
"Mama? Apa maksud Mama?" tanya Yola setelah merebut ponsel itu dari Ilham.
Dia merasa tak nyaman dengan permintaan Mama yang terakhir ini. Apa- apaan Mama sampai memikirkan hal seperti itu? Masalah harta adalah hal paling sensitif kalau dicampur aduk dengan masalah hubungan. Dan hubungannya dengan Ilham bahkan baru saja membaik, bisa- bisanya Mama memikirkan hal semacam ini. Bagaimana kalau Ilham sampai berpikir kalau dia dan Mama Ratih materialistis?
"Maksud apa sih?" tanya Mama Ratih balik. "Mama nggak ada maksud apa- apa. Apa salah kalau Mama meminta menantu Mama memberikan semua saham yang dia punya untuk anak Mama?"
"Astaga Mama. Yola ini bukannya orang yang kekurangan uang. Yola bisa nyari sendiri dari hasil kerja Yola. Atau kalau pun memang Yola butuh, kan nggak mesti kayak gini juga? Yola bisa minta aja ke abang sejumlah uang yang Yola butuhkan," kata Yola.
"Tidak bisa, Sayang. Ilham harus rela kehilangan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Hanya saham N- one Grocery apa sulitnya memberi pada istri sendiri? Mama memikirkanmu, Ammar dan calon cucu Mama yang masih ada di perut kamu itu. Kamu nggak tahu hati orang. Siapa tau dia masih ada niat mau kawin lagi, dia akan berpikir ratusan kali untuk mendua, karena asetnya yang berharga ada di kamu," kata Mama Ratih.
Kata- kata Ratih itu tak urung malah membuat Yola semakin merasa malu. Sesekali dia melirik Ilham yang tampak berpikir seperti menimbang- nimbang baik dan buruknya keputusannya nanti.
"Astaga Mama, antisipasi nggak sampe segitunya juga kali, ahh. Terus terang aja, aku nggak mengkhawatirkan hal semacam itu. Kalau memang abang masih niat kawin lagi ya udah sih, Yola biarkan aja! Nggak perlu sampai harus merampok abang kayak gitu. Mama ni kayak orang susah aja deh," kata Yola sebal.
"Eeh, ini bukan masalah kayak orang susah atau kayak orang senang. Mama hanya menginginkan yang terbaik untukmu, Yola! Udah, kamu diam aja. Kasihkan lagi HP-nya ke Ilham!" perintah sang Mama.
Yola melirik Ilham cemas, mencoba mencari perubahan ekspresi pria itu. Yola tahu 27% saham N- one adalah jumlah yang fantastis andai diuangkan.
Dan Yola yakin 27% saham itu Ilham dapatkan bukan cuma- cuma dari Atok. Itu pasti adalah hasil kerja keras Ilham selama bertahun- tahun mengurus dan mengembangkan perusahaan N- one dan membeli sedikit demi sedikit saham itu sebagai investasi masa depan untuknya dan Ammar tentunya. Tidak akan lucu kalau sampai Ilham menganggap Mama Ratih ingin memeras Ilham.
Tapi nampaknya Ilham tidak menunjukkan perubahan ekspresi yang ekstrim. Dia menyodorkan tangannya untuk meminta kembali ponsel yang sedang berada di tangan Yola itu.
"Abang ...."
Ilham tersenyum seakan menyuruh Yola untuk tenang. Lalu dia pun meraih ponsel itu dari Yola.
"Saye boleh memberikan semua ape pun yang saye punya termasuk saham N- one untuk Yola. Tapi kalau boleh saye tahu ape ade alasan lain saham itu mesti dipindah tangan ke Yola? Maksud saye Mamah, ape yang saye miliki adalah milik Yola. Tetapi pengalihan kepunyaan saham atas name saye dipindah tangan ke Yola, ape itu tak berlebihan ke?" tanya Ilham lagi.
Sungguh dia tidak keberatan memberikan apa yang dia punya untuk Yola. Tapi kenapa harus saham?
__ADS_1
Ratih tersenyum meremehkan di sebelah sana.
