Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Trust Me, Please...


__ADS_3

"Sayang, Ammar. Kamu sudah kenyang?" tanya Yola saat melihat anak di hadapannya ini meletakkan sendok dan garpunya di atas piring kosong.


"Ya. Aunty. It's very delicious. I like it. Lain kali Ammar mau makan lagi di sini," katanya.


"You like it? I'm happy then. Lain kali Aunty akan masakin yang lebih enak dari ini. Sayangnya malam ini hanya ada telur,"kata Yola sembari mengusap sedikit saos yang menempel di ujung bibir Ammar.


Mendapat perhatian seperti itu Ammar merasa sangat disayang dan diperhatikan. Rasanya ia tak ingin melepaskan lagi Mommy Yola. Dia akan membuat Mommy Yola memaafkan Daddy apa pun yang akan terjadi.


"Lain kali? Bile begitu, bolehlah Daddy ikut makan di sini, Aunty?" tanyanya penuh harap.


"Ehm ...." Yola jadi bingung menjawabnya.


Dia tidak mengenal Ayah anak itu bagaimana mungkin dia akan mengundangnya makan si rumahnya? Bahkan makan di luar pun akan terlihat kurang pantas karena Yola bahkan tidak tahu status lelaki itu sudah bercerai atau tidak dengan Mommy Ammar. Bahkan seandainya pun lelaki itu sudah bercerai, tetap saja tidak pantas dia mengundangnya makan di rumahnya. Yola juga adalah wanita yang pernah menikah. Bahkan sebenarnya dalam hatinya pun ia tak benar- benar merasa telah berverai dengan Ilham. Ah, dia mengingat laki- laki itu lagi.


"Aunty .... Boleh tak?" rengek anak itu.


"Ehm... Boleh. Tentu saja boleh," jawab Yola gelagapan.


"Thank you, Aunty. Daddy pasti gembira mendengarnya," kata Ammar yang hanya bisa dibalas senyuman terpaksa oleh Yola.


"Tapi btw sayang, karena aunty tidak tahu akan mengantarmu ke unit Daddymu. Jadi besok pagi bagaimana kalau Aunty antar kamu ke sekolahmu saja? Kamu sekolah di TK mana?" tanya Yola.


"Ape itu TK, aunty?Ammar tak paham pun." tanyanya polos.


"TK itu kalau di Indonesia Taman kanak- kanak. You know kindergarten? TK adalah kindergarten," kata Yola menjelaskan.


"Owh .... Ammar sekolah di Tadika Ceria. Kat sini kindergarten namanya Tadika, Aunty."


"Oh begitu? Maafkan Aunty yang kurang pengetahuan, sayang. Btw, besok aunty antar kamu ke Tadika Ceria. Kalau sekarang, sepertinya percuma karena ini sudah malam. Dan aunty juga tak mungkin mengetuk pintu apartemen satu persatu. Kamu tahu unit apartemen disini jumlahnya puluhan, mungkin juga ratusan," kata Yola.


"Percuma?" tanya Ammar bingung. Setahunya percuma berarti gratis.


"Maksud aunty sia- sia," kata Yola meralat kata- katanya.


"It's okey. No problem, aunty. Terima kasih dah bolehkan Ammar tidur kat sini malam ini," ucap Ammar.


Yola mengangguk dan tersenyum sambil mengacak-acak rambut Ammar. Itu membuat Ammar tersenyum. Sepertinya Daddy dan Mommynya punya kesenangan yang sama yaitu mengacak-acak rambutnya.


Setelah itu Yola pun kembali sibuk mengurusi masalah kerjaan dengan laptopnya sementara Ammar asyik pula menonton televisi. Tak lama suara bel pintu berbunyi,Yola segera keluar. Dia memang memesan satu stel pakaian tidur anak- anak melalui aplikasi belanja online. Dan benar saja, ternyata itu kurir yang datang mengantarkan pesanannya.


