Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Gagal Karena Paspor


__ADS_3

"Saye menyukai Putri. Bolehkan saye meminta bantuan Mama Ratih untuk meyakinkan Mamahnya Putri kalau saye ni serius?" tanya Hafiz sesaat setelah dia membersihkan dirinya kembali dan menemui calon mertuanya yang tidak kesampaian itu.


"Kamu serius?" tanya Mama Ratih masih tak yakin. "Hafiz, Mama ini sangat tahu bagaimana perasaanmu pada Yola. Kamu tidak sedang ingin menjadikan Putri pelarian, kan? Putri itu sepupunya Yola loh, dia bagi Mama sama seperti anak Mama sendiri. Jangan sampai kamu ingin mempermainkan dia saja karena tidak jadi dengan Yola. Sumpah saya akan benci kamu kalau sampai berpikir seperti itu!"


Hafiz menghela napas panjang. Pasti tidak mudah memang meyakinkan semua orang kalau saat ini dia sangat serius ingin mendekati dan menjalani hubungan dengan Putri. Apalagi meyakinkan mamanya Putri.


"Hafiz serius, Mama. Tak de sikit pun dalam hati ni ingin mempermainkan Putri. Dan pasal perasaan Hafiz pada Yola, Hafiz masih sayang padanya ...."


"Hafiz ..." tegur Mama Zubaedah tak suka.


Sementara Mama Ratih hanya bisa menghela napas tak mengerti.


"Mama usah salah sangka dahulu," sela Hafiz sebelum Zubaedah keburu mengomel padanya. "Perasaan Hafiz ke Yola hingga beberapa hari lalu masih sama seperti dahulu. Tetapi mase ni, semenjak mengenal Putri Hafiz merasa berbeza. Hafiz rasa sayang dengan Yola sama seperti sayang dengan saudara sahaja. Seperti dengan kawan dekat. Hanya itu. Tolong percaye dengan Hafiz," kata pria itu.


Dan pada akhirnya Zubaedah dan Ratih hanya bisa saling bersitatap.


"Baiklah, Mama akan usahakan. Tetapi kamu harus janji akan memperlakukan dia dengan baik," kata Ratih. "Dan tentu saja bukan untuk ajang coba-coba ya Hafiz."


"Ape ade bukti keseriusan suatu hubungan melebihi ikatan perkahwinan?" tanya Hafiz. "Hafiz serius nak berkahwin dengan Putri."


Lagi-lagi Mama Ratih mendesah.


"Ck ... kalau kamu sudah ngomong kayak begitu, Mama bisa apa? Baiklah. Mama akan coba bujuk mamanya Putri untuk coba menerima niat baikmu, hmm?"


Hafiz melebarkan senyumnya.


"Terima kasih, Mama." jawab Hafiz.


Di tempat berbeda, Yola segera naik ke lantai atas, ke kamar di mana Mama Putri berada. Yola mengetuk pintu dengan pelan-pelan.


"Tante ..." panggil Yola.


Tok!Tok!Tok!


Tak lama pintu kamar itu dibuka.


"Yola? Kamu udah mau berangkat sekarang?" tanya tante Imelda begitu pintu itu terbuka.


Yola mengangguk.


"Iya."

__ADS_1


Tante Imelda langsung memeluk Yola.


"Yola sayang ... Maaf, ya ... tante agaknya nggak bisa hadir di resepsinya kamu di KL. Ini juga tante lagi packing buat kita nanti sore balik ke Palembang. Kamu tahu kan Pamanmu udah harus mulai kerja lagi besok. Kamu kan tahu Alan dan Ferdi nggak bisa diandalin ngurusin toko lama-lama," kata Tante Imelda.


Yola tersenyum. Dia sangat tahu masalah itu. Kedua abangnya Putri paling tidak tertarik mengurusi toko furniture milik orang tua mereka. Keduanya punya kesibukan sendiri. Yang satu sibuk mengurusi Warnet game online-nya, sementara yang satu sibuk dengan usaha tempat pemancingan ikannya. Jadi selama lebih seminggu di Jakarta mengurusi pernikahan Yola, sang keponakannya ini sudah pasti mengorbankan toko furniture punya Tante Imelda dan suaminya.


"Nggak apa-apa, Tan. Tapi sebagai gantinya Yola mau Putri yang ikut ke KL, ya ..." bujuk Yola dengan cara yang licik.


Tante Imelda langsung mengerutkan keningnya mendengar permintaan keponakannya itu.


"Putri yang minta kamu buat ngebujuk Tante agar ngebolehin dia ke KL?" tanya tante Imelda curiga.


"Nggaklah. Yola cuma pengen lebih lama sama Putri, Tante. Kami kan jarang ketemu," jawab Yola ngeles.


"Habis kamu di LN (Luar Negeri) terus. Coba kamu di Indo aja gitu, gampang ketemunya," omel Tante Imelda.


"Aiss, tante kayak nggak tahu Papa aja. Yola kan di LN juga buat belajar, Tan. Eh, Yola balik ke sini Tante sama Putri pindah ke Palembang. Sekarang Yola mau menetap di KL juga, pasti bakal jarang ketemu sama Putri. Boleh ya, Tan?" rengek Yola sambil bergelayut manja pada Kakak dari sang Mama itu.


