
Yola duduk di meja makan sambil menemani Ilham yang sibuk mempersiapkan bumbu untuk olahan daging barbeque. Lelaki itu tampak piawai melakukan pekerjaan yang sering dilakukan oleh para wanita itu.
"Kenapa Yola tengok Abang macam tu?" tanya Ilham yang sadar diperhatikan oleh sang istri. "Abang handsome ke?"
Yola kekeh sambil mengangguk jujur. Entah kenapa saat ini dia merasa kadar ketampanan pria itu bertambah 100% dengan Ilham sedang menggunakan apron.
Ilham tersenyum melihat tawa renyah dari wanita itu. Segera dia menyelesaikan membuat bumbu. Kemudian Ilham menghampir Yola dan berjongkok di hadapannya dan menggenggam tangan istrinya itu. Diusapnya lembut perut Yola yang masih terlihat rata itu.
"Sayang, kau akan se-handsome Daddy kalau kau anak jantan nanti," kata pria itu seolah bicara pada anak yang dikandung Yola itu.
Yola menggeleng.
"No, dia lebih handsome."
"Ck ... " Ilham berdecak sebal. "Kalau macam tu abang nak budak perempuan sahaja. Dia akan lebih cantik dari Yola," balas Ilham.
"Tapi Ammar pengennya lil bro," ledek Yola.
"Tapi Abang yang bikin, jadi mestilah dia ikut kemahuan abang," balas Ilham.
"Diih apaan? Memang bisa abang bikin tanpa partner? Dia sekarang ada di perut aku ya. Berarti dia akan ikut keinginan Mommy-nya," balas Yola tak mau kalah.
Ilham tergelak dan kembali berdiri.
"Berarti Yola dah pun mengaku kalau Yola ikut serta dalam proses pembuatan adiknya Ammar. Mase tu Yola tak mabuk berarti. Nampaknya Yola sangat menikmati malam tu. Macam mana kalau kita ulang kembali malam bersejarah tu? Berketepatan kita ade di green house masa ni ...." goda Ilham.
Wajah Yola menjadi merah padam mendengar godaan Ilham. Kalau diingat- ingat lagi sesuai umur kehamilan Yola yang sudah mencapai usia 6 minggu nampaknya proses fertilasi calon adiknya Ammar memang terjadi di sini, ketika Ilham membawanya lari dari majlis perhelatan anniversary N- one grocery.
"Macam mana, Mrs Nirwan?" bisik Ilham. "Kau masih ade pula hukuman yang belum abang berikan."
"Iss .... Abang! Mesum banget itu pikirannya. Aku waktu itu benar- benar mabuk karena wine yang abang kasih tau ...." bantah Yola.
"Betul ke? Kenape Abang tak percaye, ye?" balas Ilham dengan mata memicing. "Coba abang ingat- ingat dulu. Hmmm ...."
Ilham pura- pura berpikir. Dan Yola kini pura- pura juga menjauhkan pandangannya.
"Kalau Yola mabuk malam tu siape yang nampak mendesah malam tu ye? 'Aaah ... aahhh .... a-abang ... Yola dah' ..."
Yola buru- buru membekap mulut Ilham dengan tangannya sebelum pria itu melanjutkan olokannya pada dirinya.
"A- abang! Jangan diteruskan. Stop! Stop oke?!"
Yola benar- benar malu sekarang. Dia mengutuki dirinya yang selalu berada di luar kendali saat dia bercinta dengan Ilham. Lelaki itu selalu mampu membuat dia lepas kontrol atas dirinya sendiri saat mereka berdua sedang melakukan kegiatan panas mereka di atas ranjang.
Ilham tersenyum jahil pada Yola saat wanita itu perlahan melepas bekapannya.
"A- aku mau lihat Ammar dulu di depan," kata Yola sembari buru- buru kabur sebelum Ilham membuatnya jauh lebih malu lagi.
Dan Ilham membiarkannya saja. Toh nanti setelah Ammar tidur, dia bisa mengulang malam- malam yang manis seperti itu dengan Yola.
Dan satu jam setelahnya ketiganya pun sudah siap menyantap hidangan lezat hasil masakan Ilham.
"Abang, ini benar- benar enak loh. Serius! Abang belajar masak dimana?" tanya Yola dengan mata berbinar melihat beberapa jenis masakan di atas meja makan.
__ADS_1
"Ini biase saje, Sayang. Kau je yang memang sangat bernafsu makan. Abang rasa Yola dikasih makan kayu disapu dengan gula pun rasa mesti dirasa sedap," olok Ilham.
Entah kenapa akhir- akhir ini Ilham sangat suka bersikap jahil dan usil pada anak istrinya.
"Isss abang!!! Aku sedang memuji masakan abang kok jawabnya gitu sih? Udah ahh, aku nggak jadi makan!" kata Yola merajuk.
"Dad!!! Sei nicht ungezogen!" protes Ammar dalam bahasa Jerman.
"Tuh dengar! Jangan nakal Ammar bilang," kata Yola sambil cemberut.
Ilham tertawa.
"Mommy pandai juge bahasa Jerman, ye?" kata Ilham.
"Bisa dikit. Dulu pas sekolah kami ada mata pelajaran bahasa Jerman. Waktu aku kuliah di Warthon juga aku sempat ambil kursus bahasa Jerman," kata Yola.
"Kenape Yola nak belajar bahasa Jerman?" tanya Ilham penuh selidik.
"Memangnya harus ada alasan khusus gitu? Ya nggaklah. Aku kan kuliah ngambil managemen bisnis, Abang. Untuk persiapa aja siapa tau ada suatu kesempatan untuk aku atau bisnis papa yang bekerja sama dengan perusahaan Jerman, kan nggak ada salahnya prepair lebih dulu," kata Yola menjelaskan.