"Ammar, kamu ganti baju dahulu. Seragam sekolahmu biar aunty lipat biar nggak kusut dipakai lagi untuk besok," kata Yola sembari membantu Ammar mengganti bajunya.


Ammar segera menurut dan memakai piyama tidur yang diberikan oleh Yola. Itu adalah piyama tidur berwarna hitam dengan motif bintang berwarna kuning.


"Terlihat pas di badanmu. You're very- very cute and handsome, Boy. Orang tuamu pastilah juga sangat tampan dan cantik. Aunty benar?" puji Yola.


"Ya, You totally right, Aunty. My Daddy handsome sangat. Mommy ku pun lebih-lebih very- very beautiful," jawabnya bangga.


"Aunty bisa melihat itu dari dirimu, sayang," kata Yola. "Sekarang kamu tidur, ya. Besok Aunty antar kamu ke sekolahmu."


Ammar mengangguk senang.


"Aunty, can you hug me?" Tanyanya. "Ammar biase tak boleh tidur kalau tak dipeluk Daddy."


Ammar benar-benar pintar memanfaatkan situasi agar bisa memeluk ibu kandungnya itu.


Yola sendiri tak keberatan dengan itu meskipun sesungguhnya ia heran kenapa anak itu tak merasa canggung sama sekali dengannya.


"Oke, dear. Sini Aunty peluk," kata Yola sembari ikut membaringkan dirinya di tempat tidur.


Dengan posisi menyamping Yola memeluk Ammar sambil menepuk-nepuk pundaknya. Yola benar- benar merasa bagai seorang ibu yang sesungguhnya.


Hingga beberapa menit kemudian Yola baru kepikiran untuk menanyai siapa nama ayah dari anak itu. Setelah memandang ulang beberapa kali wajah Ammar yang tertidur entah kenapa Yola merasa anak itu sangat mirip dengan Ilham saat tertidur.


"Sayang, boleh Aunty tahu siapa nama Daddy kamu?"


Yola mengelus pipi Ammar untuk membangunkan anak itu. Tapi sayangnya Ammar telah berlayar ke pulau mimpi.


Pelan- pelan Yola melepaskan pelukannya pada Ammar. Setelah itu ia segera berdiri dan segera beranjak kembali ke ruang tamu untuk menyelesaikan kembali tugasnya.


Di saat ia sedang sibuk mengetik beberapa perencanaan untuk supermarket pinggir utara kota, bel apartemennya kembali berdering. Itu membuat Yola terpaksa menghentikan sejenak pekerjaannya. Segera ia bergegas ke pintu dan melihat siapa yang datang lewat monitor intercom bel pintu.


Yola terkejut melihat siapa yang datang. Itu Ilham! Ya Tuhan, apa yang dilakukannya di sini? Setahunya belum ada yang tahu dia pindah ke apartemen ini selain Hafiz.


Dengan ragu Yola menyambungkan intercom bel pintu itu untuk menyapa Ilham.


"Ya, ada apa?" tanya Yola.


Dalam hati Ilham tersenyum mendengar suara itu meski dia belum melihat tuan rumah.


"Maaf kalau saya mengganggu, Puan, saye kehilangan putra saye. Dia bernama Ammar. Orang di rumah Atok saye tak berjumpr dengannya saat nak jemput dia di Tadika. Dan tadi saye bertanya pada pihak announcement, katanye puan menemukan putra saya Ammar dan menyuruh saye untuk nak jemput di unit, Puan. Bolehkan saye bertemu anak saye?"

__ADS_1


Deg! Apa? Ilham bilang Ammar yang di sini adalah putranya? Yang artinya putra Yola juga.


Ya Tuhan, Ammar-ku! Dia benar- benar Ammarku, batin Yola. Rasanya dia ingin menjerit mengungkapkan semua perasaannya. Rasa bahagia, sedih, merasa bersalah dan menyesal bercampur aduk menjadi satu.


Tak butuh waktu lama bagi Ilham untuk menanti, dalam hitungan menit, pintu dengan double door itu pun terbuka. Lalu dengan aktingnya pun Ilham juga seperti terkejut dan tersentak melihat Yola.


