
"Mamah?"
"Hafiz!!!!" pekik Zubaedah tak terima. "Sampai tadi sebelum kamu membuka pintu, Mamah masih berharap kalau berita ape yang Mamah dengar tu cuma dusta semata. Tetapi ini ape?? Kau berdua-duaan sahaja di apartemen tertutup dengan kakak ipar kau sendiri! Kemana kau taruh hati nurani kau, Hafiz??!!! Istri abang kau sendiri tega kau rayu macam tu? Kalian ni tak beradab ke??"
Kemarahan Mamah Zubaedah kali ini sepertinya tak main- main. Dengan pandangan mata berapi- api dan nada suara tinggi, beliau melampiaskan kekesalannya.
"Mamah! Hafiz dah bersahabat lama dengan Yola. Bukan hal yang pelik kalau kami kemana- mana hanya berdua sahaja. Kami juga tahu batasan. Soal berita yang Mamah dengar, itu bukanlah dusta. Itu yang sebenarnya terjadi. Aku akan berkahwin dengan Yola ...."
PLAKK!!!!
Suara tamparan itu menggema keras terdengar di koridor apartemen yang sepi ini. Menyisakan gambar telapak tangan yang samar di pipi bersih milik Hafiz.
"Mamah!!!!" pekik Yola terkejut.
Yola dengan langkah tertatih menahan sakit mencoba mendatangi keduanya yang masih berdiri di pintu.
Zubaedah menatap Yola dengan marah.
"Bagus sangat ape yang kau buat ni, Yola! Berkahwin dengan Hafiz? Ape yang kau pikirkan sehingga kau tega lakukan perbuatan macam ni? Bermain sulit dengan adik ipar kau sendiri? Ape yang kau pikirkan?? Sekali pun Hafiz yang merayu kau, tak patutlah kau menyambut perasaan adik ipar kau sendiri!!! Kau ni perempuan macam ape Yola? Mamah kecewa dengan kau!!!" teriak Mama Zubaedah.
"Mamah masuk dulu, kita bicara di dalam," ajak Yola sembari menghela napasnya berulang-ulang kali.
Zubaedah mendengus kesal pada Yola, meskipun pada akhirnya dia tetap memilih untuk masuk ke dalam.
"Ehsan, tolong kamu pergi aja dulu, ya! Biar aku yang mengatasi Mamah," bisiknya.
"Tapi Yola, Mamah bukanlah orang yang mudah untuk kamu atasi sendiri, jom kite hadapi ini bersama!" kata Hafiz tak gentar sembari sesekali tangannya mengusap pipinya yang panas karena kena tampar Mamah angkatnya itu.
Yola menggeleng.
"Semakin kita menunjukkan keteguhan kita untuk bersama, semakin Mamah akan merasa kesal. Yang dibutuhkannya saat ini adalah pemahaman. Dan aku akan mencoba membuat Mamah untuk mengerti," bujuk Yola. "Please, jangan memperkeruh suasana, Ndut. Tolong percaya padaku!"
Melihat ekspresi wajah yang serius, tak urung membuat hati Hafiz menjadi luluh juga.
"Baiklah. Aku pergi sekarang!" kata Hafiz sembari mengelus pundak Yola. "Kabari aku kalau Mamah melakukan atau mengatakan sesuatu yang buruk padamu!"
Yola hanya mengangguk. Toh seandainya pun Mamah berkata kasar padanya tak mungkin Yola akan memberi tahu Hafiz. Tapi dia benar- benar tak ingin suasana menjadi lebih keruh dengan Hafiz ada di apartemennya saat ini. Mamah Zubaedah datang ke apartemennya tentu untuk bertemu dan bicara dengannya perihal hubungannya dengan Ilham. Jika dia melihat Hafiz tentu saja wanita itu akan semakin marah.
Bersiap menghadapi Mamah Zubaedah, Yola hanya bisa menarik napas pasrah. Dia akan menghadapinya.
Yola kembali ke ruang tamu. Dilihatnya wajah mantan mertuanya itu terlihat sangat gusar.
"Mamah mau minum apa?" tanya Yola.
Dengan tertatih Yola melangkah ke dapur untuk mengambilkan segelas air minum.
"Tak perlu! Mamah tak perlu air untuk minum. Mamah kesini hanya nak tanya kamu perihal vidio yang tersebar di seluruh media itu. Katakan pada Mamah, kalai berita tu cume kabar angin. Dan kau dan Hafiz hanya nak bermain- main sahaja untuk membuat Ilham cemburu. Iye, kan? Katakan pada Mamah, Yola! Kalau kau menyangkal Mamah akan percaye padamu sepenuhnya!" kata wanita separuh baya itu dengan tegas.
