
"Kamu tadi udah istirahat, Put?" tanya Yola saat mereka sedang berada dalam mobil menuju ke apartemen Gold Century.
Yola duduk di depan di samping Ilham yang sedang menyetir mobil, sementara Putri sendiri berada di belakang bersama Ammar.
"Udah donk," jawab Putri.
"Aunty Putri berdustalah, Mom. Aunty tak de pun rehat kat rumah sekembalinya kite dari N-one," celutuk Ammar.
"Oh, ya?" Yola pura-pura terkejut sambil membelalakkan matanya. "Kalau gitu Aunty Putri ngapain aja donk tadi di rumah?"
Ammar sudah mulai terbiasa dengan bahasa sang Mommy yang memang tak selalu baku. Begitu pun kali ini, Ammar paham kata "ngapain aja donk" berarti sang Mommy sedang bertanya "buat ape".
"Aunty tolong Grandma memasak kat dapur, kawani Ammar bermain. Dan tolong Mommy Medusa makan juge," jawab Ammar.
Yola manyun mendengar Ammar masih memanggil Sonia sebagai "mommy" meski dalam konotasi negatif "Medusa".
"Emmm, anu. Aku cuma bantuin makcik-makcik ART aja kok, Yol. Kasihan, mana tadi makcik itu banyak kerjaan. Jadi aku bantuin ngasih perempuan itu makan," katanya membela diri. Tentunya dengn suara lirih seperti takut Yola salah paham.
Putri sempat mendengar dari pembantu rumah tangga di kediaman keluarga Nirwan siapa wanita bernama Sonia itu. Dia ternyata adalah wanita yang pernah menghancurkan rumah tangga sepupunya itu hampir 8 tahun yang lalu. Awalnya dia sebal, tetapi melihat wanita itu nampak tak berdaya layaknya mayat hidup, membuatnya sedikit kasihan dan malah menawarkan diri untuk membantu menyuapi makanan Sonia.
"Hmm, nggak apa-apa," jawab Yola sambil melirik Ilham.
Yola juga rasanya sudah tidak terlalu memikirkan masa lalu buruk yang melibatkan cinta segitiga antara dia, Ilham dan Sonia. Toh, biarlah. Semua sudah ada porsinya masing-masing. Yola sudah mendapatkan penderitaannya selama bertahun-tahun setelah semua kenikmatan yang diberikan Tuhan padanya. Sebelum hadirnya Sonia, hidupnya selalu mulus tak kurang suatu apa pun. Bukannya wajar kalau sang Pemilik Hidup mengujinya dengan badai? Tetapi kini dia telah mendapatkan hadiah dari ujian hidup yang dia alami selama itu. Kini dia bahagia bersama Ilham, suami terkasihnya dan juga Ammar, dan calon buah hati mereka.
Lalu Sonia pun, Yola mengakui cinta wanita itu begitu besar terhadap Ilham. Cinta yang entah bagaimana dia tidak mengerti. Awalnya Ilham jelas menyukai Sonia, hubungan mereka terlihat baik, saat Yola pertama kali melihat keduanya bersama. Hingga kemudian ada hadirnya, Ilham berpaling hati dan cinta yang tadinya bersambut itu menjadi bertepuk sebelah tangan, selama bertahun-tahun lamanya. Ya, meski caranya salah untuk mendapatkan Ilham, bukankah pada akhirnya dia berhasil menjadi istri pria itu? Tak dianggap oleh suami sendiri, hingga akhirnya diceraikan karena sang suami memilig kembali rujuk dengan istri pertamanya, Yola. Dia mungkin bisa merasakan perihnya andai berada di posisi Sonia. Di tambah lagi dengan penyakit yang di deritanya saat ini, yang melalui informasi dari Melisa, pelakunya adalah Mr.Y, musuh bebuyutan keluarga Nirwan. Dan penyakit itu tak ada obatnya. Hanya menunggu mati. Mati!
__ADS_1
Yola menghembuskan napasnya yang terasa sesak di dalam dada. Berpisah dengan Ilham saja mestinya cukup menjadi hukuman bagi wanita itu yang telah memporak-porandakan rumah tangganya beberapa tahun silam. Tak perlu seperti ini harusnya. Sekarang sial! Dia menjadi kasihan pada Sonia. Entah karena bawaan hormon hingga hatinya menjadi lebih sensitif, atau karena dia adalah seorang wanita, tapi dia berempati pada Sonia saat ini.
"Emmm, Abang, soal Sonia gimana kalau kita bawa berobat dia ke rumah sakit ehmm maksudku hospital yang bagus gitu? Di luar negeri misalnya? Singapore, M*unt Eliz*beth?" katanya membuka percakapan.
Ilham mengernyitkan keningnya, bingung akan sikap Yola.
"Di sini pun ade banyak hospital bagus, kenape mesti ke luar negeri? Bahkan orang Indo pun banyak yang datang untuk berubat ke Malaysia," kata Ilham.
