
Beberapa hari berada di Jakarta untuk mengurusi keperluan dokumentasi pernikahan antara Yola dan Ilham, akhirnya buku nikah mereka jadi juga. Tentu saja dengan melakukan prosesi akad nikah ulang di rumah keluarga Gunawan dengan tujuan untuk memperlancar pengurusan buku nikah. Sebab pada pihak KUA tidak mungkin Yola dan Ilham akan mengatakan kalau mereka telah menikah sejak 11 tahun lalu tanpa legalitas dari negara, terlebih-lebih Yola masih di bawah umur saat itu.
"Ananda Tengku Ilham Nirwan bin Tengku Ismail Nirwan, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Yolanda Gunawan dengan maskawinnya seperangkat alat sholat dan perhiasan emas sebesar 25 gram, dibayar ... tunai!" ucap Abimanyu saat melafazkan ucapan ijab qobul itu disaksikan oleh kedua belah pihak keluarga Ilham dan Yola.
Dan setelah sang mertua mengucapkan itu Ilham pun langsung menjawabnya dengan mantap setelah hampir semalaman dia mencoba menghapalkan setiap kalimatnya dengan benar. Meski ini hanya formalitas saja, karena sejatinya Yola dan Ilham telah menikah lama tetapi lelaki itu tetap ingin melakukannya dengan segenap kemampuan terbaik yang bisa dia lakukan.
Toh, tak apalah menikah ulang untuk menepis segala keraguan tentang keabsahan pernikahan mereka yang selama 7 tahun ini pernah tergoncang hingga membuat keduanya terpisah. Bahkan jika harus mengucapkannya 100 kali lagi pun, Ilham masih bisa menyanggupinya demi agar tak ada lagi yang meragukan lagi hubungan pernikahan di antara mereka berduam
"Saye terima nikahnya dan kawinnya Yolanda Gunawan binti Abimanyu Gunawan dengan maskawinnya seperangkat alat sholat dibayar ... tunai!"
"Bagaimana saksi??? Sah??" tanya penghulu sambil menoleh ke kanan dan ke kirinya pada para saksi yang ada di sana.
"Sah!!!" jawab mereka serentak.
Yola lagi-lagi tak menyangka kalau akhirnya dia akan mengalami moment sakral ini juga. Rasanya dia merasa terharu. Dulu saat dia menikah dengan Ilham di masa kanak-kanaknya yang beranjak dewasa, tak ada sedikit pun dia merasa seperti ini. Hanya merasa terpaksa. Tetapi kali ini dia benar-benar merasa seperti ada perasaan yang "waaah!!!" tak bisa dijelaskannya dalam bentuk kata-kata.
Apakah begini rasanya menjadi seperti wanita di luar sana yang dinikahi kekasihnya? Dan entah mengapa kalau kemarin Yola masih merasa mama dan papanya selalu ada untuknya, setelah mendengar Ilham mengucapkan ijab qobul ulang atas dirinya Yola merasa seperti ada jarak yang menjauhkan dirinya dengan orang tuanya itu sekarang.
Hingga acara akad nikah sederhana itu selesai, Yola dan Ilham sama-sama menandatangani buku nikah masing-masing, Yola terlihat sedikit murung.
Setelah penghulu dan petugas dari Kantor Urusan Agama pergi, kedua keluarga besar itu masih berkumpul di ruang tamu yang masih luas dan belum disusun kembali dengan berbagai macam perabotan yang biasa ada di sana. Semua masih dalam posisinya masing-masing. Duduk mengeliling berbentuk lingkaran.
Abimanyu beringsut dengan inisiatifnya sendiri duduk agak berada di depan. Ratih mengikuti sang suami mensejajarkan posisi duduk mereka.
"Yola, Ilham, kemari!" panggilnya.
Ilham dan Yola menoleh. Sementara Mama Ratih mengangguk memberi kode pada keduanya untuk mendekat.
Ilham duduk bersila dan Yola duduk bersimpuh di hadapan Abimanyu.
__ADS_1
"Ilham!" panggil Abimanyu dengan suara barithonnya itu.
Telah beberapa hari Ilham dan keluarganya menginap di rumah mereka tetapi lelaki yang berusia menjelang 50 tahun itu belum sekalipun ingin beramah tamah dengan menantunya itu.
"Ya, Papa!" jawab Ilham.
"Ini kali kedua aku menyerahkan putriku Yolanda padamu. Di kali pertama, aku serahkan putriku padamu dengan penuh keyakinan, bahwa kau akan menjaga dia dan melindungi dia, meski pun aku tahu kau terpaksa menikahinya karena kesepakatan kedua keluarga kita. Dan aku sempat bertanya padamu bagaimana kesediaanmu dengan itu. Kau masih ingat apa jawabanmu kira-kira waktu itu?" tanya Abimanyu.
