
"Jadi ... siapa tadi yang katanya ingin merayu Ketua Pengarah, hmmm?" Yola kini tela mengambil alih kendali atas situasi ini.
Kedua pegawai itu menelan ludah sambil menunduk. Sungguh sangat sial bertemu dengan Queen Devil di toilet ini. Bukankah harusnya ruangannya berada di lantai atas?
"Kenapa kalian diam sekarang? Cakaplah mumpung Puan Pengarah Marketing yang gatal dan juga nakal itu ada di sini," kata Yolanda.
"Ma- maaf- kan kami, Puan. Kami tak maksud membicarakan Puan di belakang ... Kalau kami tahu tak mungkin kami akan ..." Gadis bernama Berliana itu tak sanggup melanjutkan kata- katanya. Otaknya masih berpikir keras dimana kira- kira dia pernah bertemu Yolanda.
"Maksudmu, kalau kamu tahu aku perempuan nakal itu kamu nggak akan gosipin aku? Atau maksudmu kalian nggak bermaksud membicarakan aku di belakang berarti kalian ingin berbicara di depanku?" tanya Yola sembari memutar-mutar omongannya.
"A- ampuni kami, Puan! Tolong ...." Kini Azizah yang tampak memelas di depan Yola.
Yola melipat tangannya di atas dada kemudian melepasnya lagi.
"Ikut aku ke atas," katanya tegas. "Ayo!!!"
Dengan berat hati keduanya mengikuti Yola ke luar toilet hingga mereka kini berada di dalam lift. Keduanya saling sikut menyikut menyalahkan satu sama lain atas insiden tertangkap basahnya mereka yang sedang membicarakan Puan Pengarah itu.
Hingga berada di lantai 9, Yola keluar lift dan langsung membawa keduanya ke kantor Nadira, selaku Direktur Personalia.
Nadira yang baru beberapa menit yang lalu berhasil mencuri ponsel Yola merasa sangat kaget setengah mati saat pintunya ruangannnya diketuk oleh istri bosnya itu. Dia merasa bak maling yang ketangkap basah sekarang.
"Yo- Yola?!" pekiknya kaget.
"Dira, aku bawa mereka ke sini," kata Yola sembari menunjuk pada kedua pegawai yang di bawanya itu.
Nadira melihat pada keduanya.
"Kenape dengan mereka?" tanya Nadira bingung.
"Tolong buatkan satu surat resign, dan satu lagi surat peringatan buat mereka," kata Yola.
Nadira menatap Yola meminta penjelasan. Sementara kedua pegawai itu mulai dengan drama memohon- mohon pada Yola.
"Puaaaan .... Kami dah memohon maaf pun, kenape Puan sampai hati sangat pada kami niii ...." ratap Azizah.
Yola melipat tangannya di atas dada.
__ADS_1
"Jadi kalian berpikir kalau aku nggak adil? Kalian pikir aku melakukan hal ini cuma karena aku tidak suka digosipin oleh kalian?" tanya Yola sembari berjalan mengitari kedua pegawai yang sedang menunduk itu.
"Pertama- tama, Puan Pengarah Personalia. Aku meminta padamu, berikan SP atau surat peringatan beserta skorsing pada kakak pegawai ni ... " Yola memicingkan matanya membaca lagi bet name di dada gadis itu. "Azizah R."
Yola menyebut nama gadis itu hingga membuat gadis itu rasa hampir copot jantungnya.
"Azizah R ni, sudah membuang- buang waktu di jam kerja. Ke toilet namun untuk bergosip dengan temannya. Dan membicarakan segala hal yang buruk dengan atasannya. Aku rasa surat peringatan dan skorsing itu tidak terlalu berat. Bagaimana menurutmu, Nadira?" tanya Yola.
"Eh ... eum ...." Nadira menjadi kebingungan menjawabnya.
"Dan untuk saudari Berliana Riski. Aku pernah memperingatkan dirimu agar berhati- hati saat berjumpa denganku lagi. Kau ingat?" tanya Yola pada pegawai bernama Berliana itu.
Gadis itu masih berusaha keras untuk mengingat- ingat dimana dia pernah bertemu dengan Yola.
"Kalau kau tidak ingat, aku akan ingatkan lagi. Lantai bawah, announcement, sekitar dua bulan yang lalu. Waktu itu ada anak yang terpisah dari ibunya. Dan aku membawanya ke tempatmu bertugas waktu itu, tetapi kau malah sibuk bertelepon ria dengan kekasihmu. Ingat?"
Berliana ternganga dan buru- buru menutup mulutnya.
"Aku mengambil alih tugasmu waktu itu, tetapi kau malah marah- marah padaku. Kau masih lupa? Atau perlu ku perjelas lagi?" kata Yola terus mengintimidasi gadis itu.
