
Setelah Mama Ratih menelepon, akhirnya dapat diputuskan kalau walimatul hamli yang diniatkan sebagai wujud syukur dan doa bersama atas kehamilan Yola yang sudah memasuki usia tujuh bulan, akan diadakan dalam waktu sepuluh hari lagi di rumah keluarga Nirwan di Kuala Lumpur. Ilham memutuskan untuk melaksanakannya di Malaysia saja karena menganggap kehamilan Yola terlalu riskan jika bepergian terlalu sering dan jauh. Mereka baru saja kembali dari Penang, jika ke Jakarta lagi dikhawatirkannya Yola akan kelelahan dan bisa berdampak pada janin yang dikandungnya nanti.
"Puan wakil presdir, tak masuk ke?" tanya Leon yang menerobos begitu saja ke ruang kerja Ilham setelah bertanya pada July tentu saja.
"Tak. Dia nak jemput Ammar ke Tadika," kata Ilham.
"Rajinnya Puan wakil direktur," cibir Leon.
Dirinya masih sebal pada Ilham karena Ilham tak lagi memilihnya sebagai wakil, padahal sebelum Yola hadir kembali di hidup sahabatnya itu, dia dan Ilham bagai suatu kesatuan yang tak dapat dipisahkan kalau dalam hal urusan N-one.
"Hmm, dia juga nak bawa Ammar untuk berjumpa membujuk Andini balik kat rumah," jawab Ilham.
"Hmm tunggu sekejap, memang dah dapat dipastikan ke kalau Andini yang korang maksud adalah Andini yang semestinya?" tanya Leon.
"Hu um, kami dah berjumpa dengan orang tua angkat dia yang pelihara dan asuh dia hinga besar. Dan datuk Abidin pun dah menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya," tutur Ilham.
"Tapi kau kate datuk Abidin dah ada penyakit itu, pelupa. Itu macam mana? Cakapnya boleh dipercaya ke?" Leon tampak meragukan.
"Betul. Tapi mase itu entah kenape ingatannya sihat kembali. Dan bukan cuma itu. Orang tua angkat Andini seorang doktor spesialis jantung ternama di Penang. Kau boleh periksa identitas dia, background family dia kalau masih tak percaye," kata Ilham.
"Tapi sejauh ni, aku dan Yola beranggapan tak ada yang mencurigakan terhadap doktor tu. Kami dah berunding pula dengan isteri dan family dia yang ade di Jakarta. Andini, baby yang mereka temukan di depan rumah mereka 24 tahun silam. Itu mase-mase Andini menghilang."
Leon manggut-manggut, nampaknya dia sudah percaya akan apa yang dikatakan Ilham padanya.
"Baiklah, kamu datang kat sini nak ape?" tanya Ilham.
"Oh, ini!" Dari dalam kantongnya Leon mengeluarkan ponselnya. Leon baru sadar kalau dia ke ruangan Ilham untuk memberikan pria itu sesuatu.
Ilham mengernyitkan keningnya saat Leon menyentuh layar ponselnya dan mencari sesuatu di sana.
"Ini, informasyen (informasi) yang kau suruh aku cari tahu," katanya sembari menyerahkan ponselnya pada Ilham.
Ilham menerimanya dan mengamati layar ponsel milik Leon yang kini berada di tangannya.
"Siapa lelaki ni?" tanya Ilham sambil menggeser-geser layar ponsel untuk melihat lebih banyak foto di galleri ponsel milik Leon. Itu adalah foto-foto Eva, anak dari Abimanyu di luar nikah dengan salah seorang pria. Foto itu diambil tidak
"Coba tebak itu siape?" Leon malah mengajak Ilham berteka-teki.
"Ya Tuhan, kenape kau suruh aku menebak pula, cepat katakan sahaja dia ni siape? Siape pria ini?" tanya Ilham tak sabar.
Leon berdecak sebal.
"Kau tebak lah dahulu. Tak seronok kalau hanya macam ni. Aku dah susah-susah dapatkan kau berita ni, kau tak nak berusaha sikit pun menebak siapa orang tu," sungut Leon.
Ilham mendengus menahan jengkel.
"Baiklah, aku akan cuba tebak. Dia boyfriend-nya ke?" tebak Ilham mencoba mengikuti permintaan Leon.