Yola tak langsung menjawab. Dari dapur ia segera kembali ke ruang tamu membawa segelas air putih dengan kaki yang terpincang-pincang.
__ADS_1
"Minumlah dahulu, Mah!"
"Mamah dah kate, Mamah tak nak minum. Mamah hanya ingin meminta penjelasan kau saja!!"
Yola menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya ia kembali membuka mulutnya.
"Yola serius akan menikah dengan Hafiz, Ma. Bukan Hafiz yang merayu Yola. Tapi aku yang mengajaknya menikah," aku Yola.
"Ape?! Kau sadar ke ape yang kau cakap tu? Hafiz itu meski tidak sedarah dengan Ilham, tapi dia adalah adiknya Ilham juga! Macam mana kau boleh berpikir akan berkahwin dengan adik ipar kau sendiri, bahkan setelah kau menghabiskan malam bersama dengan Ilham?! Kau ni wanita macam ape, Yola??"
Yola diam mendengarkan.
"Kau tau ke, macam mana perasaan Ilham padamu? Dia cinta pada kau dan Ammar. Dia nak gantikan mase- mase kebersamaan kalian yang hilang dengan rujuk bersama. Tapi ape yang kau bikin ni? Kenape hati kau menjadi sekeras batu, Yola?"
Hufftt .... Lagi- lagi Yola membuang napas.
"Mama dan Papa nggak setuju aku kembali rujuk dengan abang, Mah. Aku bisa apa? Papa mendesakku untuk menikah dengan orang lain. Dan aku tidak sanggup. Jika itu bukan abang, dengan Hafiz aku masih bisa menjalani perkawinan itu, dia sahabatku sedari dulu. Tetapi tidak dengan orang lain. Aku tidak bisa menentang Papa, aku juga tidak bisa membuat Mama dalam resiko," jawab Yola.
"Tetapi Yola, perkahwinan bukan pasal main- main. Bukan hal kau boleh mencoba hari ni lalu esok hari saat kau tak lagi cocok dengan Hafiz kau boleh mundur kerana tak cinta," kata Zubaedah berusaha merubah pikiran mantan menantu sekaligus calon menantunya itu.
"Aku tidak main-main, Ma. Aku akan belajar bagaimana cara mencintai Hafiz," kata Yola yakin.
"Lalu dengan Ilham, kau tak cinte ke?" pancing Zubaedah.
"Cinta pun apa gunanya, Mamah? Aku tak mungkin bisa mengabaikan Mama dan Papa hanya karna aku cinta dengan Abang. Ini sama dengan situasi Abang yang tak bisa berbuat apa- apa saat menikahi Sonia demi Mamah dan adiknya, dia terpaksa mengorbankan aku. Benar kan, Ma? Dan Papa tidak terima aku dimadu oleh Abang. Aku pun mengerti, hati orang tua mana yang tidak sakit, melihat anaknya dibagi cintanya dalam pernikahannya. Mamah pun orang tua juga. Mama pasti mengerti perasaan Mama dan papaku, kan? Mereka hanya ingin yang terbaik untukku," kata Yola.
"Tapi Yola! Ini hanye untuk sementara sahaja. Saat Andini ditemukan, Mama sendiri yang akan berjanji untuk mengusir wanita itu dari kehidupan Ilham. Kau pun dah tahu Sonia telah ditalak oleh Ilham. Keberadaannya di sisi Ilham, tak de artinya. Kaulah menantu Mamah satu- satunya untuk Ilham. Tolong kau mengerti, Sayang. Lupakan pemikiran berkahwin dengan Hafiz. Mamah boleh carikan dia calon isteri kalau dia nak berkahwin mase ni. Tetapi itu bukan kau, kakak iparnya! Kaulah isteri Ilham satu-satunya," bujuk Mama.
Yola menggeleng.
"Yola ...."
"Maksudku, kami benar-benar telah bercerai. Abang telah mengucapkan talak padaku," sambung Yola.
Zubaedah terkejut.
"Haaa? A- ape??"
***
"Ilham, kau benar-benar datang?"
Sonia dengan girang menyambut kedatangan Ilham di rumah orang tuanya. Dinner yang dijanjikan Ilham benar- benar ditepati oleh pria itu.
Ilham mengangguk kalem.
"Kau belum bersiap?" tanyanya.
