
Yola sedang berada di ruang kerjanya, memeriksa laporan keuangan dari beberapa supermarket N- one saat Papanya Abimanyu meneleponnya.
"Iya, Pa?" sapa Yola setelah menerima panggilan telepon itu.
"Bagaimana ini, Yola? Anak kamu bikin papa pusing loh!" keluh Abimanyu.
"Bikin pusing apaan sih, Pa? Namanya juga anak kecil ya pasti banyak tingkahnyalah. Gitu aja ngeluh, padahal kemarin Papa yang maksa- maksa mau bawa Ammar ke Jakarta. Kalau memang Ammar ngerepoting, pulangin aja sekarang!!" jawab Yola ketus.
Perasaannya berubah jauh lebih sensitif sejak menjadi ibu hamil. Dan dia merasa kalau papanya sedikit keterlaluan mengata- ngatai anaknya membuat pusing. Ammar kan hanya anak kecil? Begitu pikirnya.
"Ya Tuhan, kok jadi kamu yang marah sama Papa? Papa belum selesai ngomong udah ngomel- ngomel aja!" Abimanyu balas mengomel. "Kamu berani marah sama Papa Ammar nggak Papa balikin ke KL lagi loh!"
Mendengar ancaman Papanya Yolanda jadi mencibir geli. Cara Papanya mengancam dirinya dengan tidak mengembalikan Ammar lagi benar- benar sama dan mirip dengan ancaman sang Mama. Benar-benar dua sejoli yang sangat serasi luar dan dalam.
"Kamu ngetawain Papa?" tanya Abimanyu yang mendengar kekeh kecil putrinya itu di telepon.
"Hmm iya, habis lucu. Papa sama Mama sama ya caranya ngancam Yola? Ngancam nggak akan balikin Ammar segala. Benar- benar jodoh!" kekeh Yola lagi.
Seulas senyum mengembang di bibir Abimanyu. Telah lama dia dan putrinya itu tidak terlibat pembicaraan ringan seperti ini.
"Jadi Ammar bikin Papa pusing gimana?" tanya Yola.
Abimanyu menghela napas
"Kamu ingat saham yang Papa beli pas di KL karena rengekan Ammar?" tanya Abimanyu balik.
Yola mengangguk meski Abimannyu tak melihat anggukannya.
"Hmmm Yola ingat. Terus Papa mau Yola gantiin uangnya?" tebak Yola.
"Ya nggaklah. Bukan itu," jawab Abimanyu membantah tebakan Yola
"Terus apaan donk?" tanya Yola penasaran.
Abimanyu pun menceritakan apa yang terjadi pagi ini. Bagaimana harga saham yang dibelinya dengan harga murah itu tiba- tiba saja melonjak naik tak terduga.
"Jadi Papa sekarang bingung, itu saham di PT Surya Bersinar mau Papa apain," keluh Abimanyu di akhir penjelasannya.
Sama kagetnya dengan Abimanyu, Yola pun sampai menganga mendengar ada kejadian seperti itu karena ulah putranya.
__ADS_1
"Beneran, Pa?" tanya Yola ingin memastikan.
"Benar. Kalau kamu nggak percaya kamu cek sendiri deh. Kamu kan trader," kata Abimanyu.
Yola mengangguk - angguk.
"Oke, nanti Yola cek, tapi ini Yola masih banyak kerjaan, Pa. Cuma kalau saran Yola ya, biarin aja sementara sahamnya gitu aja. Papa lihat dulu situasi dan kondisinya gimana. Plus Papa cari tau juga tentang perusahaan dari Kamboja itu, Pa. Kenapa mereka pengen mengakuisisi perusahaan yang hampir bangkrut itu? Apa kira- kira ada sesuatu yang kita nggak lihat secara kasat mata di perusahaan itu?" kata Yola memberi saran.
Matanya kini menangkap kehadiran Ilham di pintu. Pria itu tidak mengetuk pintu karena tahu Yola sedang menelepon dengan papa mertuanya. Yola pun akhirnya memberikan kode agar Ilham masuk saja.
Abimanyu mendengarkan dengan seksama saran Yola dan membenarkan kata- kata putrinya itu. Mungkin saja ada sesuatu di perusahaan PT Surya Bersinar yang diincar oleh perusahaan Kamboja itu yang tak dapat dilihat oleh orang lain di luar orang internal perusahaan. Dan benar saran Yola, sebelum dia mendapatkan informasi lengkap dari perusahaan itu, dia tidak boleh gegabah.
"Hmmm Papa, nanti aja Yola telepon lagi, ya? A- ku ehm ... ma-sih a- ada yang harus dikerjakan!" kata Yola terbata.
