
Hafiz
Pria itu terpaku menatap layar monitor dari rekaman CCTV tetangga komplek yang rumahnya berjarak sekitar empat rumahan dari seberang rumah Atok Yahya.
Begitu menemukan kemungkinan bukti-bukti yang ada berupa jejak sepatu di bawah jendela kamar Sonia, hari itu juga Hafiz bergerak cepat mendatangi rumah itu. Tetapi sayangnya sang pemilik rumah yang ternyata adalah orang Indonesia itu, sedang tidak ada di rumah. Di rumah itu hanya ada asisten rumah tangganya, dan asisten rumah itu tentu saja tak berani memperlihatkan rekaman CCTV itu pada Hafiz, meski dia tahu Hafiz adalah cucu dari Tengku Yahya Nirwan, tetangga majikannya yang merupakan pemilik perusahaan retail besar yang tersebar di hampir seluruh kota di Malaysia.
"Bapak sedang nggak ada di rumah. Beliau lagi ada di Indonesia, Bang!" kata ART yang ternyata adalah orang Indonesia itu juga.
"Bila Pakcik Adly balik kat sini? Saye betul-betul perlu melihat CCTV yang mengarah kat rumah kami," tanya Hafiz sembari menunjuk lantai dua rumah itu.
"Bapak sama Ibu sudah tiga hari sih perginya. Paling mungkin baliknya dua tiga hari lagi," kata wanita berusia sekitar dua atau tiga tahun lebih muda dari Hafiz itu.
"Oh, macam tu ... Baiklah, saye akan datang dua, tiga hari lagi kat sini," kata Hafiz waktu itu.
Dan hari ini Hafiz pun kembali mendatangi rumah Pakcik Adly. Semalam Hafiz menginap di rumah Atok, untuk turut mengantarkan kepergian Ilham dan Yola yang akan membawa Sonia berobat ke Penang. Mereka memutuskan untuk berangkat malam dengan mengenderai mobil. Dan setelah mereka pergi, Hafiz memutuskan untuk tidur di rumah Atok karena Mamah Zubaedah yang meminta. Rumah sepi katanya, hingga mau tak mau Hafiz terpaksa menuruti keinginan sang Mama. Hmmm tunggu dulu ... Terpaksa? Ralat! Tentu saja menginap di tempat yang ada Putri akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Meski diawasi oleh Mamah Zubaedah, tetapi dia bisa melewati waktu bersama dengan menonton televisi bersama Putri di ruang keluarga. Bersama Mamah tentunya. Hanya menonton. Catat!
Kembali ke rumah Hafiz di rumah Adly, sekitar jam 10 pagi, Hafiz mendatangi lagi rumah tetangga sang Atok itu. Untunglah Adly dan istrinya telah kembali dari Indonesia.Setelah berbasa-basi sejenak, Hafiz pun mengutarakan maksud dan tujuannya untuk meminta tolong pada Adly agar diijinkan melihat rekaman CCTV rumah itu yang menghadap ke samping rumah Atok Yahya.
"CCTV tanggal 19 April ... kalau tidak salah bukannya itu hari meninggalnya Atokmu? Pak Cik Yahya?" tanya pria itu berusia sekitar 45 tahunan itu setelah mengingat-ingat beberapa saat.
"Tanggal itu anak saya yang berada di Indo sedang ulang tahun soalnya, makanya saya ingat. Hari itu istri saya sedang vidio call-an dengan anak saya, dan terkejut dengan berita meninggalnya Pakcik Yahya," kenang Adly lagi.
"Iya, benar Pakcik," jawab Hafiz. "Saya meminta pertolongan Pak Cik untuk mengijinkan saye untuk tengok record dari CCTV tu, boleh ke?" pintanya penuh harap.
"CCTV kat rumah dirusak oleh pelakunya, jadi kite tak dapat ketahui siape yang lakukan tu pade Atok Yahya. Baru tadi saye tak sengaja tengok dari samping rumah sebelah sini kalau CCTV punya Pakcik menghadap ke arah rumah Atok juge rupanya," tutur Hafiz lagi menambahi.
Pria itu menghela napas panjang mendengar penuturan Hafiz. Dia sangat prihatin dengan kejadian yang menimpa keluarga Nirwan ini.
"Oke, ikut saya!" ajaknya.
Dan Adly pun membawa Hafiz ke sebuah ruangan tempat ia bisa memonitor CCTV dari sana.
"19 April ya? Tunggu sebentar ..."
"Iya, Pakcik."
