
"Hafiz!!! Jendela kat sini terbuka," kata Omar melaporkan.
Hafiz beralih pada jendela yang dimaksud oleh Omar. Kamar jendela atok ini berjenis swing windows dengan jumlah sebanyak 6 buah.
Untuk melancarkan tradisi berinai curi ini, mereka yang mempersiapkan acara ini memang sengaja membuka jendela kamar Atok untuk memudahkan pihak lelaki mencuri bahan-bahan yang akan dipakai mempelai pria untuk berinai nanti. Tetapi jika salah satu jendela sudah dibuka, kenapa ada bekas congkelan di jendela lain? Itulah yang ada di pikiran Hafiz kali ini.
Mungkinkah di dalam ada orang lain yang sedang berniat melakukan sesuatu yang tidak baik? Mungkinkah orang itu saat ini tidak tahu bahwa ada kamar Atok Yahya sedang dipakai untuk menyimpan kebutuhan ritual adat malam berinai?
"Kenape, Hafiz?" tanya Omar lagi.
Yang lain juga terlihat heran melihat gelagat Hafiz yang terlihat waspada.
"Ssssttt ...." Hafiz meletakkan jari telunjuknya di bibirnya untuk sekedar memberi kode agar Omar dan yang lainnya tidak berisik. "Sini aku bagi tahu!"
Di dalam kamar, Melisa juga menyadari ada orang di samping jendela Atok Yahya. Dia juga bisa mendengar beberapa orang yang nampaknya sedang berbisik itu.
Kini gelisah mulai melandanya. Bagaimana kalau dia ketahuan? Apa yang akan dilakukannya?
Lalu dengan cepat dia berusaha memutar otaknya, mencoba mencari tempat bersembunyi agar tidak ketahuan andai mereka benar-benar masuk ke dalam kamar itu.
Dan yang terpikir olehnya saat ini adalah kolong ranjang Atok Yahya. Dia tidak tahu apakah ini akan aman, tetapi setidaknya dia harus berusaha bersembunyi dulu. Lalu tanpa berpikir panjang lagi, gadis itu pun segera masuk ke kolong ranjang model kuno Atok Yahya itu.
Tepat dia masuk ke dalam kolong, pintu jendela Atok Yahya pun terdengar ada yang membuka. Suara seorang laki-laki terdengar berbisik memanggil seseorang yang lain.
"Lekas sikit! Kite mesti cepat cari kat mana tepak sirih dan inai tu mereka sembunyi. Kau cari kat sana, aku cari kat sini!" suara Hafiz terdengar.
Melisa menekuk sedikit kakinya, untuk mengantisipasi kakinya agar tidak terlihat dari luar kolong ranjang. Namun sial, ketika kakinya dia tekuk, tak sengaja kaki itu malah menendang tepak sirih yang memang sengaja disembunyikan di situ oleh Zubaedah.
Prakkkk!!!
Suara dari bawah kolong ranjanhgspontan membuat Hafiz refleks menoleh. Dengan penuh kewaspadaan, dia bergerak menuju ranjang dan Hafiz menyingkap seprai rimple yang berjuntai hingga ke bawah lantai.
"A-ampuni saye! Tolong ampuni, saye!!!"
Hafiz melongok ke dalam kolong, dan menemukan sesosok wanita sedang meringkuk di bawah kolong.
"Kau siape?" bentak Hafiz dan dengan tak sabar menarik Melisa dengan kasar hingga berhasil keluar.
__ADS_1
"A-ampuni saye, Tuan!" kata Melisa.
"Tak payah meminta ampun! Kau cakap sahaja, kau ni siape dan kau sedang buat ape di bilik Atok?!" tanya Hafiz tajam dan mengintimidasi.
Syafi'i, kerabatnya Atok Yahya yang datang dari Penang langsung menyahut Hafiz.
"Tak payah bertanya dia sedang buat ape kat sini. Sudah pasti dia datang macam kite ni, nak mencuri kat sini. Hahaha... Namun agaknya berbeza sikit. Kite datang nak curi inai, perempuan ni datang nak curi harta benda. Betul tak??"
Melisa terdiam sejenak. Dia tahu secepat mungkin dia harus bisa memikirkan hal yang masuk akal agar motifnya masuk ke dalam kamar ini tidak diketahui oleh yang lain.
"Ah, sa-saye ...." Melisa merasa gugup.
