
"Please come this way, Madame" kata petugas bank itu mempersilahkan Yola, Martin dan Eva berjalan mengikutinya menuju sebuah ruangan yang berada di tempat paling tengah di gedung ini.
Ketiganya menurut dan mengikuti staf bank itu. Hingga sampailah keempatnya kini di depan sebuah ruangan dengan pintu double door. Yola, Eva dan Martin dengan sabar menunggu staf bank itu membuka pintu teralis dengan gembok dan setelahnya membuka pintu besi dengan keyword yang mereka tidak bisa tahu apa itu. Lalu setelah pintu ruangan itu terbuka, mereka lagi-lagi mereka mengikuti staf itu ke arah sebuah brankas yang cukup besar di pojok ya . Staf itu pun mempersilahkan Yola untuk menempelken jarinya pada alat detector yang berada di sisi brankas.
"Please stick your thumb here, Madame!"
"Tunggu dulu deh, memangnya sidik jari kita waktu kecil nggak berubah ya saat kita dewasa?" tanya Eva dengan polosnya
"Ya nggaklah. Bagaimana pola sidik jari kita dari lahir hingga mati pun akan seperti itu. Nggak ada yang berubah," jawab Yola singkat sebelum menempelkan jempolnya pada alat finger print brankas itu.
Staf bank memeriksa alat detector dan menyunggingkan senyumnya saat mengetahui sidik jari wanita hamil di depannya ini ternyata cocok 100% dengan yang ada di data base bank mereka. Segera ia membuka barang yang sudah belasan tahun ada di sana namun tak pernah didatangi oleh pemiliknya itu, meski pun pembayarannya tak pernah terlambat karena dikirim otomatis oleh perusahan PT. Guna-1 Indonesia setiap tahunnya.
Begitu brankas itu terbuka, tak hanya Martin, Eva dan Yola yang takjub melihat emas besar berbentuk patung itu di sana. Sungguh tak diragukan karya pemahat patung itu hingga bisa menciptakan patung emas berbentuk seorang anak dengan ekspresi gembira. Dialah patung emas Monta Somnang yang telah membuat orang-orang yang mengetahuinya menjadi serakah hatinya.
"Oh, my God! Patung sebesar ini terbuat dari emas benar-benar ada! Aku kira ayah hanya berbohong!" decak takjub berkali-kali terdengar dari bibir Martin.
Tak terkecuali Eva.
"Ya Tuhan, ini benar-benar emas? Atau cuma kuningan?" tanyanya meragukan.
"Kayaknya sih emas asli ni. Kalau nggak, nggak mungkin patung ini sampai membawa banyak masalah di kehidupan orang lain," jawab Yola.
Di saat mereka masih mengagumi patung emas itu, staf bank yang memeriksa brankas itu menemukan sepucuk surat dan menyerahkannya pada Yola. Lalu pada Yola dia pun bertanya apa patung itu akan dikeluarkan saat itu juga, atau bagaimana.
"Gimana selanjutnya?" tanya Yola pada Martin.
"Tunggu aku kabari ayahku dulu!" katanya.
Lalu dia pun pamit sebentar ke pojok ruangan untuk menelepon. Sementara itu Yola membuka surat kecil tak beramplop itu dan membacanya.
Yolanda cucu kakek, saat kau membaca surat ini, mungkin kau telah dewasa dan telah dapat memahami banyak hal tak seperti saat ini, saat Montha Somnang ini kita simpan bersama di sini. Mungkin saat ini juga kakek tak ada lagi di sisimu, untuk bersama-sama membuka kembali brankas ini.
Perlu kau tahu, patung Montha Somnang ini bukanlah milikmu sendiri melainkan milik Ilham juga. Kau ingat Ilham? Dia cucu sahabat kakek Tengku Yahya Nirwan. Yola, kau jangan serakah. Berbagilah dengannya juga. Jangan sampai bertengkar karenanya. Kakek tak pernah mengajarimu serakah, benar kan?
Ingat, jangan bertengkar, Sayang.
Yola nyaris tertawa membaca surat dari sang kakek. Ya Tuhan, bisa-bisanya kakeknya mengira dia ingin menguasai patung emas ini sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Eva menatap aneh pada Yola.
Yola menggeleng masih menahan tawanya.
"Nggak, nggak. Cuma surat dari kakek," jawab Yola tak mau menjelaskan secara detail tentang isi surat itu. Dia takut Eva tersinggung, karena dia sangat tahu kalau hubungan kakek Salim dengan Eva dan mamanya tidak pernah baik.