"Yol- Yola!" pekiknya dengan dramatisasi yang maksimal.


Yola menatap Ilham berkaca- kaca.


"Ape kau bikin di sini, Yola?" tanya Ilham.


Yola berusaha mengusap air matanya yang hampir jatuh.


"Katakan. Dia Ammar anakku bukan?" tanyanya tak mempedulikan ekspresi keterkejutan Ilham.


"Kenape kau bertanya macam tu? Ammar adalah puteraku. Kenape dia boleh jadi putramu? Bukannya selama ini, kau tak pernah pedulikan dia? Lalu apa ini? Kenape dia ada bersama kau? Siasat apa yang kamu bikin ni?" tanya Ilham dengan ekspresi marah.


"Kamu bilang dia putramu? Lalu, kamu sendiri kenapa mengabaikannya? Kenapa bisa dia bisa tinggal sendirian dengan Atok? Kau kemana? Kamu lebih mementingkan tinggal dengan istrimu tanpa mempedulikan Ammar? Kenapa Ammar bisa tersesat tanpa kalian tahu? Dia bahkan mencarimu ke apartemen ini? Dia tidak tahu di flat berapa kamu tinggal. Apa menurutmu kamu pantas disebut sebagai Ayah?" serang Yolanda balik.


Dia benar-benar murka sekarang. Tapi Ilham tak peduli. Dia menerobos masuk dan memeriksa kedua kamar di unit Yola. Dia menemukan Ammar di kamar salah satunya yang sedang tidur dengan menggunakan baju piyama baru. Sementara tadi Ilham tahu kalau Ammar memakai baju seragam saja.


Dalam hatinya ia bahagia mengetahui kalau Yola ternyata sangat peduli pada Ammar meski dia belum tahu kalau Ammar adalah putra kandungnya. Tapi demi kelancaran misinya, dia harus tetap pura- pura marah pada Yola.


"Ammar, mari bangun. Daddy datang nak jemput Ammar," kata Ilham seraya menggendong tubuh Ammar.


Yola yang datang dari belakang segera menghalangi Ilham.


"Tunggu dulu, kau tak boleh membawanya. Dia sedang tidur!" kata Yola berusaha menghalangi Ilham.


Entah kenapa saat ini dia tak mau berpisah dengan putranya itu.


"Kenape? Kenape aku tak boleh membawanya. Aku daddynya- dia anak aku," kata Ilham bersikeras.


Dan di saat- saat genting seperti itu, Ammar pura- pura terbangun dari tidurnya. Dengan mengerjap-erjapkan matanya berulang kali, anak lelaki itu memandang Ayahnya.


"Daddy?" tanyanya.


"Iya. Ini daddy, Boy. Kita harus pulang sekarang." kata Ilham.


"Tapi Dad. Ammar masih nak di sini dengan Aunty," rengek Ammar.


Dan kini Ilham menurunkan putra semata wayangnya itu. Ilham terlihat mendelik tidak senang.


"Ya, aunty ini karyawan N-one. Dia bawahan Daddy." jawab Ilham datar.


Sementara Yola terlihat kesal pada Ilham. Kenapa Ilham tak memperkenalkannya sebagai ibu kandungnya?


"Owh, syukurlah. Tadi Ammar kire dia Mommy Yola. Ammar benci Mommy Yola! Syukurlah, kalau aunty bukan mommy aku. Mommy aku itu jahat sangat!"


"Sayang, kenapa kamu ngomong begitu? Mommy kamu nggak mungkin begitu ...." kata Yola dengan mata berkaca- kaca.


"Aunty Mommy tak sayang Ammar. Dia ninggalin Ammar, Aunty."


"Mommy kamu pasti punya alasan sayang ...." bujuk Yola.


"Ammar, kita go home to apartement Daddy ...." kata Ilham sambil menggendong putranya itu.


