Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Eva


__ADS_3

Yola mengelus pipi Ammar yang kini tidur sambil memeluknya. Kini ketiganya sedang berbaring di atas tempat tidur yang sama. Sesuatu yang diinginkan namun tidak pernah terpikir oleh Yola akan terjadi secepat ini.


"Abang, maafin aku. Abang membesarkan Ammar sendiri selama ini bahkan sambil kuliah di Jerman itu pasti sangat merepotkan," sesal Yola.


"Tak. Ammar juge anak abang. Kenape mesti merasa susah merawat budak sendiri?"


"Apa Ammar rewel saat masih kecil? Apa dia sering menangis?" tanya Yola.


"Tak.Dia budak kecil yang baik budi. Dia tak suke menyulitkan Abang. Dia mandiri, dia senang bermain seorang diri," jawab Ilham.


"Andai waktu itu aku bisa bersabar dan tak meninggalkan abang, mungkin waktu tak akan terbuang sia- sia seperti ini," sesal Yola lagi.


Ilham menarik kepala Yola dan mencium keningnya. Ada Ammar di antara mereka membuat ruang geraknya jadi terbatas.


"Abang dapat mengerti perasaanmu saat itu. Wanita mana yang tak sakit hati kalau dia punya husband berkahwin lagi. Abang menyesal menyakitimu Yola, tapi mase tu abang dah tak punya pilihan lain. Sonia punya bukti kalau dia tahu dimana Andini berada."


"Lalu dimana Andini sekarang, Abang? Kenapa dia nggak dibawa pulang ke keluarga Nirwan?" tanya Yola.


Lagi- lagi Ilham hanya bisa menghela napas panjang. Dia merasa berat untuk menceritakannya.


"Ceritakan padaku, please!" kata Yola memohon.


"Sonia kate ada seseorang di belakang ini semua. Namanya tak tahu siape. Sonia hanye tahu inisialnya sahaja. Orang tu menyebutnya dirinya Mr. Y. Orang ni tahu keberadaan Andini. Dia bagikan kite gambar Andini sejak baby dan kalung milik Andini. Dan yang lebih sedih mase tu dia bagi tahu, kalau Andini dijual untuk jadi wanita malam di sebuah tempat yang kite tak tahu, dan itu pun ade pula buktinya. Yola, kau mengerti perasaan Abang, kan? Perasaan Mamah, Papah dan Atok. Andini putri keluarga Nirwan yang hilang sejak baby. Dia seumuran Yola. Dan mase itu dia telah jadi perempuan malam di usianya yang mungkin masih 16-17 tahun. Dan Mr. Y pun memberikan bukti itu pade Sonia. Dan Sonia pun menjadikan itu ancaman pada kite. Kalau tak dia akan beberkan pada khalayak kalau keluarga Nirwan memiliki anak perempuan yang bekerja sebagai wanita malam dan kite menelantarkan Andini selama ini. Macam mana kami boleh hiraukan ini semua? Habis tu pula Sonia minta abang kahwinkan dia agar dia bantukan abang meminta tolong pada Mr. Y selamatkan Andini keluar dari lobang hitam tu. Dan lepas tu Mr. Y tolongkan Andini tapi tetap tak mahu bagi tahu keberadaan Andini. Die hanya bagi kite gambar Andini berapa bulan sekali," kata Ilham menjelaskan.


Sampai di situ Ilham berhenti bercerita sejenak lalu kembali menarik napas dalam.


"Abang ...."


Ilham menatap teduh wajah istrinya itu.


"Dan beberapa waktu ni, Abang bawa Sonia ke hotel untuk mencari tahu Mr. Y ini, bukan seperti yang Yola pikir. Abang tak memadu kasih dengannya. Memang abang sempat membuat beberapa kissmark di tubuhnya agar dia menyangka telah terjadi sesuatu pada malam itu. Dengan begitu abang boleh membujuk dia bagi emailnya untuk dapat hubungi MR. Y. Tapi bukan seperti itu yang sesungguhnya terjadi. Sonia mabuk saat tu dan dia tak ingat apa pun. Abang berani bersumpah, abang masih milik Yola seutuhnya. Tak de wanita lain, Sayang," kata Ilham sendu.


"Kalau begitu, bukankah itu jahat namanya? Abang permainkan hati Sonia. Dia akan sakit hati kalau tau abang cuma manfaatin dia," kata Yola.


"Abang tak peduli pasal tu. Dia lebih banyak membuat kite menderita. Membuat kite berpisah selama 7 tahun, membuat Ammar tak merasakan kasih sayang dari orang tua yang lengkap."


Yola terdiam. Benar kata Ilham. Kalau diingat-ingat lagi betapa menderitanya dia karena wanita itu. Dan bukankah harusnya mereka mengganti waktu- waktu yang telah hilang?

__ADS_1


"Abang, bisa abang pindah ke kamar sebelah aja? Tungguin Yola di sana. Nanti Ammar terganggu tidurnya kalau kita di sini," kata Yola.


Tanpa membantah pria berusia kepala tiga itu pun menurut.


"Baiklah," jawabnya.


Ilham segera beranjak dari posisinya berbaring. Lalu meninggalkan kamar Yola.


Sedikit banyak obrolannya tadi mempengaruhi dirinya. Ilham tak berani bercerita soal Mr. Y yang menginginkan Yola. Dia takut wanita itu khawatir nanti. Lalu tanpa banyak berpikir Ilham pun merebahkan dirinya dan memejamkan mata.