"Ya udah, kalau gitu kita bawa Sonia berobat ke Penang aja, Abang. Di sana banyak rumah sakit bagus dan telah teruji kualitasnya. Please ... kita nggak tahu bagaimana hidup seseorang ke depannya. Tapi aku nggak mau dipenuhi rasa sesal padanya. Aku nggak pernah berbuat salah padanya. Kenapa aku harus menyesal ya, kan?" pinta Yola. "Please ... seingatku dia juga menandatangani surat cerai tanpa paksaan dari abang, kan? Itu artinya dia sudah ikhlas dengan hubungan kita. Ya?" bujuk Yola.
Ilham mendesah. Bukannya dia tidak mau membawa Sonia berobat. Toh dia juga pernah menyuruh Leon untuk membawa Sonia berobat ke luar negeri. Tapi hasilnya nihil.
"Doctor cakap, kemungkinan Sonia untuk sihat kembali kecil. Alangkah baik jika dia bersama dengan orang terdekatnya. Jadi bile ade sesuatu yang tak diharap terjadi pun tak aķan ade rasa menyesal," jawab Ilham mencoba memberi pengertian.
"Jadi maksud abang, kita adalah orang terdekatnya. Sumpe bang, abang dekat dengan dia dari mana? Yola apa lagi? Mamah pun jarang perhatikan dia. Abang sendiri rasanya nggak pernah jengukin dia biar cuma sebentar, sekedar say hello atau apa gitu buat menyenangkan hatinya," omel Yola.
"Kenapa diam aja? Abang ini memang nggak punya perasaan deh. Gitu-gitu Sonia juga mantan istrinya Abang!" tudingnya.
Ya salaaam, Ilham lagi yang salah. Ilham sampai garuk-garuk kepala. Nanti dijawab malah jawabannya akan tambah salah lagi. Apes banget punya bini lagi hamidun!
"Habis tu Yola mahu abang macam mana?" tanyanya mengalah sambil tetap berusaha konsentrasi menyetir mobil. "Orang terdekat Sonia memang hanya kitelah. Mama dia tak nak terima Sonia kalau tak sihat seperti sedia kala."
Yola berpikir-pikir sejenak sambil sesekali melirik Putri dan Ammar yang nampak asyik bermain game di ponsel Putri. Putri sengaja tidak mau mengganggu pembicaraan pasangan pasutri itu sehingga dia merasa perlu mengalihkan perhatian pada Ammar walaupun diam-diam dia menyimak pembicaraan Yola dan Ilham itu.
"Gini aja deh Abang. Abang coba persiapkan rumah sakit emmm maksudku hospital untuk Sonia berobat ke Penang. Nanti aku coba hubungi mama dan keluarganya deh. Biar aku aja yang ngomong. Kalau mereka setuju, entar mamanya atau pihak keluarganya kita suruh mendampingi Sonia selama berobat di sana. Tetapi kalau mereka nggak mau sih, kita bisa minta bantuan keluarga Atok di Penang mungkin untuk menjaga Sonia selama berobat di sana, gimana?" usul Yola.
__ADS_1
Ilham sebenarnya keberatan. Dia akan bicara dengan mamanya Sonia dan berharap orang tua matre itu luluh? Mimpi! Kecuali Yola menyodorkan sekoper uang ke hadapannya barulah angan-angannya itu berhasil mungkin.
"Abang!" desak Yola. "Gimana?"
"Apanya?"
"Usulku tadi!"
Ilham berdecak sebal.
"Abang ... udah deh! Tinggal setuju aja apa susahnya sih? Abang sih laki-laki! Nggak mengerti apa yang kami perempuan rasakan. Selama ini Yola dan Sonia yang paling menderita atas hubungan rumit kita ini. Abang mah tahu apa?!"
Ckiiiiiiitttt!!!
Ilham tiba-tiba mengerem mobilnya mendadak. Kata-kata Yola itu terasa menusuk jantungnya. Jadi Yola pikir yang terjadi beberapa tahun yang lalu hanya Yola dan Sonia yang menderita, begitu? Terus yang dia rasakan apa? Bersenang-senang?
Dengan geram Ilham menghentikan mobilnya. Untung ini berkebetulan bukan di jalan yang ramai kenderaan.
"Abaaang ..." Yola merasa takut sekaligus bersalah kini saat melihat Ilham menatap tajam padanya.
"Kau dah selesai cakap ke?"
***
Wuihhh, Bang Ilham nampaknya marah-marah gengs... Bab berikutnya kita flashback sebentar tentang masa lalu si abang waktu pisah sama Yola ya... Ini permintaan dari mbak dwi retno udah lama. Baru dapat alur yang pas buat flashback. Untuk yang minta part Andini sama Sonia, nanti kita nyusul pelan-pelan. Tenang-tenang, semua akan kebagian partnya. Ini alurnya udah menuju ending kok.. Cuma berapa part lagi author belum tahu. Sebenarnya cerita ini nggak terlalu panjang kok. Cuma karena 1 bab isinya 1000 kata doank jadi kebanyakan bab, beda sama novel author I love you dr. Gagu. Partnya sedikit tapi 1 bab bisa 2500 sampai 4000 kata.
__ADS_1
Oh ya btw, tetap stay di JDM dan jangan lupa like dan komentarnya ya... Terima kasih yang udah setia sampai ban ini. Love you reader ...h