Ilham membuang napasnya. Dia ingat. Dan kini dia mengangguk.
"Saye jawab, 'saye bersedia', Papa!" jawabnya dengan rasa bersalah.
Abimanyu mengangguk.
"Andai kau menjawab tidak bersedia waktu itu, demi Tuhan aku tidak akan menyerahkan putriku untuk dinikahi di bawah umur seperti itu," desah Abimanyu.
Ilham menunduk. Yola juga menunduk. Dia sedih mengingat apa yang terjadi di masa lalu.
Ilham mengangguk dengan perasaan getir teringat lagi akan dosa yang pernah dia lakukan pada Yolanda.
"Saye tahu, Papa ..."
"Lalu ini kali kedua," kata Abimanyu. "Kau tahu betapa sulitnya bagiku untuk merestui pernikahan ini. Hati seorang ayah ini takut kalau putrinya akan disia-siakan lagi. Tetapi Yola menginginkan bersamamu meski sekeras apa kami melarang. Dia pemaaf tak seperti ayahnya ini. Bisa kau menjamin tidak akan mengulangi hal itu lagi?
Ilham mengangguk dengan kepala setengah menunduk.
"Kau harus berjanji tak akan menyakiti dia lagi. Tidak, ini tak cukup dengan janji. Kau harus berani menjamin bahkan walau harus dengan nyawamu sendiri. Kalau kau akan membuat putriku bahagia. Tidak akan pernah kau membuatnya mengeluarkan air mata. Karena aku ayahnya tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi lagi."
Ilham mengangkat kepalanya dan mengangguk. Dia adalah seorang ayah juga, meski dia hanya memiliki anak lelaki. Tetapi sebagai seorang ayah, hatinya pun akan sakit jika ada yang menyakiti putranya. Pun kalau kelak dia berkesempatan memiliki seorang Putri. Tentu dia tidak akan pernah membiarkan putrinya tersakiti apalagi itu karena seorang lelaki.
__ADS_1
"Ilham berjanji Papa! Ilham akan menjaga Yola, tak akan membiarkan hal yang sama dengan yang dulu terjadi lagi," kata pria itu.
Abimanyu mengangguk.
"Baik. Saya akan pegang janjimu kali ini." katanya pada Ilham. " Dan kamu Yola!"
Yola mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.
"Kamu tahu Papa selalu menginginkan yanng terbaik untukmu, kan?" tanyanya.
Yola mengangguk.
"Mungkin kamu mengira Papa terlalu keras mendidik kamu selama ini. Papa akui memang apa yang Papa lakukan terlalu berlebihan, terlalu protektif melindungi agar kamu tak tersakiti. Tanpa Papa sadar justru sikap Papa yang demikianlah yang malah membuat kamu jauh lebih sakit dari yang seharusnya. Papa mengakui Papa salah telah menjauhkan kamu dari putramu Ammar. Padahal Ammar pun adalah darah daging Papa juga. Papa lupa selain menjadi seorang anak, kamu juga adalah seorang ibu. Untuk itu, Papa pun meminta maaf padamu, Nak! Jangan benci Papa! Papa melakukan itu semata-mata karena Papa sayang padamu."
Yola menggeleng.
"Yola nggak pernah membenci Papa," jawabnya lirih.
"Dan hari ini Papa menikahkan kau kembali pada Ilham, menyerahkanmu kembali padanya, sebagai seseorang yang benar-benar telah dewasa. Tidak sama dengan saat dulu kau masih kecil. Sekarang kau sudah tahu makna pernikahan yang sebenarnya. Meski kau masih putri kami, tapi yang sebenarnya suamimu lebih berhak atas kamu. Meski Mama adalah orang yang melahirkanmu dan Papa adalah orang yang telah membesarkanmu. Tetapi saat Papa sudah menikahkanmu dengan putra mereka, mertuamu dan keluarga suamimu adalah orang yang harus lebih kamu utamakan dibandingkan kami sekarang. Karena itu pandai-pandailah membawa diri di sana, Nak! Kau adalah menantu keluarga Nirwan, tetapi asal muasalmu adalah dari keluarga Gunawan. Tetap jaga nama baik keluarga kita. Tetaplah menjadi Yolanda Gunawan yang selalu bisa Papa banggakan!"
Dan wejangan dari Abimanyu itu berakhir dengan pecah tangis Yola dalam pelukan sang Papa.
"Papaaa .... huuuu ... jangan ngomong begitu. Yola masih anak Papaaaa ...." ratapnya sedih.
Semua yang ada di sana hanya bisa melihat haru Yola yang meratap sedih di dalam pelukan Abimanyu.
***
Duuuh Yola nangis sampak segitunya gengs...
__ADS_1
Like, like dan koment dulu beib ....