Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Yolanda Gunawan


__ADS_3

"July, dimana Puan Pengarah Marketing?" tanya Ilham pada July.


Dia sengaja ingin mendatangi istrinya itu ingin meminta maaf dan menjelaskan kenapa Sonia bisa menyuapinya dengan pasembur yang harusnya adalah milik Yola itu.


"Puan Pengarah sedang ada meeting dengan beberapa sales marketing dari produk Kitara Drink, Tuan Ketua," jawab July.


"Meeting perihal ape?" tanya Ilham.


"Mereka nak tempatkan beberapa sales di tempat kite untuk promosi mereka punye produk. Dan Puan Pengarah Yolanda sedang merancangkan di bahgian mana produk mereka akan kite pajang," kata July menjelaskan.


Ilham manggut- manggut. Sebentar lagi sudah jam makan siang tapi Yola malah melangsungkan rapat. Padahal Ilham ingin menebus kesalahannya tadi dengan mengajak Yola makan bersama.


"Baiklah kalau macam tu. Nanti kalau dia dah selesai, tolong kau suruh dia untuk hubungi aku," kata Ilham yang segera diiyakan July.


Berketepatan Yola sedang rapat sebaiknya aku belikan sahaja makanan untuk kami nikmati bersama nanti. Hitung- hitung sebagai permohonan maaf dan membelikan sendiri untuk die, batin pria itu.


Sebelum Ilham mencari makanan dia menyempatkan diri untuk sekedar mampir ke ruang rapat.


"Menurut hemat kami, Puan, kenape Kitara Drink tak dipajang di bahgian depan N- one sahaja? Pimpinan kami berharap produk kami dapat ditempatkan, di tempat strategis yang dapat dilihat pengunjung begitu mereka masuk ke Supermarket N- one," kata supervisor mereka.


"Stand Kitara Drink boleh saja ditempatkan di bagian depan dekat pintu masuk, atau di teras N- one saja. Tetapi untuk keseluruhan produk hingga rak pajangannya tetap saja harus digabung dengan produk minuman sejenis. Saya sangat mengerti maksud dari pihak Kitara Drink. Tetapi untuk masalah penempatan produk dan tata letaknya, kami di N-one Grocery telah punya aturan sendiri, mohon dimengerti. Dan saya cukup paham akan masalah ini dan saya rasa omset tidak akan berpengaruh dari meletakkan seluruh produk di stand depan atau hanya dengan menempatkan setengahnya di depan dan setengahnya di belakang. Yang penting di depan jangan lupa untuk menaruh semua varian sebagai sample untuk calon konsumen," kata Yola lagi.


Ilham mengamati dari pintu yang terbuka. Yola memang piawai menjalankan tugasnya. Dia berbakat di bisnis. Sangat berbeda dengan Sonia yang cerdas secara akademik tapi tidak bisa mengimplementasikan ilmunya di kehidupan nyata.


Masih menatap Yola dengan intens, tiba- tiba pandangan mata Yola tertuju ke pintu. Mereka bersitatap sebentar. Ilham tersenyum dan menunjuk jam tangannya dan melakukan gerakan menyuap makanan ke mulut untuk memberi tahu Yola kalau dia sedang menunggu Yola untuk makan siang bersama.


Tapi di luar dugaan Ilham, Yola malah membuang muka dan kembali memfokuskan dirinya pada peserta rapat.


Duuh merajuk isteri abang. Manis sangat kalau nampak Yola macam tu, kekeh Ilham dalam hati.


Dia tau apa yang harus dilakukan. Segera dia melanjutkan niatnya untuk membelikan Yola makanan di luar.

__ADS_1


[Tunggu abang. Abang akan belikan untuk Yola pasembur. Abang sendiri yang belikan. Jangan merajuk sayang....]


Yola merasakan ponselnya bergetar di kantongnya. Meski enggan, dia tetap menyempatkan diri untuk membacanya walaupun pada akhirnya dia memilih untuk bersikap professional dan tak membalas chatan Ilham padanya.


Ilham tak membuang- buang waktu lagi untuk segera mengambil mobilnya di parkir basement. Mobilnya baru berjalan sekitar 50 meter dari N-one, Ilham sadar kalau dia lupa membawa dompetnya.


Di benaknya terpikir untuk menelepon Mansyur dan menyuruhnya untuk mengambilkan dompetnya di ruangannya. Namun diingat- ingatnya lagi sepertinya dia punya uang cash yang cukup kalau hanya sekedar membali jajanan di apartemen Gold Century. Dan akan lebih efisian kalau dia mampir ke Gold Century saja daripada kembali ke kantor. Gold Century hanya beberapa meter lagi di hadapannya.