"Yup. Itu betul! Tetapi bukan status hubungan mereka yang aku tanyakan. Tetapi identity personal lelaki ini. Cuba tebak, siapa dia?" desak Leon lagi.
"Ya mana pulan aku tahu. Kau ni terlalu banyak waktu free ke? Leon, aku bagi tahu kau! Sebaiknya kau bagi tahu sekarang sebelum aku pangkas salary (gaji) kau untuk bulan ini. Aku ni masih ada banyak sangat pekerjaan! Tak payahlah kau ajak aku bermain teka-teki macam ni!" kata Ilham sebal.
"Hais, tak seronoklah!" keluh Leon. "Setidaknya cuba tengok muka orang tu dahulu. Perhatikan baik-baik lelaki tu mirip siape?" Leon tak kalah sebalnya.
__ADS_1
Ilham kembali memperhatikan pria itu. Agak familiar memang. Tapi dia benar-benar tak ingat dimana dia pernah melihat pria itu.
"Dah kau tengok? Dia mirip siape?" tanya Leon lagi.
Ilham menghela napas menghadapi Leon. Apa susahnya tinggal bilang siapa lelaki itu. Berteka-teki seperti ini benar-benar membuang waktunya.
Kembali Ilham memperhatikan lelaki di foto itu dan bergantian menatap Leon.
"Dia mirip denganmu nampaknya," jawabnya usil.
"Astaga Ilham! Kau tak tengok ke? Mirip denganku macam mana? Dia itu mirip Lucas, lah. Lucas, you know? Mr.Y! Kau masih tak dapat tengok dengan jelas ke?" teriak Leon tak sabar.
"Lucas?" gumam Ilham tak percaya. "Maksud kau?:
"Ya, dia mirip Lucas kerana dia memang anaknya Lucas. Sampai sini kau belum paham juge? Aku akan jelaskan pada kau sekarang supaya kau dapat lebih mengerti," ujar Leon dengan tak sabar.
"Ilham aku bagi tahu kau, nama pria itu adalah Martin. Dia anaknya Tuan Lucas sekaligus kekasih dari Eva, saudara sepupu Yola yang dah dikirim Nadira ke Alor Setar atas perintahmu. Masih tak paham juge? Itu artinya antara Lucas dan sepupunya Eva bekerja sama untuk lakukan sesuatu di sini. Dan kau tahu dengan sangat baik kalau mereka tak mungkin akan lakukan hal yang baik pada Yola, kan? Dan untungnya kite dah kirim dia jauh ke Alor Setar sebelum dia sempat lakukan sesuatu yang buruk pada isteri kau tercinta itu," imbuh Leon lagi.
Ilham terhenyak. Benarkah? Astaga, bahkan Lucas tak hanya mengincar orang-orang terdekat dari musuhnya. Lucas bahkan memanfaatkan datuk Abidin untuk mewujudkan misi balas dendamnya pada Atok Yahya. Dan dia juga hendak memanfaatkan Eva yang notabene orang dekat Yola dalam konteks keluarga hanya untuk balas dendam pada keturunan musuhnya Salim Gunawan? Sungguh lelaki dengan gangguan kejiwaan yang sangat kronis. Ilham tak habis pikir.
"Macam mana? Kau terkejut kan? Sekarang ape yang harus kita lakukan pada sepupu isteri kau tu? Perlu ke kite beri wanita tu pelajaran?" tanya Leon.
Ilham mendengus.
"Dia bukan sepupu Yola. Dia kakaknya Yola, berbeza ibu," kata Ilham.
"Humm?" Leon kini ternganga lagi. "Macam mana boleh seperti itu?"
"Papanya Yola, mertuaku menjalin kasih dengan mamanya Eva sebelum berkahwin dengan Mamanya Yola. Dari hubungan tu lahirlah Eva. Entah macam mana kisah lengkapnya tetapi Eva tu nampaknya mendendam pada Yola kerana merasa diperlakukan tak adil," kata Ilham.
"Kalau dah begini, ape yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Leon.
Ilham kembali membuang napasnya kasar.
"Kau suruh orang awasi Eva lagi terutama pria itu. Siapa tadi namanya? Martin?" tanya Ilham.
"He em. Martin."
"Awasi dia, Leon. Berita apa pun saat ini sangat berarti," titah Ilham. "Aku rase kite dapat gunakan dia nanti untuk tangkap Lucas."
