Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Monta Somnang


__ADS_3

"Sebenarnya kita mau kemana?" tanya Yola berlagak bingung.


Sandiwara pingsannya sedari tadi akhirnya berakhir juga setelah dia pura-pura tak sadar selama empat jam. Dan sekarang badannya sukses pegal-pegal karena harus berbaring di posisi yang sama selama berjam-jam.


"Udah deh, kamu ngikut aja. Yang kooperatif gitu. Semakin kamu nurut semakin cepat kamu dikembalikan ke keluarga Nirwan!" jawab Eva sok acuh.


Martin yang sedari tadi menyetir mobil menuju bandara hanya diam.


"Tapi kita mau kemana dulu? Eva, ini apaan? Kamu juga belum ngejelasin kenapa aku bisa tidur dan baru bangun malam ini? Bukannya tadi kita ada di pasar ya?" tanya Yola, masih dengan nada kebingungan.


"Ihhh, cerewet! Diam aja coba, terus jadi anak yang penurut gitu!"


Tak lama mereka sampai di bandara. Yola Mash mengernyitkan keningnya.


"Kita mau kemana? Aku mau pulang! Nanti Abang dan Ammar nyariin aku!" rengeknya.


Eva tak mengindahkan rengekan Yola. Begitu mereka sampai di parkiran bandara, Eva langsung keluar setelah Martin keluar.


"Kalian berdua tunggu di sini! Aku mau urus dulu prosedurnya sama stafnya, biar kita nggak terciduk petugas bandara lain pas kita sudah sampai nanti," perintah Martin.


Eva mengangguk mengiyakan.


Sepeninggalan Martin, Yola langsung menarik-narik lengan Eva


"Gimana nih, Kak. Aku nggak nyangka nih kalau ujung-ujungnya harus pergi sampai Kamboja. Kupikir kita hanya akan memancing ayahnya keluar datangi anaknya ke Malaysia sini," rengek Yola.


"Aku juga mikirnya tadi gitu. Tetapi karena Martin ada rencana mengambil entah apa dengan menggunakan sidik jarimu di brankas Pnom Penh, jadi tim polisi sini juga sepakat untuk mengikuti hingga ke sana. Ilham juga sudah tahu, awalnya dia marah-marah tapi udah terlanjur basah begini, nggak bisa mundur lagi. Kita tetap harus maju, Yol!" kata Eva.


Yola menjadi gundah gulana mendengarnya.


"Tenang aja, tim polis Malaysia udah koordinasi dengan kepolisian sana untuk mencoba menjebak Lucas, kamujangan khawatir," lanjut Eva lagi.


"Tapi gimana dengan kandunganku ya? Bahaya nggak sih kalau naik pesawat? Aku bisa merasakan kalau Abang saat ini pasti sangat cemas sekali. Dia kemarin-kemarin nggak bolehin aku pulang ke Jakarta untuk tujuh bulanan karena takut atau kecapean atau ada dampak negatif kalau naik pesawat," rengek Yola.


"Aku udah diskusikan itu sama Martin tadi, ada tenaga medis yang ikut menemani kita selama di perjalanan nanti," imbuh Eva.


"Benarkah?" Yola meragukan.


Eva mengangguk.


"Benar, jangan terlalu khawatir. Ada polisi Phnom Penh juga yang akan mengikuti dan memastikan keselamatan kita saat di tiba di airport sana." Lagi, Eva berusaha menenangkan Yola.


"Va, aku takut ...."


"Apaan sih kamu, Yola. Geli banget deh dengar kamu manja-manjaan gini sejak tahu kita kakak adek. Sumpah, jijay gua dengarnya!" sungut Eva.


"Diiih, emang kenapa? Kamu memang kakak aku, kan? Apa salahnya adek manja sama kakak sendiri? Ihh aneh!" balas Yola.


"Udah, udah, diam! Dia datang ke sini nih!" Eva memberi kode dengan lirikannya, saat Martin datang dengan salah seorang pria menjemput mereka.


"Yuk, berangkat! Kita ke hangar dulu ngelihat pesawatnya," kata Martin.


Hanggar adalah struktur tertutup, tempat dimana pesawat bernaung di dalam sebuah gudang perlindungan berukuran besar. Bahasa gampangnya anggap saja seperti garasi, ya!

