
Ilham dan Yola sampai di rumah keluarga Nirwan setelah menempuh perjalanan beberapa menit dari balai polis.
"Abang, sebenarnya surat apa yang dimaksud oleh Melisa tadi?" tanya Yola. Dia masih penasaran tentang surat yang sempat disinggung oleh Melisa tadi.
"Tak payah pikirkan tu,Yola!" jawab Ilham malas sembari keluar dari mobil.
Yola ikut keluar dari mobil dan menyusul dengan Ilham di belakang.
"Maksudnya?" tanya Yola lagi.
"Maksud Abang kau usah pikirkan itu, hmm?"
"Loh kenapa? Jelas aja donk aku mikirin itu. Melisa bilang tadi surat itu menyangkut Mr.Y yang punya dendam sama keluarga kita, keluarga Gunawan dengan keluarga Nirwan. Jadi aku juga harus tahu donk," kata Yola bersikeras.
Ilham geleng-geleng kepala.
"Usah dipikirkan, Sayang. Biar abang sahaja yang uruskan hal tu," jawab Ilham. "Percaya dengan Abang!"
"Iya, aku percaya. Tapi minimal kasih tau sebenarnya surat apa yang dimaksud Melisa itu," rengek Yola.
Mereka kini sampai di teras dan Ilham memencet bell rumah, menunggu asisten rumah tangga membukakan pintu untuk mereka berdua.
"Nanti abang mesti bagi tahu," jawab Ilham enteng.
"Kenapa nggak sekarang aja?" desak Yola.
"Yola ..." Ilham mulai tak sabar dengan sikap Yola.
Tetapi sebelum Ilham mengeluarkan kata-kata yang mungkin membuat Yola akan merajuk karena dimarahi, untung saja pintu rumah dibuka oleh Hafiz sehingga mengalihkan perhatian Yola dari surat yang membuatnya penasaran.
"Hafiz???" gumam Yola sedikit terkejut karena yang membuka pintu ternyata bukan asisten rumah tangga keluarga Nirwan, melainkan Hafiz.
Ilham melangkah masuk lebih dulu.
"Kau buat ape di sini, Gendut?!" tanya Ilham.
Hubungan Ilham dan Hafiz meski masih tidak seperti dulu tetapi Ilham selalu berusaha membuat suasana di antara mereka agar tidak canggung. Salah satunya adalah dengan cara memanggil Hafiz dengan julukan yang mengandung olokan itu.
"Kenape? Aku tak boleh ke sini ke?" Hafiz balik bertanya sedikit sinis.
__ADS_1
Ilham langsung menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kau nak tinggal di sini selamanya pun tak ape," jawab Ilham dengan nada yang sangat lelah. Bukan tubuhnya yang lelah saat ini. Melainkan hati dan pikirannya.
"Mama mana, Ndut?" tanya Yola.
"Ade kat dapur sana," jawab Hafiz.
"Oh ..." jawab Yola tanpa berniat ingin menemui Mama Ratih dan Zubaedah yang sedang memasak berdua di dapur.
Yola tak ingin mengganggu kedua orang yang saling berbesan satu sama lain itu. Hubungan Mama Ratih dan Mama Zubaedah memang membaik dari hari ke hari. Mama Ratih memutuskan sementara untuk menemani Yola di Kuala Lumpur begitu pun Mamah Zubaedah yang seperti niat awalnya ingin menemani Yola dan mengurus menantunya itu hingga melahirkan nanti. Dia ingin menebus dosa yang dulu, dosa menelantarkan menantunya yang sedang hamil hingga melahirkan Ammar cucu kesayangannya itu.
"Abang, ayo jawab! Surat apa yang dimaksud Melisa? Ayolah, kasih tau aku juga ya? Siapa tahu dari surat itu kita bisa bertemu petunjuk tentang apa tadi katanya? Mon ... montha Sonmang? Somnang?" Yola mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan Melisa tadi.
Kalau dia tidak salah ingat Melisa tadi menyebutkan tentang hal yang terdengar seperti itu.
Ilham geleng-geleng kepala mendengar kegigihan istrinya itu untuk mencari tahu informasi yang terdengar asing di telinga mereka itu. Montha Somnang? Apa itu?
Rupanya percakapan Ilham dan Yola itu didengar oleh Hafiz. Hafiz pun tak disangka tertarik dengan topik bahasan itu.
