
"Ape yang Atok nak sampaikan pade Ilham?" tanya Ilham pada Atok Yahya sesaat setelah Yola membawa Ammar untuk ke ruangannya
"Atok dengar ade yang membeli saham N- one atas nama Yolanda. Itu betul ke?" tanya Atok Yahya.
Ilham mengangguk.
"Betul. Tetapi Yolanda dah cakap kalau bukan dia yang membeli saham N- one tu. Dan Ilham percaya pada Yolanda," jawab pria paruh baya itu.
Atok Yahya mengangguk sambil berpikir keras.
"Atok pun percaya. Tapi Ilham kau perlu menyelidik pasal ni. 5% dari saham N-one bukanlah jumlah sikit. Kalau ade yang berniat curang pade kite, dia tumpuk sikit- sikit dari saham N- one dari pembelian beberapa orang, itu dapat membahayakan kite. Kau paham tak?" tanya Atok Yahya.
Ilham mengangguk.
"Ilham paham, Tok. Nanti Ilham akan mencari tahu siape orang di balik nama Yolanda Gunawan yang membeli saham kite tu," janji Ilham mencoba menenangkan sang Atok.
"Tak cukup kalau macam tu. Kau juga mesti perketat persyaratan membeli saham N-one melalui online. Mesti ade identity asli para pembeli saham tu," kata Tengku Yahya Nirwan pada cucunya itu.
"Pasalnya, Tok. Kite hanya menjual saham sahaja di Bursa Malaysia. Tetapi kalau pembeli nak buat akun baru member di platform yang menjadi perantara, kita pun tak tahu macam mana mereka boleh verifikasi. Perlu indentity card ke atau macam mana," jawab Ilham menerangkan.
"Kerana itu Atok mahu kau periksa dengan betul- betul dahulu," kata orang tua itu sambil menghela napasnya.
"Baiklah, Atok," jawab Ilham.
"Sebetulnya Atok menyangka ini tak jauh-jauh dari orang tu. Siape namanya? Mr. Y?" tanya Atok Yahya lagi.
"Ilham pun berpikir sama, Atok. Semenjak dia mengirim surel ancaman untuk Atok yang berisikan vidio Yola dan Ilham tu, dia pun tak pernah memberi kabar lagi kan? Dan kalau Ilham tak salah ingat, dalam surelnya die juga meminta Atok menjual beberapa persen saham N- one padanya sebagai pemegang saham anonim di N- one," kata Ilham.
"Ya. Hal ni terjadi berkat kau jugalah ni. Kalau kau hati- hati tak mungkin dia boleh dapat korang punya vidio di dalam kereta di parking basement area," sindir Atok Yahya.
Ilham hanya cengengesan mendengarnya.
"Maafkan Ilham, Atok. Ilham akan selesaikan problem ni untuk Atok," kata pria itu. "Atok ni macam tak tahu je rasanye jauh dengan bini selama bertahun- tahun kemudian berjumpe lagi."
__ADS_1
"Kau memang pandai sangat berkilah, kalau macam tu ape gunanya rumah? Berbuat macam tu tak di kereta, di office pun sama je. Macam mana kalau pegawai lain tengok?" omel Atok Yahya sambil menyodok perut Ilham dengan ujung tongkatnya.
"Aww ... ampun, Atok!" teriak Ilham pura- pura kesakitan.
"Kau ulangi lagi nanti," suruh pria itu yang berarti kebalikannya.
"Hu uh, mestilah Atok," seloroh Ilham yang semakin disambut oleh Atok Yahya dengan menyodok perut Ilham semakin keras.
"Degilnya (nakalnya) budak tuha ni!" omel sang Atok.
Ilham tertawa sambil meringis disodok perutnya berkali- kali oleh sang kakek. Sebelumnya Atok dan Ilham tak pernah saling bergurau dengan cara seperti ini. Ini membuat Ilham merasa dekat dengan sang Atok. Dan Ilham merasa sikap atoknya ini berubah pastinya karena rujuknya dia dan Yola juga.
Tak lama keduanya larut dalam cengkrama atok dan cucu, Atok Yahya kembali bicara pada Ilham.
"Pasal Yola apa hal terjadi? Kenapa atok tengok dia nampak kusut, kacau dan nampal buruk sangat? Bajunya pun robek," tanya Atok Yahya.
