
"Jadi kau dah tahu betapa Yola sangat menderita mase tu. Aku mengalah mase ni, hanya kerana Yola menginginkan kau kembali ke sisinya. Kerana dia cinta dengan kau. Sekali sahaja kau bikin dia menangis lagi, jangan harap ade lain mase," kata Hafiz memberi ultimatum.
Ilham menghela napas panjang mengingat pembicaraan panjangnya kali ini dengan Hafiz. Baru kali ini setelah sekian lama abang beradik itu menghabiskan waktu untuk berbicara. Selama ini Hafiz selalu menghindar darinya jika dia ingin sekedar bertegur sapa. Kalau pun Hafiz mau bicara dengannya, biasanya pria itu selalu menyahutinya dengan sinis.
Saat Ilham kembali masuk ke apartemennya, Yola sedang sibuk mencari- carinya di belakang.
"Abang! Abang kemana aja?" tanya Yola.
Ilham mengangkat kantongan berisikan beberapa kotak susu bumil-nya Yola.
"Abang ambilkan ni ke sebelah," kata Ilham sembari berjalan melewati Yola ke dapur.
"Hmmm ...."
Yola tertegun.
"Kenape tengok abang macam tu?" tanya Ilham.
"Abang ke sebelah ada Hafiz?" tanya Yola.
"He em," jawab Ilham mengiyakan.
"Waaah ... aku takjub," kata Yola.
"Takjub ape?"
"Abang sama Hafiz nggak baku hantam gitu?"
Ilham menatap Yola dengan pandangan memicing.
"Kau suke abang dan Hafiz begaduh? Degiiiilnya isteri abang ni ..." kata Ilham sembari mencubit pipi Yola keras- keras.
Yola mengaduh kesakitan. Saat Ilham melepaskan cubitannya wanita itu memeluk pinggang Ilham manja.
"Aku berharap abang dan Hafiz segera berbaikan ya. Aku ingin melihat kalian akrab dan saling menyayangi seperti dahulu," kata Yola tulus.
"Abang masih sayang dengan adik abang yang lemak tu, tetapi dia nampaknya tak sayangkan abang lagi. Dia lebih sayang isteri abang," ujar Ilham.
Terdengar seperti bercanda tapi begitulah yang nampaknya terjadi di mata Ilham. Dia bisa merasakan cinta yang sangat dalam dari Hafiz untuk Yola istrinya itu.
"Aku pun sayang pada Hafiz, Abang," ucap Yola jujur.
"Tak boleh. Kau hanye boleh sayang dengan abang. Dengan pria lain tak boleh," jawab Ilham.
"Ehhh, nggak bisa gitu donk. Hafiz itu sahabatku paling terbaik dari dulu. Aku tidak memandangnya sebagai seorang pria melainkan sebagai seorang sahabatku yang juga seperti bagian dari diriku," kata Yola.
__ADS_1
Ilham mengeratkan pelukannya pada Yola.
"Terima kasih, Sayang," ucapnya tulus.
Yola bingung.
"Terima kasih untuk apa?"
"Kerana kau telah kawani dia selama ni. Abang tahu, Hafiz banyak menderita batin semenjak dia tahu, kalau dia adalah anak yang diangkat di keluarga Nirwan. Tetapi sungguh, tak de yang menganggap dia anak pengganti. Kami sayangkan dia tulus sebagaimana dirinya sendiri. Tetapi meski macam mana menjelaskan pade dia, dia tetap menarik diri dari keluarga Nirwan. Sedih abang melihat dia yang selalu salah sangka dengan kasih sayang kita ke dia. Padahal yang sebetulnya terjadi. Abang, Mamah, Papah, Atok semua sangat sayangkan dia. Macam mana boleh tak sayang dah pun bertahun-tahun hidup bersama?" keluh Ilham.
Yola merenggangkan sedikit pelukannya di pinggang Ilham.
"Dia hanya kecewa pada kenyataan hidup, Abang. Dia terlalu sayang pada kalian, dan bisa abang bayangkan kan bagaimana rasanya berada di ketinggian dan kemudian jatuh terhempas di titik paling rendah? A- aku sempat merasakannya ..."
Yola tercekat dan tak sanggup melanjutkan kata- katanya. Hal itu membuat Ilham menarik Yola kembali ke pelukannya.
"Maafkan abang, Yola. Abang tak menyangka betapa berat cubaan yang Yola hadapi di masa silam. Itu tidak akan terjadi lagi, Oke?"