Hafiz dengan sabar menunggu tetangga Atok itu mencari rekaman CCTV tanggal 19 April.
"Kamu ingat jamnya? Susah kalau nggak tahu jamnya ..." tanya Adly lagi.
"Hmmm ... Kalau tak salah siang antara pukul dua atau pukul tiga. Macam tu lah," kata Hafiz setelah mengingat-ingat sejenak.
Adly mengangguk dan mencari rekaman sesuaƬ tanggal dan jam yang disebut oleh Hafiz. Setelah menemukannya Adly mempercepat vidio itu semenit demi semenit untuk melihat apa ada yang mencurigakan di area rumah Atok yang tertangkap CCTV.
"Stop, Pakcik! Stop!" seru Hafiz. "Mundur sikit!"
Adly memundurkan vidionya semenit seperti permintaan Hafiz. Dan benar saja dari belakang rumah Atok Yahya, terlihat seseorang seperti melompati tembok. Penampakan yang diambil CCTV itu memang kurang jelas menampakkan wajah orang itu karena jaraknya yang tidak begitu dekat dari rumah Atok. Seseorang berpakaian hitam-hitam dengan tas ransel di punggung. Meski rambut orang itu pendek, Hafiz sangat yakin dari posturnya kalau itu wanita. Dan itu seperti potongan rambut Yuri.
Hafiz menahan napasnya melihat orang itu berjalan ke arah depan rumah, oh maaf tidak! Dia menuju jendela kamar yang ditempati Sonia selama di rumah Atok. Dan lihatlah! Dia berusaha masuk ke dalam kamar itu lewat jendela. Tapi, tunggu! Sepertinya ada yang salah. Ah, dia salah kamar rupanya dan kembali menurunkan kaki dan kepalanya yang sudah sempat nangkring di jendela. Lalu orang itu pun kembali menuju belakang rumah, yang diyakini Hafiz dia pasti menuju kamar Atok di sisi samping rumah sebelah berlawanan.
Hafiz mendengus kasar. Kalau dilihat secara seksama, dia sangat yakin itu Yuri. Itu pasti dia. Dengan menggeram dia meminta pada Adly untuk mengendalikan mouse komputer dan mengulang-ulang kembali memutar vidio itu.
Tak lupa pula Hafiz meminta Adly untuk mengecek rekaman CCTV beberapa hari sebelum Atok Yahya meninggal. Nampak Melisa di satu part vidio itu sedang sibuk mempreteli CCTV yang terletak di samping rumah. Dan tentunya dia juga melakukan itu di sisi samping rumah sebelah kamar Atok hingga di belakang. Sayangnya, jangkauan CCTV rumah Adly ini hanya bisa menjangkau gambaran CCTV hingga samping rumah sebelah kamar Sonia lurus hingga belakang, tetapi tidak di belakang bagian taman dan samping rumah sebelah kamar Atok. Dan mereka pasti mengira rencana mereka tidak akan ada cacat hingga tak mempertimbangkan bahwa mungkin ada CCTV milik tetangga yang sempat menangkap gerak-gerik mereka.
"Merasa lebih baik?" tanya Adly sesaat setelah mereka selesai mengurus masalah CCTV.
Hafiz sempat merasa syok dan hampir tak kuasa menahan amarah. Tetapi pria tetangga atok berbeda bangsa dan generasi itu mencoba menenangkan Hafiz dan menyuruh asisten rumah tangganya membuatkan Hafiz teh dengan chamomile yang menenangkan.
__ADS_1
Hafiz meletakkan cangkir teh itu setelah menyeruputnya beberapa kali. Dia mengangguk.
"Iya, terima kasih Pakcik," ucapnya.
Dia tak bisa mengungkapkan rasa bersyukurnya karena masalah ini akhirnya terungkap melalui bantuan pria ini.
"Kau harus segera laporkan ini ke polis," kata Adly memperingatkan.
"Mesti Pakcik. Dia mesti dapat ganjarannya," kata Hafiz
"Tapi kau yakin, yang melakukan memang dia? Maksudku, di vidio tidak ada yang memperlihatkan dia benar-benar membu... maksudku melakukan itu pada Atokmu," kata Adly meralat ucapannya. Dia tak sampai hati mengucapkan kata-kata membunuh di hadapan cucu dari tetangganya ini.
"Saye akan temukan bukti lainnya, Pakcik," jawab Hafiz menahan geram.
Adly mengangguk-angguk.8
"Maaf tidak bisa membantu lebih banyak dari ini. Andai CCTV-nya bisa menjangkau sisi samping dekat kamar Atokmu," kata Adly lagi.
