
*Flashback On*
Majlis perkahwinan Sonia dan Ilham itu, meski berlangsung mewah seperti permintaan Sonia namun nyatanya pesta pernikahan itu, seperti tak bernyawa dan tidak hidup sama sekali. Bagaimana tidak, mempelai pria dan keluarganya terlihat sangat tidak menikmati acara itu. Semua larut dengan pikirannya, wajah mereka diliputi ketegangan, kusut meski sesekali Zubaedah terpaksa harus tetap melempar senyum kecut pada para undangan yang datang. Ilham di pelaminan pun hanya menatap kosong pada para tetamu undangan dan juga penyanyi ibu kota yang diundang oleh Sonia demi meninggalkan kesan "wah" para undangan yang hadir di resepsi sekali seumur hidupnya itu.
Semua itu karena kedatangan Yolanda dan orang tuanya. Ilham yang sebelumnya memang tidak mood melangsungkan pernikahan terpaksa ini, menjadi semakin bad mood. Bahkan dia sempat-sempatnya minta ijin ke toilet hotel dan tidak kembali ke pelaminan selama hampir dua jam. Sungguh sangat membuat Sonia kesal.
Dan semua itu belum cukup. Ketika acara itu selesai, Sonia yang berharap akan terjadi malam pertama yang indah di salah satu kamar suite hotel yang telah dipilihkan khusus untuk mereka berdua, kembali harus menahan sakit hati saat Ilham lebih memilih untuk meninggalkannya. Belakangan dia tahu kalau pria yang sudah berstatus suaminya itu lebih memilih tidur di rumah yang dihadiahkan Atok Yahya untuk pernikahannya dan Yola. Sedihnya, untuk dirinya sendiri jangankan memberi hadiah rumah, memandangnya saja Tengku Yahya Nirwan seolah tak sudi. Selama beberapa hari sejak dia menikah dengan Ilham, dia tadinya bermaksud tinggal di rumah besar keluarga Nirwan, tetapi semua mengacuhkannya di sana. Ditambah lagi Ilham tidak pernah pulang-pulang ke rumah sang Atok demi menghindari Sonia. Akhirnya dengan berat hati, Sonia memilih kembali pulang ke rumah orang tuanya.
"Ilham!! Kau tu tak punya hati ke? Kite dah sepekan berkahwin tetapi kau selalu nak hindarkan aku. Sampai bila?!" teriak Sonia saat dia mengunjungi Ilham di kantor N-one.
Lelaki itu memang sudah tidak mengambil mata kuliah lagi di Berlin. Ilham yang waktu itu mengambil bacherol (S1) management business di sana hanya tinggal menyusun skripsi. Tetapi kejadian yang membuat hidupnya porak poranda itu, membuatnya enggan buru-buru ke Berlin. Ilham memutuskan untuk menunda beberapa minggu keberangkatannya ke negara Jerman itu.
Ilham bangkit dari duduknya dan menutup pintu ruang kerja yang diberikan Atok Yahya selama dia bantu-bantu di N-one selagi dia masih ada di Kuala Lumpur. Bagaimana pun dia tidak mungkin membiarkan orang segedung ini tahu masalah rumah tangganya dengan Sonia.
"Sampai bila?" Ilham mengulang pertanyaan itu. "Sampai selamanya aku akan tetap hindarkan kau. Sampai perkahwinan celaka ni usai!"
"Perkahwinan celaka kau cakap?" Sonia tak terima.
Ilham mengangguk.
"Kalau tak celaka ape namanya? Sonia! Kau dah tahu kenape kite mesti berkahwin. Hanya kerana kau mengancam aku dan keluargaku dengan informasi tentang Andini. Lepas tu kau nak berharap ape?" Ilham mulai sinis sekarang.
"Kau tak hargai aku sikit pun? Terlepas macam mana perkahwinan ni boleh terjadi, jangan lupakan aku isterimu yang sah Ilham! Kau punya tanggung jawab memberi aku nafkah lahir dan batin!" teriak Sonia tak bisa menahan amarahnya.
"Oh hanya itu?" gumam Ilham sambil mengangguk-angguk paham.
Dari dompetnya pria itu mengeluarkan sebuah credit card platinum yang sudah pasti unlimited untuk digunakan. Atok memang memfasilitasi itu untuk digunakan Ilham.
__ADS_1
"Gunakan sebanyak yang kau mahu!" katanya sambil menyodorkan kartu berwarna hitam itu. "Dan tak mengape kalau kau nak gunakan juge untuk kau boleh memuaskan kebutuhan batin."
"Ape maksud kau tu?" Sonia menatap dengan masygul kartu yang kini berada di tangannya itu.
"You know what I mean (kau tahu apa maksudku). Kalau semisal kau perlu lelaki lain untuk penuhi has ..."
PLAAKKk!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ilham.
"Kau jangan bersikap terlalu macam ni, Ilhaamm!! Aku ni bukan wanita tak punya hati! Kau sangka aku ni wanita macam ape sampai kau sampai hati nak suruh aku mencari pria lain, hmmm?"
Air matanya berderai kini. Tak disangkanya Ilham yang telah dia kenal lebih dari 10 tahun lamanya akan bersikap seperti ini. Kasar dan tak menghargainya.
