Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Ilham dan Yola kembali ke N-one. Setelah keduanya rujuk kembali, mereka menyepakati untuk menyembunyikan ini sementara dari semua orang. Ilham khawatir akan keselamatan Yola kalau Mr. Y tahu Yola kembali rujuk dengannya. Sebaliknya Yola takut Mama dan Papanya tau kalau dia kembali dengan Ilham dan mengakibatkan kesehatan sang Mama memburuk. Yola tahu tak akan selamanya mereka bisa menyembunyikan hal ini. Tapi Ilham telah berjanji akan berusaha mendapatkan restu mertuanya itu sembari dia menyelesaikan urusan tentang Andini dan Sonia. Sementara itu biarkanlah hubungan mereka tersembunyi sementara waktu.


Katakanlah Yola egois. Tetapi selama ini dia sudah cukup menuruti semua keinginan Papa. Apa yang Papa mau selalu dia turuti, termasuk kuliah di luar negeri, dan juga berpisah dengan putranya sendiri. Tapi untuk sekali saja dalam hidupnya Yola ingin egois, sekali saja Yola berharap semua orang mengetahui apa yang diinginkannya. Dia hanya ingin bersama pria ini dan juga putra mereka. Yola tak bisa menahannya lebih lama. Bahkan walaupun itu harus menyakiti orang lain. Tentang Hafiz, dia akan memikirkannya nanti.


"Yola, jom balik!" ajak Nadira begitu jam kerja kantor usai.


Seperti biasa setiap sore, Yola akan diantar oleh Nadira dan Leon pulang hingga sampai di depan apartemen Gold Century.


Yola dan Ilham saling melirik. Andai hubungan mereka tak rumit seperti Leon dan Nadira, tentulah mereka akan pergi dan pulang bekerja bersama setiap hari.


"Ilham, kamu nak balik ke Gold Century, kan? Kenape tak kau ajak Yola sekalian?" pancing Nadira.


Dia melakukan itu pastilah sengaja untuk memberikan Ilham kesempatan untuk dekat dengan Yola. Tapi karena Ilham bahkan sudah rujuk dengan Yola dan ingin menyembunyikan hubungan mereka, dia harus bersikap seakan menolak.


"Aku belum mahu balik," jawabnya ketus.


Dan jawaban ketus itu dibalas pelototan tajam dari Nadira.


Dah dibantu, masih jual mahal pula, batin Nadira sebal.


"Aku ikut kalian aja kalau boleh," kata Yola yang tahu situasinya.


"Jomlah! Kite balik sekarang! Ilham kami bertolak duluan!" pamit Leon.


Ilham hanya mengiyakan dengan mengangkat alisnya sementara Nadira masih bersungut-sungut dengan tingkah Ilham yang menurutnya sok jual mahal.


Seperti biasa akhirnya Yola diantar oleh Nadira dan Leon.


"Terimakasih, ya! Sampai jumpa besok di N-one," kata Yola berbasa- basi pada Nadira.


Nadira tersenyum.


"Kami balik dulu," pamit Nadira yang dibalas oleh senyum Yola.


Mobil itu pun perlahan berjalan meninggalkan apartemen Gold Century.


"Hahaha .... Kawan kau tu memang munafik sangat!" kata Leon pada Nadira di tengah derau tawanya.


Nadira mengernyitkan keningnya.


"Tuh, kau tengoklah sana!" kata Leon lagi memonyongkan bibirnya ke arah spion.


Nadira melihat ke spion. Di belakang sana ada mobilnya Ilham yang perlahan masuk ke dalam area apartemen Gold Century.


Nadira merengut.


"Tadi dia kate belum mahu balik. Macam mana Ilham ni?" gerutu Nadira.


"Kau tahu ape artinya tu?" tanya Leon pada Nadira.


Nadira menggeleng bingung.


"Artinya, dia nak sembunyikan hubungan die dan Yola," kata Leon mantap.


Nadira tak percaya.


"Buat ape disembunyikan? Ilham cinta pada Yola. Kalau dia memang kembali bersatu dengan Yola, dia takkan bersusah payah nak sembunyikan mereka punya hubungan," bantah Nadira.


"Ih, kau tak percaya dengan aku? Aku hapal sifat Ilham tu. Tadi ketika kami masih di airport, dia masihlah dalam model cool macam ice saje. Tapi lepas balik ke N-one dengan Yola, kau tak lihat mukanya berseri- seri macam bahgia sangat. Mestilah ada sesuatu yang manis terjadi antara dua orang tu," kata Leon dengan analisanya.


"Manis macam aku?" goda Nadira sambil memonyongkan bibirnya seolah- olah minta dicium oleh Leon.


