
*Flashback on*
"Sonia, kita akhiri saje hubungan kita ni," ucap Ilham.
Sonia terperanjat mendengar ucapan putus yang terasa sangat tiba-tiba itu dari Ilham.
"Akhiri?? Ape maksudmu Ilham? Apa yang salah denganku? Ape ini masih tentang pertengkaran kite beberapa waktu lalu? Aku minta maaf pasal tu. Aku takkan pernah lagi meminta hal semacam itu dari kau Ilham. Please, jangan cakap nak akhiri hubungan ini. Aku sayang kau Ilham ...."
Sonia merengek dengan air mata berderai. Tak terima kata-kata kata putus keluar dari mulut Ilham. Sesuatu yang sangat dia takutkan dari dulu.
Ilham mendesah kemudian menggeleng.
"Itu bukan kau yang punya salah. Tapi aku. Aku dah membohongi kau terlalu lama, Sonia. Maafkan egoku yang tak boleh berterus terang pada kau tentang statusmu. Sebenarnya aku telah berkahwin dengan jodoh pilihan family aku. Aku dah tak boleh lagi meneruskan hubungan kite ni. Aku tak nak sakiti hati kau dan juga dia. Jadi Sonia, aku harap kau dapat segera lupakan aku. Kau akan dapat mengganti yang lebih baik dari aku," kata Ilham.
Dia akhirnya memiliki keberanian untuk memutuskan hubungan yang tidak sehat ini selepas kembali ke Berlin. Bagaimana pun, meski dia dan Sonia tak pernah melakukan hubungan intim, namun tetap saja ini berselingkuh namanya. Setelah 3 hari singkatnya dengan Yola, Ilham telah memutuskan untuk menjalin mahligai rumahnya tangga yang sebenarnya dengan gadis yang telah dinikahinya itu selama 4 tahun silam. Dan keseriusannya ini telah membawa mereka ke tingkat hubungan sebagaimana layaknya suami istri.
Ilham pun tak menampik kalau dia mulai mencintai gadis itu sejak lama. Selama 4 tahun belakangan dia menjaga jarak dengannya karena ingin mengontrol dirinya dari hal-hal yang mungkin dilakukannya pada isteri kecilnya yang masih di bawah umur itu. Tapi tidak dengan sekarang. Yola telah beranjak dewasa. Jadi Ilham merasa tak perlu lagi menahan diri untuk berbuat apa yang dirasanya pantas untuk dilakukan. Dan dia tak mau hubungannya dengan Sonia akan membawa malapetaka untuk rumah tangganya.
"Tidak Ilham, jangan putuskan hubungan dengan aku. Aku dah lama tahu pasal kau dah berkahwin. Aku tak keberatan kau telah berkahwin dengan gadis tu. Asal di hatimu masih ada aku. Asal kau tak cintakan dia. Aku paham kedudukan kau tak boleh menentang keputusan keluarga kau menikahi dia. Kita akan lalui ini bersama-sama. Ya, Ilham, ya?" bujuk Soni yang kini meneteskan air mata.
Ilham mengernyitkan keningnya heran.
"Kau dah tahu sejak lama? Sonia .... Aku tak habis pikir dengan kau! Ape yang kau pikirkan hingga kau rela berhubungan denganku meski kau dah tahu aku dah jadi suami milik orang lain? Ape yang kau pikirkan, Sonia??!!!" bentak Ilham mulai tak suka.
"Aku .... Aku hanya mengikuti apa yang kau inginkan, Ilham .... Karena aku cinta kau! Aku tak mahu kehilangan kau ...." jawab Sonia terisak.
"Jadi, sejak bila kau tahu?" tanya Ilham dingin.
Dia sungguh tak berharap Sonia mengetahui hal ini. Cukuplah dirinya saja yang bejat, karena meski dia telah menikah namun masih memiliki hubungan dengan orang lain. Tapi ini apa? Sonia dah tahu kalau dia telah menikah tapi masih mau menjalin hubungan dengannya? Apakah Sonia ini sungguh masih wanita baik-baik? Ilham mulai meragukan hal itu.
"Aku tahu, saat kite masih sekolah matrikulasi pre university. Mase tu, kau dapat telepon dari Mama kau yang memberi tahu kalau Yola telah mendapatkan haid pertamanya dan siap untuk berkahwin dengan kau Ilham. Aku juga tahu, kau ambil cuti beberapa hari dan berangkat ke Jakarta untuk berkahwin dengan dia. Dan saat di mall itu aku juga tahu, kalau dialah budak kecil yang dikawinkan dengan kau ...." kata Sonia menjelaskan.