__ADS_1


"Ada dokternya, kan?" tanya Eva.


Martin mengangguk.


"Cuma ada perawat aja, aku rasa itu cukup untuk berjaga-jaga kalau dia kenapa-kenapa _8 dalam pesawat," kata Martin sambil menunjuk pada Yola.


"Memang kita mau kemana?" Yola kembali dengan sandiwaranya, berlagak tidak tahu.


"Jangan banyak tanya kalau kamu dan bayi di perutmu itu masih ingin selamat. Aku cuma butuh kamu menempelkan jarimu besok pada alat detektor di Pnomh Penh. Setelah semua selesai, kamu akan dipulangkan dengan selamat ke keluargamu. Jadi jangan mengucapkan sesuatu yang membuat saya hilang kesabaran!" kata Martin lagi.


"Ba-baiklah, saya akan diam mulai sekarang!" jawab Yola. "Tapi janji pulangkan saya, setelah tujuanmu selesai!"


Merasa tak perlu mengiyakan, Martin pun berjalan mengikuti pria tadi menuju hanggar pesawat pribadi yang telah di sewa ayahnya untuk perjalanan mereka ke Kamboja.


***


Setelah menempuh perjalanan dengan pesawat non komersial selama hampir dua jam, Yola, Eva dan Martin beserta seorang juru rawat yang sengaja dibawa untuk menjamin keselamatan Yola selama perjalanan akhirnya sampai juga di sebuah hotel. Benar saja, mereka bisa lolos begitu saja di bandara tanpa dimintai paspor dan visa untuk masuk ke negara itu.


"Tunggu pagi dulu kita akan segera ke bank itu untuk mengambil patung itu," kata Martin.


"Patung?" Yola tertegun.


Martin mendelik curiga pada Yola.


"Hmmm, patung. Kau mengetahui sesuatu?"


Tak ingin membuat semua semakin rumit, Yola hanya menggeleng.


"Nggak, nggak. Aku hanya heran dan ingin tahu patung seperti apa dan seberharga apa yang sampai-sampai harus disimpan di bank seperti ini," kata Yola.


Lagi-lagi Yola hanya terpana.


Patung emas itu ia sempat mengingatnya samar-samar. Dan yang didengarnya hal itulah yang diributkan Lucas hingga mendendam pada Atok Yahya dan kakeknya, Salim Gunawan.


"Aku tidak ingat!" jawab Yola tegas.


***


Flashback


Waktu itu Yola masih kecil, berusia 10 tahun, dia oleh sang kakek diajak berlibur ke Kuala Lumpur, ketempat sahabat kakeknya. Lalu dari Jakarta, mereka pun akhirnya singgah di Kuala Lumpur, di kediaman Tengku Yahya Nirwan.


"Yahya, kau sungguh-sungguh tidak ingin mengambil Montha Somnang itu? Kita tidak mencurinya. Maksudku kita memang mencurinya tetapi dari pencuri juga. Dan patung itu sudah saatnya kita kembalikan ke orangnya," kata Salim Gunawan pada temannya.


Beberapa tahun sebelumnya, mereka menemukan sebuah patung emas, yang mereka dapat dari kapal bajak laut. Pertikaian antar bajak laut itu malah membawa mereka ke pertumpahan darah, dan demi melindungi jiwa terpaksa mereka membunuh seseorang dan membuangnya ke tengah laut. Lalu kapal kecil itu mereka bawa sendiri berlayar hingga sampai di Kamboja.


Disana harta jarahan penumpang mereka jual dengan bantuan seorang teman sephingga mereka mendapatkan uang yang cukup untuk ongkos dan modal usaha. Namun keberadaan patung emas itu yang menjadi kebimbangan di antara keduanya. Ditinggal sayang, dijual pun tak akan mudah sepertinya.


"Kau tahu, dia sudah tak sanggup menyembunyikan patung itu lebih lama. Dia mengabariku dan meminta untuk membawa patung itu dari rumahnya," tutur Salim lagi. Yang dimaksud dia oleh Salim adalah salah seorang teman mereka yang telah lama mereka titipkan patung emas Montha Somnang itu.


