Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Bau Apa?


__ADS_3

"Yola, kau betul ke tak nak balik lagi ke KL?" tanya lelaki itu terdengar frustasi.


Telah satu minggu Yola kembali ke Jakarta. Dan sampai sekarang belum ada tanda- tanda pujaan hatinya itu akan kembali secepatnya ke Kuala Lumpur. Membuat hati Ilham menjadi nelangsa karenanya.


Sementara Yola sendiri pun tak bisa sering- sering memberi kabar padanya. Wanita itu tak berani menentang Papanya untuk tidak menghubungi Ilham. Namun sesekali rasa rindunya pada Ammar, ah bukan hanya pada Ammar melainkan pada Ilham juga membuat wanita itu diam- diam masih sering curi- curi kesempatan untuk menerima panggilan Ilham atau sesekali dia sendiri yang berinisiatif untuk menelepon.


"Yola jawab abang! Kapan Yola nak balik ke KL? Macam mana dengan job Yola di N-one, terbengkalai begitu sahaja?" katanya beralasan padahal dalam hatinya dia pun rindu.


"Aku nggak tau. Papa nggak bolehin Yola lagi balik ke Kuala Lumpur ...." Jawab Yola dengan hati yang galau.


"Eh, mana boleh macam tu! Kau terikat kontrak dengan N- one, tak boleh stop di tengah jalan macam ni sebelum setahun!" desak Ilham.


Yola memejamkan matanya berat. Dia bahkan belum genap sebulan bekerja di N-one, dan kini dia akan resign. Ini bukan masalah pinalty yang membuatnya cemas, melainkan keprofesionalan kerjanya yang perlu dipertanyakan.


"Abang, Yola akan ganti rugi pinaltynya. Abang kirim saja tuntutannya pada Yola. Nanti Yola akan ganti denda karena melanggar kontrak," kata Yola.


Perkataan Yola malah membuat Ilham makin geram.


"Kau ni bodoh ke ape? Kau kire abang tak de duit ke, sehingga nak harap ganti rugi dari Yola?" balas Ilham sebal.


"Bukan begitu abang, bagaimana pun Yola melanggar kontrak, maka sebagai wujud dari keprofesionalan Yola, Yola akan tanggung jawab dengan ganti rugi," kata Yola.


"Tak! Tak nak. Kalau kau nak tanggung jawab, tanggung jawab sahaja dengan hati dan perasaan abang. Yola balik kat sini! Atau abang yang jemput Yola ke Jakarta!" teriak Ilham di telepon.


Perlakuan Ilham yang kekanakan membuat Yola memilih untuk mematikan telepon.


Beberapa hari berikutnya, Yola kembali menerima telepon dari Ilham. Kali ini pria itu mengamuk, karena media elektronik dan cetak  Malaysia memuat berita yang membuatnya panas. Entah bagaimana mereka mendapatkannya, Yola juga heran foto dan vidionya sedang bersama Rafly di sebuah pesta tersebar begitu saja hingga negeri jiran. Padahal keduanya hanya menghadiri pesta pernikahan salah satu teman masa sekolah mereka.


"Katakan pada Abang Yola, kau nak balas dendam dengan abang ke hingga berbuat macam ni? Bagaimana boleh kamu pergi berdua- duaan dengan lelaki yang bukan kami punya husband?" Cecar Ilham dengan tingkat kecemburuan yang amat tinggi.


"Dia teman sekolahku, kakak kelasku dulu. Apa yang salah kalau kami pergi bersama ke undangan pernikahan teman kami saat SMA?" tanya Yola tak merasa bersalah. 


Ya sebenarnya sih dia juga merasa sedikit bersalah karena telah memberikan sedikit kesempatan pada Rafly untuk dekat dengannya.


*Flashback on*


"Tolong berikan kesempatan yang sama dengan yang kamu berikan pada Ilham. Aku janji akan memperlakukanmu lebih baik dari dia," kata Rafly waktu itu.


Yola menolak.


"Memberikan kesempatan walaupun aku tahu aku tetap tak akan bisa menerima kakak, bukankah itu PHP namanya?" balas Yola. "Aku tidak terbiasa kejam seperti itu."


Rafly tersenyum.


"Jangan mengkhawatirkan aku. Aku akan menyiapkan hatiku untuk terluka," balas Rafly tak mau kalah membuat Yola semakin kesal karenanya. "Dan lagi pula bukankah untuk menolak perjodohan ini, kamu memerlukanku sebagai tameng di depan Om Abimanyu? Setidaknya kamu telah mencoba menjalin hubungan denganku, meskipun pada akhirnya berakhir nggak cocok? Aku bisa membantumu berpura-pura."