Ilham mengangguk-angguk tak percaya.
"Bagus sangat! Ternyata kau telah lama tahu pasal ni, tapi kau diam saje macam tak ada hal apa pun terjadi. Dan hingga kita di Berlin kau masih tak keberatan dekat denganku, bahkan terus merapat denganku, hingga aku akhirnya tak boleh menahan dirinya untuk mengajak kau menjalin hubungan. Sonia? Kau ni ape sudah gila ke?" teriak Ilham.
"Ya! Aku sudah gila! Aku tak punya pemikiran apa pun lagi untuk boleh miliki kau, Ilham. Aku tak rasa keberatan asal hatimu hanya punyaku. Kau juga tak cinte dengan dia kan?"
Ilham terkekeh seolah menertawakan kebodohannya sendiri.
"Baiklah, kalau kau dah tahu pun, itu berarti aku tak lagi perlu jelaskan panjang lebar dengan kau pasal ni. Kau dah tahu pun situasinya. Hanya saje, soal perasaanku kau salah tentang itu. Awalnya aku pun hanya menerima perkahwinan ini dengan terpaksa. Tetapi aku pikir-pikir pula, tak ape kalau aku anggap Yola macam adik je. Kelak kalau dia dewasa, aku akan jelaskan kalau perkawinan dan hati tak boleh dipaksa hingga boleh menceraikan dia baik-baik baik. Tapi celaka, aku lama-lama cinta dengan dia. Perasaanku tak hanya inginkan dia sebagai adik saje. Aku ingin memiliki dia seutuhnya sebagai isteri aku. Jadi tolong kau mengerti, kita akhiri hubungan ini detik ni juge," kata Ilham.
"Tidak Ilhaaaaam .... Aku tak nak pisah dengan kamu! Jangan akhiri hubungan kite macam ni ...." rengek Sonia sambil menarik tangan Ilham agar tak pergi.
Namun sepertinya Ilham sudah tak bisa lagi
dirubah keputusannya. Dengan mantap dia meninggalkan Sonia dan bertekad untuk membuka lembaran hidup yang lebih baik dengan Yola. Tiga bulan lagi dia akan yudisium
dan kembali ke Malaysia. Setelah itu ia akan hidup bersama Yola dan menunggu istrinya itu lulus SMA dan kemudian memboyongnya bersama-sama ke Berlin untuk melanjutkan pendidikan mereka.
Sepeninggalan Ilham, Sonia jatuh bersimpuh terduduk di taman Tiergarten. Ilham benar-benar telah pergi. Dia benar-benar memutuskan hubungan dengan Sonia.
Menyadari hal itu Sonia semakin menangis sesenggukan di taman yang entah bagaimana kebetulan terlihat sepi hari ini.
"Apa gunanya menangis seperti itu? Apa menangis membuatnya kembali padamu?"
Suara itu terdengar di belakangnya. Sonia terkejut. Meski terdengar seperti bahasa Melayu, tapi Sonia bisa membedakan logatnya berbeda. Itu adalah bahasa Indonesia.
Sonia lalu menoleh. Masih dengan air mata yang berderai di pipinya dia bertanya.
"Kau siape?"
Lelaki itu terlihat seumurannya. Sekitar 24 tahunan. Terlihat tampan dengan wajah dan tubuh maskulin. Laki-laki laki itu juga memiliki rahang dan garis wajah yang tegas. Meski Ilham juga tampan, tetapi lelaki ini lebih terlihat manly.
"Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang perlu kau tau aku bisa membantumu untuk mendapatkan kekasihmu kembali. Bahkan kau juga bisa menikahinya nanti. Bagaimana? Kau tertarik?" tanya lelaki itu.
Sonia menyeka air matanya.
"Bagaimana caranya?"
Lelaki itu tersenyum.
"Kau katakan pada Ilham, adik perempuannya yang hilang kau tahu dimana keberadaannya. Suruh dia menikahimu secara resmi agama dan negara. Jika tidak, kau mungkin tak akan pernah bertemu dengannya lagi. Atau yang terburuk gadis itu mungkin tak akan hidup dengan layak jika dia tak menurut," kata lelaki itu.
"Tapi, macam mana boleh. Adiknya hanya Hafiz. Dan lagi mana boleh dia percaya begitu je dengan saye ....."
