
"Kenape kau tak cakap apa pun padaku?" tanya Ilham di antara keterkejutannya. Ilham benar-benar syok mendengarnya.
Leon menghela napas.
"Macam mana caraku mengatakannya padamu, Ilham? Aku pun baru tahu semenjak Atok meninggal dan Melisa ditangkap. Aku tak dapat berkata apa pun saat menanyakan hal itu pada Mama. Mama juga terpaksa lakukan itu, Ilham. Orang tu mengancamnya. Aku pun tak dapat berkata apa pun lagi saat tahu hal itu," tutur Leon.
Ilham memejamkan matanya sambil mengepalkan tinjunya geram. Entah pada siapa sekarang kemarahannya ini akan dilampiaskannya.
"Kalau kau nak marah padaku, marah sahaja, Ilham. Aku tahu kau gusar saat ni. Tapi tolong jangan lapor mama ke polis. Kalau pun kau merase harus ade yang bertanggung jawab, biar aku sahaja. Kau sila lapor sekarang kat balai polis! Aku hanya meminta satu sahaja. Biarkan Nadira tetap bekerja kat N-one kalau aku di berada di bui, Ilham. Dia tak salah apa pun. Dia perlu tetap bekerja untuk dapat penuhi keperluan hidup dia, Liliy dan Mama," kata Leon pasrah.
Leon tak punya apa pun untuk dikatakan demi membela dirinya saat ini. Dia hanya bisa pasrah terhadap keputusan Ilham.
"Kau dah selesai bercakap?" tanya Ilham sambil membuka matanya.
Leon kini menatap Ilham dengan mimik yang penuh perasaan bersalah. Ilham kini bangkit dari kursinya dan ...
BUGGGHHH!!!
Sebuah bogem mentah melayang di wajah tampan Leon.
"Abaaangg!!!"
Yola yang baru saja keluar dari bilik rehat menjerit histeris melihat suaminya, Ilham, tengah memukul sahabatnya sendiri, Leon. Berbanding terbalik dengan Leon yang dengan pasrah hanya diam menerima pukulan itu.
"Abang, abang! Sudah!" teriak Yola mencoba menahan Ilham berbuat hal yang mungkin bisa dia sesali nanti.
Dilerai oleh Yola, Ilham berusaha mengontrol diri.
"Kau kenape tak cakap setelah kau tahu, Leon?!" bentak Ilham sambil sebelah tangannya berkacak pinggang dan tangan yang lain mengusap-usap wajahnya.
Leon sendiri juga mengusap pipinya yang nampak memar dan sedikit ngilu akibat pukulan Ilham.
"Aku nak cerita, tapi setiap kali aku ingat kerana hal itulah atok sampai meninggal, aku tak berdaya, Ilham. Itu membuatku merasa sangat berdosa dan aku takut kehilangan kau sebagai sahabatku," aku Leon sambil beberapa kali menghela napas berat.
Beberapa kali dia mengedip-ngedipkan kelopak matanya menahan bulir air mata agar tidak jatuh. Andai dia perempuan sudah pasti saat ini dia telah menangis agar Ilham tahu betapa dia sangat menyesal saat ini.
Dalam hal ini Yola sangat pandai memerankan peranannya sebagai seorang istri. Gadis itu segera menarik Ilham kembali ke tempat duduknya dan mengelus-elus pundak suaminya.
"Abang, sabar dulu. Aku suruh OB ambilkan minum, ya?" bujuk Yola.
Ilham menarik napas berkali-kali.
"Tak payah," tolaknya tanpa bermaksud mengabaikan tawaran Yola. "Leon, kau bawa aku bertemu Makcik sekarang! Jangan membuatku lebih gusar dari ini!"
__ADS_1
Ultimatum dari Ilham kali ini hanya bisa diangguki oleh Leon. Dia percaya kalau sahabatnya ini tak mungkin akan tega menjebloskan ibunya ke penjara.
***
*Flashback*
Siang itu seperti biasa Nur Khadijah, Ibunda dari Leon hendak menjemput cucunya di Tadika Ceria. Hari itu dia agak terlambat menjemput cucunya yang sekolahnya tidak begitu jauh dari rumah, dikarenakan ada masalah kerusakan meteran air hingga pipa yang pecah di rumah mereka yang membuat air meluber hingga kemana-mana. Sehingga perlu bagi Nur Khadijah untuk memanggil tukang ledeng terlebih dahulu untuk memperbaiki saluran air itu.
Tetapi belum sampai dia di gerbang sekolah taman kanak-kanak, seorang lelaki berusia sekitar 30 tahunan, berambut abu-abu dengan anting di telinganya, menghampiri Nur Khadijah dan langsung mengajaknya berbicara.
"Makcik! Makcik sedang menjemput cucu ya?" tanya pria itu
Nur Khadijah sedikit takut, lelaki itu terlihat maskulin dan modern. Namun kesan pertama yang Khadijah tangkap adalah lelaki itu seorang bad boy. Dia bukan lelaki yang terlihat seperti lelaki baik pada umumnya. Terlebih-lebih bahasanya, bukan seperti bahasa Melayu. Bahasanya terlihat seperti dari negara jiran, Indonesia.
"Ya, saye nak jemput cucu. Anak ni kat sini nak buat ape? Nak jemput si kecil ke?" tanya Nur Khadijah berbasa-basi.
Pria itu tersenyum, tak tampak mengerikan, tetapi tetap membuat Khadijah merasa was-was.
"Saya belum punya anak. Saya kesini ingin bertemu Makcik," jawabnya to the point.