Nampak Yahya berpikir.


"Kalau begitu kita simpan sahaja di tempat yang aman dan tak perlu risau ada yang akan mengincarnya," balas Tengku Yahya. "Saye khawatir jika kita kasih balik , justru kita yang akan dituduh mencurinya."

__ADS_1


"Simpan dimana?" tanya Salim kurang mengerti.


"Kat Pnom Penh ada bank yang dapat menyimpan barang-barang berharga semacam itu. Kita boleh menyimpannya kat sana," kata Yahya.


Lalu berangkatlah mereka bertiga ke Kamboja dengan cucu perempuan Salim yang tidak tahu apa-apa itu. Dia tahunya hanya dibawa berlibur oleh sang kakek, sebab dia adalah cucu perempuan kesayangan. Lebih sayang dari sepupunya Eva, jadi hanya dia yang diajak pergi.


Sesampainya mereka di Phnom Penh, Salim Gunawan terlihat berubah pikiran.


"Bagaimana kalau kita coba menghubungi pemiliknya dulu, kita kembalikan saja, agar lepas beban kita dan tak merasa punya tanggung jawab lagi dengan ini," usulnya.


Dari awal patung itu di tangan mereka, Salim dan Yahya telah mengetahui pemiliknya. Dia adalah seorang pengusaha kaya di Pnomh Penh. Dengan bermodalkan nekad, ketiganya mendatangi rumah pengusaha itu dan mengatakan itikad baik mereka untuk mengembalikan patung emas itu pada pemiliknya. Namun di luar dugaan, pengusaha yang sudah menua itu tatapannya malah tertumbuk pada sosok Yolanda kecil.


"Is she your daughter? " tanya pria itu pada Salim Gunawan tempat Yolanda bergelayut manja. Dia menanyakan apa Yolanda adalah putrinya Salim.


"Oh, not. She is my grand daughter, Sir," jawab Salim sambil tertawa. Dia menjelaskan kalau Yolanda bukan anaknya, melainkan cucunya.


Tanpa diduga, pria pemilik Montha Somnang itu malah menyuruh Yolanda mendekat dan duduk di pangkuannya. Dengan menggunakan bahasa Inggris yang fasih namun belum terlalu dimengerti oleh Yolanda waktu itu, dia berbicara pada gadis kecil di hadapannya.


"Monta seumuranmu saat dia meninggal. Putra semata wayangngku, sangat berharga hingga aku tak dapat mengungkapkan seberapa berharga dia bagi kami. Membuatkannya patung emas untuk mengenangnya adalah wujud dari cinta kasih kami terhadapnya. Tetapi siapa yang menyangka kalau patung itu malah membawa musibah dan membuat celaka orang lain? Musibah di kapal itu aku mendengar sampai ada yang kehilangan harta bendanya hingga meninggal karena dirampok oleh bajak laut. Itu membuat istriku tertekan, dan akhirnya pergi dariku menyusul putra kami, Monta, itu adalah luka mendalam yang pernah kurasakan selama hidup.


Sekarang aku sudah tua, patung emas itu sudah tak ada gunanya untukku, sebentar lagi pun aku akan menyusul mereka. Mewariskan pada kerabat pun akan membuat mereka saling bertengkar dan memperebutkannya. Satu yang kusadari selama beberapa tahun ini, Monta-ku meski tak berwujud patung, ternyata dia selalu ada dalam ingatanku. Tak perlu memahat patung emas untuk mengenangnya, dia selalu berharga dalam kenangan ku. Gadis kecil, aku menyerahkannya padamu!"


Salim dan Yahya sontak menjadi terkejut, tak menyangka kalau pemilik patung emas itu akan menghibahkannya pada Yolanda. Sementara Yola yang tidak mengerti apa pun hanya bisa memandang orang tua yang memangkunya dengan pandangan bingung.


Meski bagaimana Yahya dan Salim menolak, pemilik patung itu tetap bersikukuh untuk tidak menerima patung emas itu dikembalikan padanya. Hingga Yahya dan Salim kembali ke rencana semula, menyimpan patung emas itu di sebuah bank di sana, sebab membawa emas satu kwintal juga bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan.


