
Usai bertelepon dengan Hafiz sehabis isya, Ilham pun mencoba menghubungi Yola, mencoba menanyakan kepada istrinya itu, kenapa sudah malam istri, mama dan mertuanya itu belum ada tanda-tanda ingin pulang.
"Sayang, korang semua kenape belum balik kat rumah? Dah jam berapa ni? Sedari tadi petang hingga malam, asyik shopping sahaja," omel Ilham begitu panggilan telepon itu terhubung.
"Sebentar lagi, Abang! Mama masih belanja untuk sekalian oleh-oleh untuk pulang ke Jakarta nanti," jawab Yola di seberang sana.
"Mamah nak balik? Kenape? Kenape lekas sangat nak balik Jakarta?" tanya Ilham balik dengan heran dan sedikit terkejut.
"Aduuh abang, Yola udah larang mama pulang dulu tapi kayaknya mama udah rindu berat sama papa, gimana donk?" seloroh Yola di telepon yang bermaksud untuk menggoda sang Mama.
[Diiih, berani sekarang godain mama, ya? Udah berani nakal, ya?!!] balas mama Ratih terdengar di telepon.
Entah apa yang dilakukan Mama Ratih pada Yola, Ilham tak tahu. Tetapi mendengar Yola yang sedikit merintih kesakitan sambil tertawa-tawa, Ilham bisa menebak kalau mertuanya itu mungkin tengah menjewer telinga istrinya sekarang atau mencubit kecil istrinya itu.
"Ampun, Ma, ampun! Abang tunggu sebentar ya, bentar lagi kami pulang kok," kata Yola mencoba menenangkan.
Dan panggilan telepon itu pun berakhir. Ilham menarik napas dan kemudian membuang stok karbondioksida dalam sistim pernapasannya demi mengingat sesuatu. Ya, ini pun hampir terlewatkan.
Padahal telah lama dia ingin menanyakan pada mama mertuanya itu tentang satu hal, yaitu mengenai dari mana Mama Ratih mengetahui akan ada konflik tentang saham di N-one Grocery hingga membuat rencana seapik mungkin meminta Ilham untuk memberikan seluruh sahamnya dan memindahkannya atas nama istrinya sendiri, Yolanda Gunawan. Lalu sebanyak apa yang Mama Ratih tahu? Dan sebelum Mama Ratih pulang ke Indonesia, Ilham bertekad dia harus menanyakan itu, agar semua tidak rancu. Kalau perlu malam ini, bahkan seharusnya dia juga perlu menyelidiki hal lain, seperti menyelidiki tentang patung emas itu misalnya? Oke, baiklah dia harus bertindak cepat sekarang!
Lalu sembari menunggu wanita-wanita tercinta dalam hidupnya itu pulang dari hang out mereka, sesegera mungkin Ilham mengakses aplikasi mesin pencari pada ponselnya. Hal yang dia ketikkan pada fitur keyboard ponselnya pertama-tama adalah mengetikkan kata "patung emas". Dan hasil dari pencariannya di platform itu membuatnya merasa bodoh sendiri, karena hasil pencarian yang keluar kebanyakan menampilkan beberapa patung buddha emas dari berbagai negara. Lalu sebagiannya lagi hasil dari searching-nya tak lain dan tak bukan menampilkan beberapa lapak di aplikasi jual beli yang menjual miniatur patung emas buddha.
Baiklah, mungkin dia perlu mengganti kata kunci lain untuk mendapatkan hasil yang dinginkannya. Dan kali ini Ilham mengganti kata kuncinya dengan tiga kata, yaitu, "patung emas Cambodia", masih tak puas dengan hasilnya, Ilham menggantinya lagi dengan kata "patung emas dicuri".
Sungguh Ilham merasa berdosa dan merasa curang mengetikkan kata-kata itu, seolah dia tidak percaya pada sang Atok sehingga sampai memikirkan kemungkinan ada hal seperti itu terjadi di masa lalu. Tetapi Ilham tidak punya pilihan lain. Dengan lincah jari-jarinya mengetik kalimat itu di layar ponselnya, namun tak ada satu pun dari hasil searching-nya itu yang benar-benar memuaskan hati. Hingga akhirnya Ilham tercenung beberapa saat dan terpikir olehnya mengetik dua kata. "Montha Somnang"
__ADS_1
Kali ini mengejutkan, meski tidak ada korelasi dengan patung emas, tetapi beberapa hasil pencarian sepertinya mengarah pada sebuah situs link bertuliskan bahasa Khmer yang Ilham tahu situs itu berasal dari Cambodia. Ilham mencoba membuka link satu-satu. Dari informasi situs berita yang dia terjemahkan dan baca, Montha Somnang adalah seorang anak pengusaha kaya raya yang tinggal di Pnom Penh, yang meninggal di usianya yang masih belia karena sakit puluhan tahun silam.