"Kalau kau tak tahan, kau boleh ajukan rayuan ke mahkamah syariah untuk perceraian kite!" balas Ilham dengan amarah. Lelaki itu mengelus-elus pipinya yang panas akibat ditampar oleh Sonia
"Tak! Aku tak nak! Tak akan ade perceraian di antara kite kecuali kau dah siap mendengar kabar buruk dari adik kau Andini itu!!" balas Sonia tak mau kalah.
Kejam? Ya, Ilham berubah menjadi dingin sejak saat itu. Dirinya yang biasa lembut menjadi berhati es. Bukan hanya karena ditinggalkan oleh istri tercinta saja yang membuatnya menjadi seperti. Kekecewaannya pada Sonia juga bisa jadi yang menjadi alasannya. Bagaimana tidak, Sonia yang selama ini dia anggap lembut, selalu menjadi sahabatnya selama bertahun-tahun tega memanfaatkan situasi yang sangat sensitif di keluarganya demi agar bisa menikah dengannya.
Ini sama sekali bukan seperti hal yang diharapkannya. Meski pun awalnya dia sendiri salah telah menjalin hubungan dengan gadis itu, bukankah dia sudah mengakhirinya? Toh, dia juga tak pernah berbuat yang melebihi batas pada Sonia apalagi merusak masa depannya. Tidak pernah sama sekali! Lalu saat dia ingin berubah dan fokus pada perkawinannya dan Yola kenapa Sonia malah mengacaukannya dengan memanfaatkan kasus adiknya. Ilham marah? Ya tentu saja! Dia sangat marah dan kecewa pada Sonia.
Jadi jika ada yang menganggap dia kejam pada istrinya sendiri. Ya itu benar. Tetapi istri yang dimaksud bukan Sonia tapi Yola.
Betapa Ilham masih ingat bagaimana istri kecilnya itu meneteskan air mata saat tahu Ilham menikah lagi dan belum lagi kata-kata Sonia yang pedas dan menyakitkan. Tetapi Ilham tak punya pilihan lain. Menurut informasi yang Sonia beri tahukan padanya dan keluarganya, sang adik Andini yang telah lama menghilang sedang dalam situasi tak menguntungkan. Dia bahkan bisa saja dijual oleh orang itu, orang tidak dikenal yang menyebut dirinya Mr.Y. Dengan bermodalkan vidio dan menunjukkan sejumlah bukti berupa tanda lahir di punggung Andini, pria itu mengancam akan menjual Andini kalau dia tidak menikahi Sonia. Sungguh syarat yang aneh. Jadi tujuan utamanya bukanlah uang tapi memporak-porandakan keluarga Nirwan. Entah karena apa.
Beberapa minggu berselang sejak pernikahannya dengan Sonia, Ilham bertolak kembali ke Berlin untuk merampungkan tugas akhirnya sebagai mahasiswa. Sonia ikut tentunya, walaupun Ilham tetap tak berminat untuk tinggal satu atap dengan wanita itu.
__ADS_1
Sebuah kabar mengejutkan suatu hari datang dari Zubaedah, ibunya, tatkala Ilham masih berada di kampus.
"Ilhaaam ..." Nada tercekat terdengar dari Zubaedah terdengar di telinga Ilham membuatnya kembali bertanya-tanya dalam hati kabar buruk apa lagi yang akan disampaikan oleh sang Mamah. Mungkinkah ini masih soal Andini?
"Ke-kenape, Mah?" Ilham jadi ikut panik mendengar suara Zubaedah di telepon.
"Yola .... Yola ..." Kalimat itu menggantung membuat panik semakin mendera Ilham.
Ada apa dengan Yola? Sempat terbersit di pikirannya apakah jangan-jangan Yola melakukan percobaan bunuh diri? Atau sudah bunuh diri? Mengingat istrinya itu masih berada di usia yang muda dan labil, dan dia telah merenggut mahkotanya hingga mungkin saja putus asa menderaz merasa hidupnya sudah hancur, bukan tidak mungkin Yola melakukan hal itu, kan? Ya Tuhan! Jangan sampai itu terjadi, batin Ilham. Dia merasa nelangsa kini. Bayangan Yola tak bisa lepas dari ingatannya.
"Yola kenape, Mah?" Masih dilanda panik pria itu akhirnya memberanikan diri bertanya mencoba menepis bayang-bayang kalau istri kecilnya itu tengah terbujur kaku tak bernyawa lagi. Sial! Apa yang dia pikirkan.
"Mama!!!" desak Ilham lagi.
Terdengar suara tarikan napas di telepon.
"Yola mengandung Ilham! Cucu Mamah ..."
Haaa? Apakah dia tidak salah dengar?
"Yola mengandung," Zubaedah sekali lagi menyebutkan berita itu.
Tiba-tiba dalam hatinya dipenuhi bunga yang bermekaran.
Yola mengandung? Anaknya? Ya Tuhaaan? Buah cintanya?
Dia harus segera ke Indonesia. Apa pun yang terjadi, Ilham harus menemui Yola, begitu tekadnya.
__ADS_1
****
Like dan komentar jangan lupa beib. Kalian senang membaca karya author, author senang membaca komentar kalian, meski tak selalu bisa balas. Nantikan part berikutnya ya ...