
Dari atap sebuah gedung di seberang N- one Grocery, seorang sniper meneropong lagi situasi kacau di halaman perusahaan besar itu. Lalu setelah memastikan semua berjalan sesuai rencana pria itu langsung mengambil benda pipih yang berada di kantongnya itu dan menghubungi seseorang.
Pria itu dengan cekatan langsung membereskan senjata api rakitannya sambil menelepon.
"Tuan, semua persis seperti yang Tuan inginkan. Tembakan saye tepat mengenai sasaran!" lapornya.
"Good job! Sekarang pergilah yang jauh dari sana!" perintah orang itu.
Sang sniper pun dalam waktu yang cukup singkat telah selesai membereskan senjata apinya dan meninggalkan atap gedung.
***
Sonia ambruk bersimbah darah tepat di hadapan Yola dan Ilham. Sebelah tangannya berusaha ingin meraih Ilham.
"Il- haam ... arghhhh!!!"
Rasa sakit akibat peluru yang menembus dadanya itu kini terasa tak kuat lagi dia untuk menahannya. Hingga akhirnya wanita itu jatuh begitu saja dengan darah yang bersimbah tepat di hadapan para wartawan.
Dan moment itu pun langsung tak disia-siakan oleh para wartawan itu, meskipun mereka sempat shock karena berada di tempat kejadian perkara saat peristiwa penembakan itu terjadi. Beberapa kali jepretan dengan sudut pandang yang berbeda- beda segera mereka ambil. Hari ini benar- benar surga untuk profesi mereka. Ada banyak berita spektakuler yang akan masuk meja editor pagi ini.
"Sonia! Sonia!!!" teriak Ilham dan mendekati wanita itu. Ilham sendiri tak berani mengangkatnya.
Sonia terlihat terkulai lemah tak berdaya. Kesadarannya berangsur- angsur mulai berkurang. Tak ada yang berani menyentuhnya sebelum tenaga kesehatan datang.
Situasi saat ini benar- benar kacau. Ilham sampai meremas rambutnya sendiri. Frustasi, karena tak menyangka akan ada kejadian seperti ini hari ini. Lalu Ilham tersadar masih ada yang harus dikhawatirkannya.
"Yola! Yola! Sayang, kau tak ape ke?" tanya Ilham khawatir.
Yola sendiri merasa shock dengan kejadian itu dan dia duduk terhenyak di kursinya tadi.
"Sayang, kau betul- betul tak ape?"
Ilham memeriksa Yola dengan teliti, siapa tahu ada sesuatu yang salah pada tubuh istrinya itu.
Yola mengangguk gugup.Dia merasa nyawanya belum sepenuhnya terkumpul akibat tercerai berai okeh suara tembakan yang memekakkan telinga itu.
Tapi Ilham tahu Yola sedang tidak baik- baik saja. Ditambah lagi dengan kondisi wanita itu yang sedang hamil muda, Ilham merasa perlu menenangkan wanita itu sejenak.
"Leon!!" panggilnya pada wakil Ketua Pengarah itu.
__ADS_1
Leon segera mendekat.
"Kau tolong uruskan kekacauan ni. Aku nak hantar Yola dahulu ke atas," kata Ilham. "Dan panggilkan ambulance juga polis untuk uruskan perkara ni."
Leon mengangguk mengiyakan dan menepuk- nepuk bahu sahabatnya itu seakan ingin meyakinkan Ilham bahwa dia bisa menyerahkan semua urusan ini padanya.
Setelah menyerahkan semua urusan itu pada Leon, Ilham pun membantu Yola berdiri dan membimbingnya masuk ke gedung N- one.
Sonia yang kesadarannya hampir hilang sempat melihat pemandangan itu meski penglihatannya semakin lama semakin buram.
"Il- haaam ..." Bibir itu sempat mengucap nama Ilham lirih sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar menghilang.
Sementara itu Leon terlihat sibuk dengan beberapa petugas keamanan. Mereka memanggil ambulance dan pihak polisi untuk melaporkan kejadian ini.
Tak lama berselang ambulance dari rumah sakit terdekat pun datang. Sonia pun langsung diangkat ke Stretcher Ambulance (brankar Ambulance) dan dibawa masuk ke dalam mobil itu ditemani oleh beberapa staf termasuk Leon. Sonia pun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
***
Yola menggenggam segelas susu hangatnya masih dengan tangan yang gemetar. Kejadian di bawah tadi sungguh masih membuat jiwanya terguncang.
Siapa pelakunya? Siapa yang ditargetkan orang itu sebenarnya? Andai tidak ada Sonia yang kebetulan datang, mungkinkah sebenarnya dialah yang menjadi target penembak misterius itu?
Lamunan Yola buyar ketika Ilham masuk begitu saja ke ruang kerjanya setelah prianya itu menemui pihak kepolisian beberapa saat untuk memberikan keterangan dan informasi sebagai saksi.
Ilham berusaha bersikap sewajarnya agar Yola tidak merasa panik dan khawatir akan situasi ini.