Selama beberapa lama Ilham berselancar di dunia internet, Yola, mama Ratih, Ammar dan Zubaedah akhirnya pulang juga.
"Ilham, abang mau makan nggak? Yola tadi beli ini," ujar Yola seraya mengeluarkan sekotak makanan dari dalam paper bag belanjaannya.
"Nanti sahaja abang makan, Yola. Abang ade yang mesti dibicarakan dulu dengan Mama Ratih," kata pria itua.
Yola mengernyitkan keningnya, Mama Ratih juga, sementara Mama Zubaedah telah pergi dahulu membawa Ammar ke kamarnya karena bocah itu nampaknya telah mengantuk.
"Hah? Mau bicara apa?" tanya Yola heran, namun tetap sibuk memilah-milih barang belanjaannya.
"Mamah, Ilham boleh meminta waktu luang Mamah sekejap? Ade yang nak Ilham tanyakan pada Mamah," tanya Ilham tak menghiraukan pertanyaan Yola.
Ilhan mengangguk mengiyakan.
"Yola habis ni rehat di kamar sahaja, hmm?" pinta Ilham.
"Idiih memangnya kenapa? Emangnya rahasia banget ngomongnya sama Mrs. mertua ya? Sampai segitunya amat ngusir bini sendiri?" tuduh Yola. "Aku cemburu nih!"
Ilham tertawa kecil mendengar tuduhan Yola dengan mimik cemberut itu.
"Hahaha, amboi-amboi tak payah jealous macam tu, sayang. Abang ni hanya tak nak isteri abang terlalu penat. Kau tak penat pusing-pusing ke? Dari petang tadi sampai malam macam ni baru balik. Hufffft ... memanglah kalau wanita dah shoping tak lah ingat lagi ape-ape," kata Ilham sembari mengelus lengan Yola. "Dah lah tu, Yola jangan melawan abang, Yola balik rehat kat bilik!"
"Ck ..." Yola berdecak. "Mau ngomong apa sih? Aku penasaran nih ... Jangan-jangan abang sama mama mau ngomongin aku nih?" tuduhnya lagi dengan pandangan memicing.
__ADS_1
"Dah rehat sana! Kasihan abang tengok lil sist-nya Ammar dibawa pusing-pusing sedari tadi," bujuk Ilham.
"Diiih, abang sok tahu deh. Tahu dari mana kalau dia lil sist?"
"Mestilah abang tau, abang yang buat pun, hahaha," gelaknya.
Yola buru-buru membekap mulut Ilham yang ember.
"Abang!Ngomong tuh jangan sembarang kenapa? Didengar orang nggak enak tau?" omel Yola.
"Kalau macam tu balik bilik sana! Atau kalau tak mahu abang buat Yola tambah penat lagi, mahu ke? Siape tahu kalau macam tu boleh buat Yola rehat dengan tenang," goda Ilham dengan kerlingan nakalnya.
"Ihhh, apaa sih ... abang omes mulu deh. Enggak ya, sorry, makasih! Aku mau tidur nyenyak malam ini tanpa gangguan!" kata Yola menaggapi gurauan nakal suaminya.
Dan kali ini segera dia mengangkat paper bag dan tote bag hasil belanjaannya ke kamar dengan sambil menggerutu. Ilham hanya tertawa menanggapi tingkah bawel istrinya itu. Begitu Yola masuk ke kamar mereka, tak berselang lama Ratih pun keluar dari ruang tamu mendatangi Ilham.
"Ilham, kamu mau ngomong apa sama mama?" tanya wanita menjelang tua itu.
Ilham menatap Mama Ratih sejenak sebelum dia memulai pembicaraan.
"Mama tahu dari mana pasal ade yang nak merebut saham N-one? Mama ... tahu sesuatu tentang rahasia atok dan kakek Salim?"
****
Jangan lupa like dan komentya beib ...j
__ADS_1