Eva manggut-manggut dan menatap punggung Martin yang masih menelepon Lucas. Tak lama Martin pun selesai dengan aktivitas meneleponnya.
"Katakan pada mereka kita akan membawa patung ini hari ini. Ini ayah sedang menyiapkan mobil dan orang yang bisa membantu untuk mengangkatnya," suruh Martin pada Yola.
Dan Yola seperti yang disuruh oleh Martin pun berbicara pada staf bank tentang rencana mereka untuk membawa patung Monta Somnang hari itu juga.
"We will bring this statue today. We're getting cars and people ready to move it from here," kata Yola pada staf bank itu.
Staf itu pun mengangguk-angguk tanda mengerti.
"Don't you need police or security assistance to escort you to carry this golden statue, Madame?" Staf itu menanyakan apakah Yola membutuhkan polisi atau pihak keamanan untuk mengawal mereka membawa patung emas itu hingga ke tempat tujuan.
Yola menatap pada Martin. Lelaki itu menggeleng yang berarti dia tak memerlukan bantuan yang dimaksud oleh staf bank itu. Tentu saja, apa jadinya kalau polisi ikut mengawal patung emas itu. Yang ada tujuannya akan berubah ke kantor polisi terdekat.
Lalu kemudian Yola pun menolak tawaran dari staf bank itu. Hingga kemudian staf bank itu pun meminta Yola untuk mengisi administrasi untuk barang simpanan yang akan ditarik dari bank mereka. Hampir satu jam mereka menunggu akhirnya orang suruhan Lucas pun datang dengan membawa mobil box.
Patung Montha Somnang itu pun dengan bantuan beberapa orang diangkut ke dalam mobil.
****
__ADS_1
Di lain sisi, seseorang dalam sebuah mobil sedang menatap cemas pada seorang perempuan hamil yang sedang berada di depan bank itu, menunggu patung Montha Somnang itu dipindahkan ke dalam sebuah mobil box.
"Ya Tuhan, Hafiz! Macam mana ni? Abang ni dah tak sabar tarik Yola dari sana. Ini terlalu berbahaya," keluh Ilham pada Hafiz yang kini ada di sisinya.
Mereka kini sedang berada dalam sebuah mobil dengan para polisi yang menyamar di antara mereka. Sejak tahu rencana mereka berbelok jauh hingga mengharuskan Yola ikut ke Kamboja, Ilham sudah tidak tenang. Dengan Hafiz, mereka berangkat lebih dahulu ke Pnomh Penh. Awalnya dia tak mengijinkan ide gila Yola yang mau menjadikan dirinya sendiri menjadi umpan agar Lucas mau keluar dari persembunyiannya.
Rasa khawatir wanita itu pada Lucas yang mungkin bisa saja kembali meneror dan memata-matai mereka membuat dia mendesak Ilham untuk mengijinkan dia melakukan misi berbahaya itu dan berjanji akan menjaga kandungannya baik-baik.
"Sabar sikit, Bang. Kalau kite keluar sekarang Yola akan lebih berbahaya lagi. Tunggulah sekejap, kite ikuti mereka!" kata Hafiz.
Tak lama wanita itu bersama Eva pun masuk ke dalam sebuah mobil pribadi, tidak ikut bersama mobil yang membawa patung Monta Somnang itu. Itu adalah mobil yang membawa mereka tadi ke bank.
Sesuai instruksi polisi Pnomh Penh yang menjadi komando mereka, mobil yang membawa Ilham dan Hafiz pun mengikuti mobil para polisi yang ada di depan.
Persis dugaan dari para polisi itu, ketika sampai di area perkotaan di sebuah persimpangan beberapa mobil suruhan Lucas mulai menghalangi jalan polisi, beberapa mobil tampak mengawal kiri, kanan, dan belakang mobil yang membawa patung Montha Somnang itu.
Sementara itu di dalam mobil yang melaju paling depan, yang membawa Yolanda, Eva dan Martin, terlihat bumil itu sangat khawatir, dan tak henti melihat ke belakang. Dia merasa panik saat melihat ada banyak mobil di belakang yang terlihat membentuk formasi melindungi mobil yang sedang membawa patung emas itu.
