Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Flashback Ilham (3)


__ADS_3

"Abang yang akan hantar kau ke sekolah," kata Ilham keesokan harinya saat semuanya berada di ruang makan.


Kejadian tadi malam saat Hafiz memukulnya, sama sekali tidak dihiraukan Ilham. Kalau dipikir-pikir lumayan juga pukulan Hafiz. Tangan gempal itu berhasil membuat pipinya memar dan bibirnya pecah. Andai saja yang melakukan orang lain, Ilham tentu akan membalasnya.


"Tak payah!" tolak Hafiz sembari menghabiskan minumnya di meja makan.


Usai mengatakan itu Hafiz segera bangkit dari duduknya. Menyisakan banyak sarapan sehat dan bergizi yang disiapkan Zubaedah untuknya. Lihatlah, tak hanya kebiasaan manja dan bergantung pada orang lain saja yabg berubah, bahkan kebiasaan makannya pun berubah. Sungguh semua yang terjadi kemarin meninggalkan luka yang teramat perih di hatinya. Secara tidak langsung, Hafiz pun menjadi pribadi yang insecure pada keluarganya.


"Kau dihantar abang Ilham sahaja, Hafiz. Hari ni Mamah tak dapat hantar Hafiz ke sekolah, Mamah nak pergi ke kedubes bersama Papah," kata Zubaedah beralasan.


"Tak payah. Hafiz dapat naik ojek sahaja kalau macam tu," tolak Hafiz.


"Jomlah, Ndut. Abang ni sekalian nak berjumpa Yola ke sekolah. Kite berangkat bersama sahaja," bujuk Ilham sembari buru-buru menghabiskan sarapannya agar Hafiz dapat menunggunya.


"Haaah? Kau tak dapat tahu diri sikit ke? Nak berjumpa Yola? Buat ape? Dia tak perlu kau, Abang! Dan lagi Papanya Yola tak akan biarkan pengacau macam kau nak ganggu hidup anaknya lagi. Sebaiknya tak payah bersusah-susah memikirkan hal macam tu. Yola pun tak akan sudi nak tengok wajah pengkhianat macam kau ni ape lagi nak berjumpa. Kau nak buat hatinya sakit macam ape lagi? Tak cukup ke kau sakiti hati dia dengan berkahwin lagi?" cerca Hafiz sinis.


"Hafiiiz!!!" hardikan Zubaedah. "Siape yang ajar kau cakap macam tu pada orang yang lebih tua?"


Zubaedah tak habis pikir. Setelah tadi malam dia menemukan Hafiz tengah memukul Ilham dan melerainya, pagi ini anak bungsu yang diadopsinya itu malah lebih keterlaluan lagi. Sama sekali tak menghormati Ilham. Sungguh bukan ini yang diinginkannya.


Hafiz tersenyum menyeringai. Sedikit pun dia tak peduli pada hardikan Zubaedah. Segera remaja beranjak dewasa itu berlalu pergi.


"Hafiz!!" panggil Papa Ismail.


Tetap saja Hafiz tak menghiraukan. Mata hatinya sudah gelap. Toh dia juga bukan siapa-siapa di keluarga ini. Kalau mereka mau marah biar saja! begitu pikirnya.

__ADS_1


"Hafiiiz!!" teriak Ismail memanggil Hafiz.


"Sudah Papah! Sudah!" lerai Ilham sebelum sang Papa semakin emosi.


"Budak tu ... semakin lama semakin susah diatur, macam anak tak pernah dididik sahaja!" gerutu Ismail.


Ilham menghela napas.


"Biarlah, Pah. Hafiz sedang marah dengan Ilham," kata Ilham membela Hafiz. "Nanti pun dia mesti akan kembali seperti sedia kala."


"Semua ni mesti kerana kau dan Mamah yang sering memanjakan dia!" tuding Ismail.


Zubaedah dan Ilham hanya bisa saling pandang mendengar tudingan Ismail. Sejujurnya apa yang dikatakan Ismail itu ada benarnya. Hafiz selama ini memang kesayangan mereka, selalu dimanja meski Hafiz bukan anak dan saudara kandung.


***


Akhirnya di sinilah Ilham sekarang, menunggu jam pulang sekolah Hafiz dan Yola. Saat ini dia sedang berada di seberang jalan sekolah Yola, menunggu di dalam mobil. Tadinya dia akan berangkat pagi ke sekolah. Tetapi Ilham pikir-pikir kasihan Yola jika sampai dia tak fokus belajar setelah bertemu dengannya. Mamah Zubaedah bercerita Yola masih rutin pergi ke sekolah dan belajar seperti yang lain. Itu menurut dari informasi guru BK yang menanngani masalah kesiswaaan. Jadi Ilham memutuskan akan menemuinya saat dia pulang sekolah saja.