Lelaki itu mengeluarkan sebuah kalung mas berliontin huruf A dan beberapa foto bayi dan transformasinya hingga anak berusia sekitar 10 tahunan.
"Berikan ini pada Ilham. Biar dia yang sampaikan pada keluarga Nirwan." kata pria itu sambil menyerahkan.
Sonia menerimanya dengan ragu, namun akhirnya dia paham kalau beberapa benda itu akan sangat berguna untuk membuat Ilham kembali padanya.
"Ta-tapi kau siapa?"
Lelaki itu tersenyum misterius.
__ADS_1
"Tak perlu banyak tau. Terlalu banyak tau bisa memperpendek umur lho. Kau cukup manfaatkan apa yang telah ku beri padamu," katanya seraya berlalu pergi.
\*\*\*\*\*\*
"Nadira, apa kamu ada waktu nanti malam? Aku lupa menanyakan padamu saat di kantor tadi," tanya Yola pada Nadira.
"Hmmm .... Ade. Kenape? Kau nak ajak aku pusing- pusing kat tempat hiburan?" tanya Nadira balik.
Jam kerja telah usai dari tadi, namun ada beberapa hal lagi yang harus di selesaikan Nadira sehingga dia pulang lebih terlambat hari ini.
"Kamu temani aku ke hotel Victoria, pinggir Utara kota, ya? Aku ingin bertemu dengan Victor," ajak Yola.
"Kamu serius tentang menjalin hubungan kerja sama lagi dengan mereka?" tanya Nadira ragu.
Dia memang sudah mendengar itu kemarin dari Leon suaminya. Sungguh Yolanda ini adalah Direktur Marketing yang sangat keras kepala. Namun meski begitu, Nadira menyukai kepribadian Yolanda yang total dalam segala hal yang dikerjakannya.
"Ya, aku serius. Tapi ngomong-ngomong, kamu bisa nggak? Kalau nggak bisa, biar aku cari orang lain untuk menemaniku. Soalnya aku nggak mungkin juga pergi ke sana sendirian," kata Yola.
"Oke. Aku boleh temani kau. Jadi pukul berapa kite berangkat kat sana? Aku jemput kamu di depan apartemenmu. Di apartemen mana kamu tinggal?" kata Nadira.
"Jam 7 saja. Aku tidak ingin kita pulang kemalaman kalau terlalu lama di sana," jawab Yola. "Aku tinggal di apartemen Gold Century tak jauh dari N-one."
"Oke, nantikan aku saje, jam 7 malam. Sampai jumpa, Yola," kata Nadira mengakhiri panggilan telepon.
"Dengan siapa kau berbincang?" tanya Ilham yang tiba- tiba entah sejak kapan telah masuk ke ruangan Nadira.
"Sejak bile Ketua Pengarah tertarik dengan urusan privacy aku?" tanya Nadira dengan senyum jahilnya.
"Lana Marks Cleopatra Bag, tiap tahunnya mereka hanya produksi 1 buah bag saje. Dibuat dengan crocodile skin silver dengan ditaburi berliam hitam dan putih serta dilapisi emas putih 18 krat, harganya bolehlah kau cari tahu sendiri. Aku boleh dapatkan tas itu buat kau, tapi ...."
"Oke! Aku sedang bicara dengan Yola. Dia inginkan aku nak temani die ke Victoria Hotel untuk bertemu dengan Victor," kata Nadira cepat.
Tawaran Ilham sungguh menggiurkan, hanya dengan memberi informasi tentang istrinya saja dia tak segan keluar banyak uang.
"Baik, aku mahu kau temani dan jaga dia. Jangan sampai Victor berani menyentuh sehelai pun rambutnya. Aku tak nak ada sesuatu pun terjadi dengannya, kau boleh kupercaya ke?" tanya Ilham. "Pabile kau jagakan dia dengan baik, aku akan pastikan Lana Marks Cleopatra Bag akan jadi milikmu."
"Baik, Paduka Yang Mulia. Hamba bersumpah akan jagakan Yang Mulia Permaisuri," seloroh Nadira dengan mimik serius.
Ilham memang paling memahaminya bahkan lebih dari Leon. Mereka bersahabat telah belasan tahun. Ilham sangat mengerti hobby Nadira yang sangat senang mengkoleksi tas branded. Dan kini pria itu akan menyuapnya dengan salah satu tas limited edition satu-satunya di dunia, bagaimana mungkin dia tidak tergoda. Kalau hanya untuk menjaga Yola dari gangguan pria asing mah gampang....