"Polis akan usutkan perkara ni hingga tuntas. Kamu usah cemas. Tetapi mereka sepertinya juga memerlukan keterangan Yola sebagai saksi dari kejadian ni," kata Ilham hati- hati.
"A- aku? Kenapa mereka memerlukan keteranganku sebagai saksi, Abang? Aku nggak mau," rengek Yola.
Dia sendiri tidak tahu apa- apa. Kenapa keterangan dari dia dibutuhkan? Yola tak habis pikir apa yang sedang terjadi di sini.
Ilham menarik napas dalam- dalam. Dia telah berbicara dengan polisi yang sedang menyelidiki kasus ini. Dugaan mereka sementara, target penembakan itu bukanlah Sonia melainkan Yolanda. Namun berkebetulan Sonia ada di sana, itu membuat Yola terselamatkan dari aksi penembakan itu.
"Sayang, Yola, isterinya Abang," bujuk Ilham sembari menggenggam tangan Yola. "Abang mahu sementara kite tinggal di rumah Atok sahaja, hmm? Dan kau sementara usah pergi bekerja kat N- one. Yola di rumah sahaja, hmmm?"
Mendengar Ilham membujuknya dengan segala macam panggilan yang menggelikan di telinga Yola, tak urung membuat Yola mengernyitkan keningnya heran.
"Kenapa aku harus di rumah saja tak boleh bekerja?" tanya Yola dengan raut khawatir.
__ADS_1
Ilham mengusap rambut Yola dengan sayang. Walaupun dia bingung bagaimana cara mengatakannya, toh Yola bukanlah perempuan yang mau terima begitu saja sesuatu hal terjadi tanpa alasan apalagi itu menyangkut dirinya. Mau tak mau Ilham tetap harus mengatakannya
"Polis kate, mungkin penembak itu bukan menargetkan Sonia, tetapi Yola. Dan abang tak nak terjadi sesuatu pada Yola juga pada die," kata Ilham seraya menyentuh dan mengusap lembut perut Yola.
Yola tersentak. Apa maksudnya dengan dia yang menjadi target penembakan itu? Siapa yang menjadi musuhnya? Selama ini yang dia tahu musuh terbesarnya paling hanya Sonia dan Eva. Tapi hari ini Sonia malah tertembak karenanya. Dan Eva dia tidak di sini. Dan lagi pula, sejahat- jahatnya Eva tidak mungkin kan Eva sampai berniat membunuhnya?
Yola masih ingin bertanya banyak hal tapi Ilham melarangnya untuk tidak membahas hal ini dulu setidaknya sampai situasi kembali stabil.
Hingga tubuhnya tenggelam dalam pelukan hangat Ilham, Yola masih tetap tidak bisa menyingkirkan semua pikiran- pikiran dan praduga pelaku penembakan itu dari kepalanya.
***
"Mr. Y, tolong saye. Saye dah tak punye siape- siape lagi nak dimintai tolong. Saye tak nak bercerai dengan Ilham, Mr. Y. Tolong, meski saye harus mati saye tak nak bercerai. Tolong carikan saye jalan keluar dari masalah ini," pinta Sonia memohon.
Terdengar tawa terbahak- bahak mendengar permintaan itu.
"Kau ini sama sekali tak berguna. Jadi untuk apa menolongmu?"
"Selama ni saye selalu lakukan ape yang Mr. Y perintahkan. Ape itu tak berguna ke?"
Tawa terkekeh terdengar lagi di telepon itu.
"Kau bilang kau rela mati untuknya. Asal tidak bercerai dengannya. Kau secinta itu pada pria itu?" tanya Mr. Y remeh.
Sonia mengangguk.
"Iya. Saye sangat mencintai Ilham. Asal tak bercerai dengannya, saye rela meski harus mati," kata Sonia lagi.
Mr. Y terkekeh.
"Kalau begitu mari kita coba. Kalau dirimu lolos dari maut, maka keinginanmu untuk tidak bercerai dengan Ilham pasti akan terwujud. Tapi kalau nyawamu sampai melayang. Jangan salahkan aku, ya! Hahahaha ..." katanya dengan tawa terbahak seolah itu lucu.
Di ruang operasi itu kini Sonia terbaring. Dia sedang menjalani operasi pengangkatan peluru yang bersarang di jantungnya
"Dokter, pasien ni masih boleh selamat ke?" tanya salah satu dokter junior pada dokter bedah yang juga merupakan dokter senior yang memimpin operasi istri sang Ketua Pengarah perusahaan besar N- one itu.
Tak ada jawaban dari dokter itu. Sementara dokter dan perawat yang ada di ruangan itu mulai cemas dengan tanda- tanda vital pasien yang mulai menurun.
"Fokus!!!" Hanya itu jawaban dokter itu.
__ADS_1
***
Hay... Gimana ya kira- kira nasib Sonia Guys. Selamat atau nggak sih dianya. Kalau pinisirin berikan lime dan koment yang banyak dulu untuk JDM ya...