"Hanya itu je?" tanya Ilham tak percaya. "Abang rase kau nak belajar bahasa Jerman agar boleh datang ke Berlin kerana kau masih cinta dengan abang, kan?" tebak Ilham dengan nada mengolok.
Dia sangat senang melihat ekspresi sebal istrinya itu.
"Abang!!! Isss, pede banget ... Siapa juga yang cinta sama abang dan mau lihatin abang ke Berlin? Pedenya .... " cibir Yola.
Ilham semakin tertawa dengan sikap Yolaa yang terkesan jual mahal. Kini dia berpaling pada Ammar lagi.
"Ammar, heb je Mommy gezien? Hij is iemand die duur verkoopt. Geloof je dat hij niet verliefd is op Daddy? (Ammar, kau lihat Mommy? Dia sangat jual mahal sekali. Kau percaya dia tak cinta dengan Daddy)?"
"Wie zou dat geloven? Geloof me, Dad. Mommy moet van je houden (Siapa yang akan percaya itu? Percaya padaku, Dad. Mommy pasti sangat mencintaimu," jawab Ammar dengan tawa khas bocahnya.
Ilham mengerling pada Yola dan kembali bertanya pada Ammar.
"Really?"
"Yes. Really. Believe me, Dad!"
"Aisss, ngomong apaan sih?" Yola cemberut mendengar percakapan ayah dan anak yang tak dimengerti olehnya itu.
Dia tau mereka mempergunakan bahasa Belanda tapi dia sama sekali tidak mengerti. Ammar memang mengerti 3 bahasa selain Melayu karena saat di Jerman, dia tinggal di lingkungan yang masyarakatnya berasal dari berbagai daerah. Belanda sendiri ada di perbatasan barat Jerman.
Ayah dan anak itu kembali terkikik sehingga membuat Yola tambah sebal.
"Ya sudah, kalau nggak ada yang mau bilang. Mommy malas bicara dengan Ammar dan Daddy!" omel bumil itu merajuk.
"Mom, don't angry to me. Daddy kate Daddy sangat sayang dengan Mommy, hmmm cinte!" kata si bocah Ammar.
Yola jadi tersipu dibuatnya.
"Bohong?"
"Tak. Iya kan, Dad?"
__ADS_1
Ilham mengangguk dengan wajah berusaha serius padahal dia ingin sekali tertawa.
"Aku nggak percaya!" kata Yola seraya bangkit dari meja makan meninggalkan Ammar dan Ilham.
***
Malam mereka berakhir dengan bahagia meski sepasang ayah dan anak itu harus memohon- mohon pengampunan dari sang Mommy karena telah berani membicarakan Yola dengan bahasa yang tidak di mengerti oleh ibu muda itu.
Usai menidurkan Ammar, kedua sejoli itu pun pindah ke kamar utama di sebelah kamar Ammar. Dan apalagi yang ditunggu Ilham, kalau bukan menuntut haknya sebagai suami.
Pria itu segera menindih Yola yang sudah bersiap- siap ingin tidur dan mengungkungnya di bawah tubuhnya.
"Abaang ..." protes Yola.
"Sepertinya Mrs. Nirwan lupa kalau masih ade hukuman yang harus dilewati untuk menebus kesalahan tadi," kata Ilham memperingatkan.
"Kesalahan apaan?"
"Pura- pura tak tahu!"
"Tapi beneran aku nggak tau," kata Yola membela diri.
"Kau panggilkan Victor sebagai abang!"
"Iya, kan memang abang aku. Umurnya 12 tahun di atas aku. Memang harus kupanggil apa? Mas? Kan dia orang Malay? Di Jakarta juga aku sering manggil abang ke abang- abang gojek, abang penjual bubur ayam. Apaan sih? Marah nggak masuk akal?" oceh Yola.
"Pokoknya tak boleh. Abang Yola cuma ada abang. Abang Ilham! Kau mesti dihukum kerana memanggil Victor abang!" kata pria itu dengan nada yang possesif.
"Baiklah, baiklah. Hukuman apa?" tanya Yola mengalah. Sesegera mungkin dia ingin mengakhiri hukuman ini karena dia tak sabar ingin tidur.
Ilham tersenyum licik.
"Hukuman yang manis, Sayang," jawabnya mesra sembari mel*mat bibir ranum istrinya itu.
Dasar modus, batin Yola dalam hati.
Tetapi meski bagaimana Yola tetap melayani Ilham sepenuh hati. Hingga tak sadar suara- suara mereka terdengar hingga ke luar kamar.
Di larut malam itu, keduanya tak mengetahui kalau ada seseorang yang diam- diam memutar kunci pintu green house dan membukanya.Suasana pencahayaan di ruang tamu yang temaram itu tidak menghalangi orang itu untuk berjalan dalam kegelapan.
Pelan- pelan, dia membuka pintu kamar Ammar dan melihat bocah itu tengah tertidur pulas di sana. Sementara telinganya menangkap suara- suara dari kamar utama.
"Abang, udahaaaan ...." rengek suara Yola terdengar terengah dari dalam kamar.
"Sabar sayang, sikit lagi. Abang akan selesaikan ni ... ahhh .... uhhh ... Yol-Yola. Ahhhh ...."
Suara napas memburu hingga kemudian semakin teratur terdengar dari dalam kamar.
"Terima kasih, sayang," ucap Ilham yang pasti ditujukan untuk Yola.
Dalam keremangan, orang misterius di luar kamar itu pun mengepalkan tangannya geram.
***
__ADS_1
Hai, hai.. siapa kira- kira orang misterius itu ya?
Penasaran kan? Like, komentnya yang banyak dulu baru kita lanjut beib...