Tanpa berlama-lama pria itu pun langsung naik lift ke lantai 9. Pintu lift terbuka, Ilham segera masuk ke unitnya dengan hanya menggunakan passcode karena kartu aksesnya sendiri tertinggal bersama dengan isi dompetnya yang lain.


Ilham langsung menemukan uang cash yang dia temukan di kamar. Ilham akan langsung pergi begitu saja setelah mendapatkan uangnya namun perhatiannya teralihkan pada kotoran burung yang dilihatnya berceceran di sekitar dapur. Dia telah lupa mengunci pintu belakang selama beberapa hari dia tidak berada di sini.


Ilham berinisiatif untuk menutup pintu belakang. Dia memang selalu membiarkan pintu belakang terbuka jika dia sedang berada di kanor agar sirkulasi udara bisa masuk ke dalam apartemen minim ventilasi itu.


Ilham sudah akan menutup pintu dan pergi dari sana andai dia tak mendengar sayup- sayup seseorang tengah berbicara. Dan suara itu berasal dari balkon sebelah. Dan itu adalah balkon apartemen Yolanda.


"Anak sial itu! Aku tidak menyangka dia akan memikirkan cara menyingkirkanku seperti ini."


"Aku rasa tak sepenuhnya dia yang memikirkan ide itu. Aku curiga itu idenya Ilham," sahut seorang lagi terdengar kekeh.


Ilham terkejut. Ternyata ada dua orang di situ. Dan lebih mengejutkan lagi, kali ini yang terdengar adalah suara seorang laki- laki. Dan lelaki itu menyebutkan namanya seakan dia telah lama mengenal Ilham. Siapa mereka? Apa wanita yang berbicara itu sepupunya Yolanda dan pacarnya?


"Aku bersumpah akan membalasnya nanti. Aku akan mengambil kembali apa yang telah dia ambil dariku," kata wanita itu lagi.


"Terus apa rencanamu selanjutnya?" tanya pria itu.


"Sementara aku akan mengalah dan menurut pergi ke Alor Setar untuk meminimalisirkan masalah dan agar mereka terkecoh. Biarkan mereka mengira kalau mereka sudah tidak ada lagi yang mengawasi," kata wanita itu lagi dengan nada yang penuh siasat.


"Jangan terlalu kejam, sayang ...." kekeh suara lelaki itu.


"Itu tidak seberapa, dibandingkan perlakuan mereka padaku, pada Mama. Untunglah sekarang Papa berpihak padaku. Dulu dia sama sekali tidak mengindahkanku hanya demi bocah sial itu," katanya dengan nada berapi- api.

__ADS_1


Perempuan itu terdengar mendengus kesal.


"Kau akan mendapatkan apa yang menjadi hakmu. Kau tenang saja," kali ini suara lelaki itu terdengar membujuk dan menenangkan.


"Martin, kau tetap akan membantuku, kan?" rengek suara wanita itu lagi.


"Tentu," suara itu terdengar meyakinkan. "Kalau bukan karena dirimu, mungkinkah aku bisa bertahan bekerja dengan Papamu? Aku berjanji akan membantumu merebut kembali apa yang harunya jadi milikmu. Perusahaan Guna-1, keluarga yang bahagia, semuanya akan kau dapatkan nanti," kata pria itu lagi.


"Jangan lupakan, aku juga harus mendapatkan namaku kembali. Dia tak pantas menyandang nama itu!" Terdengar suara itu semakin berapi- api.


"Yolanda ...."


Ilham sampai menutup mulutnya mendengar nama Yolanda disebut pria itu.


Terdengar tawa kecil wanita itu saat dipanggil seperti itu.


"Ah, aku suka sekali dipanggil seperti itu. Martin, bisa kau panggil aku lagi?" rengek wanita itu


"Everything for you, Yolanda Gunawan .... "


Ilham membelalak tak kuasa bergerak . Apa maksud pembicaraan mereka ini? Ilham sama sekali tak mengerti.


"Kau akan dapatkan hadiah yang manis, sayangku!"


Dan kemudian tak terdengar lagi suara apa pun selain suara decapan pertanda kedua orang itu kini terhanyut dalam aktivitas penuh romansa. Lalu Ilham pun perlahan agar tak menimbukan suara meninggalkan balkon itu.


***


Hai, hai ... Makin penasaran kan sama ceritanya? Kalau gitu dilike koment dulu donk yang banya beib novelnya. Dan jangan lupakan ke novelku yanh satunya juga ya..


Doakan agar aku kuat bikin 1 bab lagi hari in biar hutangku 1000 kata lagi lunas pada editor. Happy reading beib ...

__ADS_1


__ADS_2