
"Atok, apa mungkin anak dari Papa Abi itu bernama Yolanda juga?"
Atok mengernyitkan keningnya heran.
"Ape maksud kau, Ilham?"
"Maksud Ilham ape mungkin anak Papa Abi dengan kekasihnya itu diberi nama Yolanda juga?" jawab Ilham mengulangi kembali pertanyaannya.
Atok Yahya nampak berpikir keras.
"Entah. Tapi Atok rasa itu tak mungkin. Atok Salim sangat menyayangi Yolanda anak dari Ratih. Kecuali Abimanyu yang dengan sengaja memberikan nama itu kerana dia tahu kalau Salim ingin memberikan nama Yolanda untuk cucunya jika itu terlahir perempuan," kata Atok Yahya.
"Kenape harus Yolanda, Atok? Padahal ade banyak sangat nama yang lebih cantik dan elok terdengar dari pada nama itu?" tanya Ilham.
Pikiran Atok Yahya langsung menerawang jauh mendengar pertanyaaan Ilham.
"Yolanda adalah sejahrah dalam hidup kami, yang mengubah hidup kami hingga ke anak cucu, yang merubah persahabatan kami menjadi hubungan keluarga meski tak sedarah. N-one dan Guna-1 adalah bukti dari perjuangan kami di kapal itu, Yolanda. Bagaimana kami lolos dari maut, dan akhirnya membawa pulang harta rampasan bajak laut," kata Atok Yahya.
Ilham dengan tenang mendengarkan. Dia sudah pernah mendengar riwayat kisah sang Atok di masa muda, namun dia hanya mendengar sekilas saja. Kali ini dia akan mendengarkan dengan sungguh- sungguh.
"Teruskan, Tok!" pintanya pada sang kakek.
***
Ilham dan Yola kembali ke apartemen Gold Century ketika jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Weekend mereka sebagai keluarga kecil cukup dinikmati oleh ketiganya. Namun Ammar tidak lagi ikut pulang ke apartemen, karena besok dia sudah harus ke sekolah kembali. Meski pun karena itu harus terjadi drama ala Ammar karena dia masih ingin ikut dengan mommy-nya. Namun pada akhirnya bocah itu berhasil dibujuk oleh Yola dengan iming- iming Yola akan membelikannya mainan robot keluaran terbaru.
"Abang nggak pulang?" tanya Yola saat melihat Ilham masih asyik menonton di apartemennya padahal jam telah menunjukkan jam 22.30.
"Pulang kemane? Di apartemen ini isteri abang beduduk (tinggal), abang ya mestilah akan tinggal di sini juge," kata Ilham seraya meletakkan remot tv dan berpaling pada Yola.
Lalu dengan sigap tangannya merengkuh pinggang Yola yang sedang berdiri di hadapannya itu, menariknya hingga jatuh ke pangkuannya.
"Yola, macam mana kalau kau pindah sahaja dengan abang ke apartemen di sebelah? Di sini pun kau menyewa juge, kan? Buang- buang duit sahaja. Apartemen sebelah telah jadi hak milik Abang. Bolehlah kite duduki bersama kalau Yola tak nak tinggal di Green House," bujuk Ilham.
__ADS_1
"Emmm .... nanti Yola pikir- pikir dulu ya, Abang," jawab Yola.
Dia bingung jika harus pindah, sementara Hafiz yang mencarikan apartemen ini untuknya. Dia bahkan belum tahu bagaimana cara menjelaskan pada Hafiz nanti kalau dirinya telah rujuk dari Ilham.
"Lagi pula, pasangan suami istri tak akan baiklah bila mesti berpisah macam ni, Sayang. Dah pun pisah ranjang, pisah rumah tapi berjiran. Itu nampak pelik sangat, macam tak suami isteri pun," kata Ilham sambil mengelus pipi mulus istrinya itu.
Yola menanggapinya dengan cemberut.
"Memang belum suami istri resmi pun. Abang, kita ini belum punya dokumen pernikahan. Abang pun belum menceraikan Sonia secara resmi. Aku juga nggak tau bagaimana nanti kalau perutku semakin lama semakin membesar. Huffft ... jadi bagaimana kita bisa tinggal serumah? Kalau orang- orang tahu aku tinggal serumah sama Abang bisa- bisa aku dikira istri simpanan ketua pengarah N- one Grocery lagi," keluh Yola setengah emosi.