Tawaran itu terdengar menggiurkan. Baiklah, sekali ini, pikir Yola. Mungkin papanya tak akan bisa terus memaksanya kalau papa melihat dia sudah berusaha mencoba dengan Rafly namun pada akhirnya tetap tidak ada kecocokan di antara mereka.


"Baiklah, tapi hanya pura- pura. Itu pun kalau kak Rafly tidak merasa dimanfaatkan," kata Yola.


"Tentu saja nggak. Aku nggak merasa dimanfaatkan, kok!" jawab pria itu.


"Terima kasih, Kak," jawab Yola dengan hati yang sebenarnya tidak terlalu ikhlas.


"Sama- sama. Kalau begitu bagaimana kalau kita mulai rencana pedekatenya? Dua hari lagi temanku Aditya menikah. Dia teman sekelasku saat SMA. Dia nikah sama Friska. Kalau nggak salah dulu, kamu sama dia berteman waktu SD, Lebih tepatnya teman gengmu, trio centess, ingat? "Ledek Rafly.


"Ya Tuhan, Friska? Dia nikah? Duuh, aku lama nggak ketemu dia. Dulu sih habis tamat SD, pas SMP kami nggak pernah lagi saling komunikasi, soalnya yang kudengar, papa mamanya bercerai dan dia ikut neneknya tinggal di Kalimantan," kata Yola takjub.


"Nah, mereka memang ketemu di Kalimantan, kok. Aditya kan kerja di sana sehabis kuliah. Ketemu Friska, jodoh akhirnya menikah, deh." kata Rafly. "Jadi bagaimana? Kamu mau nggak? Anggap aja ini pedekate pertama kita, nanti aku jemput  di rumahmu."


"Ya udah deh. Aku mau, Kak!"


*Flashback off*


"Yola, kamu dengar abang tak? Kamu tak boleh ke majlis perkahwinan macam tu dengan pria lain. Macam mana kalau orang- orang mengira dia itu suami kau?"

__ADS_1


Yola menghela napas. Sepertinya Ilham ini sudah terlalu kelewatan posesifnya.


"Tapi ngomong-ngomong abang, kenapa para wartawan Malaysia bisa mendapatkan foto itu ya? Kami bukan dari kalangan selebrity, temanku yang menikah juga orang dari kalangan biasa- biasa saja. Masa abang sepopuler itu sampai mereka harus mengejar- ngejar berita tentang aku sampai ke Indonesia?"


Ilham terdiam sejenak, sepertinya pertanyaan Yola itu pun sedikit banyak mempengaruhinya. Kenapa paparazi sampai segetol itu mengejar Yola hingga ke Jakarta?


"Abang, Ammar mana? Aku rindu pada Ammar," Kata Yola.


"Die ada. Ammar, kamu nak bercakap dengan Mommy tak?" Ilham bertanya pada Ammar yang sedang asyik bermain playstation di sebelah Ilham.


"Hallo, Mom? Mom, bila Mommy kembali? Ammar rindu sangat dan sedari tadi Ammar dah tak tahan dengan bau di sini," keluh bocah itu.


Yola mengernyitkan keningnya bingung. 


"Bau apa, sayang? Kenapa nggak minta Daddy untuk periksa ada bau apa disana?" tanya Yola.


"Macam mana nak periksa, baunya pun berasal dari Daddy," kata bocah itu.


"What smell do yo mean, budak kecil?" tanya Ilham tak rela dituduh bau oleh Ammar.


"Bau- bau cemburu, Mom, hihihi," katanya cekikikan.


Jawaban itu membuat wajah Ilham merona. 


"Budak Kecik ni, macam mana kau boleh menggoda Daddy macam tu?" kata Ilham sembari menggelitiki Ammar.


Bocah itu tak henti-hentinya tertawa karena digelitiki Ilham. Itu membuat Yola jadi ikut tertawa. Rasanya dia menjadi semakin rindu pada kedua orang itu. Ya Tuhan, bagaimana ini?


                               ******


Telah dua minggu Yola kembali ke Jakarta. Dan telah beberapa kali Yola memohon pada Abimanyu untuk diperbolehkan kembali ke Kuala Lumpur untuk menyelesaikan tugasnya di N-one. Tetapi Abimanyu kekeuh untuk tidak memperbolehkan.