Tangannya berulang menepis tangan nakal Ilham yang sengaja menggodanya. Pria itu dengan cepat kini telah berada di belakang kursi kerjanya dan menggodanya dengan sentuhan- sentuhan yang membuat bumil itu jadi blingsatan.
"Kamu kenapa?" tanya Abimanyu saat mendengar perubahan nada suara Yola yang tiba- tiba merendah dan agak sedikit terbata.
Yola menjadi sedikit tersipu mendengar pertanyaan Papanya. Dia tidak mungkin kan mengatakan apa yang dilakukan oleh Ilham padanya saat ini? Ilham benar- benar gila!
"Ng- nggak kok, Pa! Kaki Yola kejepiit .... aaarghhh!!" jerit Yola kesal pada tingkah iseng Ilham.
Semakin tak mengerti Abimanyu malah semakin banyak tanya.
"I- iya, Yola nggak apa- apa. Udah dulu ya, Pa! Yola mau bereskan ini dulu!" kata Yola buru- buru menutup telepon.
Dan Abimanyu hanya bisa menatap layar ponselnya dengan heran. Apa yang terjadi dengan anaknya itu?
Sementara itu setelah menutup panggilan telepon Abimanyu, Yola berpaling menatap Ilham dengan sengit.
"Hahaha ..." Ilham tertawa tergelak.
"Abang! Abang itu apa-apaan sih? Aku lagi nelepon sama Papa, tau! Bisa- bisanya gangguin kayak gitu!" serang Yola dengan menggebu- gebu.
Itu membuat Ilham semakin tertawa terbahak- bahak.
"Kau kate, kaki kau terjepit! Tapi abang lihat kau yang jepit tangan abang," goda Ilham sambil menunjuk tangannya yang dijepit Yola di antara dua lututnya.
Yola melepas tangan Ilham dan menepisnya.
__ADS_1
"Jangan usil makanya!" omelnya sambil cemberut.
Sungguh sangat gila tingkah usil Ilham meraba- raba dirinya dari lutut hingga paha saat panggilan telepon dengan Papanya sedang berlangsung.
"Abang ngapain ke sini?" tanya Yola pada Ilham yang duduk sesukanya di atas meja kerja Yola.
"Kite nak bikin konferensi pers dengan awak media di bawah. Leon dah pun siapkan untuk kite segala sesuatunya. Jomlah, ikut abang turun ke bawah. Kite mesti selesaikan ni. Abang akan tunjukkan pade dunia, kalau inilah isteri abang yang sesungguhnya. Yolanda Gunawan!" kata Ilham dengan sungguh- sungguh.
Yola berpikir sejenak. Dia ragu pada dirinya sendiri. Dia tiba- tiba khawatir pada pandangan semua orang yang mungkin nanti akan menghakiminya lagi sama seperti dulu. Yola tiba- tiba merasa insecure lagi.
"Kenape?" tanya Ilham
Yola menghela napas dalam.
"Memangnya konferensi persnya aku harus ikut ya? Nggak bisa abang aja gitu?" tanya Yola.
Kali ini Ilham yang menarik napas dalam. Yola yang dia kenal selalu percaya diri, untuk hal ini tiba- tiba merasa rendah diri. Sebegitu burukkah dampak hubungan mereka terhadap wanita ini?
Ilham kemudian meraih tangan Yola dan menariknya ke dada bidangnya.
"Yola mesti ikut, sayang. Abang nak tunjukkan pade semua orang kalau inilah wanita yang sebenarnya abang kasihi, abang cintai. Mana boleh abang berdiri di sana hanye sendiri sahaja. Macam mane abang akan membuktikan cinta kite kalau macam tu? Jadi Yola ikut abang kat bawah! Hanye orang yang salah yang bersembunyi dari keadaan sayang. Yola tak salah pun! Kau mesti buktikan pade semua orang kalau kau tak merebut husband siape- siape. Kau hanya mengambil balik ape yang menjadi milikmu, hmmm?"
Mendengar pemaparan Ilham, Yola pun mengangguk. Ilham benar, dia tak merebut suami siapa- siapa. Kenapa dia harus bersembunyi?
"Abang ...." panggil Yola.
Ilham menaikkan alisnya seakan menunggu kata- kata Yola selanjutnya.
"Abang pede banget sih, merasa direbutin," cibir Yola.
Ilham tertawa kecil.
"Abang memang hansome-lah. Wajar sangat pabila abang jadi rebutan kaum wanita," kata Ilham pede.
Dan Yola membalasnya dengan ekspresi seakan ingin muntah.
Itu membuat Ilham semakin mengencangkan tawanya.
"Hahahaa .... Jom-lah kite kat bawah!" ajaknya sembari menarik tangan Yola agar berdiri.
__ADS_1
****
Ehmmm, jangan lupa like dan komentarnya juga reader aku. Buat reader baru juga jangan like dan komentarnya ya...