Yola mengikuti Ilham dan Ammar keluar.


"Ammar ...." panggil Yola.


"Aunty, Ammar nak balik dulu," pamitnya.


Tanpa peduli pada Yola, Ilham segera menggendong Ammar keluar. Yolanda menatap kepergian mereka dengan hati pedih. Tapi eh ....


Tiba- tiba saja Yola melongo heran melihat Ilham menghentikan langkahnya di depan pintu unit apartemen di sebelahnya. Tak percaya, dia melihat Ilham menggesek access cardnya dan masuk ke dalam unit apartemen itu.


Dengan sigap Yola berlari menyusul Ilham dan Ammar ke unit apartemen di sebelahnya. Dengan tergesa- gesa Yola memencet belnya.


Ilham di dalam apartemennya melihat siapa yang datang di monitor, menjadi tertawa girang melihat Yola. Yola yang keras kepala dan arogan akhirnya luluh juga dan mendatanginya dengan sendirinya.


Merasa misi pertama mereka berhasil Ilham dan Ammar pun melakukan tos.


"High five, Bro!" kata Ilham sembari memberikan telapak tangannya pada Ammar.


Ammar pun dengan girang menyambutnya dan menyatukan kedua telapak tangan mereka.


"Dad, Daddy yakin Mommy Yola akan kembali pade kite?" tanya Ammar.


"Pasti sayang! Now, go to bed room. Daddy nak bicara dengan Mommy dulu," kata Ilham. Ia mulai berisik dengan bunyi bel yang dibunyikan Yola secara terus menerus.

__ADS_1


"Oke, Dad!"


Ammar segera meninggalkan ayahnya dan pergi ke kamar. Bagaimana pun Mommy dan Daddy-nya harus bersatu kembali, begitulah pikirnya.


Sepeninggalan Ammar, Ilham segera membuka kembali pintu apartemennya. Dengan melipat tangan di dada, dia menatap Yola tak berkedip.


"Why? Ada urusan job yang mesti kita rundingkan?" tanyanya.


Yola menghela napas frustasi. Dia tak mengerti kenapa pada akhirnya dia berada di sini, di hadapan laki- laki ini.


"Ini bukan kantor, jadi yang mau saya bicarakan bukan urusan pekerjaan," jawab Yola.


"Lalu?" pancing Ilham.


"Ini tentang Ammar," jawab Yola.


"Puan Yola, Ammar adalah puteraku."


"Dia juga putraku!" balas Yola.


Ilham tersenyum penuh arti. Dia lalu mempersilahkan Yola untuk masuk.


"Sila masuk," kata Ilham.


Kali ini Yola dengan patuh menurut, mengikuti Ilham masuk hingga duduk di sofa. Yola memilih duduk berhadapan dengan Ilham.


"Jadi, kau dah pun mengaku pabile kau telah berkahwin dengan aku? Bukannye ketika session wawancara kamu kate kamu belum pernah berkahwin?" serang Ilham.


Brengsek ini, pikir Yola. Bukannya dia yang membuatku seperti ini? Terus kenapa seolah- olah aku yang salah?


"Maaf Ketua Pengarah Utama Tuan Ilham, anda tau persis kenapa saya berkata seperti itu. Kalau saya berkata telah menikah dan pewawancara menanyai suami dan anak saya, menurut anda apa saya harus berkata kalau saya telah menikah dengan anda?" tanya Yola jengkel.


"Cakap sahaja ape masalahnya?"


Yola menggertakan giginya.


"Masalahnya aku dan kamu sudah bercerai!" jawab Yola dingin.


"Semenjak kapan? Pabile aku jatuhkan talak terhadap kau, Yolanda?"


"Kau memang tidak menjatuhkan talak terhadap aku. Tapi kita berpisah telah 7 tahun lamanya. Talak akan jatuh sendiri, ketika seorang istri tidak dinafkahi lahir batin oleh suaminya," tuding Yola.