Sial, apa yang harus dikatakannya? Mau mencoba kabur pun rasanya akan sia-sia. Sebab dia dikelilingi oleh 3 lelaki di sini.
"Jawab!!!" kata Hafiz terdengar dingin dan tajam.
"Kenape diam? Kau cakap sahaja! Kau ni siape?" tanya Syafi'i.
Dari luar jendela, Omar melongok ke dalam kamar Atok Yahya. Sopir pribadi Atok itu terlihat terkejut melihat Melisa.
"Ape???" gumam Hafiz tak percaya. "Kau tak salah orang ke?"
"Tak. Macam mana boleh salah. Aku ade kat sini setiap hari. Meski dorang jarang keluar rumah sesekali aku dapat tengok dia bawa Puan Sonia berjalan kat taman," kata Omar memperjelas.
Hafiz manggut-manggut memperhatikan Melisa dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.
"Macam ni sahaja. Kau pergi lewat depan berjumpa dengan Mamah. Kau minta Mamah datang kat sini. Aku pun tak tahu, sebaiknya ni orang mesti diapakan. Mamah yang lebih berhak memutuskan," kata Hafiz.
Lalu tak berlama-lama Omar pun keluar lagi dari jendela samping dan pergi lewat depan untuk memanggil Zubaedah.
Saat dipanggil oleh supirnya sendiri, Zubaedah tentu saja merasa heran.
"Ada apa, Omar?" tanya Zubaedah.
"Cik, ade yang nak mencuri di kamar Tuan Yahya," kata Omar memberitahu.
"Memanglah," jawab Zubaedah cepat. "Korang datang dari Green House nak curi inai, kan?"
__ADS_1
Omar menggeleng.
"Bukan, kitelah. Juru rawat Puan Sonia tu tertangkap basah oleh kami sedang berada dalam kamar Tuan Yahya. Mohon Cik Zubaedah mahu datang nak tengok itu wanita. Kami tak tahu nak buat apa dengan wanita tu," kata Omar lagi.
"Juru rawat? Maksud korang Melisa, ke?" tanya Zubaedah tak percaya.
"Hmmm ... Betul. Saye pun baru sahaja ingat nama dia Melisa, ke?"
"Astaghfirullah!!! Ape yang dia buat di kamar Ayah?" gumam Zubaedah.
"Kami pun belum tahu dia ada maksud ape. namun agaknya dia nak mencurilah. Menggunakan keramaian di rumah ni supaya saat semua dah sibuk, dia ikut pula sibuk nak mencuri di bilik Atok. Tetapi saat ni, wanita tu tengah di tahan oleh Hafiz di bilik Tuan Yahya. Saye disuruh panggilkan Cik Zubaedah," kata Omar lagi.
Meski masih tidak percaya, mau tidak mau Zubaedah terpaksa mengikuti maunya Hafiz.
"Baiklah, kalau macam tu, kau baliklah dahulu. Nanti saye akan kat sana lewat pintu kamar sahaja," kata Zubaedah.
Omar mengangguk dan kembali lagi ke kamar Atok lewat samping rumah.
"Kenapa, Mah?" tanya Yola melihat Zubaedah yang raut wajahnya agak menegang setelah bertemu Omar dan berbicara pelan di teras tadi.
Zubaedah tak melihat pada Yola melainkan pada Sonia. Dalam hatinya kini terbit buruk sangka. Apa mungkin Sonia hanya berpura-pura lumpuh?
"Mamah ...." tegur Yola lagi. "Ada masalah apa?"
Zubaedah kini tersadar dari pikiran-pikirannya.
"Tak de masalah. Kau tunggu sahaja kat sini! Mamah nak balik kat bilik sekejap," kata Zubaedah.
Dengan alasan yang sama, Zubadah juga meminta ijin pada teman-temannya untuk kembali ke kamar sebentar. Begitu semua, oke dan tak keberatan ditinggal olehnya sebagai tuan rumah, Zubaedah pun tanpa membuang waktu pergi ke kamar Atok Yahya untuk mengecek kebenaran informasi dari Omar tadi.
Dan disana dia benar-benar melihat Melisa!
***
Hai reader! Jangan lupa like dan komentarnya ya...
Oh, iya buat kalian pecinta genre CEO, jangan lupa mampir ke karya baruku Assalamualaikum, My CEO! CEO-nya berbeda dari yang lain. Penasaran? Langsung cuss aja beib ...
__ADS_1