pertanyaan Hafiz.
"Kau paham bahasa mereka tu?" tanya Hafiz tidak percaya.
"Yup, mungkin kau mengira Yola yang terhebat. Tapi soal bahasa, aku menguasai beberapa bahasa, Japan, chinese, English, Jerman, Khmer dan tagalog, aku tahu meski tidak fasih. Melayu apa lagi, keciiil!" jawab Yuri dengan senyum bangga mengembang di bibirnya.
Hafiz tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
"Untuk ape kau belajar bahasa sebanyak itu?" tanyanya spontan.
Yuri mendelik jengkel pada Hafiz, bukan respon kagum yang dia dapatkan dari Hafiz tetapi malah pertanyaan bodoh penuh kecurigaan.
"Untuk apa? Pertanyaan bodoh macam apa itu? Menguasai banyak bahasa tentu berguna jika sering bepergian ke berbagai negara," kata Yuri.
Hafiz kini menatap Yuri. Terlintas di benaknya satu ide, mungkin dengan pura-pura mengagumi Yuri, Hafiz bisa naik ke level pura-pura menyukai gadis itu. Ya, Hafiz telah memikirkannya, cara terbaik untuk mendapatkan informasi tentang Lucas salah satunya adalah lewat Yuri. Bukankah Yuri adalah anak angkat Lucas?
__ADS_1
"Kenapa kamu melihatku begitu? Kamu mulai suka padaku?" Meski sinis tapi terdengar jelas kalau Yuri ingin menggodanya.
Tak apelah Hafiz, sikit jual mahal je agar dia dapat lebih penasaran dengan kau, batin Hafiz.
"Tak payah banyak cakap, dengarkan penjelasan Tuan pengawas tu," kata Hafiz mencoba mengelak.
Benar saja, tindakan Hafiz menarik ulur hati Yuri sepertinya berjalan sangat mulus. Hafiz merasa sangat perlu melakukan ini karena sebelumnya dia tahu Yuri pernah memanfaatkannya saat mabuk dan bahkan berpura-pura hamil hingga dia hampir saja bertanggung jawab dengan mengawini wanita ini. Tapi untuk kali ini Hafiz akan membuat Yuri benar-benar jatuh cinta berat padanya sehingga dia dengan suka rela mau berbagi informasi tentang Lucas dengan Hafiz.
Hafiz tahu mempermainkan perasaan wanita itu tidak benar. Dan itu memang sedikit kejam. Kejam? Kejam mana dengan pengkhianatan yang Yuri lakukan pada Yola dan dirinya?
Dan begitulah selama beberapa hari yang singkat ini, Hafiz berpura-pura pelan-pelan membuka diri dan maafnya pada Yuri namun tetap meninggalkan kesan cuek sesekali agar wanita itu tetap penasaran padanya. Hingga akhirnya dua hari lalu wanita itu datang padanya, membawanya pergi ke tempat yang dia kira aman dan tak ada yang mengikuti mereka
"Yuri, kau kenape?" tanya Hafiz heran.
"Hafiz, aku mau tanya. Bisakah kau menolongku?" tanya Yuri.
"Tolong ape?" Hafiz balik bertanya.
"Bantu aku lepas dari Lucas. Aku juga akan membantumu mendapatkan informasi tentang dia, kamu mau kan?"
Yuri ternyata tak sebodoh yang Hafiz kira. Dari informasi yang Hafiz tangkap dari pengakuan Yuri, Lucas memang sengaja mengirim dan memberi waktu dan tempat bagi Yuri untuk menggoda Hafiz dan nantinya mereka akan memanfaatkan Hafiz untuk memudahkan mereka mengatasi Ilham. Karena itulah keduanya pura-pura menjalin hubungan dekat selama beberapa hari ini. Dari informasi Yuri Hafiz tahu kalau Mr. Y dan Lucas adalah orang yang sama.
Yuri sudah lelah dengan semua ini. Semakin hari Lucas semakin keterlaluan memberikan tugas padanya. Jika tak sesuai dengan yang diharapkan pria itu, Lucas selalu mengancamnya dengan mengingatkan tentang kematian Tengku Yahya Nirwan yang diakibatkan olehnya. Yuri takut, dia ingin lepas dari pria itu. Tetapi sejauh apa pun dia bersembunyi pria itu pasti akan menemukannya. Dan cara satu-satunya untuk lepas dari Lucas adalah membantu musuhnya menyingkirkan pria tua itu!
***
Hai, hai, hai ...
__ADS_1
Jangan lupa like,like komentnya ya ...