Ilham mengecup dalam puncak kepala Yola seakan ingin menunjukkan betapa sungguh- sungguhnya dia kali ini akan menepati janjinya.
Yola mengangguk.
"Abang jangan khawatir. Hafiz adalah orang yang pemaaf. Berikan dia waktu untuk melupakan semua yang terjadi dan memaafkan semua kekecewaan yang pernah dia rasakan," kata Yola.
Ilham mengangguk dan mengusap rambut Yola. Keduanya larut dalam haru mengenang semua yang pernah terjadi di masa lalu.
"Hmmm .... Kau tengoklah dulu dari siape telepon tu. Abang buatkan kau susu. Nanti abang hantarkan, jom!"
"He em," Yola mengiyakan dan segera ke kamar untuk melihat siapa orang yang telah membuat ponselnya berdering itu.
Dan seketika mata Yola langsung berbinar melihat panggilan vidio dari Mama Ratih. Segera dia mengangkatnya, dan kegembiraannya makin menjadi- jadi saat melihat Ammar berada di layar ponselnya.
"Ammaaaaarrr!!!" pekik Yola girang.
"Mom, what are you doing?" sapa Ammar di telepon.
"Mommy tak bikin apa- apa, sayang. Kamu udah nyampe di Jakarta?" tanya Yola gembira.
Akhirnya keinginan mamanya untuk dapat bertemu cucunya terpenuhi. Itu pasti sangat membuat Mama Ratih bahagia. Yola sangat tahu itu.
"Mestilah Ammar dah sampai, Mom. Kalau tak mana boleh Ammar pakai talipon bimbit punya nenek uti untuk talipon Mommy," jawab bocah itu.
"Ah, iya benar. Mommy lupa, honey. Nenek mana?" tanya Yola lagi.
"Nenek, Mommy nak bercakap dengan nenek," kata Ammar pada neneknya yang ternyata ada di sebelahnya.
__ADS_1
Ratih menerima ponsel itu dari tangan mungil Ammar.
"Mama!!" panggil Yola.
"Hmmmm ..." sahut sang Mama.
"Mama sudah senang donk ketemu sama Ammar?"
Mama Ratih mencibir.
"Tadinya sih begitu, tapi pas dengar Ammar di sini hanya beberapa hari saja, Mama jadi kecewa lagi deh. Mama kira dia akan tinggal sama mama disini," kata Ratih dengan muka cemberut.
"Ya, mama .... Kok ngomongnya gitu sih? Kan udah ketemu sama Ammar," Yola balas cemberut.
"Iya betul. Tapi kan cuma berapa hari doank? Mama kan masih kangen berat sama Ammar, cucu Mama. Tiga hari mah apaan? Buat bawa Ammar keliling- keliling Jakarta juga masih kurang kali," jawab sang Mamah.
"Nanti di lain waktu lagi, Yola dan abang bawa Ammar ke Jakarta lebih lama lagi, Ma. Sekarang segitu aja dulu. Ammar juga masih sekolah. Ini aja dia musti cuti 3 hari karena ikut Papa ke Jakarta," kata Yola.
"Diiih, Mama belum setuju kali kamu kembali sama Ilham," ledek Ratih.
"Mamaaa ...." protes Yola.
"Neneeek ..." protes Ammar tak mau kalah.
Dia bisa mendengar dengan jelas pembicaraan mommy dan nenek utinya di telepon.
Ratih sengaja menjauhkan ponselnya agar apa yang akan dikatakannya pada Ammar tidak terdengar oleh Yola.
"Ini hanya pura- pura aja. Ammar suka berakting, kan?" bisiknya pada Ammar.
Ammar mengangguk.
"Ammar suka sangat, Nek!" katanya antusias.
"Kalau begitu Ammar perhatikan nenek saja, oke?" suruh si nenek yang langsung di "Oke- kan" Ammar.
"Mama ..." panggil Yola.
"Hmm ..." sahut Ratih kembali dalam mode ketus.
"Mama setuju kamu kembali dengan Ilham, tapi ada syaratnya," kata Mama Ratih.
Ilham yang berkebetulan masuk ke dalam kamar membawa segelas susu untuk Yola ikut mengernyitkan keningnya. Syarat?
"Syarat apa?" tanya Yola penasaran.
__ADS_1
***
Hai, hai hai ... Author update tengah malam. Hai kalian, kok sekarang like dan komentnya makin dikit sih? Sedih author tu. Jadi kurang semangat update, coba. Ayo donk, jangan pelit like dan komentnya .... Kita lanjut besok lagi.j