Leon yang sedang mengemudikan mobil tersenyum sembari memberi sebuah kecupan ringan pada bibir itu.


"Lebih manis isteri aku," gombal Leon.


***


Sementara itu di apartemen Gold Century, Ilham meminggirkan mobilnya tanpa membawanya ke area parkir di basemant. Dia hanya menitipkan mobilnya sebentar pada pihak security karena dia hanya akan masuk sebentar ke unitnya untuk berganti baju. Toh nanti dia akan pergi lagi dengan Yola ke Green House.


Setengah berlari Ilham menuju lift. Lift itu akan menutup namun Ilham berseru.


"Tunggu, tunggu!!"


Yola dan tiga orang yang berada di lift sampai terkejut. Namun seseorang di antara mereka membantu memencet kembali tombol lift agar pintunya terbuka kembali. Ilham segera masuk ke dalam.


"Terima kasih" ucapnya pada yang membantunya itu.

__ADS_1


Lalu tanpa banyak berpikir Ilham pun mengambil posisi di samping Yola dan dengan sedikit malu- malu dia meraih tangan Yola dan menggenggamnya.


Yola sendiri merasa canggung dan sedikit menunduk berpegangan tangan seperti itu di depan orang lain. Astaga lihatlah! Mereka seperti dua anak ABG yang baru merasakan jatuh cinta.


Hingga mereka keluar dari lift, Ilham masih tak melepaskan genggaman tangannya.


"Abang lepasin, Yola masuk dulu. Bukannya kita mau ke rumah Green House. Yola mandi dan ganti baju dulu," kata Yola manakala Ilham tetap mengekor padanya padahal unit apartemennya berada lebih dekat daripada unitnya Yola.


Ilham melepaskan genggaman tangannya. Namun matanya masih tetap intens menatap Yola. Rasanya tak percaya istrinya yang berhati batu ini akhirnya luluh dan mau juga kembali bersamanya.


Yola mengambil kartu akses dari dalam tasnya. Namun belum lagi Yola menggeseknya, Ilham telah memeluknya dari belakang. Lelaki itu menciumi tengkuk belakangnya, sehingga Yola jadi merinding dibuatnya.


"A- abang, ja- jangan di sini. Nanti kalau dilihat orang bagaimana?" protes Yola sambil melirik sepanjang koridor yang sepi.


Meski tak ada orang, di koridor pun ada CCTV yang bisa menangkap kegiatan Ilham yang sepertinya sudah tak bisa menahan diri itu. Yola takut jadi tontonan petugas di salah satu ruang yang memantau setiap Cctv yang dipasang di gedung ini.


"Kalau begitu kita ke dalam saja," kata Ilham masih tak mau melepaskan pelukannya pada Yola.


"Kita juga mau ke Green House, kan?" kata Yola protes.


"Tak. Abang mahu sekarang," kata Ilham bersikukuh. "Buka pintunya, Yola!"


"Ta- tapi ...."


"Tak de tapi- tapi ..." bisik Ilham lembut


Dengan tak sabar Ilham mengambil kartu akses itu dan meggeseknya. Begitu pintu terbuka, Ilham pun menarik Yola masuk dan menutup pintu itu.


"Abang buka sepatu dulu!" perintah Yola saat lelaki itu hendak masuk tanpa membuka alas kakinya.


Yola pun membuka sepatunya dan meletakkannya di rak dekat pintu. Dan Ilham pun mau tak mau harus melakukan hal yang sama.


"Abang mau minum apa? Atau mau kubuatkan makan?" tanya Yola sambil buru- buru ke dapur.


Yola tahu Ilham sedang merasa on fire saat ini. Yola bukannya tidak siap, dia hanya merasa sedikit canggung karena berbagai macam alasan.


Yola segera membuka lemari es untuk mengetahui persediaan makanan apa yang dia punya. Tetapi laki- laki itu sepertinya tak mudah menyerah. Ilham kembali datang dan memeluknya dari belakang.


"Abang tak nak makan. Abang mau makan kamu sahaja," godanya sambil memberi kecupan- kecupan dan sentuhan- sentuhan yang membuat Yola menjadi blingsatan.


Dia ingin menghentikan kegilaan Ilham ini tapi sepertinya itu sulit.


"Nanti malam saje, kita sekalian makan di luar. Sekarang abang dah tak tahan. Abang mahu sekarang, Yola ...."


Yola tau Ilham bukan type lelaki pemaksa yang kasar seperti karakter yang sering berada di novel- novel CEO, tapi Yola tahu Ilham bukan type lelaki yang mudah menyerah apalagi itu soal urusan ranjang. Dia akan terus merayu sampai Yola akhirnya mau. Sama seperti kebersamaan mereka selama 3 hari di 7 tahun yang lalu.


