
"Hey, Yuri! Kamu disini?" tanya Yola heran.
Yola dan Ilham akan keluar mencari sate yang diidam-idamkan Yola, namun malah saat mereka keeluar dari unit Ilham, mereka malah melihat Yuri sedang berada di depan unit Yola yang dulu yang kini malah ditempati Hafiz. Gadis itu sedang membunyikan bell di depan unit Hafiz.
"Hmmm ... I- iya, Yol. Aku ada sesuatu yang perlu dibicarakan dengan Hafiz," kata Yuri tergugup.
"Oh, beg..." Belum sempat Yola melanjutkan kata-katanya, pintu unit Hafiz sudah terbuka.
"Ade perlu ape?" tanya Hafiz Hafiz yang terlihat tak bergeming di depan pintu.
Sepertinya dia tak berniat mempersilahkan Yuri masuk.
"Jom!" bisik Ilham, tak ingin Yola terlibat lebih jauh pada kedua pasangan itu.
Yola mengangguk dan menutup pintu apartemen.
"Hafiz! Kita bicara di dalam dulu, ya," kata Yuri berusaha menggeser tubuh Hafiz yang kokoh menghalangi jalan.
Hafiz semakin menutup celah yang mungkin bisa dilewati Yuri untuk masuk ke dalam.
"Tak boleh," jawab Hafiz ketus. "Kite ni bukan mahromlah."
"Terus kita jadi muhrimnya kapan? Kapan kamu akan menikahi aku?" tanya Yuri.
"Hafiz!!! Kita harus segera menikah! Kamu udah setuju mau tanggung jawab, tapi udah seminggu, kamu bahkan belum ada itikad baik untuk merencanakan pernikahan denganku," kata Yuri sebal.
Hafiz melipat tangannya di atas dada.
"Kau yang ingin berkahwin dengan aku, kau sendirilah yang mesti siapkan segalanya. Aku ni tinggal datang je," kata Hafiz terkesan remeh.
Terus terang saja, dia masih tak yakin menikahi Yuri adalah pilihan yang benar. Di satu sisi dia merasa kasihan pada Yuri. Dalam logikanya Yuri pasti punya masalah berat yang tak bisa dia ceritakan pada siapa pun.
Sementara di sisi yang lain rasanya dia tak rela menikahi gadis itu sedang dia tidak mencintai Yuri, terlebih-lebih tidak seperti yang dituduhkan gadis itu padanya, Hafiz tidak pernah merasa telah meniduri Yuri hingga hamil, walaupun diaa sendiri mengakui kalau saat itu dia memang mabuk. Tapi kalau memang malam itu tidak terjadi apa-apa, tidak mungkin dia tidak punya bayangan apa-apa sama sekali, kan? Dia hanya mabuk, bukan mati!
"Hafiz!!!" pekik Yuri tak terima.
Dan sebelum keduanya semakin bertengkar hebat lagi, Yola mengambil inisiatif untuk menengahi dengan mengajak mereka makan bersama.
"Ehsan, Yuri, kalian belum makan, kan? Kita pergi makan bareng, yuk. Aku lagi pengen makan sate. Kalian berdua ikut, ya?!" ajaknya.
Ilham sampai melotot mendengarnya.
"Yola, ape maksud kau ni?Kite pergi berdua sahaja. Mereka pun ade pula kereta dan wang, tak payah ajak macam tu," kata Ilham keberatan.
"Abang pelit banget sih! Mereka kan cuma berdua, abang! Sate berapaan sih harganya 1 porsi? Nggak tiap hari juga!" kata Yola balas keberatan.
__ADS_1
"Ini bukan perkara bayar, Honey. Kau tak tengok ke, mereka sedang bercakap berundingkan lasal perkahwinan mereka tu. Kau usah bantu bisinglah," olok Ilham.
"Justru itu! Kita harus membuat mereka berdamai, Abang. Jadi kan nanti mereka akur," kata Yola sambil berbisik.
Hafiz dan Yuri saling pandang melihat Yola yang berbisik-bisik pada Ilham.
"Korang cakap ape?" tanya Hafiz curiga.
Yola menggeleng dengan cepat.
"Nggak ngomong apa-apa. Yuk cari makan dengan aku dan abang!" ajak Yola lagi
"Malas," jawab Hafiz.
"Nduuutt!!!" pekik Yola keberatan.
Dengan kesal dia pun segera menarik tangan Hafiz dari depan pintu.
"Ikut pokoknya!" paksa Yola sambil menutup pintu unit Hafiz. "Ayooo!!! Kita berempat double date sekarang!
Yola pun segera menarik tangan Yuru dan Hafiz agar ikut dengannya.
"Yola, aku tak nak!!!" protes Hafiz.