Begitulah tepat jam 7 malam, Nadira dengan mobilnya sudah standby di depan apartemen Gold Century. Dan Nadira juga baru tahu kalau demi melancarkan misinya untuk rujuk dengan istrinya bosnya itu sampai membeli unit apartemen di sini. Yola menyambutnya dengan sumringah. Bersama Nadira keduanya terlihat sangat klop dan matching sebagai partner meski ada jarak usia 7 tahun di antara mereka. Penampilan keduanya patut diacungi jempol oleh orang yang melihatnya.
"Selamat datang, Puan Yolanda," sambut Victor saat seorang waitress bar mengantar Yola dan Nadhira ke sofa tempat Victor dan teman- temannya berada.
"Ka- kau???!!"
"Ya, ini saye. Jumpe lagi, Puan Yolanda."
Yola terperangah.
"Jadi anda adalah Tuan Victor? Maaf, saya tidak tahu waktu itu," kata Yola malu.
Victor menanggapinya dengan tawa. Dia terlihat tidak tersinggung.
"Tak ape. Saya mase tu sedang melakukan evaluasi kat mini market Victoria di bawah. Jadi dikeranakan Puan Yolanda dah anggap saya kawan pun, berarti bolehlah saya panggil Puan dengan nama sahaja? Yolanda, macam mana? Saye pun lebih seronok dipanggil Victor tanpa Tuan."
"Oke. Kalau begitu panggil saya Yola saja. Semua teman dan keluarga saya memanggil saya begitu. Dan ini adalah Nadhira, Direktur Personalia di perusahaan saya bekerja," kata Yola memperkenalkan identitas mereka.
"N-one?" tebak Victor dengan senyum.
Yola tak tahu makna dari senyum itu. Tetapi Yola mengangguk mengiyakan.
Yola sendiri mengira mereka hanya akan bertemu bertiga, tidak disangka Victor juga mengundang beberapa temannya pria dan wanita.
"Jadi Tuan Victor, saya ingin berjumpa dengan anda karena ada hal yang saya ingin bicarakan terkait pekerjaan," kata Yola membuka perbincangan.
Victor menggerak- gerakkan telunjuknya.
"No, no, no. Yola kau melanggar aturannya. Yang pertama kita dah sepakat pun tak panggil masing-masing Tuan dan puan, melainkan name aje. Bukti bahwa kite berkawan. Yang kedua, tolong tunjukkan ketulusannya untuk berkawan dengan aku. Pasal bisnis boleh kita bincangkan di lain mase, besok, lusa, masih ada banyak hari esok," kata Victor memperingatkan.
"Betul tu. Kalau macam tu, bukan berkawan namanya kalau langsung cakap job je. Di kantor dah pun job yang dicakapkan seharian, di sini pun same je?" dukung temannya Victor.
"Oh, maafkan saya kalau begitu," ucap Yola.
Dalam hatinya dia mengutuki dirinya sendiri yang sepertinya terlalu buru- buru untuk membahas percakapan.
"Pasal maaf, senang aje tu. Tapi Yola, bolehlah tunjukkan dulu ketulusannya berkawan dengan kami ni," jawab temannya yang lain pula.
"Caranya bagaimana?" tanya Yola.
"Minumlah seteguk dua teguk dengan kami," kata orang tadi sementara wanita pasangannya menuangkan segelas kecil wine pada Yola dan Nadira.
"Ah, maaf tapi aku tidak bisa minum," tolak Yola.
"Ah, macam betul je. Victor kate Yola lulusan Warthon University. Orang yang pernah tinggal di luar negeri, macam mana boleh tak tahu minum walau sedikit sahaja?" kata teman Victor tak percaya.
__ADS_1
Yola lebih tak percaya pada apa yang di dengarnya. Jadi Victor juga tahu kalau Yola lulusan Wharton, darimana dia tau? Apa dia menyelidiki aku dari kartu namaku?Batin Yola.
"Ah, sepertinya aku terlalu memandang rendah Tuan Victor. Mestilah yang berteman dengan Tuan Victor Alexander harus jelas asal usulnya, jadi sangat wajar kalau Tuan Victor menyelidiki identitasku," kata Yola terdengar kecewa. " Tapi sebagai kawan mana boleh macam tu. Bicara soal ketulusan, seoranh teman tak perlu menyelidiki temannya kan?" sindir Yola halus.
