
Hafiz buru-buru mematikan panggilan teleponnya dengan Ilham dan segera mengantongi ponsel yang dipinjam oleh Yuri pada petugas hotel agar dia bisa menelepon Ilham. Di luar toilet seseorang sedang marah-marah pada karyawan toko yang dimintai tolong oleh Hafiz untuk berjaga dan tak membiarkan seorang pun masuk saat dia masih menelepon di dalam toilet.
Hafiz tak mengerti apa yang dibicarakan mereka. Mungkin karena mereka memakai bahasa Khmer yang tidak dimengerti olehnya. Namun Hafiz sepertinya bisa menyimpulkan kalau pria yang bertengkar dengan karyawan toko itu pastinya sedang marah karena keinginannya ingin buang hajat di toilet dihalang-halangi oleh karyawan toko. Ahh, dia jadi merasa tak enak hati karenanya.
Hafiz masih sempat melihat lelaki itu melotot dengan marah dan memandangnya bergantian dengan karyawan toko dengan tatapan tuduhan dan ... jijik? Oh, ya ampun! Mungkinkah orang itu mengira antara dia dan si karyawan toko ada something yang ...?
Memikirkannya membuat Hafiz segera mengembalikan ponsel itu pada karyawan toko sekaligus menanyakan apa dia masih boleh meminjam ponsel pria itu besok-besok? Dan lelaki itu nampaknya tidak keberatan sama sekali sebab saat Yuri mengutarakan maksudnya meminjam ponselnya Yuri telah memberikannya sejumlah uang yang cukup besar, kira-kira sebesar gaji bulanannya. Dan tentu saja karyawan toko itu semakin senang saat Hafiz memberikan lagi padanya beberapa lembar mata uang Cambodia dengan pecahan masing 15.000 riel. Siapa yang tidak senang coba?
Usai menyelesaikan urusannya dengan pria itu, Hafiz pun kembali ke mejanya bersama Yuri tadi.
"Udah nggak sakit lagi perutnya?" tanya Yuri dengan senyum dik*lum.
"He em. Lega rasa abang ni," selorohnya.
"Cieee, yang merasa abang ..." goda Yuri.
Dan begitulah, mereka berusaha terlihat seakrab mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan Lucas.
Dalam hati Yuri sebenarnya kebersamaannya dalam beberapa hari terakhir dengan Hafiz, entah mengapa telah membuatnya memiliki rasa yang lebih dan tak seharusnya ada. Jauh dalam lubuk hatinya dia merasa alangkah bagusnya andai Hafiz tak hanya menganggap mereka bersandiwara saat ini. Alangkah bagusnya andai sikap yang ditunjukkan Hafiz tulus apa adanya. Seperti dia yang tadinya menganggap kalau ini hanya sebuah kesepakatan di antara mereka, entah mengapa merasakan ketulusan yang tak pernah direncanakannya pada pria ini. Dan ... ini untuk pertama kalinya. Karena yang kemarin-kemarin, dia hanya berakting, sumpah. Tapi sekarang ... mungkinkah dia mulai jatuh hati pada mantan orang gendut ini? Tidaaaaak!
Sementara itu dengan Hafiz, dia mulai mencuri-curi pandang pada Yuri yang disalahpahami Yuri sebagai wujud dari rasa yang hampir sama dengan yang dia rasakan. Padahal yang sebenarnya adalah Hafiz melirik-lirik padanya, mencuri-curi pandang tak lebih dari sekedar rasa ingin mengukur dan menimbang-nimbang apakah sebaiknya dia mencari tahu tentang Montha Somnang pada Yuri.
Kalau dilihat dari cara Ilham menyuruhnya mencari tahu tentang Montha Somnang, besar kemungkinannya ini pasti masih berkaitan dengan Lucas. Sejauh ini yang tampak paling memusuhi Atok hanya pria itu. Dan apa tadi Ilham bilang? Patung Emas? Apa itu? Korelasinya dengan Montha Somnang apa? Mungkinkah jika Yuri mengetahui juga tentang hal-hal seperti ini andai benar itu menyangkut Lucas. Baiklah dia akan menyelidikinya.
"Yuri, lepas kite dari Indopenh Grup hari ni macam mana kalau kite bermalam kat hotel lain sahaja?" tanyanya.
"Huh?" Yuri termangu. Apa maksud Hafiz ingin bermalam di hotel lain?
Sejenak Yuri hampir salah paham. Tetapi saat melihat kode mata yang diberikan oleh Hafiz dia mengerti, kalau Hafiz melakukan ini semata-mata karena ada yang ingin dibicarakannya secara pribadi yang dia tak ingin sampai pembicaraan mereka diketahui oleh Lucas oleh alat penyadap dalam hotel. Tetapi kenapa harus menginap di hotel lain? Biasanya mereka hanya perlu pergi ke wahana bermain untuk bisa berbicara bebas berdua tanpa merasa khawatir pembicaraan mereka terdengar oleh Lucas dan anak buahnya.
"Kenapa harus di hotel lain?" tanya Yuri seolah-olah tidak mengerti tujuannya.
__ADS_1
Hafiz meng*lum senyumnya.
"Ade hal yang mesti saye sampaikan pada kau, Yuri. Dan saya merase tak baik bila orang dari syarikat yang disuruh mendampingi kite tahu kalau kite melewatkan malam bersama," jawab Hafiz dengan senyum penuh makna.