Yola memanggil Tante pada Imelda karena dulu saat ia masih kecil , Yola sering mendengar Putri memanggil Mama Ratih dengan panggilan Tante, padahal waktu Yola sudah diajari memanggil Imelda dengan panggilan uwak. Tetapi karena Yola kecil merasa panggilan tante lebih keren maka jadilah dia memanggil Imelda dengan panggilan itu hingga saat ini.


"Nggak boleh. Putri harus belajar mengelola toko juga, Yol. Kalau main terus kapan dia belajarnya," kata Imelda menolak dengan halus.


Imelda termangu sejenak.


"Emang adatnya harus begitu?" tanya Imelda bingung.


Yola mengangguk.


Padahal dia hanya mengarang cerita saja. Dia bahkan tidak tahu adat perkawinan seperti apa yang akan dilaksanakan untuknya nanti. Yola mendapat ide seperti itu karena ingat dulu dia punya seorang teman suku batak melayu yang sedang melangsungkan pernikahan ada pendamping pengantin pria dan wanitanya.


"Boleh, ya ..." bujuk Yola lagi. "Yola janji akan menjaga Putri hingga tiba di Palembang nanti, Tante. Beneran! Sumpah!"


Yola mengacungkan jari tengah dan telunjuknya pertanda dia serius dengan kata-katanya.


"Beneran alasannya karena itu? Bukan karena kamu ingin jodoh-jodohin Putri sama Hafiz?" tanya Imelda masih curiga.


"Maunya sih sekalian, Tan ..." jawab Yola jujur.


"Iss, kamu ini! Nggak usah jadi deh kalau gitu," kata Imelda lagi.


"Memang kenapa sih kalau Putri sama Hafiz? Hafiz itu baik tau, Tante!" kata Yola memberi tahu.

__ADS_1


"Kalau baik kenapa kamu nggak sama dia aja?" cibir Imelda.


"Karena aku cintanya sama abang, hehehe ..." Yola terkekeh.


"Tapi Hafiznya gimana? Suka sama kamu, kan?" pancing Imelda.


Yola melongo beberapa saat hingga akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.


"Jadi karena itu Tante nggak bolehin Hafiz sama Putri? Ya Tuhan, Yola kira apaan. Hahaha ..." tawa bumil itu.


"Ihhh, kamu ngetawain apa? Wajar donk Tante khawatir. Hafiz mantan tunanganmu, tapi dia mau nikahin Putri. Nanti kalau dia nyakitin Putri gimana? Kalau dia masih suka sama kamu gimana? Kamu dan Putri bersaudara, Yola! Nggak baik kalau sampai ada pertengkaran karena lelaki," kata Tante Imelda sembari mendengus.


Yola terdiam sejenak. Sebenarnya bukan itu yang dikhawatirkannya. Antara dia dan Hafiz sudah selesai. Tapi yang membuatnya khawatir adalah Yuri. Ah, kenapa sekarang rasanya Yola lebih pro ke Putri daripada ke Yuri, ya? Yola benar-benar bingung.


"Tante jangan khawatir kalau soal itu. Aku sangat kenal dengan Hafiz. Kalau dia bilang dia serius ingin menikahi Putri pasti itu karena dia serius. Tante boleh percaya pada Yola. Tidak akan adaa pertengkaran semacam itu yang akan terjadi di antara kami," bujuk Yola.


Mendengar itu tetap tak membuat Imelda bergeming.


"Atau gini aja, Tan. Anggap Putri cuma liburan aja ke sana. Yola jujur meminta pada tante. Biarkan mereka saling mengenal dulu beberapa hari di KL. Sambil Yola tetap pantau dan awasi mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak tante inginkan. Bagaimana?"


Imelda masih berdiam diri melihat kegigihan keponakannya itu membujuknya.


"Ayo donk, Tan. Ijinin ya ... Keburu ditinggal pesawat nih," rengek Yola.


Dan lagi-lagi keponakannya yang manja itu selalu bisa membujuknya.


"Hmmm, baiklah. Tante percaya sama kamu. Tapi Yola, Putri nggak bisa ikut kamu ke KL deh," jawab Tante Imelda.


"Kenapa????" tanya Yola sambil mengerutkann keningnya.


"Karena Putri belum ada paspor. Gimana mau ke sana coba ..." kata Tante Imelda sambil tertawa penuh kemenangan.


"Yaaaa, tante ..." Yola kecewa usahanya berhasil tapi gagal membawa Putri pergi karena terkendala di paspor.


Begitulah hari itu Yola dan keluarga Nirwan pulang ke Kuala Lumpur.


***


Hai, hai, hai ... absen like dan komentarnya dulu lah beib ...


Bab ini author revisi untuk menghilangkan cacat logika. Putri nggak bisa ikut karena belum ada paspor ya beib... Author lupa masalah itu hehehe Untuk kelanjutan kisah Putri dan Hafiz nanti author bikin alur lain aja.

__ADS_1


__ADS_2