Sekitar 10 menitan Yola pun datang


dan menggoncang pelan tubuhnya.


"Abang..."


Ilham membuka matanya dan terpukau melihat Yola yang hanya memakai pakaian tidur tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Glekk!!! Ilham menelan saliva.


"Yola kenape pakai baju tipis sangat, nanti kau kedinginan pula ...."


"Kalau macam tu, bolehlah Yola minta dihangatkan Abang?" goda Yola dengan logat melayu yang tidak fasih.


"Kau sekarang nakal sangat, ya!" balas Ilham sembari menarik Yola ke pelukannya.


Tak ingin menunggu lama lelaki itu pun langsung memberi ciuman romantis pada Yola yang langsung dibalas Yola dengan ciuman mesra pula. Keduanya larut dalam permainan yang melibatkan gairah itu. Namun di atas segalanya, cintalah yang melandasinya.


Lama berpacu dalam asmara yang memabukkan, keduanya pun berhasil mencapai puncak yang telah lama mereka rindukan. Yola menggeram tertahan berusaha meredam suara yang mungkin bisa membangunkan Ammar di kamar sebelah. Tangannya mencengkram seprai kuat- kuat saat Ilham mengakhiri permainan panas itu dengan satu kali hentakan keras dan menyiraminya dengan benih yang mungkin kelak akan menjadi lil bro atau lil sist untuk Ammar.


Yola masih sadar meski matanya mulai terpejam akibat kelelahan saat Ilham mengecup bibirnya.


"Terima kasih, Sayang."


***


Ammar terbangun dan tak menemukan siapa pun di sampingnya. Bocah berusia 6 tahun itu baru sadar kalau dia sedang menginap di rumah Mommy Yola. Lalu masih menguap Ammar pun turun dari ranjang dan ingin mencari Mommy Yola.

__ADS_1


Ammar membuka pintu kamar dan mencari ke dapur. Sepi. Hingga Ammar ke ruang depan juga masih tak ada siapa-siapa. Ammar mulai panik.


"Daaad .... Mom ...." panggilnya.


Tapi Ammar lupa dia belum memeriksa kamar yang satunya. Tangan mungilnya sudah meraih daun pintu.


"Dad ...."


Ammar membekap mulutnya. Ini kali kedua Ammar memergoki Mommy dan Daddy tidur dalam selimut yang sama. Dan akhirnya diam- diam bocah itu kembali menutup pintu. Dia tak mau membangunkan mereka.


Yola dan Ilham terbangun saat ponsel Yola berdering. Dan ternyata itu adalah telepon dari Nadira yang mengatakan kalau dia sedang bersiap- siap untuk ke N-one dan menyuruh Yola untuk segera bersiap- siap juga dan menunggu mereka di bawah nanti. Yola mengiyakan dan segera membangunkan Ilham.


"Abang, abang bangun! Kita harus bekerja. Ya Tuhan, apakah Ammar sudah bangun?"


Yola panik sendiri saat melihat jarum jam telah menunjukkan pukul 7.15. Dia kesiangan hari ini akibat percintaan panasnya dengan Ilham semalam. Sedikit banyak itu membuatnya merasa sangat kelelahan. Sementara Ilham merasa sangat fit dan siap untuk memulai rutinitas hari ini.


Keduanya segera keluar dari kamar ingin melihat Ammar yang entah sudah bangun atau belum.


"Morning Dad, morning Mom!" sapa bocah itu.


Ilham dan Yola saling pandang sejenak. Heran bagaimana putra mereka ini sangat santai tengah berada menonton televisi di ruang tengah sambil menyantap beberapa lembar roti dan sereal yang dia ambil sendiri dari lemari es.


"Ammar dah mandi, Dad. Daddy dan mommy cepatlah mandi lalu antar Ammar ganti baju ke rumah Atok dan bertolak ke tadika," kata bocah itu.


Yola menatap Ammar dan Ilham bergantian. Benar kata Ilham, Ammar adalah anak yang mandiri.


"Oke, Kid. Daddy mandi di apartemen Daddy sahaja," kata Ilham sembari garuk- garuk kepala merasa bodoh akan dirinya sendiri. Harusnya dia yang menyuruh Ammar bersiap- siap bukan sebaliknya.


Ilham mencomot beberapa lembar roti dan kembali ke apartemennya. Namun sebelum itu, sebuah kecupan mendarat di pipi Yola ketika Ammar tak melihatnya.


"Terimakasih atas semalam, Sayang," bisik Ilham membuat istrinya itu merona lagi.


Dan pagi itu pun dilanjutkan rutinitas mereka seperti biasa. Ilham mengantarkan Ammar untuk pergi ke sekolahnya sementara itu Yola seperti biasa menumpang mobil bersama Nadira dan Leon ke N-one.


Di siang hari di tengah kesibukan dan kepadatan pekerjaannya sebagai direktur marketing, tiba- tiba ponsel Yola berdering. Nomor baru. Sepertinya itu nomor Indonesia. Yola mengernyitkan keningnya.


"Hallo ...." sapanya ragu.

__ADS_1


"Ini kakak Eva, adik sepupuku yang cantik. Nanti jam 2, aku landing di KL. Tolong jemput aku di airport! Atau kalau kau sibuk, kau bisa berikan aku alamat kantormu. Aku ke sana naik taksi saja."


Yola terdiam.


__ADS_2