Dan siang ini Yola menerima telepon dari Leon.


"Tantanganku untukmu dalam meningkatkan omset N-one pinggir utara kota telah terpenuhi sebanyak 3% oleh kerana itu aku dah memutuskan untuk kau diangkat sebagai Pengarah Pemasaran, Yolanda Gunawan. Tapi mase ni ape yang kau lakukan? Dah 2 minggu, kau tak masuk office, kau ni nak permainkan aku ke?" tegur Leon. "Kalau kau tak juge datang, jawatanmu akan aku serahkan pada orang lain yang lebih kompeten!"


Yola menghela napas.


"Yolanda!!!" Leon terdengar marah. "Mana boleh kau berbuat sesuka hatimu? Kau dipilih sebagai pengarah pemasaran dan kami dah melepas semua kandidat lain saat interview itu demi agar bisa menerimamu. Kalau kau berhenti, kau tahu betapa repot mencari pengarah pemasaran lagi?"


Sesungguhnya di samping Leon saat itu ada Ilham dan juga Nadira. Leon menelepon justru atas perintah Ilham agar Yola kembali. Dan sikap Leon saat memarahi Yolanda di telepon di apresiasi Ilham dengan memberikannya jempol.


"Maafkan aku. Aku salah soal itu. Tapi aku akan bayar biaya pinaltinya, jangan cemas wakil ketua, nanti aku akan menghubungi Nadira selaku Pengarah Personalia," kata Yola.


Di saat mereka tengah asyik berdebat, tiba- tiba Abimanyu datang sehingga Yola sementara melepas ponsel itu dari telinganya tanpa mematikan saluran telepon.


"Kamu ada kesibukan nanti malam?" tanya Abimanyu pada Yola.


"Nggak ada, Pa. Sibuk ngapain coba. Siang malam Yola cuma di rumah, membosankan ...." keluh Yolanda.


"Bagus kalau begitu. Nanti malam kita diundang oleh keluarganya Rafly untuk makan malam. Dandanlah yang cantik, kau akan bertemu calon mertuamu," kata sang Papa.


Ilham yang mendengar kata- kata Abimanyu di telepon menjadi panas dingin karenanya.


"Papa ...."


"Papa nggak terima bantahan. Dan soal kebosananmu, kamu bisa bantu Papa di kantor mengurus keperluan G-1 mulai besok. Papa bisa menggaji kamu lebih mahal daripada N-one," kata Abimanyu sambil tersenyum sinis melirik ponsel yang sedang di pegang oleh Yola itu.


Sesungguhnya sebelum dia masuk tadi, dia telah mendengarkan sedikit percakapan putrinya itu di telepon dengan salah satu oramg yang dia duga adalah staf N-one. Dan kalau dia tidak salah Ilham pasti mendengarkan percakapan mereka.


Menyadari Papanya melirik pada ponselnya dan dia belum mematikan telepon Yola segera buru- buru menekan ikon merah pada layar ponsel yang berfungsi mematikan panggilan telepon.


Tak peduli pada tindakan putrinya yang gugup karena ketahuan, Abimanyu segera meninggalkan kamar Yolanda.


Sementara itu di kantor N-one di Kuala Lumpur, Ilham mulai memanas mendengar kata- kata mertuanya saat di telepon tadi. Dia mulai berjalan mondar- mandir tak karu-karuan

__ADS_1


Apa maksudnya Abimanyu akan membawa Yola bertemu dengan calon mertuanya. Ke rumah Rafly katanya? Berarti yang dimaksud calon mertua itu orang tuanya Rafly? Sial! Apa Abimanyu bermaksud menikahkan Yola dengan Rafly? Tidak bisa. Ini tidak bisa dibiarkan.


"Hey, tenang sikit, Bro!" kata Leon mencoba menenangkan hati sahabatnya yang terlihat galau itu.


"Macam mana aku boleh tenang? Kau tak dengar ke tadi ape kate Papanya Yola. Dia nak bawa isteri aku bertemu calon mertua ke rumah Rafly? Siape itu Rafly? Kenape mesti macam ni? Itu artinya Papa Abi nak bawa Yola untuk berjodoh dengan orang bernama Rafly itu!" kata Ilham dengan gelisah.


"Tenang dahulu, Ilham, kita dapat pikirkan jalan keluarnya nanti," kata Nadira mencoba menenangkan.


                              ******


"Inikah Yolanda? Kamu cantik sekali, sayang!" sapa Mamanya Rafly.