"Kalian ini berada di sini, di N- one Grocery adalah untuk bekerja. Kalian diberi upah, gaji, salary atau apa pun namanya adalah untuk membayar kerja keras kalian di sini. Jadi jangan berpikir untuk membuang- buang waktu kalian dengan hal- hal yang tidak membawa manfaat bagi N- one Grocery," kata Yola tegas.
Gadis bernama Berliana itu mulai memerah sekarang. Rasanya dia ingin menangis. Tak pernah terbayang olehnya ketika akan berangkat untuk bekerja tadi pagi, dia akan dipecat hari ini.
"Hari ini pun aku melihat hal yang sama. Seorang pegawai announcement di lantai paling bawah bisa berada di lantai 5 untuk menemui kawannya hanya untuk bergosip. Apakah menurutmu kamu masih pantas diberi toleransi?" tanya Yola sinis.
"Pu- Puan Yolanda, maafkan saye. Saye akan berjanji hal semacam ni takkan terjadi lagi," kata Berliana memohon.
Sementara temannya Azizah dalam hatinya bersyukur karena dia hanya diberi hukuman 3 hari skorsing.
"Kalau kau diberi kesempatan lagi, akan ada lagi karyawan- karyawan yang tidak mengikuti aturan sepertimu di masa depan. Oleh karena itu, silahkan tulis surat pengunduran dirimu di sini. Besok kau tak perlu datang lagi untuk bekerja di N- one," kata Yola.
"Puan, meski Puan memiliki hubungan yang dekat dengan Ketua Pengarah, mana boleh Puan bertindak sesuke hati macam ni? Puan hanyelah Pengarah Marketing. Yang memutuskan hal ni mestinya adalah Pengarah Personalia. Betul kan aku cakap, Puan Nadira?" kata gadis itu meminta dukungan pada Nadira.
Nadira tak bergeming. Dia berada di posisi serba salah. Dia juga tak bisa begitu saja memberhentikan secara sepihak seorang karyawan tanpa mempertimbangkan sepak terjang pegawai itu di perusahaan itu.
"Aku adalah pegawai lama di N- one. Tak adil kalau memberhentikan saye hanye kerana satu kesalahan yang hanya dinilai oleh pihak Puan Pengarah Marketing sahaja. Semua jasa dan pengabdian saye untuk N- one tak ade harganya ke?" debat wanita itu mulai berani. Dia bahkan mulai berani menatap Yola dengan pandangan menantang.
__ADS_1
Yola tersenyum tak kalah sinis.
"Untuk apa menghargai pegawai yang tak menghargai perusahaan dan jam kerja? Memberi gaji pada pegawai yang tak becus bekerja, sama saja merugikan perusahaan," balas Yola dengan kekeh. "N- one akan berterima kasih padaku karena berhasil menyingkirkan satu pegawai parasit sepertimu. Dan kau harusnya tau, ada banyak pengangguran di luar sana yang berlomba- lomba untuk bisa menggantikan posisimu bekerja di sini!"
Berliana tampak tak terima dengan sikap antipati Yola padanya. Karena itu dia akan bertekad melawan Direktur Marketing ini sampai akhir. Toh apa pun yang terjadi dia akan tetap dipecat juga.
"Kau hanye Pengarah Marketing di N- one, kenape berlagak macam kau yang punya perusahaan ni? Baru dapat menggoda suami orang lain sahaja, dah pun angkuh sangat. Padahal hanya wanita murahan je, cuihhh!!!" cemoohnya.
Hal itu tak urung membuat Nadira menjadi kaget.
"Hey, cakap kau tolong dijaga sikit!" tegur Nadira gusar
"Buat ape? Aku juga tak kan lagi bekerja di sini, kan? Lagi pula ape yang salah. Memang wanita murahan pun?" tantangnya semakin berani.
"Siape yang kau maksud wanita murahan??!!!"
Tiba- tiba suara bentakan Atok Yahya menggema di ruangan itu.
Semua mereka yang ada di ruangan itu terkejut dan menoleh.
"Presdir?" pekik Nadira.
"Atok ..." Yola ikut- ikutan terkejut.
"Mommmyyyy ....." Dari balik punggung Atok Yahya Ammar berlari ke pelukan Yola.
Kedua pegawai itu, Berliana dan Azizah menganga melihat adegan ibu dan anak itu. Mereka tahu Ammar adalah anak dari Ketua Pengarah mereka karena Ammar pernah menjadi model ambassador N-one Grocery yang fotonya ada di mana- mana.
"Mommy?" gumam Berliana lirih.
"Siape yang berani cakap cucu menantuku murahan tadi?" tanya Atok Yahya marah.
****
Guys, apakah kalian bosan mengikuti JDM ini? Siapa tahu ada yang bosan. Author bikin cerita ini memang konfliknya banyak dan nggak mulu alurnya hanya di cinta abang dan Yola aja. Tapi ada aspek2 lain juga.
Jangan lupa like, dan koment ya. Author biasanya mulai ngetik kalau likenya udah di atas 100, kalau masih kurang dari itu, malas ahh ....
__ADS_1