Leon manggut-manggut setuju akan ide Ilham itu.
Lucas memang dikabarkan telah melarikan diri oleh media pemberitaan di Kamboja. Padahal mereka baru saja akan melaporkan pria itu pada kepolisian Malaysia setelah notarisnya Tengku Yahya Nirwan berhasil dijebak oleh wanita PSK yang disewa Hafiz tempo hari. Dari penangkapan Imran, sang notaris, lelaki itu akhirnya mengaku telah melakukan kerja sama dengan seorang pria bernama Lucas untuk melakukan manipulasi transaksi jual beli saham antara Tengku Yahya Nirwa pada Lucas. Karena sangat sulit untuk mendapatkan tanda tangan dari pemilik syarikat N-one Grocery itu, Imran memberikan opsi pada Lucas untuk mendapatkan cap jempol Tengku Yahya Nirwan untuk mendapatkan legalitas atas surat jual beli saham itu, karena cap jempol yang dibubuhkan di sijil perjanjian jual beli saham itu sama-sama berkekuatan hukum dengan tanda tangan.
Imran sendiri tak menyangka kalau Lucas mendapatkan cap jempol itu begitu mudah, tepat beberapa hari setelah Tengku Yahya Nirwan berpulang. Tak ada sedikit keraguan pun di hatinya akan keaslian cap jempol itu. Kematian Tengku Yahya Nirwan adalah bukti nyata kalau cap jempol itu asli adanya.
Awalnya, Imran sudah menolak mundur dari kesepakatannya dengan pria bernama Lucas itu. Dia sebagai seseorang notary publik yang sangat paham tentang hukum, mulai ketakutan saat mengetahui ada nyawa yang hilang di sini. Niatnya hanya ingin mendapatkan uang tambahan di luar gaji dan penghasilannya dari bekerja resmi. Siapa yang tak butuh uang? Ia hanya ingin bermain nakal sedikit, tetapi pria bernama Lucas itu menjebaknya dalam permainan yang sulit baginya untuk keluar dari sana. Apa lagi Lucas juga mengancam akan membunuh anak istrinya juga. Sungguh dia merasa tak punya pilihan lain lagi selain melegalkan surat jual beli saham itu berikut polesan manipulasi sana sini, seolah surat jual beli saham itu dibuat jauh-jauh hari sebelum Tengku Yahya Nirwan meninggal. Begitu pun dengan saksi-saksi bayaran yang sebenarnya tak pernah ada. Sebenarnya Imran tahu ada banyak kejanggalan dalam surat jual beli saham itu. Misalnya dengan uang hasil penjualan saham yang tak pernah diserahkan secara cash atau pun ditransfer ke rekening perusahaan atau pun rekening pribadi Tengku Yahya Nirwan, dan itu sangat rawan ketahuan dan mungkin hanya menunggu bom waktu yang bisa meledak sewaktu-waktu. Itulah yang membuat Imran selalu menghindar dari keluarga Nirwan dengan berdalih dia sedang mengambil pendidikan lanjutan di luar kota padahal dia hanya bersembunyi dari hotel ke hotel dan bermain perempuan untuk menuntaskan hasratnya yang tak bisa dia lakukan pada istrinya karena jarangnya dia berada di rumah. Dan sepandai-pandainya pun ia menyembunyikan bangkai, akhirnya pasti akan ketahuan juga. Dan memdekam di penjara menunggu vonisnya jatuh dari sang hakim, adalah apa yang dialaminya saat ini. Tetapi lelaki itu Lucas, masih bebas berkeliaran di luar sana.
"Good idea. Baiklah kalau macam tu. Aku akan suruh kaki tangan aku awasi Martin tu lagi. Tetapi kau mesti bagi aku bonus salary bulan ni," tuntut Leon dengan mata berbinar.
"Ahh, kau ni. Dengan kawan pun macam tu," balas Ilham.
"Kau jangan kikir dengan aku, Ilham. Aku tak bagi budak kesayanganku untuk jadi menantumu nanti," selorohnya sekaligus mengancam.
__ADS_1
"Kau sendiri yang rugi. Ammar tu menantu idaman semua mertua di dunia. Macam daddy-nya," puji Ilham pada diri sendiri.