"Point-nya kamu mau atau tidak? Hanya itu!" kata Ratih tegas.
Lagi Ilham berpikir keras secepat yang dia bisa.
"Kalau kau setuju, kau persiapkan segala yang diperlukan termasuk lawyer untuk alih nama kepemilikan saham itu atas nama Yola dalam beberapa hari ini. Saat mengantar Ammar beberapa hari lagi, Mama sendiri yang akan langsung ke Kuala Lumpur untuk menyaksikan seberapa serius kamu dengan kata- kata dan janjimu itu, Ilham!" kata Mama Ratih dengan tegas.
"Mama ... nggak bisa begitu juga, donk! Keseriusan abang mana bisa dilihat hanya dari serah terima kepemilikan saham? Nggak etis kan menilai suatu hubungan dari harta," kata Yola masih dengan nada keberatan.
"Dari sejak awal nggak ada yang etis dari hubungan kalian, sayang. Kamu itu menikah di bawah umur dengan Ilham. Itu nggak etis! Dia bahkan menyentuh dan meninggalkan kamu yang sedang hamil, itu juga nggak etis. Sekarang mari kita rubah semua ini. Ilham mau dengan Yola, itu persyaratan dari saya sebagai ibunya. Dan jangan pernah salah mengira kalau saya melakukan ini semata- mata untuk mendapatkan harta keluarga Nirwan. Perusahaan Guna-1 lebih dari cukup untuk diwariskan pada Yola sebagai pewaris tunggal," kata Mama Ratih lagi- lagi dengan intonasi yang mulai meninggi.
Ilham akhirnya mengangguk- angguk setelah dia berhasil membuat keputusan singkat di situasi yang sangat darurat ini.
"Baiklah kalau macam tu. Saye akan persiapkan lawyer untuk mengurus pemindahan balik nama saham N- one Grocery milik saye pade Yolanda dalam beberapa hari," kata Ilham setelah menghela napasnya berkali- kali.
Ilham mengusap rambut Yola dengan sayang.
"Everything for you, Honey," kata Ilham sembari mengecup kening Yola dalam.
"Terima kasih, Abang."
Yola tak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan sekarang. Dia hanya bisa melingkarkan tangannya di pinggang pria itu dan memeluknya dengan rasa sayang.
"Ekkhhhhmmm!!!"" Mama Ratih berdehem. "Masih ada Mama di sini kali!"
Yola dengan cemberut melepaskan pelukannya di tubuh Ilham.
"Ya sudah, mana Ammar lagi, Mah?" tanya Yola.
__ADS_1
Ratih yang sedari tadi sibuk dengan vidio call-nya dengan Yola baru sadar kalau Ammar telah tertidur di sofa.
"Ammar ketiduran, ya udah kalau begitu. Mamah juga tinggal tidur ya?" pamit Ratih pada Yola dan Ilham.
"Hmmm, oke deh. Mamah istirahat aja dulu," kata Yola. "Daaaa Maaa,"
Seusai ber-vidio call ria dengan Mama, Yola langsung memberondong Ilham dengan pertanyaan.
"Abang, nggak apa- apa memang sahamnya abang dipindahin atas nama aku?" tanya Yola masih merasa tak enak hati pada Ilham.
llham merengkuh tubuh Yola dalam pelukannya.
"Tak ape. Hanye sahaja Abang heran kenapelah Mama Ratih memintanya sampai ke bahagian sana. Kau tak merase ade sesuatu yang pelik ke?" tanya Ilham berpikir- pikir ragu.
"Apa itu abang?"
"Entah. Abang hanya merase ade sesuatu yang janggal tapi abang tak tahu ape," jawab pria itu mencoba mengingat- ingat lagi hal ganjil apa yang sempat rerlintas dalam pikirannya tadi.
"Apa?" tanya Yola penasaran.
"Abang lupa," jawab Ilham.
"Ya udah deh, kita tidur sekarang, abang! Besok aja dipikirin soal itu," kata Yola.
Ilham mengangguk setuju.
***
Like dan komentarnya jangan lupa ya beib!
__ADS_1