Victor tersenyum. Gadis di depannya ini benar-benar menarik. Dia selalu menemukan kata untuk memutar balikkan situasinya.
"Baiklah, kau tak perlulah formal macam tu dengan aku, Yola. Sebagai permintaan maaf dari aku, biar aku je yang minum wine tu, kemarikan!" pinta Victor pada wanita yang menuangkan minuman tadi.
"Wahahaha .... Kau memang kawan aku yang gentleman pasal wanita. Tapi kawan tak senang macam tu lah. Pabile kau yang gantikan minum para gadis ni, kau harus ganti satu gelas menjadi lima gelas. Yola dengan temannya menjadi 10 gelas, macam mana?" tantang temannya Victor.
"Oke. Siapa yang akan takut?" jawab Victor membalas tantangan itu.
Dan begitulah, segelas demi segelas Victor mulai meminum wine itu untuk Yola dan Nadira. Begitu gelas ke 7 wajahnya sudah merona merah akibat efek dari wine itu. Dan sepertinya sebentar lagi Victor akan mabuk. Itu membuat Yola tak tega dibuatnya.
"Oke. Stop! Saya akan minum segelas saja. Victor jangan diteruskan lagi. Karena Victor sudah membayar untuk teman saya Nadira, berarti saya hanya akan minum untuk diri saya sendiri," kata Yola sambil meraih segelas wine dan langsung menelannya dalam satu kali tegukan. "Begini cukup, kan?"
"Yola ...." protes Nadira.
Dia tak sempat mencegah Yola meminum wine itu karena dilakukan secara spontan. Apa nanti kata Ilham kalau Yola sampai mabuk. Semoga saja Yola tak sampai mabuk karena wine itu.
Namun ternyata kekhawatiran Nadira menjadi kenyataan. Pada dasarnya Yola memang tak pernah minum. Segelas kecil wine itu cukup membuatnya mabuk dan mual hingga muntah- muntah.
"Yola!!!" pekik Nadira dan Victor bersamaan.
Nadira juga menjadi gelisah karena tak bisa amanah dalam menjaga Yola. Bagaimana dia akan membawa Yola pulang dengan keadaan seperti itu?
"Aduuh, macam mana ni. Matilah aku bawa budak ni pulang," keluhnya yang didengar oleh Victor.
"Macam ni sahaja, macam mana kalau kalian berdua beristirahat di hotel ni dulu. Aku akan meminta seseorang menyiapkan kamar untuk kalian. Yola juga hanya minum sedikit je. Sedikit istirahat akan membuatnya merase lebih baik. Dan oh ya, aku nak minta therapist dari Victoria Spa untuk memberi message dan treatment di kamar kalian nanti agar kondisi Yola sedikit membaik, macam mana? Kalian tak akan dipungut biaya sama sekali. Anggap sebagai kompensasi atas insiden ni," kata Victor.
Setelah menimbang-nimbang Nadira pikir tak ada buruknya. Selain dapat treatment gratis kapan lagi dapat menginap di hotel berbintang ini. Victoria Hotel adalah hotel internasional yang cabangnya telah tersebar di beberapa negara. Di hotel yang mereka datangi ini pun memiliki fasilitas lengkap meski berada di pinggir kota. Lokasinya yang dekat dengan tempat wisata dan pemandangan alam sekitarnya yang lumayan indah membuat banyak para wisatawan menjatuhkan pilihan untuk menginap di hotel ini.
"Oke, baiklah. Kalau begitu kami tidak akan menolak," jawab Nadira.
Setelah itu dengan memapah Yola, Nadira mengikuti house keeping untuk menempati salah satu kamar yang telah disediakan oleh Victor.
"Yola, kau tak ape?" tanya Nadira memastikan.
"Hmmm ...." sahut Yola sambil mengangguk.
Tak lama therapist Victoria Spa segera datang dan menanyai treatment apa yang mereka inginkan. Karena Yola sedang mabuk, Nadira menyuruh therapist untuk memberikan pijat saja pada wanita muda itu. Sementara dia sendiri memilih untuk melalukan treatment komplit, message dan scrubbing. Keduanya mendapatkan treatment di masing-masing ranjang single bed di dalam kamar itu.