Makan malam yang dikatakan Papa pada Yola akhirnya berlangsung juga seperti yang dia mau. Mau tidak mau, Yola tetap pergi juga bersama Abimanyu dan Ratih.


"Iya, Tante. Saya Yolanda," kata Yola memperkenalkan diri.


"Tante sudah lama loh pengen ketemu kamu. Tante sudah lama mendengar tentang kamu dari Rafly. Tapi kamunya selalu sibuk dari sekolah di luar negeri sampai pulang ke Jakarta, eh katanya kamu pergi lagi ke Kuala Lumpur bekerja. Jadi sayang sebenarnya di sana kamu kerja apa?" tanya wanita separuh baya itu pada Yola.


"Saya kerja di sana Tante sebagai Direktur Marketing," jawab Yola sembari melirik Abimanyu yang terlihat tidak senang akan penjelasannya.


"Yolanda sudah berhenti dari sana. Dia akan mulai mengurus perusahan Guna-1 mulai dari sekarang," jawab Abimanyu.


"Papa ...." protes Yola akan sikap Papanya.


Tapi lagi- lagi sang Papa acuh. Hal itu bisa dilihat oleh Tuan rumah.


"Bagaimana kalau kita makan malam sekarang aja? Nanti masakannya keburu dingin," kata Mamanya Rafly seolah ingin mencairkan ketegangan antara Yola dan Papanya. 


"Rafly, kamu temani Yola duluan. Tunjukkan di mana ruang makannya!" perintah Firdaus pada putranya. 


Rafly yang dari tadi hanya manut mendengarkan basa basi antara dua keluarga itu dengan sikap kalem dan bersahaja mengajak Yola ke ruang makan.


"Ayo, Yol!" katanya seraya bangkit dari duduknya.


Yola dengan patuh mengikuti lelaki ini menuju ruang makan. Rafly terlihat kalem. Sebelah tangannya masuk ke dalam kantung celananya. Namun begitu sampai di meja makan, lelaki itu pun menarik kursi untuknya.


"Silahkan duduk, Tuan Putri!"


Yola terkesiap. Kata- kata itu sedikit mengingatkannya pada Ilham. Ilham sering menyebutnya Tuan Putri.


Tak lama orang tua keduanya pun ikut bergabung bersama mereka. Di tengah makan malam yang tenang itu, tiba- tiba Mamanya Rafly. Ny. Marisa buka mulut.


"Jadi kapan kalian berencana menikah?"


Deg!Deg!Deg!


Yola terkejut. Dan anehnya kenapa hanya dia yang terkejut?


"Mama sudah melihat perkembangan hubungan kalian berdua selama dua minggu ini. Kalian berpacaran, kan? Dan kamu Rafly, jangan bilang kamu nggak ada niat untuk menikahi Yola, ya! Mama nggak setuju kalau kamu mendekatinya hanya untuk mempermainkannya," ultimatum sang Mama.


"Astaga, Ma. Ya nggaklah. Mana mungkin Rafly berniat mempermainkan Yola? Bisa digantung Rafly sama Om Abi nanti," candanya.


Kedua pasang orang tua itu tertawa terbahak-bahak demikian pun Rafly. Yola sendiri yang merasa tidak nyaman di situasi itu.


"Jadi, kalau begitu. Kalian rencananya menikah kapan? Mama udah nggak sabar momong cucu," kata Marisa.


"Kalau aku terserah pada Yola dan Om Abi aja," kata Rafly membuat Yola tersentak dan melotot padanya.


Tidak seperti rencana mereka sebelumnya. Rafly sama sekali tidak menolak, padahal di moment ini, mereka bisa memanfaatkannya dengan berkata mereka tidak cocok satu sama lain.


"Kalau begitu secepatnya saja. Bagaimana kalau minggu depan saja?" usul Abimanyu membuat Yola menjadi tak selera makan dan meletakkan sendoknya tidak senang.


"Tante, maaf beribu maaf, tetapi sepertinya saya tidak bisa menikah. Kak Rafly statusnya jauh dari saya. Tante bilang tadi tante ingin momong cucu? Saya khawatir kalau Kak Rafly menikah dengan saya, kalian terpaksa harus menerima cucu yang bukan darah daging kalian," kata Yola.


Marisa dan Firdaus mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Maksudku aku sudah pernah menikah dan aku pun sudah memiliki anak. Aku khawatir kalian tidak bisa menerima status dan keberadaan anakku nanti," kata Yola.


__ADS_2