Hafiz tersenyum pahit pada Adly.
"Jangan cakap macam tu, Pakcik. Begini pun sudah sangat menolong kami. Ini sangat berguna untuk menangkap pembunuh tu. Saye sangat berterima kasih," katanya tulus
Adly mengangguk-angguk sambil menepuk bahu Hafiz.
"Tak apa-apa. Kalau perlu bantuan yang lain juga katakan saja. Saya tinggal di sini baru 4 tahun belakangan, tetapi Atokmu sepanjan sepengetahuan saya adalah orang yang baik pada semua orang. Saya prihatin dan sangat mengutuk orang yang melakukan hal sekeji ini pada beliau. Sungguh orang itu tak punya hati dan rasa kemanusiaan sama sekali!" umpatnya geram.
Betul sekali. Yuri, bagaimana bisa kau sekejam ini? batin Hafiz dalam hati.
****
Penang
Karena penyakit yang diderita Sonia itu termasuk langka dan mereka bingung ke dokter spesialis mana seharusnya membawa Sonia, apakah ke spesialis neurologi (syaraf)? Atau ke dokter jantung dan pembuluh darah? Akhirnya Yola memutuskan untuk temu janji dengan dokter spesialis penyakit dalam dulu. Nanti biar saja dokter itu yang memutuskan Sonia akan menjalani pengobatan seperti apa atau melanjutkan pengobatan dengan dokter seperti apa. Tetapi yang jelas Yola tau, setidaknya membawa ke internis lebih dulu adalah pilihan yang lebih tepat.
Hingga akhirnya tibalah giliran Sonia untuk diperiksa. Ilham dan Yola yang membawanya masuk. Sementara Makcik Saripah mereka suruh menunggu di ruang tunggu.
Mereka di sambut oleh dokter pria yang berusia sudah matang, mungkin di atas usia 40 tahunan. Internis ini adalah orang Tionghoa yang memiliki kemampuan berbagai macam bahasa. Pembawaannya juga ramah.
"Indonesia, Malaysia, Hokkian?" seloroh dokter itu menyapa pasien dan keluarganya ini. Dia menanyakan bahasa apa yang akan digunakan oleh mereka. Untuk komunikasi yang baik tentunya.
"Indonesia, Malaysia boleh?" jawab Ilham menanggapi seloroh dokter itu.
"Kalau macam tu, saye pun mesti dibayar dua kali macam tu," gurau sang dokter.
"Haih, jangan macam tu, Tuan Doktor. Kalau Tuan doktor hanya berbahasa Melayu, isteri saye pula akan marah dengan saye hingga balik rumah," kata Ilham lagi-lagi membalas gurauan dokter itu dengan canda.
"Oh, isteri Tuan ni Indon ke?" Dokter itu membulatkan matanya seolah takjub.
"Jangan cakap Indon, Tuan Doktor. Tetapi Indonesia Raya lah," balas Ilham sembari menggoda Yola yang suka senewen jika orang-orang menyingkat Indonesia dengan kata "indon".
Dokter itu tertawa renyah.
"Maaf, maaf saye hanya bergurau je. Jadi siape yang sakit ni?" Mata sang dokter berpaling pada Sonia.
"Dia ..." menunjuk Sonia. Dia bingung harus menyebut Sonia sebagai siapanya.
"Kakak saya, Dokter," sela Yola, melihat kebingungan di wajah Ilham.
__ADS_1
Dokter itu memperhatikan Sonia lekat-lekat dari ujung rambut hingga kaki.
"Dia ni sakit ape?" tanya sang dokter, mulai meraba-raba kemungkinan sakit sang pasien.
Ilham pun dengan hati-hati mulai menjelaskan pada sang dokter apa yang menimpa Sonia, penyakit apa yang dideritanya hingga gejala yang dirasakan Sonia yang diperjelas oleh dokter itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab Sonia dengan anggukan atau pun gelengan.
Beberapa kali dokter itu mengernyitkan keningnya heran, namun tetap menyimak penjelasan Ilham dan Yola dengan penuh perhatian. Tak lupa dia memeriksa kondisi fisik Sonia dari luar dengan prosedur standar, memeriksa bola mata, denyut jantung dan nadi, hingga beberapa tes ringan di sekitar area lutut dan siku tangan Sonia.
"Bagaimana, Dokter?" tanya Yola begitu melihat dokter Tan, begitu nama dokter itu selesai melakukan pemeriksaan pada Sonia.