Dan kata-katanya itu langsung disahuti Leon dengan ekspresi seolah ingin muntah.
***
Tok!Tok!Tok!
Suara ketukan di pintu kamar kostnya membuat Andini kesal. Dia malas membuka pintu. Sedari tadi pintu itu diketuk bahkan pengetuknya tak mengucapkam salam sama sekali. Sungguh tidak sopan. Dan Andini tahu siapa itu. Itu pastilah Yolanda. Ck, perempuan itu mau apa sih datang terus ke sini? Mengganggu hidup tentramnya saja.
Walaupun papanya, Abraham Yusuf sudah menceritakan apa yang dia tahu pada Andini, Andini tak serta merta ingin kembali pada keluarga itu. Batu karang di hatinya masih mengeras.Tidak segampang itu untuk mengubah apa yang telah ada. Setidaknya tidak sekarang. Dia belum siap kembali pada keluarga yang baginya asing selama hampir 25 tahun kehidupannya.
Tok!Tok!Tok!!
Suara ketukan itu semakin intens dan semakin memekakkan telinganya. Cara orang di luar kamarnya mengetuk pintu itu sudah persis seperti debt collector yang hendak menagih hutang pada si peminjam yang sangat susah membayar hutang. Haiss, bisa-bisa penghuni kost yang lain benar-benar mengira kalau dia adalah penghutang nanti.
Lagi pula pemilik kost kok masih membolehkan aja sih, si Yola itu masuk ke sini? Menyebalkan! gerutunya dalam hati.
Kalau begini, niatnya ingin pindah kost harus diwujudkan ini. Tapi, ahh ... papanya pasti akan tetap memberikan alamat kostnya yang baru nanti pada mereka. Bukankah papanya sekarang juga sedang berusaha mendorongnya untuk kembali ke keluarga Nirwan? Menyedihkan. Padahal Andini sama sekali tak ingin kembali ke rumah yang dia tidak dia kenal itu.
Tok!Tok!Tok!
Semakin kencang ketukan pintu itu.
"Astaga!!! Orang itu, ya! Ya ampun menyebalkan sekali! Awas aja! Minta diusir dengan kasar kali ini orang!" jeritnya dengan sekesal-kesalnya.
Dengan penuh emosi, dia menuju pintu. Dia berjanji dalam hati kali ini tidak akan mentolerir Yolanda lagi. Sama sekali tidak!
"Astaga!! Kamu ini benar-benar minta dikasarin, ya!" teriaknya marah.
Dengan sekali hentakan kasar, Andini memegang gagang pintu dan membukanya.
"Aku bilang jangan da ...."
Andini melihat di hadapannya tak ada siapa-siapa. Tetapi saat dia melihat ke bawah, matanya membulat sempurna saat melihat sesosok bocah tampan dengan senyum yang menawan tengah mendongak menatapnya.
"Hai, Aunty!" sapa anak lelaki itu.
Andini tercengang.
"Ka-kamu siapa?"
"Perkenalkan Aunty. Saye, Ammar. Tengku Ammar Nirwan. Ammar boleh masuk ke?"
Astaga, jadi bocah imut nan menggemaskan ini anak dari Yola dan Ilham? Sumpe ini keponakannya? Wahhh, Andini tak menyangka sekian lama dia mamata-matai keluarga Nirwan bisa-bisanya dia melewatkan bocah manis yang satu ini. Selama ini Andini tahu kalau Ilham dan Yola punya seorang anak lelaki tetapi dia tidak tertarik mencari tahu lebih jauh.
"Aunty!" panggil Ammar sambil menarik-narik baju Andini.
Andini tersadar dari lamunannya. Hingga kemudian tak sadar dia mengangguk dan spontan merangkul Ammar dan ingin membawanya masuk
"Tetapi mommy pun ingin masuk, Aunty! Kasihan mommy kalau tunggu di luar. Mommy mesti berat bawa adiknya Ammar dalam perut. Mommy boleh masuk ya, Aunty?"
Andini melihat Yola yang menampakkan dirinya dari balik dinding samping kamarnya. Bumil itu mengangguk dengan wajah pura-pura memelas mendengar permintaan Ammar. Astaga drama queen ini! Jadi dia sekarang ingin memanfaatkan putranya untuk merayuku? Ckckck, batin Andini.
__ADS_1
****
Like dan komentar donk!