Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Mommy Medusa


__ADS_3

"Mama, tolong bukakan pintu!" kata Abimanyu di telepon.


"Aduuuh Papa, tinggal pencet bell aja gitu loh, nanti dibukain sama si mbak," jawab Ratih. "Mama malas turun ke bawah."


"Buruan deh, turun dan buka sendiri pintunya. Papa bawa oleh- oleh dari KL, mama pasti suka," kata Abimanyu.


"Memang oleh- oleh apaan sih? Isss, mama malas deh turun. Udah jam berapa ni," omel Ratih lagi.


Ratih melirik jam di dinding. Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam lewat 15 menit.


"Buruan deh turun, nanti oleh- olehnya ngambek," kata Abimanyu.


"Oleh- oleh apaan sih?" tanya Ratih penasaran.


"Cepat turun makanya," suruh Abimanyu.


Karena penasaran, akhirnya wanita berusia 45 tahun itu segera turun dari ranjangnya dan malah pergi ke balkon depan. Kamarnya memang berada di lantai dua rumah ini.


Dari atas balkon Ratih celingak- celinguk ke bawah mencoba melihat ke teras yang berada tepat di bawah balkon.


"Paaaa!!!" panggilnya dari atas.


Abimanyu yang mendengar suara istrinya ada di atas balkon mencoba keluar teras untuk melihat.


"Mama, bukannya bukain pintu, kok malah ke situ?" protes Abimanyu.


"Habis Papa aneh, tinggal pencet bell aja gitu. Nanti biar mbak Dian yang buka di bawah. Memang ada oleh apaan sih???" tanya Ratih masih dari atas balkon.


"Neneeekkk!!!" tiba- tiba sesosok anak kecil keluar dari teras dan ikut mendongak ke atas ke arahnya.


Deg!!!


Ratih merasakan debaran tak menentu saat melihat anak kecil berusia 6 tahunan itu.


"Kamu ... Pa! Papa!! Dia???" Ratih bahkan tak kuasa untuk menebak lagi. Rasa bahagia dalam hatinya seakan membuncah.


Abimanyu mengangguk dengan raut wajah senang. Rasanya membuat istrinya merasakan kebahagiaan seperti ini saat ini adalah sesuatu hal yang langka untuk dilakukan.


"Hallo, Nenek Uti! Perkenalkan saye Ammar, budak kesayangan Mommy dan Daddy. Nenek tak nak ke bukakan pintu untuk Ammar?" tanya Ammar dengan wajah cemberut.


Ratih menganga sambil menutup mulutnya. Ya Tuhan, itu benar- benar cucunya Ammar. Cucu kesayangannya, buah hatinya yang telah lama dirindukannya.


Tanpa berkata apa- apa lagi, Ratih segera meninggalkan balkon dan berjalan cepat tak sabar ingin membukakan pintu.


Hal itu membuat Ammar heran.


"Kakek, nenek mane? Nenek tak nak ke bolehkan Ammar masuk?" tanya Ammar polos.

__ADS_1


Abimanyu tersenyum.


"Tak. Kamu tunggu sebentar lagi. Nenek sedang turun untuk bukakan kita pintu," kata Abimanyu menjelaskan.


Dan betul saja tak menunggu lama pintu itu pun terbuka.


Clekkkk!!!


Ratih terpaku sebentar untuk memperjelas penglihatannya bahwa cucu yang selalu dinantikannya itu benar- benar berada di hadapannya kini.


Bayi yang dulu sempat beberapa minggu dirawat dan digendongnya itu kini telah berubah menjadi anak lelaki tampan yang imut. Dia memiliki mata bulat dan besar serta bulu mata yang lentik seperti Yola. Sementara bentuk hidung dan bibirnya lebih mirip dengan Ilham.


"Neneeek, sampai bile Ammar nak berdiri kat sini???" rengek bocah itu menyadarkan Ratih.


"Ya ampuuuun, Sayaaaaang!!! Kamu Ammar? Ammarnya nenek???" pekik Ratih girang dan buru- buru memeluk cucunya itu.


Tak disangkanya dia akan mendapat kejutan membahagiakan seperti ini hari ini.


Masih tak percaya dia langsung memegangi pipi bocah itu, tubuhnya mencoba mencari- cari kemiripan yang membuat dia yakin kalau anak lelaki di depannya itu benar- benar Ammar cucunya.


"Papa?? Ini Ammar cucunya kita? Anaknya Yola, kan Pa?" tanya Ratih tak sabaran.