"Sial! Kita diikuti!" umpat Martin sambil memukul setir mobil. Dia baru menyadarinya ketika rombongan mobil mereka sudah keluar dari pusat kota dan menuju pinggir kota tempat dimana patung emas itu akan dibawa.
Lalu dengan pandangan menuduh, dia menoleh pada Eva dan Yola.
"Ini pasti ulah kalian, kan? Kalian sengaja memanfaatkan aku untuk menjebak ayahku, kan?" teriaknya marah.
Yola terlihat ketakutan kini.
"Nggak, nggak kok, Sayang! Mana mungkin aku berani menjebakmu," Eva berdalih pada Martin.
"Bohong!!" bentaknya, dan kali ini dia melepaskan sebelah tangannya dari setir dan memukul wajah Eva yang duduk di kursi sebelah kemudi.
"Aggghhh!!!" pekik Eva.
Yola juga terkejut dan shock melihat adegan kekerasan yang dilakukan Martin pada Eva.
Yola tidak terima.
"Hey, baj*ngan kamu!!" Dengan marah Yola yang sedang berada di kursi belakang bangkit dan menjambak rambut Martin, hingga mobil yang membawa mereka melaju dengan tak karuan, ke kanan dan ke kiri.
"Yola, Yola! Sudah! Kita bisa nabrak nanti!" pekik Eva ketakutan.
Saat seperti itu dimanfaatkan Martin untuk mendorong Yola hingga duduk terhempas dengan keras ke kursi di belakangnya.
"Aduuuhh!!" ringis Yola merasa sakit pada punggungnya.
"Kamu! Kamu jangan macam-macam! Aku bisa membunuh kalian berdua di sini sebelum polisi itu berhasil mengejar kita!" Martin mengeluarkan pistol yang terselip di pinggangnya.
"Aduuuh, Va! Lihat!" Yola merasa ada yang mengalir di sela-sela pahanya. celana panjang yang dipakainya terasa ada yang membasahi.
"Ya Allah, Yola, kamu kenapa?" pekik panik Eva melihat celana jeans Yola yang terlihat basah.
"Ini ketuban kayaknya, Va! Aduuuh, gimana? Pinggangku juga sakiiiit ..." rengeknya.
"Heh! Ini semua gara-gara Lo! Bawa Yola ke rumah sakit sekarang!" ancam Eva pada Martin.
"Kalau aku nggak mau gimana? Dia bukan prioritasku dalam misi ini!"
"Bajingan! Kalau begitu turunkan saja kami di sini, biar kami bisa cari tumpangan sendiri!" teriak Eva marah.
"Nggak bisa! Kamu nggak lihat kita sedang dikejar-kejar polisi di belakang? Aku turunin kalian di sini, sama aja membuat mobil di belakang juga berhenti, artinya sama aja menyerahkan diri ke polisi. Kamu kira aku gila apa?" sinis Martin masih sambil menyetir dengan kecepatan penuh.
Eva melihat ke belakang, Yola tampak pucat berkeringat. Eva bisa melihat kalau celana yang dipakai Yola semakin lama semakin basah.
"Kak, tolongin aku, tolongin! Kalau air ketubanku sampai habis, aku takut anak aku sampai kenapa-kenapa nanti," rintih Yola.
__ADS_1
Eva merasa kasihan, entah bagaimana melihat Yola yang merengek seperti itu, memohon dan memanggilnya kakak membuat hatinya luluh.
"Brengs*k!! Berhentikan mobilnya sekarang!" umpat Eva.
Dengan sigap Eva langsung menghambur pada lelaki yang pernah dicintainya itu, mencoba merampas paksa pistol yang ada di sisi sebelah kanan tangan Martin.
Martin yang terkejut mencoba mempertahankan pistol itu sambil tangannya yang memegang setir mencoba tetap membuat stabil kemudi mobil. Saling tarik-tarikan dengan Eva pelatuk pistol terkokang tanpa sengaja, dan entah siapa yang menarik pelatuk, tiba- tiba ....
DOOOR!!!!
Spontan rem mobil diinjak oleh Martin. Tak hanya Martin ternyata, mobil di belakangnya pun berhenti mendadak karena suara tembakan itu.
Ilham yang berada berjarak enam mobil dari mobil yang membawa Yola dan Eva di depan, sontak terkejut.
"Ya Allah, Astaghfirullah! Sir, please stop the car!" pintanya setengah berteriak.
