
"Pengaman ape maksudmu, Yola?" tanya Ilham kesal.
Yola segera duduk sebelum Ilham kembali memaksanya untuk berhubungan suami istri tanpa pengaman.
"Aku sudah memikirkannya, Abang. Yola nggak mau hamil. Setidaknya nggak sekarang," katanya sembari menurunkan kakinya ke lantai.
Ilham mendekatkan dirinya pada Yola dan duduk di sebelah wanita itu. Sambil menghela napas, Ilham mencoba bertanya dengan sabar pada Yola.
"Kenape kau tak nak? Ammar dah besar pun. Kite semestinya bahkan dah punya adiknya Ammar sedari dulu andai kau dan Abang tak berpisah, Yola," kata Ilham sembari menggenggam tangan ibu muda itu seakan mencoba meyakinkan.
"Yola menggeleng. Abang jangan pura- pura tidak tahu. Masalah kita masih banyak. Masalah Papa yang tidak merestui kita, masalah Hafiz juga, juga hubungan kita yang bahkan belum legal di mata negara. Kita bahkan nggak punya dokumen legal pernikahan," kata Yola sedikit kesal.
Lagi- lagi Ilham hanya bisa menarik napas panjang.
"Abang dah janji pada Yola akan selesaikan masalah tu. Abang akan berusaha dapatkan kembali hati Papa Abi. Abang jni suami suami Yola, ape yang Yola ragukan mengenai ketulusan Abang? Kite dah punya Ammar. Kite pasti boleh melewati semua perkara apa pun," kata Ilham.
Yola tidak langsung menjawab perkataan Ilham, melainkan langsung berdiri dari ranjang.
"Terakhir kali Abang juga berkata begitu 7 tahun yang lalu. 'Apa yang Yola takutkan? Abang Ilham adalah suaminya Yola. Takut Abang nggak tanggungjawabkah?' Gitu kan abang bilang 7 tahun yang lalu pada Yola? Tapi buktinya? Abang menikahi Sonia, menyakiti hatiku sehingga kita berpisah. Dan aku mana tau kalau akibat percaya pada janji abang waktu itu membuat aku mengandung Ammar. Itu masa- masa paling berat dalam hidupku. Aku hamil tanpa suami yang mendukungku di sampingku. Semua menghinaku, menghujatku. Mengatakan kalau aku perempuan gampangan. Dan itu berakhir dengan Ammar yang juga berpisah denganku. Aku nggak bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Aku terlalu takut menyayangi dia. Dan aku nggak mau itu terjadi lagi pada anak yang akan kulahirkan lagi nanti. Aku benar- benar belum siap kalau sampai aku hamil lagi, Abaaaanng ....." tangis Yola.
Kini Yola sampai berjongkok dan membenamkan wajahnya di lututnya. Tangisnya terdengar di ruangan itu. Ilham yang melihat Yola menangis merasa iba akan hal itu. Ilham kemudian bangkit dan menghampiri Yola. Dengan sabar Ilham membantu Yola berdiri dan kemudian membawanya ke dekapannya.
"Maafkan Abang Yola. Abang tak ade di sisi Yola di mase kau sangat membutuhkan dukungan dari abang. Abang takkan membela diri pasal tu. Tapi sungguh Abang planningkan bulan madu untuk kite ni, selain agar kite dapat menikmati mase berdua, Abang juga mahu kite merencanakan untuk mempunyai budak kecil, adiknya Ammar yang akan kite rawat dan kite tumbuh besarkan bersama untuk menebus kesalahan kite pada Ammar dahulu. Selain itu pula, Abang pikir pun Papa Abi dan Mama Ratih tak kan punye pilihan lain selain merestui kite apabile kau mengandung anak abang lagi," kata Ilham.
Yola tak menjawab melainkan semakin membenamkan wajahnya di dada Ilham agar suara tangisnya bisa diredam.
"Tapi kalau Yola belum siap pun tak ape. Abang boleh mengerti perasaan Yola. Jom kite tidur siang sahaja. Nanti petang kita pusing- pusing cari makanan," kata Ilham sembari menuntun Yola kembali ke tempat tidur.
"Atau Yola lapar ke? Abang boleh panggilkan layanan kamar kat sini," kata Ilham.
Yola menggeleng.
"Yola udah makan tadi sebelum berangkat," jawabnya.
