
Ucapan Ilham sontak membuat terkejut semua yang ada di situ. Tak terkecuali Abimanyu bahkan Yola sendiri yang tak menyangka kalau Ilham akan secepat itu memberitahukan kabar kehamilannya pada papanya. Dan bisik- bisik karyawan disitu semakin menyempurnakan ketegangan di ruangan itu.
"Apa? Mengandung?" tanya Abimanyu sambil memicingkan matanya tak percaya. "Yola!!!!"
Bentakan Abimanyu terdengar menggelegar ke seantero ruangan itu.
Nyali Yola seketika langsung menciut. Ya Tuhaaaan, bagaimana ini? Bagaimana? Terlebih- lebih kini sang Papa mulai berpaling padanya. Menatapnya tajam, seakan ingin menelannya hidup- hidup.
"Kamu hamil? Iya???!! Dengan pria ini???!!" teriak Abimanyu penuh dengan amarah sambil mencengkram tangan Yola.
Yola meringis kesakitan.
"Papa, papa .... Kita bicarakan ini di ruanganku saja, Pa," kata Yola memohon. Dia merasa malu saat ini.
Yola merasa ini seperti flashback 7 tahun lalu, saat Abimanyu mengetahui kalau Yola sedang hamil. Sama dengan kali ini, waktu itu pun Abimanyu sangat marah sekali.
Abimanyu menyentak tangan Yola dengan kasar.
"Kau memang anak tidak tau diri. Mau berapa kali lagi kamu bikin Papa dan keluarga kita malu, hah?!" kata Abimanyu dengan geram.
Ilham merasa keberatan istrinya diperlakukan seperti itu meski oleh mertuanya sendiri.
"Papa! Aku rase Papa sungguh sudah sangat kelewatan. Yola isteri aku, dia mengandung anak aku, suami dia sendiri. Bukan anak pria lain," kata Ilham tak kalah geram.
Dengan cepat Ilham menarik tangan Yola dan melindunginya di belakang tubuhnya.
"Oh, ya? Jadi menurutmu begitu?" balas Abimanyu sinis. "Sebelum kau menikahi Yolanda dulu, bukannya sebelumnya aku telah menanyakan padamu kesediaanmu menikah dengan putriku? Kau bersedia dan menyanggupinya. Tetapi, setelahnya kau mengkhianati putriku dan menikah lagi dengan orang lain setelah membuat putriku hamil dan kini kau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kau anggap keluarga Gunawan tak punya harga diri, heh?"
"Aku punya alasan kenapa aku berbuat macam tu Papa. Aku tak de niat menyakiti Yola apalagi nak mengkhianati dia. Papa Abi sangat tahu macam mana merasa bersalahnya aku mase tu. Aku tak de niat sama sekali untuk tinggalkan Yolanda. Aku dah berusaha untuk bertanggung jawab ketika Yola mengandung Ammar. Tapi Papa tak nak memperbolehkan aku bertemu isteri aku. Papa pisahkan kami selama 7 tahun ni, bahkan aku kejarkan Yola ke Pensylvania pun, Papa tempatkan bodyguard untuk jagakan Yola. Macam mana aku boleh bertanggung jawab untuk anak isteri aku?"
"Kamu memang pintar membela diri. Tapi tidak! Keluarga Gunawan tidak akan tertipu oleh keluarga Nirwan untuk kesekian kali. Cukup aku mempercayakan putriku satu kali padamu. Tapi tidak untuk kedua kalinya. Yola!!! Ikut Papa pulang!!!"
Dengan paksa Abimanyu segera menarik Yola yang bersembunyi di belakang Ilham. Ilham berusaha menahannya, tetapi Abimanyu yang kalap malah melayangkan bogem mentah pada Ilham dan memukuli menantunya itu dengan membabi buta.
"Papa! Papa! Jangan ...! Papa, udah!!! Sudah Pa!!!" teriak Yola berusaha menghentikan kegilaan Abimanyu menghajar Ilham.
__ADS_1
Beberapa kali malah dia sampai terkena pukulan Abimanyu juga. Sementara Ilham sendiri memilih untuk tidak balas memukul karena dia mempertimbangkan soal hubungannya dengan Abimanyu. Bagaimana pun Abimanyu adalah ayah dari Yolanda, istrinya. Dan hubungan mereka saat ini sedang tidak baik. Apalagi kalau dia balas memukul nanti. Bisa- bisa hubungan mereka bisa lebih runyam nanti.
"Sudah, Pa! Sudah!!"
Yola sampai terengah- engah melerai perkelahian menantu dan mertua itu. Dia bahkan sampai terkena pukulan dibagian punggung dan pundaknya.
"Ikut Papa pulang!!!"