"Yahya, mari kita luruskan hal ini. Meski patung emas itu diberikan pemiliknya langsung pada Yolanda, tetapi kita bersama yang memperjuangkan bersama-sama dari dulu. Tidak bisakah kita bawa patung itu ke tukang emas dan bagi dua saja, untuk Yolanda dan cucumu?"


Salim merasa tidak enak hati pada Yahya karena patung Montha Somnang itu diberikan hanya pada Yolanda, sementara Yahya pun punya andil banyak di dalamnya untuk membuat patung emas itu aman hingga saat ini. Tetapi ternyata perkataan Salim itu malah membuat Yahya tertawa terkekeh-kekeh.


"Biarkan itu menjadi simpanan untuk Yolanda dan Ilham di kemudian hari. Salim, saye bersungguh-sungguh nak jadikan Yolanda isteri untuk Ilham kelak, boleh ke?" tanya Yahya.


Salim Gunawan hanya menanggapinya dengan tawa sambil mengangguk.


"Mereka tampak serasi," katanya.


Setelah mengkonfirmasi dengan pihak bank niat mereka untuk menyimpan patung Montha Somnang itu pun kembali ke rencana semula. Dengan bantuan mobil fasilitas dari bank, patung emas Montha Somnang itu pun berhasil diangkut dari rumah teman mereka ke bank.


Tahun itu adalah tahun-tahun awal kemajuan digital. Oleh karena itu penguncian brankas bank itu pun menerapkan sistim digital. Yaitu alat yang digunakan untuk mengunci brankas itu adalah sensor pendeteksi sidik jari. Dan atas saran Yahya, mereka menggunakan sidik jari Yolanda untuk mengunci brankas itu.


*Flashback Off*


Lalu kenapa Yahya Nirwan tidak memberi tahukan tentang keberadaan patung itu pada Ilham dan Yola sebelum dia meninggal? Sejak Salim Gunawan meninggal, Yahya selalu merasa kalau Salim meninggal dengan cara tidak wajar. Dia khawatir ada orang yang sengaja mencelakai Salim karena patung Montha Somnang itu. Karena itulah kecemasannya berujung pada diamnya dia tentang adanya barang berharga milik bersama Yola dan Ilham di negara lain. Dia ingin membiarkan patung Monta Somnang itu terlupa begitu saja. Toh, Ilham dan Yola pun telah memiliki kehidupan dan ekonomi yang lebih dari cukup saat ini. Untuk apa dia ingin membuat cucu dan cucu menantunya berada dalam kesulitan? Tidak! Dia tidak bisa membiarkannya. Tetapi kemudian di penghujung ajalnya saat dia bertemu Lucas, dia merasa perlu memberikan wasiat. Dia khawatir pada lelaki itu, dan kekhawatirannya menjadi nyata saat Yuri datang melompati jendelanya. Karena tujuan Lucas sudah berubah menjadi mengincar perusahaannya.


****


Samar-samar ingatan Yola yang lama tersimpan, kini hadir saat dia berada di depan bangunan klasik di hadapannya. Ini bank yang sama dengan yang pernah dia datangi dengan sang kakek dulu dan seorang lagi teman kakeknya. Dan ... dan .... apakah mungkin kalau itu Atok Yahya?


"Bangunannya terlihat tua, ya?" gumam Eva mengagumi exterior dan interior bank kuno itu.


"Bangunan ini ada sejak tahun tujuh puluhan, sudahlah mari masuk! Kita ke sini bukan mau piknik!" jawab Martin ketus.


Yola seperti kembali ke masa lalu. Ya, dia sangat yakin kini kalau dia pernah kesini. Setelah mengikuti instruksi Martin, Yola pun segera mendatangi bagian customer service dan menjelaskan apa tujuannya datang kesitu dan menunjukkan pada customer service sejumlah data yang menunjukkan kalau dia adalah nasabah pemilik salah satu barang berharga yang disimpan dalam bank itu. Sungguh entah dari mana Lucas menemukan data diri kakeknya!

__ADS_1


****


Segini dulu reader Beib. Jangan lupa like dan komentarnya ya. Harap maklum kalau banyak typo ya. Othor belum sempat revisi soalnya.


__ADS_2