"Oke. Jadi maksud kau, aku yang tak nak kasih engkau nafkah lahir batin, begitu ke, Yola? Selama ini aku selalu berusaha untuk menemuimu tapi Mama Ratih dan Papa Abi menghalangiku. Aku juga bukannya tak nak kasih kau nafkah, tapi mereka tak menerima pemberian aku, Yola!" sangkal Ilham.


"Kita sama- sama tau apa alasan mereka melakukan itu. Jadi nggak perlu menjelek- jelekkan orang tuaku," balas Yola.


"Jadi kau tak percaya dengan abang?" tanya Ilham menekankan kata "abang" terhadap dirinya. "Abang akan kasih kau nafkah mulai dari masa sekarang. Bagaimana kalau dimulai dari nafkah batin, hmmm?"


Ilham mengatakan hal itu dengan nada lembut. Kalau tidak ingat bagaimana pengkhianatan Ilham, Yola pasti telah terbuai akan rayuannya.


Ilham memindahkan duduknya ke sebelah Yola dan dengan nekad memeluk Yola untuk membujuknya. Tentu saja hal itu direspon dengan penolakan oleh Yola. Dia pun segera mendorong Ilham.


"Tebal juga wajahmu, Tuan Pengarah. Tolong jangan salah paham padaku. Aku, bagaimana pun telah menganggap kita telah bercerai. Aku ke sini untuk membicarakan hak asuh Ammar. Tolong biarkan aku membawa Ammar ke Indonesia. Mama sangat merindukan cucunya," kata Yola antara memohon antara jengkel.


"Aku boleh membiarkan hal itu terjadi asal kau kembali padaku, Yola. Lupakan yang telah terjadi mase tu. Abang punya alasan sendiri melakukan hal itu. Bukalah lembaran kasih lagi dengan Abang. Abang janji akan jaga kau dengan Ammar mulai dari semenjak sekarang."


"Manis sekali kata-katamu, Tuan Direktur. Satu- satunya alasanmu saat itu hanyalah karena kamu ingin mempermainkanku. Dan karena kau mencintai Sonia. Dan sekarang kamu ingin aku menjadi orang ketiga di pernikahan kalian setelah kalian menyakitiku? Kau tidak bisa lebih kejam dari itu, heh?" sinis Yola.


"Percaye dengan Abang. Abang ada alasan sendiri mase itu. Tapi abang tak de niat permainkan Yola. Satu- satunya yang abang cintai dan abang anggap istri cuma Yola.," kata Ilham frustasi.


Saat Ilham mengatakan itu ponsel di atas meja berdering. Yola bisa melihat jelas nama pemanggil di ponsel itu. Sonia.


Ilham juga melihat itu tapi mengabaikannya hingga ponsel itu berhenti berdering dengan sendirinya.


"Trust me, please ...." kata Ilham memohon.


Ponsel itu berdering lagi. Dan kali ini membuat Ilham kesal karenanya.


"Angkat saja. Istrimu menelepon," kata Yola sarkas.


Ilham mengangkat telepon itu dengan gusar.


"Kenape?"


"Kau dimana? Kenapa kau tiba- tiba balik ke KL?" tanya suara itu tak suka.


"Bukan urusan kau," jawab Ilham.


"Semenjak kau jadi suami aku, semua ape- ape yang mengangkut kau dan ape yang kau lakukan akan jadi urusan aku,Ilham," jawab Sonia di seberang sana.


Hal itu membuat Yola jadi muak dan bangkit dari duduknya. Ilham menarik pergelangan tangannya kasar. Tapi Yola tak mau kalah. Dengan sekali hentakan kasar dia segera meninggalkan unit Ilham.

__ADS_1


Menyebalkan sekali! Sungguh kedua manusia tak tahu malu! umpat Yola dalam hati.


Segera dia masuk ke apartemennya. Setelah menutup pintu apartemen itu tak disangka dia malah menangis tersedu-sedu. Dia tidak menyangka setelah 7 tahun tetap saja rasa sakit itu masih ada.


__ADS_2