"Em, ab- abang...."


"Hmmmm?" sahut Ilham masih tak menghentikan aktivitasnya itu.


Ilham malah semakin memperdalam ciumannya di ceruk leher istrinya itu. Memanjakan wanita itu dengan eksplorasi tangannya yang menjelajah kemana- mana. Membuat Yola mengeluarkan desahan dan rintihan seperti ini menjadi sebuah hal yang menyenangkan baginya.


Yola hampir tak kuat lagi berdiri akibat serangan foreplay dari Ilham. Wajahnya pun sampai merah padam menahan gelora nafsu sekaligus rasa malu pada suaminya itu.Alangkah baiknya kalau saat ini dia sedang mabuk, jadi dia bisa berdalih, beralasan responnya kali ini hanya dikarenakan pengaruh alkohol untuk mengurangi malunya. Tapi saat ini dia sedang sangat sadar. Dan suara-suara apa tadi yang dikeluarkannya dari mulutnya itu? Apa itu desahan? Astaga, ini memalukan.


Ilham menghentikan sejenak aktivitasnya itu melihat rona merah di wajah cantik itu. Ilham tersenyum.


"Kau seperti malam 7 tahun yang lalu, Sayang. Kau merona, tapi jangan menangis nanti," ledek Ilham.


Yola mencubit bahu Ilham jengkel. Mendengar ledekan Ilham membuat Yola merasa semakin malu. Dia teringat akan malam pertama mereka 7 tahun silam. Bagaimana Ilham menanyakan berulang-ulang kesiapannya saat melakukan hal itu untuk pertama kali dan memperingatkan Yola kalau itu mungkin akan terasa sakit namun Yola begitu yakin menyanggupinya. Namun kenyataannya saat terjadi penyatuan itu, Yola malah menangis sejadi-jadinya.


"Nggak usah diingatin juga kali," kata Yola sambil cemberut.


Ilham tertawa melihat ekspresi Yola saat cemberut, mengingatkannya pada Yola kecil yang suka merajuk saat pertama kali dinikahinya dulu.


"Usah merajuk, Sayang. Abang hanya bergurau je," bujuk Ilham.


Dan bujukan itu pun berhasil saat Ilham menghujani Yola kembali dengan ciuman- ciuman dan perlakuan romantis pada istrinya itu.


Seolah ringan, Ilham pun menggendong Yola untuk dibawa ketempat yang nyaman untuk menuntaskan hasratnya yang sudah tak bisa dibendungnya itu.


"Ruang tengah atau kamar?" tanya Ilham memberi opsi.


"Ka- kamar Abang, aku ma- mau ke kamar," kata Yola terbata.


Ilham tersenyum mendengar jawaban pasrah itu. Dan tak perlu menunggu lama dia pun segera membawa Yola ke kamar dan meletakkan Yola di ranjang, mencumbunya sampai kamar itu dipenuhi suara- suara aneh.


"Yola, abang mulai, ya ...." pamit Ilham meminta persetujuan untuk memasuki Yola.

__ADS_1


Yola mengangguk. Dan baru saja penyatuan itu akan terjadi, tiba- tiba ponsel Ilham berdering.


"Angkat teleponnya dulu," suruh Yola.


"Biarkan je, paling hanya Leon," kata Ilham sedikit kesal karena dering ponsel itu mulai mengganggu suasana romantis antara dia dan Yola.


"Angkat, Abang! Teleponnya bunyi terus. Siapa tau penting," kata Yola.


"Ya ampun, Yola. Biarkan saje abang tuntaskan ini dahulu, nanti abang boleh telepon orang itu balik!" tolak Ilham.


Yola menggeleng dan mendorong Ilham dari atas tubuhnya. Dia tau bagaimana suaminya itu. Suaminya itu tak hanya king devil di N-one, tetapi juga di atas ranjang. Yola tahu apabila Ilham telah memulainya, dia tak akan selesai dalam hitungan menit melainkan dalam hitungan jam.


"Nggak. Abang angkat dulu teleponnya. Kalau memang nggak penting, nanti matikan HP-nya, baru kita lanjut lagi," kata Yola.


Ilham mendengus mendengar kata- kata Yola. Gila! Padahal dia sedang berada di ujung tanduk, malah disuruh angkat telepon segala. Dengan tubuh polos tak mengenakan apa pun, Ilham turun dari ranjang dan mencari ponsel dalam kantong celananya. Ponsel itu masih berdering. Ilham melihat Mama yang menelepon segera mengangkatnya. Andai itu Leon, sudah pasti Ilham akan langsung mematikan teleponnya. Tetapi ini Mamah. Siapa tahu ada apa- apa dengan Ammar, Ilham tak mungkin mengabaikannya hanya karena tak ingin diganggu saat bercinta dengan Yola.