"Nak berjumpa saye?" tanya Nur Khadijah balik tak mengerti arah kata-kata pria itu.
"Hmm," jawab pria itu. "Makcik ingin menjemput Lily kan?"
Perempuan yang sudah hampir memasuki usia 60 puluh tahun itu tersentak saat nama cucunya disebut.
"Kenape kau ..."
"Dia ada di tempat yang aman bersama temanku sekarang. Makcik ikut saya sekarang, maka Lily akan aman," sela pria itu dengan cepat.
Tanpa diminta pria itu pun menghubungi seseorang melalui panggilan vidio call. Di situ Nur Khadijah bisa melihat sang cucu sedang bermain di wahana bermain anak bersama dengan seorang perempuan muda yang menerima panggilan vidio itu.
"Kau siape? Lily ... kenape ade bersama korang? Dia tu siape? Kemana korang membawa cucuku?" Panik mulai mendera wanita itu.
"Tenang sedikit, Makcik! Aku bisa pastikan Lily baik-baik saja. Makcik lihat? Dia terlihat bermain dan bergembira. Mel?" panggil pria itu pada wanita di seberang sana.
"Iya?"
"Coba kasih Makcik ini bicara dengan cucunya!" suruh pria itu.
"Oh, oke!" jawab wanita itu. "Lily sayang! Jom kat sini! Ade nenek kat sini, Sayang!"
Gadis kecil dua tahun lebih muda dari Ammar itu pun berlari mendekat pada wanita yang dipanggil "Mel" oleh pria itu.
__ADS_1
"Neneeeek!!!" panggilnya riang.
"Lily, kau tak ape?" Nur Khadijah tampak panik menanyai cucunya.
"Tak ape. Lily tengah bermain dengan kawannya Mama. Sekejap lagi kite balik. Betul kan, kakak?" tanya bocah itu lugu pada wanita yang dikiranya adalah teman dari sang Mama.
"He em. Lily, sila bermain lagi dahulu, lepas kakak bercakap dengan neneknya Lily, kite barulah boleh balik. Nanti, kakak beli ais krim yang sedap lagi besar untuk Lily," rayu wanita itu.
"Betul ke?" tanya Lily tak percaya.
"Betuuul. Jom main lagi," suruh wanita itu.
"Lily ..." panggil Khadijah cemas. Tapi Lily sudah melenggang kembali ke arena bermain.
"Sudah lihat? Lily baik-baik saja. Tetapi dalam beberapa menit ke depan mungkin dia tidak akan baik-baik saja, kalau makcik tak dapat diajak bekerja sama," ancam pria itu lagi sembari menutup panggilan vidio itu.
"Ape yang korang inginkan?" tanya Khadijah dengan geram campur khawatir akan keselamatan cucunya.
"Kita bisa bicarakan itu di mobilku. Mari!" ajak pria itu.
*Flashback off*
"Orang tu cakap, keluarga Nirwan sedang memerlukan perawat. Dia hanya suruh makcik untuk rekomend kawan dia yang bernama Melisa tu pada Leon. Dan makcik disuruh berdusta pada Leon, makcik disuruh cakap kalau Melisa anaknya kawan makcik!" aku ibunya Leon saat Ilham menginterogasinya.
Siang ini Ilham mendatangi ibunya Leon ke rumah sahabatnya itu.
"Habis tu makcik kenape tak cakap terus terang pada saye, pada Leon?" tanya Ilham frustasi.
Sungguh andai ini bukan mamanya Leon dia akan mendamprat wanita di depannya ini mati-matian meski dia seorang wanita. Tapi ini ibunya Leon, mertuanya Nadira. Dan keduanya adalah sahabat karibnya.
"Orang tu mengancam akan menghabisi Lily. Mereka bahkan menculik Lily. Makcik takut terjadi sesuatu pada Lily, Leon dan Nadira. Mak cik sangke, wanita itu hanya perlu pekerjaan. Siapa yang sangke kalau dia ... kalau dia ..." Kini tangis wanita itu pecah mengingat dirinya turut andil membuat atok pria baik di hadapannya ini meninggal dengan cara yang mengenaskan.
Ilham dan Tengku Yahya Nirwan begitu baik mengangkat derajat keluarga mereka. Membuat Nadira dan Leon memiliki jabatan yang mapan dengan gaji lumayan hingga tercukupi segala kebutuhan mereka. Tapi kini gara-gara dia, lelaki itu kehilangan atok yang disayanginya.
"Makcik tak ape kalau kau nak bawa makcik ke balai polis, tapi makcik mohon Leon dan Nadira ... biarkan mereka tetap berada kat N-one. Lily, perlu masa depan ..."
"Makcik ni cakap ape?!" Ilham justru semakin marah mendengar kata-kata penyesalan dari wanita tua itu. "Usah cakap sembarang! Kalau makcik kasihan dengan saye, dengan atok saye, tolong bagi tahu saya, macam mana ciri dari orang tu! Dan ... macam mana agar saye dapat berjumpa dia!"
****
Sebenarnya author udah pengen cepat-cepat tamatin JDM ini, tapi apa daya. Tiap 1 bab isinya cuma bisa beberapa adegan, author punya keterbatasan mengetik juga soalnya. Ini aja 1300 kata lebih jari udah pegal duluan. Hihihi. Takutnya juga kalau diburu-buruin tamat kesannya maksa tamat. Gimana menurut kalian reader?
Oh iya, jangan lupa like dan komentarnya ya ...
__ADS_1