Duuuh gemasnya. Ilham merasa saat ini Yola berubah kembali menjadi Yola kecil yang baru dinikahinya 11 tahun silam. Gadis kecil yang sangat takut akan hamil kalau dekat- dekat dengannya.
__ADS_1
Ilham mendudukan Yola kembali ke ranjang dan menekan pundaknya.
"Jom, kite tidur sahaja," kata Ilham sembari mengitari tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sisi lain tempat tidur.
Yola manut dan menurut saja saat Ilham membawanya tidur ke pelukannya.
Pelukan pria itu sangat nyaman dan menenangkan untuk Yola rasakan. Rasanya Yola ingin waktu berhenti saat ini saja. Perasaan dilindungi turut dia rasakan saat kepalanya berlabuh di dada bidang Ilham. Hingga tak ia rasa, matanya pun mulai terpejam dan Yola pun berlayar ke dunia mimpi.
***
Sesuatu yang dingin terasa menyentuh pipinya. Pun dengan air yang menetes di beberaoa bagian wajahnya membuat Yola mau tak mau terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Sesosok wajah yang terpahat sempurna itu terpampang di hadapannya.
"Sayang, bangun ...."
Ilham yang baru saja mandi dan hanya menggunakan selembar handuk untuk menutupi tubuhnya membangunkan Yola yang kelihatannya sangat nyenyak menikmati tidur siangnya. Wanita itu memang jarang bisa tidur siang. Dari sejak dia mulai masuk di dunia karir dan pekerjaan telah lama dia tidak memanjakan tubuhnya seperti ini. Jadi sangat wajar kalau Yola tidur sangat lelap siang ini.
"Jam berapa ini, Abang?" tanya Yola
"Sekejap!" Pria itu segera meraih ponsel di atas nakas.
Ilham menarik tangan Yola agar dia segera bangun.
"Hooooaaaammm," Yola menguap dengan mulut lebar- lebar.
Membuat Ilham geleng-geleng kepala dan tertawa geli. Kapan lagi coba dia bisa melihat Ms. Perfeksionis yang selalu menjaga penampilannya ini menguap selebar itu.
"Cepat mandi!"
Ilham melempar handuk yang baru saja dia keluarkan dari koper tepat mendarat di wajah Yola.
Masih enggan bangkit dari ranjang, Ilham dengan tak sabar menarik kembali tangan Yola dan membawanya ke kamar mandi.
"Abaaang aaaaa. Tunggu sebentar!" jerit Yola saat Ilham mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi.
"Cepat sikit! Kalau Yola lama macam mana nak tengok sunset nanti?"
__ADS_1
"Itu cuma matahari tenggelam Abang. Tiap hari juga ada!" protes Yola.
"Tak payah banyak alasan. Cepat mandi atau kalau tak abang yang akan mandikan Yola. Tapi sekali abang masuk ke dalam, jangan harap itu hanya sekedar mandi...." ancam Ilham.
Mendengar itu Yola segera buru- buru menyahut dan menutup pintu kamar mandi.
"Ya, ya, ya .... Yola segera mandi!" katanya panik.
Ilham tersenyum senang melihat tingkah Yola. Kapan lagi mereka bisa menghabiskan masa indah berdua seperti ini? Mereka benar- benar seperti pasangan normal sekarang.
Tak butuh waktu lama untuk Yola mandi. Sekitar 10 menit, saat Yola keluar dari kamar mandi, ia menemukan Ilham telah memakai baju casual yang terlihat sangat matching di tubuhnya.
"Kenape? Abang handsome ke?" tanya Ilham.
Yola mengangguk mengiyakan.
Yola segera memakai baju yang dia ambil sari koper. Celana jeans dan t-shirt berwarna putih membuatnya nampak serasi dengan pakaian yang sedang dipakai Ilham.
"Petang ni kite ke pantai sahaja dulu. Lepas tu nanti malam kite cari spot- spot tempat membeli makanan, oke?"
Yola mengangguk.
Saat keduanya tengah berada di pantai, tiba- tiba ponsel Yola berdering. Yola mengangkatnya.
"Hallo ...."
"Yola, coba lihat ke belakang!"
Yola dengan patuhnya entah bagaimana mengikuti kemauan si penelepon. Ia pun menoleh. Dan ...
"Aaaaaaaa. Ternyata benar kamu Yola, aku kira tadi aku salah. Ternyata benar- benar Yola...." kata gadis itu kegirangan.
"Yu- yuri???"
****
__ADS_1
Guys segini dulu. Jangan. lupa like koment hatinya ya..