"Tunggu sekejap! Apa korang berdua cakap tadi? Mon-tha? Som-nang?" tanya Hafiz ingin tahu. Memorinya tiba-tiba mendeteksi kedua kata itu familiar dan pernah di dengar oleh telinganya.
"Kenape? Kau tahu sesuatu tentang ape itu Montha Somnang?" tanya Ilham masih dengan nada yang sedikit malas dan lelah.
Jujur dia tak berharap apa pun dari Hafiz. Termasuk untuk mendapatkan informasi tentang Montha Somnang dari mantan orang gemuk itu.
Hafiz mengangguk namun dengan wajah sedikit ragu. Kemudian dia menggeleng setelahnya.
"Entahlah, aku tak yakin. Tetapi agaknya kalau aku tak salah ingat aku pernah dengar Atok menyebutkan sesuatu yang mirip atau sama dengan korang yang berdua ucapkan. Mon ... tha ... Som-nang," Hafiz mencoba mengeja tiap suku kata dari kata-kata itu kemudian menggeleng. "Entahlah, aku tak yakin itu sama dengan yang disebutkan Atok."
Ilham dan Yola saling pandang kemudian.
"Ape kau cakap, Hafiz? Atok bicara ape padamu tentang Monta Somnang? Itu apa?" tanya Ilham tak sabar.
Hafiz kembali menggeleng-geleng sambil mencoba mengingat-ingat kembali. Kemudian dia memejamkan matanya sambil membayangkan Atok Yahya mengucapkan kata-kata itu sebelum dia menemukannya meninggal beberapa saat kemudian.
"Mon-tha, Som-nang," eja Hafiz sambil menirukan gerak bibir Atok Yahya di dalam memorinya.
"Hafiz!!! Kau cakap! Ape hal ni? Ape montha somnang tu? Itu ape?" desak Ilham dengan pertanyaan bertubi-tubi.
__ADS_1
Hafiz membuka kelopak matanya yang tadi terpejam.
"Betul! Atok memang mengucapkan kata itu," kata Hafiz sambil mengangguk-angguk yakin. "Jadi ape tu Montha Somnang?" Hafiz balik bertanya.
Ilham menepuk jidatnya kesal.
"Kau ni Ndut, jangan permainkan aku. Kau yang cakap sendiri tadi. Atok sebutkan pasal tu. Ape maksudmu? Ape tu Montha Somnang?" tanya Ilham lagi-lagi tak sabar.
Hafiz mengangkat bahunya dan masih menggumamkan kata "montha somnang" berapa kali.
"Entahlah, aku pun tak tahu. Aku hanya mendengar kata itu disebutkan Atok beberapa kali sebelum beliau almarhum," kata Hafiz lirih.
"Maksudnya?"
Lalu singkat cerita Hafiz pun menceritakan apa yang terjadi sesaat sebelum Hafiz menemukan sang atok dalam keadaan meninggal ditutup oleh bantal. Tak lupa Hafiz menceritakan pada Ilham apa yang menjadi wasiat sang Atok. Termasuk pesan sang Atok agar Hafiz dan Ilham bersatu untuk mempertahankan syarikat N-one.
"Atok kate Montha Somnang masih ade kat kapal," kata Hafiz.
Ilham dan Yola mengernyitkabn keningnya.
"Ape maksudnya tu? " tanya Ilham.
Yola ikut-ikutan mengangguk tanda dia setuju pada pertanyaan itu.
Hafiz lagi-lagi mengangguk.
"Aku pun tak tahu. Tetapi Atok mengucapkannya juge sampai dua kali. Lepas tu Atok sempat berteriak dan bercakap entah pade siape macam orang kesetanan, 'jangan ganggu keluargaku!', macam tu," kata Hafiz menirukan kata-kata sang Atok sesuai dengan apa yang diingatnya.
Ilham dan Yola semakin penasaran.
"Terus, kenape kau baru cakap sekarang?" tanya Ilham, mengingat sang Atok meninggal sudah hampir 2 minggu lamanya.
Hafiz menarik napas panjang.
"Aku pikir itu informasi tak penting. Aku menyangka Atok hanya mengigau sahaja.Dan soal mempertahankan N-one, aku malas bagi tahu. Aku tak nak orang berpikir kalau aku mahu juge harta warisan Atok kat N-one," kata Hafiz jengah.
***
Hai, reader beib, terimakasih buat kalian yang setia baca ini dari bab awal hingga bab ini. Terus dukung author dengan rutin like dan koment yah beib... u
__ADS_1