Usai di pijat, Yola yang tertidur pulas hanya ditutupi selimut oleh theraphis, sedangkan Nadira sendiri berendam di bathup spa hotel dengan aroma terapi. Nadira hampir tak ingat lagi pada Ilham. Dia tak tahu betapa gelisahnya Ilham yang telah dari tadi menunggunya dan mondar- mandir di koridor apartemen menantikan kepulangan Yola.
"Puan sepertinya ini telepon anda, dari tadi berdering tapi kawan puan dah tertidur pula," kata therapist itu dan memberikan ponsel itu pada Nadhira.
"Hallo Ilham?" sapa Nadira melihat siapa yang menelpon di layar ponsel.
"Nadira!!!! Kalian kemane saje. Kenapa belum juga balik??!! Mana Yola?" teriak Ilham di telepon sehingga membuat Nadira terpaksa menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Ilham, sebenarnya ada sedikit masalah. Yola mabuk dibuat oleh temannya Victor dan sekarang Yola sedang ...."
Nadira menatap jengkel pada ponselnya. Dia belum selesai menjelaskan apa pun pada Ilham tapi baterainya keburu habis. Mana dia tidak bawa charger. Ya sudahlah, nanti saja dijelaskan pada Ilham, pikirnya sambil melanjutkan menikmati perawatan di hotel itu.
Di pikiran Ilham, berita dari Nadira pun berujung salah paham. Mendengar Yola sedang mabuk apalagi pendengarannya tadi Victor yang melakukan, Ilham jadi kalap dan langsung pergi setelah menitipkan Ammar pada pengasuh.
"Victor celaka! Awas je, kamu berani macam-macam dengan isteri aku," umpatnya geram.
Dan begitu sampai di Victoria Hotel Ilham lamgsung ribut di lobby, menyuruh manager membuka paksa di kamar mana Yolanda menginap.
"Katakan ada di kamar mana Yolanda, isteri saya dibawa Victor. Jangan sampai saye gelap mata, hancurkan tempat ni. Panggil Victor segera!!!" teriaknya.
"Sabar Tuan. Tuan Victor baru saje balik kat rumahnya. Memang tadi ada tamu bernama Yolanda yang check-in atas permintaan Tuan Victor."
"Bawa saya segera ke sana!" perintah Ilham. "Kalau sampai isteri saya ade apa- apa, seluruh hotel ni dari Victor hingga bawahannya macam kalian ni akan saya tuntut semuanya!" bentaknya.
Manager hotel itu tak bisa berbuat apa- apa akhirnya mengantar Ilham ke kamar di mana Yolanda berada.
"Buka!" perintah Ilham dengan kasar.
Hatinya berdebar-debar. Dia berharap Yola tak terjadi hal mengerikan seperti yang dibayangkannya. Dan begitu pintu itu dibuka, Ilham hampir lemas melihat Yola yang tak mengenakan apa pun sedang berada dibawah selimut.
"Astaghfirullah, Yola !!!" jeritnya. "Kalian nak lihat ape? Pergi!!!" usirnya pada manager dan beberapa petugas hotel yang memandangnya dengan tatapan aneh.
Wanita itu kan cuma dipijat saja, kenapa suaminya sangat berlebihan? Begitulah pikiran mereka.
Ilham memeluk Yola dan kemudian mencari bajunya. Setelah menemukannya, lelaki itu pun membantu memakaikannya.
"Kite harus cepat pergi dari sini," gumamnya
Akal sehatnya pun semakin tak berfungsi saat mencium aroma therapi di kamar itu. Prasangkanya mengira kalau itu semacam obat bius yang bia menghilangkan kesadaran seseorang. Tanpa berpikir panjang Ilham pun segera membawa Yola pulang. Dia bahkan tak ingat lagi telah meninggalkan Nadhira.
Hingga Nadhira selesai berendam dan melakukan perawatan, dia pub kembali ke kamar dan terkejut tak mendapati Yola ada di sana. Dengan bingung dia pun menelepon resepsionis.
"Ape teman saya yang bernama Yolanda dari kamar 302 telah balik? Dia ape ada titip pesan?" Tanya Nadira bingung.
__ADS_1
"Oh teman Puan yang itu telah dijemput oleh suaminya. Suaminya datang marah- marah kat sini dan membawa teman puan pergi," kata resepsioni itu di telepon.
"Ilhaaaam!!!!" gerutu Nadira." Kau ni bodoh sangat atau ape? Kau tak ingat ke dengan aku? Aku ditinggal sendiri kat sini," katanya geram.