
"Yola mau kemane?" tanya Diana saat melihat Yola keluar dari kamarnya dengan memakai celana jeans dan baju kasual. Tidak seperti pakaian rumahan. Rambutnya saja masih basah tergerai tidak sempat dia keringkan.
"Aku keluar sebentar, Kak. Hmm .... anu, temanku mau ketemu sebentar," jawab Yola gugup.
Dia harus segera pergi sebelum Hafiz datang. Sangat gawat sekali kalau Hafiz dan Ilham sampai bertemu. Mereka akan bertikai lagi dan memperebutkan dirinya. Itu sama sekali bukan yang diharapkan Yola. Sungguh tak mengenakkan sekali rasanya berada di tengah- tengah kedua kakak beradik itu.
"Tapi Ammar sekejap lagi pasti pulang dan bawakan kite makanan," kata Diana berusaha mencegah Yola untuk pergi.
Yola terdiam sejenak berusaha mencari kata- kata yang tepat agar Diana membiarkan dia pergi.
"Atau ajak teman kau sahaja naik kat sini. Kite boleh tunggukan Hafiz datang dan makan bersama dengan kawan kau nanti. Kakak akan talipon dia supaye dia boleh belikan makanan lebih banyak agar cukup untuk kawan kau juge." kata Diana lagi. "Mana pulalah talipon bimbit ni kakak taruh tadi?"
Diana mencoba mencari ponselnya di sofa ruang tengah. Dan Yola mencegahnya. Dia segera menghalangi Diana dan memegang tangan kakaknya Hafiz itu.
Di saat dia berhadapan dengan Yola itulah, Diana melihat ada sesuatu yang lain di diri Yola. Yola terlihat sedikit gemukan dari terakhir kali mereka bertemu di Jakarta saat melamar wanita itu. Dia tidak terlalu memperhatikannya tadi. Dan matanya kini tertuju pada leher Yola. Denyut nadi di leher itu nampak berkedut cepat dan terlihat sangat jelas dari yang sering terlihat pada orang normal. Dadanya juga terlihat lebih berisi. Apakah mungkin ....
"Kakak, tak usah telepon Hafiz. Yola sebentar aja kok, dan kelihatannya temanku juga nggak akan bisa mampir karena kami akan ada urusan soal pekerjaan. Kakak nanti makan duluan aja dengan Hafiz dan anak- anak, oke? Sepertinya aku akan makan di luar juga malam ini," kata Yola dan segera melepaskan genggaman tangannya pada Diana.
"Tapi ...."
Belum sempat Diana bicara, Yola sudah keburu pergi dan menutup pintu apartemen. Dia harus segera pergi sebelum Hafiz datang.
Dan benar saja begitu sampai di bawah apartemen, Ilham telah menunggunya di luar mobil sambil berlipat tangan di atas dada. Pria itu menyambutnya dengan wajah ditekuk, kesal karena untuk bertemu istrinya aja dia harus sembunyi- sembunyi seperti ini. Padahal dia sudah berniat ingin mempublikasikan hubungan mereka kepada khalayak umum.
"Ayo kita segera pergi, Abang!" ajak Yola buru- buru masuk ke dalam mobil Ilham tanpa menghiraukan raut wajah protes Ilham.
Ilham geleng- geleng kepala melihat Yola yang masuk ke dalam mobil seperti orang yang takut tertangkap basah sedang melakukan perbuatan salah. Ilham jadi merasa seperti sedang membawa lari istri orang.
"Abang, cepetan!" perintah Yola tak sabar.
Dan akhirnya Ilham pun masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobil.
__ADS_1
"Mrs. Nirwan nak pergi kemane?" tanya pria itu.
"Diiih, mana ku tahu .... Abang yang ajak Yola, ya terserah abang mau bawa kemana. Yola ikut aja," kata Yola sambil memasang seat bealtnya.
"Kite tengok Ammar sahaja, di hotel tempat Papa Abi bermalam, macam mana?" tanya Ilham. "Habis tu kite pusing- pusing sekejap dan antar dia pulang ke rumah Atok."
"Haaa? Ammar masih sama Papa? Sedari tadi pagi belum pulang juga ke rumah Atok?" tanya Yola takjub dengan apa yang di dengarnya.
Ilham mengangguk.