Sempat terpikir oleh Ilham untuk mendatangi Abimanyu dahulu ke rumah keluarga Gunawan, tetapi kemudian Ilham merasa akan lebih tepat jika berbicara dengan Yola dulu. Bagaimana pun keputusan harusnya ada di tangan Yolanda kan? Jadi rencananya, dia akan meminta maaf dulu pada Yola barulah dia akan membujuk istrinya itu untuk kembali bersama dengannya. Jika perlu Ilham akan membawanya ke Jerman bersamanya. Masalah Sonia dan sekolah Yola, dia akan pikirkan itu nanti. Saat ini yang terpenting adalah istri dan calon anaknya dulu. Dan tekadnya sudah bulat untuk membujuk Yolanda kali ini.


Dan tak lama sosok yang ditunggu-tunggunya itu akhirnya menampakkan diri. Yolanya. Gadis kecil yang dia nikahi lebih dari 4 tahun silam itu terlihat jauh lebih kurus dibandingkan saat terakhir kali mereka bertemu di Kuala Lumpur, di hari pernikahan dia dan Sonia. Shit! Ilham memaki lagi dalam hati mengingat pernikahan sialan itu.


Hati Ilham begitu terenyuh melihat wanita yang seharusnya masih remaja itu dengan perubahan fisik yang mencolok. Sekilas mata memandang pun orang pasti tahu kalau Yola sedang mengandung. Kulitnya yang pucat dan wajahnya yang terlihat ceking karena kurusan bisa memperjelas semua itu. Sementara meski Yola memakai sweater di tengah panas terik matahari ini, tetapi perutnya yang mulai membuncit pun tak bisa ditutupi lagi. Dalam hati Ilham memperkirakan, jika dia tidak salah, usia kandungan Yola pasti sudah memasuki usia 6 atau jalan 7 bulan jika dihitung dari saat mereka melakukan hubungan pasutri hampir 7 bulan yang lalu. Sial! Kenapa waktu itu dia tidak bisa menunggu gadis itu lebih dewasa sedikit untuk menjajaki hubungan yang lebih serius?


Tetapi disesali pun tidak akan ada gunanya. Mungkin dengan begini, ikatan dia dan Yola tak akan bisa putus dengan adanya anak di antara mereka. Jika seandainya dia tak memilih jalan seperti ini waktu itu, mungkin dia akan kehilangan Yola selamanya.

__ADS_1


Yola masih berdiri di halte. Mungkin dia sedang menunggu jemputan Pak Darman. Kebetulan dia sendiri. Tak ada yang menyapanya. Tak seperti anak-anak lain, saling bersenda gurau dan saling menyapa dengan teman yang berpapasan. Yola terlihat dikucilkan. Tak ada yang menyapanya meski tak ada pula yang mengganggu. Mungkin kekuasaan Abimanyu telah membuat teman-temannya tak berani membully lagi. Meski begitu terlihat jelas tak ada yang mau berteman dengannya. Yola yang malang.


Ilham keluar dari mobil hendak menghampiri sang istri, berketepatan saat itu Hafiz pun keluar dari gerbang, dan langsung menghampiri Yola. Masih sempat dilihatnya istri dan adiknya itu berbincang. Sesekali Yola mengangguk dan menunduk. Entah apa yang mereka bicarakan.


Ilham baru akan menyeberang saat dua orang bertubuh kekar menghampirinya dari belakang dan merangkulkan tangan mereka di pundaknya.


"Ikut! Pak Abimanyu ingin bertemu kamu!"


"Papa?" tanya Ilham sembari mengernyitkan keningnya heran.


"Siapa papamu, heh? Dasar pria nggak tau diri! Sudah menyakiti hati anak bos sekarang sok-sok'an manggil Papa. Bosan hidup kamu heh?"


"Abang, saye nak berjumpa dengan isteri saye. Sekejap sahaja, lepas tu saye akan ikut abang berjumpa Papa Abi," kata Ilham memohon.


"Berjumpa dengan mbak Yola? Mimpi saja, bajingan!!"


Pria itu membekap mulutnya dan meninju perutnya dengan keras hingga Ilham mengaduh kesakitan.


"Ayo kita bawa dia ke Pak Abi!"


Tanpa persetujuan Ilham, kedua lelaki itu menggiringnya dan memaksanya masuk ke dalam sebuah mobil Jeep.


****


Hai, hai, hai... Jangan lupa beri dukungannya ya... Like dan koment dulu :D

__ADS_1


__ADS_2