"Saye belum dapat memastikan pengobatan macam ape yang dapat kite berikan pada Encik Sonia ni, kerana untuk penyakitnya pun kite bahkan belum tahu pasti ape yang menyebabkan hingga kondisi dia menjadi parah macam ni," kata dokter itu dengan wajah serius.
Selama perjalanan karirnya yang sudah mencapai belasan tahun, baru pertama kali dia menemui kasus seperti ini.
"Terus gimana baiknya, Dok?" tanya Yola lagi.
"Nampaknya kite perlu pertolongan dari doktor spesialis lain seperti spesialis neurologi, jantung dan pembuluh darah. Tak akan senang (mudah) ni ..." gumam Dokter Tan sambil masih memperhatikan Sonia yang tubuhnya ringkih tak bisa bergerak, bahkan terlihat kesakitan jika disentuh.
Ilham menghela napas.
"Lakukan sahaja ape yang terbaik, Doktor. Kalau memang Sonia memerlukan tim doktor spesialis katakan sahaja, tuan Doktor boleh merekomendasikan ke doktor mana sebaiknya kami pergi," jawab Ilham.
"Tak payah susah-susah memikirkan pasal tu. Kat hospital ni kami dah sedia doktor spesialis dan juga untuk semua penyakit yang diderita patient. Tetapi ini akan mahal sikit, dan belum pasti dapat membawa Cik Sonia sihat kembali," katanya jujur.
Yola menatap kasihan pada Sonia. Bahkan pengobatan belum dimulai saja, dokter ini sudah pesimis, lalu bagaimana selanjutnya nanti?
"Abang ..." Raut khawatir terlihat di wajah Yola.
Bagaimana kalau memang Sonia tak bisa sembuh lagi? Dia bahkan mencoba menghubungi orang tua Sonia sebelum berangkat membawa Sonia ke Penang, tetapi Mamanya Sonia tetap tak mau dibujuk untuk ikut menemani Putrinya berobat ke Penang. Bagaimana kalau Sonia malah semakin parah setelah dari sini? Ya Tuhan, bagaimana ini?
"Jangan risaukan pasal biaya, Doktor. Tak mengape kalau memang harus mahal. Lakukan sahaja yang terbaik, pasal hasilnya kami akan terima apa pun itu, usah risau," ujar Ilham mencoba menenangkan kekhawatiran istrinya.
"Baiklah kalau macam tu, saye akan berunding lebih dahulu dengan tim doktor spesialis lain. Sila Tuan dan Puan uruskan administrasi terlebih dahulu. Ade asisten saye yang akan mengarahkan nanti," jawab Dr. Tan mengakhiri konsultasi mereka terhadap penyakit Sonia.
Sebelum pergi, Ilham sempat memberikan pada dokter itu hasil laboratorium yang pernah diberikan polisi padanya tentang obat-obatan yang ada di tas Melisa saat wanita itu kabur. Dia ingin tahu, mungkinkah jika zat-zat yang tertera di laporan laboratorium itu berada di tubuh Sonia bisa membuat penyakit seperti yang diderita Sonia saat ini?Setidaknya harus ada kejelasan di balik ini semua. Dan dokter itu berjanji akan meriset kecurigaan Ilham dan memberi kabar secepatnya.
Usai melakukan tahap awal konsultasi untuk pengobatan Sonia, keduanya pun langsung mengurus administrasi untuk pembayaran kamar perawatan Sonia. Dan lagi-lagi Yola membuat Ilham tercengang karena gadis itu menempatkan Sonia di kamar perawatan VVIP dengan fasilitas dan pelayanan bagus di rumah sakit itu.
"Tak payah sampai macam tu, sayang," kata Ilham.
"Nggak apa-apa, Abang. Aku ingin membuat Sonia merasa senyaman mungkin di sini," katanya.
"Tetapi ..."
"Tak ade tapi," balas Yola dengan khas keras kepalanya.
Dan sebelum Ilham mencoba mendebat Yola lagi, ponselnya tiba-tiba berdering. Ilham menerima panggilan itu.
"Hafiz?"
Hafiz tak langsung menjawab. Dia menghela napas berat.
"Aku menemukannya, Abang."
"Ape? Temukan ape?" Ilham tidak paham.
"Bukti, orang yang sudah bunuh Atok. Atok kite. Atok Yahya," jawabnya lirih namun terdengar penuh amarah.
__ADS_1
****
Alurnya maju mundur ya beib. Ojo protes.... Yang penting di like dan koment atuuuh ...