"Jadi macam mana? Ke hotel tempat Papa duduk atau kite ke hotel lain sahaja Mrs. Nirwan?" godanya.
"Isss, tolong ya tolong .... pikirannya itu dikondisikan dikit, Abang. Jangan mikir ke sana mulu kenapa?" omel Yola.
"Tapi suke, kan?" goda Ilham semakin gencar.
"Ihhhh apaan siiiih? Udah cepetaaaan. Kita ke hotel tempat Papa nginap aja!" kata Yola yang wajahnya semakin merona.
"Cepetan berangkatnya! Atau aku turun lagi nih?!" desaknya.
Dan akhirnya Ilham menurut dan mulai menjalankan mobil keluar dari kawasan apartemen Gold Century. Pada saat yang sama dari arah gerbang masuk, mobil Hafiz memasuki apartemen itu. Dia sempat melihat mobilnya Ilham keluar dari gerbang keluar, tetapi dia tak melihat penumpang di dalamnya. Mobil itu jelas ada stiker N-one Grocery.
Segera Hafiz menuju apartemen Yola di lantai 9. Pintu dibukakan oleh Diana.
"Ini aku bawakan makanan. Selesai Yola mandi kite boleh makan bersama," kata Hafiz.
Lalu dia pun meletakkan bungkusan makanan yang dibawanya itu si atas meja.
"Yola dah selesai pun mandi. Habis tu dia pergi pula," kata Diana melaporkan.
"Kemane?" tanya Hafiz tak senang.
__ADS_1
Teringat olehnya mobil Ilham di depan apartemen tadi. Kenapa dia tidak curiga kalau ada Yola di dalam? Hafiz memang tahu kalau Ilham sengaja membeli apartemen di dekat flat yang disewa Yola untuk bisa mendekati lagi mantan istrinya itu.
"Yola kate ada kawannya tunggu die di bawah. Mereka ade perlu nak uruskan masalah pekerjaan," jawab Diana. "Die juge suruh kite makan lebih dulu kerana die akann makan di luar dengan kawannya tu."
Hafiz mendengus kasar. Kawan katanya? Kawan dalam percintaan? batinnya sinis.
"Baiklah kalau macam tu. Kalau kakak lapar, makan sahaja lebih dahulu dengan budak- budak tu," katanya sambil melihat pada keponakan- keponakan kecilnya itu.
Meski masih kesal, tetapi Hafiz pun tak punya pilihan lain selain menunggunya Yola pulang. Dia sempat menelepon beberapa kali, namun Yola tak kunjung menerima panggilan teleponnya. Dan itu jelas membuktikan kalau Yola sedang bersama Ilham saat ini. Berkali- kali Hafiz menarik napas mencoba untuk mengusir segala bayangan tentang apa yang mungkin di lakukan kedua orang itu.
"Hafiz, kakak boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Diana sesaat setelah dia selesai memberi anak- anaknya makan.
Dan kini mereka telah berada di ruang tengah. Hafiz sendiri sedang menonton televisi walaupun sebenarnya pikirannya tidak benar-benar ada di sana.
"Tanya sahaja, ade ape?" tanya Hafiz.
"Hubungan kau dan Yolanda dah sampai sejauh ape? Emmm .... Maksud kakak, kau dan die .... enggg .... Dah sampai pade tahap berhubungan badan ke?" tanya Diana hati-hati.
Diana adalah seorang wanita, terlebih- lebih dia seorang ibu. Kalau menurut pengamatannya, keadaan tubuh Yola saat ini persis seperti wanita yang sedang berbadan dua.
Hafiz tiba- tiba tersipu mendengar pertanyaan sang kakak.
"Hahaha .... pertanyaan macam ape tu? Aku dan Yola belum sampai ke sana. Dia bukan wanita macam tu dan Hafiz pula takkan perlakukan die seperti wanita murahan. Kenape kakak tanya pasal tu?" tanya Hafiz dengan wajah merona.
Diana menghela napas berat.
"Hafiz, kau tak boleh lupakan die ke?"
***
Hai, hai reader kesayangan akoe... Jangan lupa tetap suport author ya dengan like, koment ya.... Heran author kadang-kadang. Yang baca ribuan, tapi ninggalin like aja kok berat amat huhuhu .... Padahal tinggal pencet doank...
__ADS_1
Btw, kalau like dan komentarnya banyak, author update lagi nanti sore atau malam.