Abimanyu pun tanpa menunggu lama segera menyeret putrinya itu dari sana. Yola pun nampaknya sudah pasrah dengan apa yang menimpanya hari ini. Dia tidak sanggup melihat Ilham dipukuli papanya sampai babak belur seperti hari ini. Oleh karena itu dia pun tak berusaha melawan lagi saat Abimanyu menariknya kasar dari sana.
Tapi sekitar 10 langkah lagi mereka mencapai pintu lift, tiba- tiba saja Ammar keluar dari dalam lift didampingi oleh pengasuhnya.
"Mommy?!"
Ammar tertegun melihat sang Mommy yang diseret- seret oleh pria tua. Ammar bisa membedakan tua atau tidak dari tatanan rambut Abimanyu yang sebagian memperlihatkan warna rambutnya yang mulai putih keperakan.
"Am- Ammar?" Yola terbata menyebut nama putranya itu.
Terlihat oleh Ammar bening berair di pelupuk mata sang bunda.
Kemudian bocah berusia 6 tahun itu pun dengan berani berlari dan langsung mendorong Abimanyu sekeras yang dia bisa, meski tenaganya yang tidak seberapa itu hanya bisa menggeser sedikit pertahanan Abimanyu.
"Lepaskan Mommy aku! Lepaskan!!!" teriaknya dan menggigit tangan Abimannyu yang mencengkram kuat pergelangan tangan Yola.
Abimanyu sempat meringis tak menyangka akan diserang mendadak seperti itu.
"Kau!!!" teriak Abimanyu tak kalah marah.
"Mom, Mommy tak ape?" tanya Ammar terlihat kasihan dengan kondisi sang Mommy.
Yola menggeleng lemah dan memeluk Ammar.
"Mommy tak apa- apa, sayang," jawab Yola sembari melirik papanya yang sedikit shock karena melihat Ammar.
"Mom, kite mesti panggil polis untuk tangkap Atok jahat ni. Dia mestilah dihukum kerana berbuat tak baik dengan Mommy. Dad?"
__ADS_1
Perhatian Ammar teralihkan pula pada Ilham yang kini berjalan tertatih ke arah mereka. Penampilan Ketua Pengarah N- one itu kini terlihat kusut dari sebelumnya Terlihat memar di pipinya, kerah bajunya kusut karena dicengkram oleh Abimanyu tadi. Benar- benar mertua yang bar-bar.
"Daddy pun dipukul juge dengan Atok jahat ni?" tanya Ammar tak percaya.
Ilham dan Yola bingung untuk menjawabnya. Namun Ammar kecil segera tahu kalau memang orang tua di depannya inilah pelakunya yang telah berani memukul Daddy-nya dan menyeret- nyeret Mommy-nya hingga menangis.
Dengan marah Ammar mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan luas itu. Saat dia melihat ada sapu di pinggir pintu, segera anak itu kembali dan memukulkan gagang sapu pada Abimanyu.
"Pergi!!Pergi kau dari sini, orang jahat!!! Jangan ganggu Mommy dan Daddy aku!" katanya dengan marah.
Abimanyu berusaha mengelak mendapat pukulan sapu bertubi- tubi dari Ammar. Sementara itu Ilham dan Yola yang tak menyangka Ammar akan seberani itu, berusaha segera menghentikan Ammar. Yola memeluk anak sulungnya itu sementara Ilham mengambil sapu yang dipegang oleh Ammar.
"Ammar jangan!!!" tegur Ilham tegas.
"Why, Dad? Dia jahat padamu. Dia memukulmu. Aku nak balaskan Atok jahat ni!!"
"Ti- tidak, Sayang. Dia adalah kakekmu. Dia Atok juga. Dia adalah papanya Mommy, Daddy-nya Mommy," kata Yola mencoba menerangkan.
Mendengar itu Ammar malah semakin lebih berang.
"Oh, kalau macam tu dialah Atok jahat yang telah pisahkan Ammar dan Mommy saat Ammar masih baby?" tanya anak itu geram.
Yola terperangah. Setahunya Ammar hanya mengenalnya sebagai aunty yang kebetulan menemukannya di depan apartemen. Dan ini Ammar tahu darimana kalau dia dipisahkan dari Yola sejak masih bayi?
"Sayang, kau tahu .... kalau Mommy adalah Mommy kandungmu?" tanya Yola hati- hati.
Ammar mengangguk.
"Ammar tahu, Mom. Kau adalah Mommy Ammar satu- satunya di dunia. Mommy Yolanya Ammar," kata bocah itu.
Dan tak menunggu lama, bocah itu kini telah berada di pelukan Yola.
"Syukurlah, syukurlah kalau Ammar tahu. Mommy kira Ammar tak tahu kalau Mommy adalah orang yang mengandung dan melahirkan Ammar," kata wanita itu lega.
Tak terasa air mata haru mengalir deras di pipinya. Tak lagi dihiraukannya Abimanyu dan semua orang yang berada di situ menatap mereka ibu dan anak dengan berbagai rasa tak menentu.
__ADS_1