Ilham mendesah mengingat kejadian beberapa waktu sebelum Atok dan Ammar datang. Inginnya ia tidak perlu bercerita dengan Atok, tetapi Ilham rasa itu tidak mungkin. Dengan kondisi Yola yang seperti itu Atok tak mungkin percaya kalau cucu menantu kesayangannya itu baik- baik saja.
"Sonia datang kat sini, dan mengajak Yola bergaduh. Untung sahaja Ilham cepat- cepat balik ke N- one. Kalau tak hancur, Supermarket N- one di bawah Atok," kata Ilham.
Atok Yahya mendengus kasar.
"Atok dah cakap dari sejak lama pada kau, Ilham. Ceraikan wanita tu! Kau tak dengar juge," omel sang Atok dengan raut wajah kesal.
Ilham meraih tangan sang kakek dan mengelus punggung tangan keriput milik orang tua itu.
"Atok ...." panggil Ilham lembut. "Atok usah khawatir. Ilham dah pun ikrarkan talak pada Sonia, dan ini pun sedang dalam proses pengajuan perceraian ke mahkamah syariah. Lepas tu, Ilham akan buat cucu menantu kesayangan atok tu menjadi wanita paling bahagiaaaa .... di dunia!"
"Betul ke? Takutnya hanya janji manis sahaja," kata pria itu.
"Betul. Kalau Atok tak percaya Atok tengok sendirilah nanti," kata Ilham mencoba meyakinkan Atok Yahya.
Lelaki tua itu mengangguk- angguk.
__ADS_1
"Lekaslah kau urus perceraian kau tu, habis tu barulah kita bikinkan majlis perkahwinan termegah untuk korang berdua dengan Yolanda. Kite mesti umumkan secara besar- besaran siape cucu menantu keluarga Nirwan yang sebenarnye," kata Atok Yahya dengan penuh antusias.
Ilham ikut mengangguk
"Ilham juge dah berpikir ke arah sana Atok. Dalam mase tak lama ni, Ilham akan persiapkan planning untuk majlis perkahwinan kami berdua. Atok usah risaukan tu. Lagi pula kalau terlalu lama, tak eloklah kalau mempelai wanita duduk di pelaminan dengan perut besar. Ilham pun tak boleh menunda waktu terlalu lama," kata Ilham.
"Bagus kalau kau berpikiran macam tu. Selain membahagikan Yola dan menebus salah yang kau buat padanye, mertua kau juga boleh luluh hatinya kalau kau perlakukan anaknya dengan baik," kata Atok Yahya.
"Bicara soal mertua, Ilham lupa bertanya pada Atok, Atok tahu ke Papa Abi ade di KL?" tanya Ilham.
"Aaahh ... Atok juge hampir lupa nak katakan ini pade kau Ilham. Abimanyu ade datang ke rumah Atok tadi malam. Dia datang nak bawa Ammar holiday ke Jakarta beberapa pekan," kata Atok Yahya.
Ilham mendengus sebal karena mertuanya itu masih keras kepala ingin jual mahal padanya. Tidak mau meminta ijin pada Ilham malah meminta ijin pada Atok Yahya. Kelakuan ayah dan anak sama saja, gerutu Ilham dalam hati.
"Atok memberi ijin. Atok pikir- pikir ini baik juge untuk hubungan kalian. Ammar anak yang pandai, dia akan membantumu memperbaiki hubunganmu dengan mertuamu itu," kata Atok.
Dan Ilham mau tak mau mengiyakan saja.
"Ilhaaaam!!! Kau dah tengok berita ke?"
Tiba- tiba Nadira datang dari balik pintu dan mengejutkan kedua pria di dalamnya.
"Eh, Tuan Presdir, maaf .... Saye tak tahu Tuan Presdir ade kat sini," kata Nadira gugup. Dia terlihat panik.
"Pelan sikit, Nadira," tegur Ilham. "Ceritakan ade berita ape?!"
"Hmmm .... tengoklah sendiri," kata Nadira sambil menyodorkan ponsel miliknya.
***
Bikin part ini author ngantuk berat guys. Jadi harap maklum kalau isinya agak rada- rada ya...
Lagi seperti biasa, budayakan like dan koment setelah selesai baca ya...
__ADS_1