"Nggak ada alasan, ya!" jawab Yola.
Dan begitulah, pada akhirnya keempatnya dengan mobil Ilham melaju ke sebuah pusat kuliner di kota Kuala Lumpur.
Ilham memandu jalan menuju penjual makanan khas Indonesia.
"Kau tengoklah dulu, kau nak makan yang mana? Hmm ... itu? Sate ayam, sate kambing. Tak de pun Abang tengok sate padang," kata pria itu.
Yola celingak-celinguk melihat dan membaca tulisan di setiap geroba-gerobak makanan itu. Hingga kemudian, Yola melihatnya.
"Itu Abang! Abang nggak bisa baca ya? Sate padang! Sate padang abang!!!" kata Yola menunjuk ke arah gerobak bertuliskan "SATE PADANG" itu.
"Ok. Jadi kalau macam tu, kite kesana sahaja ke? Hafiz, Yuri, kalian nak makan sate padang juga?" tanya Ilham.
"He um. Kamu juga lagi hamil kan, Yuri? Kamu nggak pengen makan yang lain aja gitu?" tanya Yola sambil menatap mengancam pada Hafiz yang terlihat tidak care sama sekali pada Yuri itu.
Hafiz hampir kesedak meski tanpa makan dan minum apa pun mendengar pertanyaan Yola itu.
"A-anu, aku apa aja, Yol. Aku nggak ada ngerasa ngidam-ngidam sih," katanya agak gugup.
"Ya udah, kalau gitu malam ini kita semua makan sate padang aja, nurutin calon anak aku gimana?" tanya Yola.
__ADS_1
"Hmm ... ya udah kalau gitu," jawab Yuri malu-malu.
"Kamu setuju nggak, Ndut?" colek Yola pada perut Hafiz.
"Up to youuuu," jawab pria itu.
Keempatnya baru saja hendak masuk ke area stand sate padang itu, saat suara seseorang yang familiar terdengar memanggil Yola dan Daddy.
"Mom!!!Dad!!!! Uncle Hafizz!!!"
Mereka berempat serentak menoleh. Astaga ada Ammar, Mama Zubaedah dan beberapa orang ibu-ibu lain sedang berjalan mencari-cari makanan yang cocok untuk mereka santap malam itu.
"Ammar??!!" pekik Yola girang tak menyangka akan melihat buah hatinya itu ada di sana.
Ammar buru-buru berlari ke arah Yola dan hendak memeluknya. Namun sang Daddy sigap menghalangi.
"Tak boleh!! Kau akan melompat ke Mommy dan membuatnya jatuh nanti," omel Ilham.
"Abang!!!"
"Daaad!!!" protes Ibu dan anak itu berbarengan. Namun Ilham tak menghiraukan.
Hingga rombongan Mama Zubaedah mendekat, wanita yang sudah mulai lanjut usia itu juga sangat senang bisa bertemu menantunya di sana. Mereka memutuskan untuk makan yang sama dengan menu yang sedang diinginkan oleh Yola.
Dengan bangganya Zubaedah memperkenalkan pada teman-temannya kalau Yolanda adalah menantunya yang sebenarnya, Mommy dari Ammar.
"Jadi macam mana Ilham boleh berkahwin dengan sonia kalau Yola yang menantu Cik Zubaedah yang sebetulnya?" tanya salah seorang teman Mama Zubaedah.
"Panjang kisahnya tu, tak dapat diceriterakan sebab itu adelah perkara yang sangat privacy yang terjadi di Keluarga Nirwan. Namun yang pasti, Yolandalah isteri Ilham yang sebenarnya," kata Zubaedah menjelaskan.
"Kalau ni pula?" tanya teman-teman Zubaedah menanyakan Hafiz dan Yuri sembari mereka menunggu pesanan.
"Ini anak kedua saye Hafiz. Dia adiknya Ilham," kata Zubaedah memperkenalkan Hafiz pada teman-temannya.
"Kalau ni pula?" tanya teman Zubaedah menunjuk pada Yuri.
Zubaedah juga belum pernah melihat Yuri sebelumnya sehingga dia menatap pada Hafiz dan Yola, berharap mereka akan membantunya menjelaskan siapa Yuri.
"Dia calon menantu Mamah juga," jawab Yola sebelum Hafiz mendahuluinya dan mengatakan pada Mamah Zubaedah kalau Yuri adalah teman mereka.
"Ape?"
Zubaedah kini berganti menatap Yuri dan Hafiz bergantian dengan mengedip-ngedipkan matanya tak percaya.
****
__ADS_1
Gimana reaksi Mamah Zubaedah nanti yak? Jangan lupa like dan komentarnya ya reader lope2 aku....