"Iya, donk! Mama nggak lihatkah dia gagah mirip Kakeknya," kata Abimanyu.


"Duuuh, pedenya! Ammar lebih mirip Ilham kali," cibir istrinya itu.


"Udah, Ma! Ayo bawa Ammar masuk dulu. Kasihan Ammarnya kalau di luar terus kayak begitu. Banyak nyamuk dingin lagi," kata Abimanyu mengajak keduanya masuk ke dalam.


Ketiganya pun segera masuk ke dalam. Ammar seperti kebiasaanya langsung membuka sepatu dan kaos kakinya.


"Nenek, kasut Ammar ni, Ammar taro dimane?" tanyanya.


"Kamu letakkan disitu saja, Sayang!" kata Ratih. "Nanti biar si Mbak yang masukkan ke rak sepatu."


"Tak boleh macam tu, Nenek. Grandma kate, semua mesti diletakkan pade tempatnye agar elok dipandang mata," celutuk Ammar.


Itu membuat Ratih takjub. Ammar benar- benar anak yang mandiri.


"Kalau begitu, letakin di rak sepatu aja. Ayo ikut nenek," kata Ratih sembari mengajak cucunya itu ke rak sepatu yang berada di samping rumah.


Setelah selesai mengurusi masalah sepatu, Ratih langsung menyuruh para ART-nya membuatkan makanan untuk Ammar.


"Ammar, enak nggak?" tanya nenek muda itu pada cucunya.


"Maksud nenek sedap?" tanya Ammar balik.


Ratih mengangguk sambil mengusap rambut anak itu.

__ADS_1


"Ho oh. Ini sedap sangat, Nek," jawab bocah itu.


"Ammar kesini, Mommy Yola tau?" tanya Ratih.


Ammar yang sudah selesai memakan sepiring nasi dan ayam tiba- tiba teringat sesuatu.


"Oh, ya ampun!!!" pekiknya.


Ratih mengernyitkan keningnya heran.


"Mommy kate, abang Ammar mestilah langsung peluk dan cium Nenek begitu sampai di Jakarta," kata anak lelaki itu. "Nenek .... Ammar boleh ke peluk dan cium nenek lagi? Nanti Mommy kecewa kalau Ammar tak peluk cium Nenek."


Ratih tersenyum dan merentangkan tangannya lebar- lebar.


"Tentu saja, Sayang."


Ammar segera turun dari kursi makan dan langsung memeluk neneknya itu. Tak lupa ia juga mencium sang nenek seperti apa yang disuruhkan Mommy Yola.


"Nek, Mommy titip salam rindu buat nenek. Mommy kate, nenek adalah yang paling beeeeesssst sedunia," kata Ammar sambil membentangkan tangannya membentuk lingkaran paling besar.


Ratih tersenyum melihat kepandaian cucunya ini dalam beradaptasi. Ammar sama sekali tak merasa canggung dengannya. Sungguh membuatnya merasa bangga.


"Mommy-mu pun adalah anak nenek yang paling beeeeesssttt, sedunia! Ammar tahu kenapa?" tanya Ratih.


"Kenapa, Nek?" tanya Ammar lugu.


"Karena Mommy Yola anak nenek satu- satunya. Jadi mestilah dia anak nenek yang ter-the besstt sedunia," jawab Ratih.


Ammar tertegun sejenak.


"Mommy Yola memanglah Mommy paling best sedunia, Nenek. Ammar pun punya dua Mommy. Mommy medusa dan dan Mommy Yola. Tapi mommy Yola tetap mommy yang paling beesssttt sedunia," pujinya.


Ratih mencoba tersenyum. Kata- kata Ammar yang menyebutkan kalau anak itu memiliki dua Mommy, pastilah yang dimaksud Ammar mommy medusa adalah perempuan ular yang telah membuat anak dan menantunya berpisah hingga puluhan tahun lamanya. Hal itu membuat Ratih merasa terpancing untuk menanyakan ke Ammar perihal hubungan antara Ilham dan Sonia.


"Ammar, Mommy medusa itu siapa?" tanya Ratih.


"Mommy medusa itu, Mommy Sonia, Nek. Itu pun nenek tak tahu," olok anak itu.


Ratih tersenyum kecut.


"Mommy Sonia itu apa tinggal dengan Ammar dan Daddy?" selidik Ratih.


****


Ngantuk berat lagi guys tapi demi kalian ku tahan demi biar bisa update.


Oleh karena itu jangan lupa dukung author ya, like dan komentarnya.

__ADS_1


__ADS_2