Hafiz juga ikut panik dan turut meminta polisi yang mengemudikan mobil, menghentikan mobil. Dan ternyata belasan meter di depan sana, telah terjadi kemacetan. Para polisi dari mobil di depan mereka segera keluar dan tampak berlari mengepung mobil yang membawa patung Montha Somnang.
Tak lupa mereka juga segera menyuruh buka paksa beberapa mobil yang sedari tadi mengawal mobil bak terbuka yang membawa patung Montha Somnang itu.
Ilham tak peduli lagi pada pemandangan itu, dia segera berlari menerobos kumpulan para polisi yang sedang memeriksa penumpang pada masing-masing mobil itu. Yolanda-nya lebih penting!
Dengan sekuat tenaga dia akhirnya mencapai mobil paling depan, yang membawa Yola tadi. Benar saja, asal tembakan itu dari sana. Ilham segera mengetuk-ngetuk pintu mobil itu agar dibukakan. Dia tak bisa melihat orang-orang di dalamnya karena kaca film mobil itu berwarna gelap.
"Yola! Buka pintunya. Yola!!!" teriak Ilham.
Tak lama pintu mobil bagian kemudi akhirnya terbuka. Terlihat Eva dengan gemetar, mencoba membuka pintu lebar-lebar.
"Eva! Mana Yola?" bentak Ilham panik.
Bagaimana tidak panik, dia melihat Martin sedang megap-megap kesulitan bernapas sambil memegangi perutnya yang berdarah akibat tertembak oleh Eva.
"I-itu!" tunjuk Eva menunjuk kursi di belakangnya.
"Ya Allah, Yola! Maafkan Abang!"
Terlihat keadaan Yola yang sangat mengkhawatirkan. Dia mengalami pecah ketuban akibat terhempas keras saat didorong oleh Martin. Belum lagi suara tembakan itu benar-benar membuatnya menjadi sangat sangat shock hingga tak sadarkan diri.
Ilham segera membuka tuas pintu sebelah kemudi agar pintu samping sebelah Yola bisa dibuka. Buru-buru Ilham membuka pintu dan mengeluarkan Yola dari sana. Tak peduli lagi, dia pun lalu mengeluarkan istrinya itu dan menggendongnya keluar mobil untuk mencari bantuan salah satu polisi agar membawa mereka ke rumah sakit. Tak lupa Eva pun mengikuti dari belakang.
Saat Ilham melewati mobil-mobil yang mengawal patung Monta Somnang itu, dia sempat melihat seseorang yang sangat familiar dipaksa keluar dari mobil itu. Dia Lucas. Ternyata dia juga datang sendiri ingin melihat dan menjemput sendiri patung yang sudah lama diidam-idamkannya itu. Oleh karena itu dia bergabung di mobil para anak buahnya untuk menyamarkan keberadaannya.
Dengan merah padam menahan marah, Ilham pun bergegas menuju mobil yang dia tumpangi dengan Hafiz tadi. Hafiz pun menyambut mereka dengan cemas.
"Abang, Yola kenape?"
"Hafiz, tolong minta polis membawa kita kat hospital!" Ilham buru-buru membaringkan Yola di kursi belakang mobil. Eva menawarkan untuk menjaga Yola dan meletakkan kepala adiknya itu di pangkuannya.
Sepanjang Hafiz berbicara dengan polisi, Ilham mendatangi Lucas yang sedang dipasangi borgol oleh polisi.
"Orang tua cilake!!!"
Tanpa peduli lagi pada polisi di sekelilingnya, Ilham pun langsung melayangkan tendangannya pada perut pria tua itu hingga badannya terbentur dinding mobil. Tak puas dengan itu, Ilham masih menghadiahkan bogem mentah sekeras-kerasnya ke wajah pria yang menjadi musuh bebuyutan kakeknya selama puluhan tahun itu.
"Mati saja kau, manusia haram jad*h!!"
Ilham mungkin serius dengan ucapannya ingin membunuh pria itu, andai polisi tidak mencegahnya berbuat lebih kasar dan kejam lagi.
Kalau tidak ingat dengan Yola yang akan dibawa ke rumah sakit, kemungkinan dia akan tetap melampiaskan kemarahannya meski banyak polisi menghalanginya.
Tetapi Yola-nya. Ah, iya! Yola dan anaknya! Dia harus segera membawanya ke rumah sakit.
****
__ADS_1
Hai, hai, hai .... Makin pelit deh kalian ngasih like dan komentarnya. Padahal ini udah dekat banget loh ke ending 🙄