Ilham menghembuskan napasnya, lelah. Dia juga telah memikirkan masalah ini matang- matang. Status Yola sebagai Nyonya Nirwan yang sebenarnya harus segera ia pulihkan.
"Abang akan menggugat cerai Sonia dalam beberapa hari. Kau tunggulah dengan sabar, Mrs. Nirwan," kata lelaki itu mencoba , Yola.
"Terus bagaimana dengan Andini? Bagaimana dengan Mr. Y? Abang bilang perlakuan Mr. Y tergantung pada Sonia. Bagaimana kalau abang menceraikan Sonia dan malah membuat Mr. Y marah dan mencelakai Andini?" tanya Yola resah.
Ilham juga bingung jika ditanya tentang Andini.
"Abang! Abang stop dulu ngomongnya! Aku baru ingat sesuatu. Aku lupa ngomong hal ini dengan Abang," kata Yola yang tiba- tiba teringat sesuatu.
"Ape?" tanya Ilham dengan dahi berkerut.
"Abang ingat nggak waktu dulu aku baru nikah dengan abang, terus aku dibawa berlibur ke KL sini? Waktu itu ada yang ngambil tas dan handphoneku? Terus pas kita ada pertemuan dengan pihak Malaysian Airport dan kita makan siang? Lagi- lagi aku dijambret, kan Bang? Yang kaki aku sampai sakit?" tanya Yola dengan bersemangat.
Ilham mengangguk- angguk ragu.
"Iye. Lalu kenape?"
"Percaya nggak percaya. Pencuri itu orang yang sama. Meskipun waktu aku dijambret di mall sudah belasan tahun yang lalu, dan pencuri itu masih seumuran aku, tapi aku masih ingat jelas raut wajahnya. Dia orang yang sama, Bang!" kata Yola antusias.
Ilham semakin mengernyikan keningnya. Semakin tak mengerti arah pembicaraan Yola.
"Lalu habis tu pula?"
__ADS_1
"Lalu aku tak sengaja bertemu dengan dia di Penang! Dia bekerja di N- one Grocery. Dan nama dia, abang tahu siapa?" tanya Yola semakin membuat Ilham bingung dan menggeleng.
"Andini. Andini Y"
Ilham terkejut.
"Jadi sempat terbersit di benakku. Jangan- jangan ini Andini, adiknya Abang, putri keluarga Nirwan. Mungkin dia merampok tasku ingin mencari tahu tentang informasi keluarga Nirwan. Jadi pas di Penang, aku hampir menangkapnya tapi waktu itu perutku terasa kram dan sakit, jadi aku biarkan saja dia kabur," kata Yola mengingat pertemuannya dengan gadis itu. "Abang, adakah kemungkinan kalau dia Andini adik abang?"
Ilham tertegun mendengar cerita Yola. Entah benar atau tidak analisa istrinya itu. Tapi sepertinya dia harus segera mencari tahu ke Penang.
"Yola, kite tidur sahaja dahulu, Oke? Dah mulai larut malam ni. Pasal pembicaraan kite baru sahaja, kita sambung sahaja esok pagi,"kata Ilham sembari menyuruh Yola turun dari pangkuannya.
Yola pun mengangguk dan akhirnya menurut saat Ilham membimbingnya ke kamar.
****
Yola terbangun dari tidurnya saat merasa tangan kekar seseorang memeluk tubuhnya.
Yola semakin menarik tangan itu agar lebih mempererat pelukannya. Tak lama Yola juga bisa merasakan sebuah kecupan mendarat di pucuk kepalanga dan juga membelai rambutnya.
"Ab - ... "
"Selamat pagi, Sayang! Bermalas- malas macam ni, kau tak pergi kerja ke?"
Deg!!
Spontan Yola membuka matanya. Suara itu bukan suara Ilham. Segera ia membalikkan badannya, dan ...
***
Siapakah orang itu? Oh, ya maaf ya kalau author jarang balas komentar kalian. Soalnya author kadang ga sempat beib. Mana ngurusin rumah, bocah dan nulis novel juga.
Tapi mohon tetap berikan like dan koment sebanyak-banyaknya untuk meningkatkan performa author di aplikasi ini. Kalau like dan komentnya banyak, hari ini author update sebab lagi. Jangan lupa ratenya bintang 5 juga ya...
__ADS_1