"Iya, Mah. Kenape?" sapa Ilham to the point.


"Kenape? Kenapa tak buka pintu? Sedari tadi Mamah dah pun penat pencet kau punya bell. Mamah ada di depan tak juge kau bukakan pintu! Buka pintunya sekarang Ilham! Kau dengan siape di dalam?" desak Zubaedah terdengar marah.


"Siapa?" tanya Yola setengah berbisik.


"Mamah," sahut Ilham dengan berbisik pula.


Ilham memijat- mijat keningnya, pusing. Mereka saat ini sedang berada di apartemen Yolanda. Tapi saat ini sepertinya mereka belum bisa menunjukkan hubungan mereka pada Mamah. Dan Yola juga tak ingin mertuanya itu berpandangan buruk padanya. Lebih tepatnya mereka memutuskan untuk memberitahu semua orang tentang hubungan mereka saat semua masalah tentang Andini, Sonia, bahkan hubungannya dengan Hafiz selesai tanpa menyisakan masalah.


"Ilham!!! Kau tak nak bukakan Mamah pintu?" tanya Mamah berang. "Jangan kate kau tak de di rumah, haa! Mamah tengok di bawah ade kau punya kereta! Kau di dalam bersama Sonia ke? Mamah dengar dari kawan Mamah, kau dan Sonia bermalam di hotel Royale minggu lalu. Iya ke? Apa maksud kau Ilham? Macam mana Yola boleh balik dengan kite kalau kau macam tu?!"


Ilham melirik Yola.


"Ilham lagi di tandas, Mah! Tunggu sekejab!" kata Ilham sembari mematikan telepon.


"Tak de pilihan lain, abang harus masuk lewat balkoni sekarang," kata Ilham sembari memakai celana boxernya dan keluar dari kamar.


Yola menyambar handuk, dan melilitkannya ditubuhnya dan mengantar Ilham lewat pintu balkon yang berada di belakang.


"Abang yakin mau lewat balkon?" tanya Yola cemas. "Memangnya pintu balkon abang nggak dikunci?"


Mereka ada di lantai 9 saat ini, dan itu lumayan tinggi.


"Abang jarang kunci. Abang mesti lewat sini, kalau tak mahu Mamah tahu hubungan kite saat ni," kata Ilham.


"Abang, nanti abang jatoh," rengek Yola cemas. Tapi bagi Ilham itu menggemaskan.


"Biasa kau tak takut jadi jande, tapi baru sahaja rujuk berapa jam dengan abang, kau dah takut abang mati?" goda Ilham.


"Abang apa sih? Nggak lucu tau!" Yola merengut sebal.


"Tak, sayang, abang akan hati- hati," kata Ilham sambil mengelus rambut Yola.


Dan jadilah Ilham naik ke tembok balkon dan berjalan dengan sangat hati- hati ke balkon sebelah, yakni balkon apartemennya.


Nun jauh di bawah sana, Leon dan Nadira baru selesai makan di sebuah resto dan tak sengaja menatap ke arah Ilham yang sedang nemplok di tembok balkon dan merayap pelan- pelan menyeberangi balkon. Dan nampak seorang wanita yang kelihatannya memakai handuk ada di sana.


"Kau tengoklah tuh di sana sana ade siape?" kata Leon dengan Nada meledek pada Nadira.


Dia menunjuk ke arah apartemen Ilham.


"Siape?" Nadira tak mengerti.


"Kawan kautulah, siape lagi?"


"Ilham? Bagaimana mungkin?"


"Aih, kau nih tak percaye suami kau sendiri. Itu apartemen yang aku disuruh beli oleh Ilham. Di sebelahnya apartemen Yola. Percaya padaku, itu Ilham!"


Nadira memang belum pernah mampir ke apartemen Yola atau Ilham, meskipun hampir tiap hari dia mengantar jemput Yola ke Gold Century.


Nadira memicingkan mata untuk melihat lebih seksama objek yang terlihat kecil itu. Sepertinya wanita yang memakai handuk itu memang Yola. Astaga, dua orang itu!


"Terus bikin ape Ilham berjalan lewat balkoni?" tanya Nadira heran.


Dan Leon hanya mengangkat bahu, pertanda dia tidak tau.


***


Hallo Reader, jangan lupa like koment, votenya ya .... Selain itu bisa menyemangai author, itu juga bisa membantu performa author di aplikasi. Ayolah jom dukung author di aplikasi ini. Jangan pelit sangat...

__ADS_1


__ADS_2