
Yola terbangun saat mencium aroma minyak kayu putih yang dioleskan Mama Ratih ke hidungnya. Matanya mengerjap-ngerjap. Dia tampak lemah saat ini. Diedarkannya pandangannya menyapu setiap sudut ruangan ini.
"Mama ..." panggilnya saat pandangan matanya bertemu dengan Ratih yang terlihat khawatir menatapnya.
Nenek muda itu menghembuskan napas lega melihat putri semata wayangnya yang tadi tak sadarkan kini telah siuman.
"Yola dimana? Abang dimana?" tanya Yola lirih.
"Kita ada di rumah sakit, Nak. Tadi kamu pingsan," jawab sang Mama.
Yola memejamkan matanya kemudian membukanya lagi. Keningnya mengernyit menahan pusing di kepalanya. Dia berusaha mengingat-ingat kembali kejadian sebelum dia tak sadarkan diri. Dan ingatannya tentang Atok Yahya yang telah meninggal dunia serta pertengkaran Ilham dan ayah mertuanya sekelebat muncul di otaknya.
"Abang mana, Mah?" tanya Yola lirih seraya berusaha untuk bangun.
Mama Ratih membantu Yola untuk bangun dan mengelus-elus pundak Yola.
"Ilham sedang mengurus masalah Atok Yahya dan hal-hal lain yang berkenaan dengan meninggalnya Atok, Sayang," kata Mama Ratih mencoba menjelaskan dengan hati-hati.
"Jadi Atok beneran meninggal ya, Mah? Ini bukan mimpi Yola?" tanyanya dan air mata itu menetes lagi.
Mama Ratih menarik Yola ke pelukannya.
"Sayang, kamu jangan nangis lagi donk! Udahan, kasihan anak kamu di perut kalau mommy-nya nangis terus," kata Ratih mencoba membujuk Yola menghentikan tangis Yola.
"Kasihan Atok, Ma ... Yola belum sempat penuhi janji Yola pada Atok ... Huuuu huu, bagaimana ini, hksss ..." isaknya.
"Janji apa?" tanya Ratih penasaran.
__ADS_1
"Janji mau menaikkan omset N-one, Maaa. Atok janji akan memberikan hak asuh Ammar pada Yola kalau Yola menaikkan omset N-one 30% dalam setahun. Dan ... dan sekarang, tak cuma Ammar yang Atok berikan pada Yola. Rumah tangga Yola yang sebenarnya pun Atok kembalikan ke tangan Yola. Tapi Yola belum melakukan apa-apa untuk Atok dan untuk N-one. Bagaimana ini, Mamaaa ... Huuu ..." Yola kembali menangis.
Ratih menepuk-nepuk pungung putrinya.
"Sayang, kamu nggak usah pikirkan itu dulu. Kamu bisa menepati janji itu nanti. Atok Yahya akan mengerti kok. Sekarang kamu fokus pada kesehatanmu dulu. Yola lapar nggak? Mama carikan makanan, ya?" bujuk Ratih.
Yola menggeleng-gelengkan kepalanya masih terisak dalam pelukan sang Mama.
"Yola nggak lapar, Ma ..."
"Kalau begitu Mama bikinkan susu hangat aja gimana? Di apotik rumah sakit ini kayaknya ada jual susu bumil juga deh. Mama bikinkan itu aja, ya?" bujuk Ratih lagi.
Yola masih menggeleng. Dan sebelum Yola menolak kembali, Ratih kemudian berbicara memotong penolakan yang akan dilontarkan Yola.
"Sayang, kamu kalau nggak mau makan nggak mau minum susu pula, kalau kamu sakit gimana? Dokter bilang, kamu kelelahan dan butuh nutrisi cukup agar nggak ada dengan kehamilanmu. Kalau kamu tumbang di masa susah seperti ini, siapa yang akan menguatkan Ilham? Dia terlihat sangat down akan kepergian Atok yang tiba-tiba ini. Kalau ditambah dengan kamu, gimana? Kamu nggak mikir sampai kesana apa?" kata Mama Ratih memojokkan Yola.
"Kamu Mama ambilkan makanan dan minuman, ya?" bujuk Mama Ratih melihat ekspresi putrinya yang sepertinya mulai terpengaruh kata-katanya.
Yola mengangguk pelan.
Ratih tersenyum, usahanya membujuk putrinya ini tak sia-sia. Ratih sangat maklum kalau Yola membutuhkannya saat ini. Di saat-saat berat yang menimpa keluarga Nirwan saat ini, siapa lagi yang bisa diandalkan untuk mengurus Yola kalau bukan dia sebagai ibunya? Ilham, Zubaedah semua sedang sibuk mengurus banyak hal. Oleh karena itu tadi Ilham menitipkan Yola pada mertuanya itu. Dan sepertinya rencana kepulangannya ke Indonesia, agaknya harus diperlambat demi agar bisa mengurus Yola selama beberapa waktu ke depan.