"Sekejap aku kemas- kemas. Aku sangka kau tak jadi datang. Biasa kau tak pernah ajak aku dinner, jadi aku sangka kau hanya berdusta sahaja tadi," kata Sonia. "Jom masuk!"
__ADS_1
Sonia benar- benar sangat bahagia akan kedatangan Ilham malam ini. Dia dan Ilham semenjak menikah memang tak pernah tinggal bersama. Pernikahan mereka tak lebih pernikahan di atas kertas. Oleh karena itu keluarga Sonia agak heran akan kedatangan Ilham malam ini menjemput Sonia. Namun tentu saja mereka menyambut Ilham dengan senang hati. Selama ini meski seperti apa pun keadaan rumah tangga Sonia dan Ilham, nyatanya lelaki itulah yang memasok kehidupan mereka. Sonia hidup berkecukupan, bahkan bisa memberi untuk keluarganya berkat Ilham. Oleh karena itu kedatangan Ilham kali ini, mereka anggap hubungan Sonia dan Ilham pertanda baik dan akan membawa angin segar bagi keduanya.
"Kite dinner dimane?" tanya Sonia tak sabar begitu mereka berada dalam mobil Ilham.
Sonia berdandan sangat cantik malam ini.
"Royale International Hotels," jawab Ilham dengan senyum tersungging.
Royale International hotel? Bukankah itu hotel tempat Yola dan Hafiz melangsungkan moment sweet itu?
Apa ini pertanda Ilham akan memulai hubungan baru denganku? Setidaknya begitulah pikiran wanita itu.
Rasa bahagia semakin melambung di hati dan pikiran Sonia tatkala Ilham langsung membawanya ke salah satu President Suite Room.
"Kite dinner di dalam kamar sahaja. Macam mana? Kau keberatan, tak?" tanya Ilham sembari membuka pintu.
"Oh, tak. Te- tentu sahaja tak keberatan," jawab Sonia gugup.
Sonia melangkah masuk ke dalam kamar hotel. Ya Tuhan, mimpi apa dia semalam? Ilham membawanya ke kamar hotel. Apa mereka akan melewatkan malam yang romantis malam ini? Setelah 7 tahun menikah, apa ini akan jadi malam pertamanya dengan Ilham? Kalau dia tau, dia pasti akan melakukan perawatan tubuh sebelumnya.
Ilham membuka jaketnya dan berjalan ke sebuah meja kecil dimana di sana ada sebotol wine yang telah dipersiapkannya saat reservasi tadi siang.
"Makan malam dahulu atau wine dahulu?" tanya Ilham.
"Dinner?" jawab Sonia dengan nada manja menggoda.
Dia memilih dinner lebih dulu karena berharap malam romantisnya bisa berlanjut jika mereka menikmati wine setelahnya.
Dan setelah dinner itu selesai kini Ilham dan Sonia duduk di balkon hotel sambil menikmati wine dalam gelas masing- masing.
"Ilham, kenapa malam ni tiba- tiba kau ajak aku kat sini?" tanya Sonia dengan hati berdebar.
"Sonia, aku tak pernah memperlakukanmu dengan baik selama ini. Andai kau tak memanfaatkan adikku untuk kepentinganmu, mungkin aku tak akan sekejam ini padamu," kata Ilham seolah menyesal.
"Ilham. Aku lakukan itu semua demi agar bersama kau."
Ilham mengangguk.
"Aku paham. Tapi Sonia, aku memerlukann ketulusanmu jika ingin berhubungan yang sebenarnya denganku sebagai suami kau," kata Ilham.
Sonia menatapnya seakan bertanya ketulusan apa yang dimaksud oleh Ilham.
"Aku ingin kau bagi tahu aku, siapa yang telah memberi informasi tentang Andini padamu, siapa dia? Dimana dia duduk? Macam mana cara menghubungi orang itu?" kata Ilham. "Bolehkah kau bagi tahu aku?"
Sonia menatap Ilham ragu seakan meragukan niat lelaki itu. Ilham ditatap begitu oleh Sonia meneguk wine itu beberapa kali. Sebelum akhirnya Ilham menarik Sonia mendekat ke arahnya dan tanpa aba- aba bibirnya mendarat mencium gadis yang sempat dicintainya itu dulu sebelum hatinya berlabuh pada Yolanda.
Sonia membalasnya. Telah lama dia merindukan pemilik bibir ini. Dan akhirnya malam ini dia kembali lagi padanya.
Maafkan aku, Yola! batin Ilham ditengah ciuman yang semakin memanas itu.
__ADS_1
***
Ayo donk like, koment dan votenya biar author rajin updatenya.