"Cieee, memang mau menyampaikan apa, Bang Hafiz sampai harus menginap segala?Mau ngungkapin cinta sama aku ya?" gelak tawa Yuri terdengar bercanda meski pun sebenarnya Yuru berharap candaan itu menjadi kenyataan.
"Adelah tu, nanti kau akan tahu sendiri," jawab Hafiz penuh makna.
Dan seperti yang direncanakan oleh Hafiz semua berjalan lancar. Yuri bahkan spesial meminta ijin pada Lucas untuk menginap di hotel lain. Tentu saja dia harus meyakinkan pria tua itu, kalau ini hanya demi kesuksesan misi mereka. Yaitu membuat Hafiz jatuh cinta pada Yuri dan membujuk Hafiz untuk setuju pada hal-hal yang memberi keuntungan pada Lucas nantinya.
"Kenapa nggak di hotel yang saya sediakan saja?" tanya Lucas.
"Dia yang meminta di hotel lain, Pak. Mungkin nggak nyaman dengan orang suruhan yang bapak tunjuk untuk memenuhi semua kebutuhan kami sepanjang di sini. Dan lagi pula ... saya juga butuh sedikit privacy," katanya lirih.
Lucas tersenyum menyeringai.
"Privacy? Hmm, jangan bilang kalau kamu sudah benar-benar suka sama bocah itu?!" tebaknya.
"Baiklah." Lucas manggut-manggut. "Bukan urusanku kamu suka dengan pria mana pun, tetapi harus tetap kamu ingat tanggung jawab yang kuberikan padamu. Misi kita menguasai N-one harus tetap terwujud. Pastikan sepulang dari Kamboja, posisi CEO N-one harus tetap kamu yang pegang."
Yuri mengangguk dengan ekspresi meyakinkan.
"Ya, saya tahu. Itu akan tetap jadi prioritas saya," janjinya meski dalam hatinya dia tak sungguh-sungguh.
Yuri tahu posisi ketua pengarah N-one, sangat beresiko baginya saat ini. Dia tidak mau berjudi akan hal itu pastinya. Dia hanya ingin lepas dari lucas, dan melarikan diri tentunya. Kasus pembunuhan yang dilakukannya terhadap Tengku Yahya Nirwan, meski belum ketahuan sampai saat ini, adalah kasus yang serius.
Dan di hotel inilah Yuri dan Hafiz berada sekarang.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan sampai memilih hotel lain untuk bicara seperti ini?" tanya Yuri setelah dia merasa aman untuk bicara di tempat ini.
Ini hotel yang dipilih Hafiz secara random tanpa reservasi terlebih dahulu. Jadi tak mungkin Lucas bisa memasang apa pun di sini untuk memata-matai mereka. Ponsel pun sengaja mereka tinggal di hotel yang disediakan Lucas.
__ADS_1
"Yuri? Ape kau tahu tentang sesuatu bernama Montha Somnang?"
Deg!
Yuri tak menyangka kalau Hafiz akan menanyakan tentang itu.
"Maksud saye, kau sebagai anak angkat Lucas mestinya tahu sikit atau banyak tentang perkara dia dan Atok Yahya. Tentang macam mana dia boleh dapatkan saham punya Atok, itu bukan dengan cara yang baik, kan?" tebak Hafiz.
Yuri rasanya membeku.
"Tapi usah khawatir, aku tak akan bertanya pasal saham. Cukup bagi tahu aku, ape itu Montha Somnang, dimane aku dapat berjumpa Montha Somnang tu. Yuri, bagi tahu aku information tentang Montha Somnang tu," bujuk Hafiz lembut seraya meraih tangan Yuri.
Yuri gelagapan saat Hafiz tak cuma meraih tangannya namun juga mengelus lembut punggung telapak tangan itu.
"Ha ... Hafiz ..."
Yuri mengutuki dirinya sendiri tak bisa menolak godaan Hafiz.
"Bagi tahu sikit ..." bisik Hafiz lirih sambil mendekatkan wajahnya ke arah telinga Yuri, mengendus-endusnya. Dan sesekali meniup telinga Yuri dengan napas hangatnya.
Sungguh strategi yang membuat Hafiz jijik melakukannya sebenarnya, tetapi tidak ada cara lain. Dia harus memanfaatkan pesonanya kali ini untuk membuat Yuri tunduk. Sebab Hafiz tahu, selicik apa pun Yuri, dia hanya seorang wanita yang tidak akan berdaya jika dirayu oleh orang yang disukainya. Wait ... dari mana Hafiz tahu kalau Yuri menyukainya? Hanya dengan insting dan kepekaan tentunya. Dan dia merasa Yuri menyukainya. Semoga dugaannya benar.
Yuri masih bertahan untuk tidak tergoda, namun serangan dari Hafiz yang bahkan mulai berani menyentuh pipinya dan hampir menyentuh bibirnya membuat pertahanannya runtuh.
"Hafiz, coba kamu ingat-ingat lagi, bukannya waktu itu Atokmu bilang Montha Somnang masih ada di kapal Yolanda?"
Yuri tak sadar, secara tidak langsung dia telah melakukan kesalahan besar.
****
Jangan lupa like dan komentnya ya ...
__ADS_1