****
Berita menghebohkan tentang meninggalnya Tengku Yahya Nirwan, dalam sekejap berhembus ke seantero Malaysia hingga ke negara-negara tetangga. Bagaimana tidak presiden directur yang juga adalah owner perusahaan retail berskala nasional itu, meninggal dengan cara yang tak lazim sedangkan sebelumnya beliau sempat tertangkap kamera sedang berada di majlis perkahwinan cucu kandungnya sendiri.
Berbagai spekulasi dan komentar macam-macam hadir dari segala lapisan masyarakat terhadap kasus pembunuhan Tengku Yahya Nirwan. Dari komentar positif berupa ungkapan turut berbela sungkawa, dan komentar mengecam si pembunuh yang belum jelas pelakunya hingga komentar negatif yang menganggap kalau ini adalah karma untuk Ilham karena telah menikah lagi sementara istri pertamanya Sonia masih terbaring sakit karena penyakit aneh yang telah membuatnya lumpuh itu.
__ADS_1
Di rumah keluarga Nirwan saat ini pun telah ramai orang. Dari keluarga, tetangga, hingga para media massa yang datang untuk meliput situasi terkini di rumah besar itu. Tetapi sayangnya, rumah itu tidak dapat dimasuki saat ini dikarenakan rumah itu sedang dalam pemeriksaan polisi. Rumah Atok bahkan dipasang police lain, pertanda tak ada orang yang bebas untuk keluar masuk saat ini, kecuali memang orang-orang yang bertempat tinggal di rumah itu.
Jenazah Atok Yahya sendiri dibawa ke rumahnya yang lain untuk dikebumikan esok hari. Meninggalnya Atok Yahya telah mereka laporkan pula ke kantor polisi sebagai kasus pembunuhan. Dan hingga jenazah orang tua itu dibawa ke rumah duka, penyelidikan polisi masih berlangsung di rumah Atok Yahya. Saat ini, tersangka utama yang berpotensi besar melakukan pembunuhan Atok Yahya hanya Melisa. Melisa sendiri saat kejadian tidak ada di tempat kejadian perkaran. Entah kemana dia.
Ilham menatap nanar pada jenazah Atok Yahya yang kini telah terbujur kaku di hadapannya. Dia yakin masalah kematian Atok Yahya bukanlah masalah kecil yang diperkirakan orang-orang. Mamah Zubaedah dan yang lainnya berpendapat kalau kejadian ini pelakunya adalah Melisa. Mereka berpikir kalau Melisa mungkin mencoba kembali mencuri di kamar Atok, namun tertangkap basah hingga dia terpaksa membunuh Atok Yahya.
Tetapi berbeda hal dengan Ilham. Meski dia mencurigai Melisa, tetapi entah mengapa orang yang paling sangat dia curigai adalah Lucas, orang yang menemui Atok di resepsi pernikahannya. Dan tadi pun di kantor polisi dia telah mengungkapkan kecurigaannya. Sayangnya polisi di sana tidak begitu mempercayainya walaupun pada akhirnya mereka berjanji akan memanggil Lucas juga untuk diinterogasi demi menenangkan Ilham yang berteriak-teriak membuat keributan di sana.
Masih dengan pakaian adat pengantin melayunya, pria itu hingga mendekati maghrib masih terduduk bersimpuh di hadapan jenazah Atok Yahya. Dia tidak memperdulikan banyak orang yang berada di sekelilingnya lagi.
"Abang, kita sholat dulu, yuk!" bujuk Yola yang sudah agak baikan dan sudah kembali dari rumah sakit.
Ilham mendongak melihat pada istrinya itu. Hanya Yola dan Ammar yang membuat hatinya tenang saat ini.
"Ayuuuk," bujuk Yola lagi.
Ilham akhirnya pasrah dan mengangguk. Baiklah, rasanya dia perlu bersih-bersih dan sholat dahulu agar pikirannya tenang.
Yola membantunya berdiri, dan saat yang bersamaan ponsel Ilham berdering. Ilham merogoh kantong celananya.
"Tuan Ilham?" sapa seorang pria di sana.
"Ya?" Ilham tertarik pada informasi yang akan dia dapatkan dari orang itu.
"Melisa dah ditemukan. Dia ade kat balai polis (kantor polisi) sekarang," lapor orang yang ternyata adalah polisi itu.
***
__ADS_1
Hallo, jangan lupa like dan koment ya beib. Mampir ke karya author yang lain juga ya...