Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Menantu dan Mertua


__ADS_3

"Syarat?" tanya Ratih dengan kening mengerut.


Ilham mengangguk dan kini duduk di sisi ranjang yang membuatnya jadi berhadapan dengan Yola dan Mama Ratih.


"Hmm ... pabila Mamah dapat berjanji penuhi syarat dari Ilham, Ilham pun berjanji akan balik nama semua saham Ilham besok ke Yolanda. Di hadapan Mama," janji Ilham.


Ratih yang duduk bersandar pada sandaran ranjang menjadi tertawa mendengarnya.


"Haduhhh, kau ini memang licik, Ilham. Tak heran kenapa Yola bisa terperangkap sama kamu. Bahkan papanya Yola bisa tidak berkutik olehmu, pasti ada yang kamu katakan padanya, kan?" selidik Ratih yang memang tidak tau apa yang membuat Abimanyu tiba- tiba jadi merestui hubungan antara Yola dan Ilham.


Ilham balas tersenyum dan balas memandang Yola yang menatapnya dengan penuh keingintahuan.


"Ilham ni pebisnis. Mamah jangan lupakan tu. Itu namanya cerdik. Bukan liciklah," bantah Ilham sembari mengedipkan mata nakalnya pada Yola.


Yola langsung mencubit paha Ilham sehingga membuat pria itu mengaduh.


"Argggghhh!! Sakit taw!!!" pekik Ilham kecil.


"Jangan licik makanya," kata Yola seakan membela sang Mama.


"Tak licik, sayang. Abang hanye berbuat pandai je," bantah pria itu.


"Sama aja, abang!"


"Tak sama pun," kata pria paruh baya itu.


Kemesraan yang ditunjukkan Yola dan Ilham dengan cara mereka memperlakukan satu sama lain membuka sedikit hati Mama Ratih untuk menerima pria itu kembali sebagai menantunya. Dia dapat melihat betapa sumringahnya senyum putrinya saat berhadapan dengan pria ini. Itu menandakan Yola merasa bahagia dengan hubungannya dengan Ilham saat ini.


"Ehhhm!!!" dehem Mama Ratih membuat perdebatan kecil antara putri dan menantunya itu terhenti sejenak. "Katakan syarat apa yang kamu minta?"


Ratih akhirnya mencoba mengalah demi kebahagiaan putrinya itu.


Ilham tersenyum dan menautkan kedua tangannya.


"Ilham akan balik nama semua saham Ilham di N- one Grocery, tetapi Mamah mestilah berjanji, kalau Mamah akan dukung perkahwinan kami berdua selamanya," pinta Ilham.


Mama Ratih tak langsung menjawab.


"Maksud Ilham, Ma. Ape pun yang terjadi di rumah tangga Ilham nanti, masalah apa pun itu, tolong Mamah tetap percaya pada Ilham dan jangan memberi saran untuk Ilham dan Yola untuk bercerai. Kerana aku sangat mencintai puteri Mamah ni, aku tak dapat hidup tanpa dia," kata Ilham.


"Diiiih, kemarin pas pisah sama Yola 7 tahun, kamu masih hidup aja tuh," cibir Ratih yang segera dibalas oleh cubitan kecil Yolanda.


"Mama ...." tegur Yola.

__ADS_1


Ilham tersenyum mendapat cibiran seperti itu dari mertuanya.


"Mama betul, Ilham memang hidup, tapi jiwa Ilham terasa mati. Hanya Ammar yang membuat Ilham dapat bertahan selama ini, Ma," kata Yola mencoba meyakinkann sang Mama mertua.


"Iya deh, iya deh. Cuma itu aja, kan?" tanya Ratih.


"Satu lagi ...." kata Ilham.


"Ya Tuhan, banyak amat!" keluh Ratih kesal.


Ilham kembali tertawa.


"Satu lagi," ulangnya.


"Iya, deh. Iya deh," kata Mama Ratih mengalah.


"Ilham mau Mamah Ratih berdamai dengan Mamah, Mamah Zubaedah. Ilham nak tengok Mamah berdua ni saling akur, sesama besan. Nanti bolehlah bersama- sama uruskan Ammar dan bakal adiknya. Ilham tak nak Mamah berdua nih, kalau berjumpa seperti orang bermusuhan je. Boleh tak, Mama? Ilham hanye inginkan itu sahaja," kata Ilham.


Ratih mendengus. Mungkin selama ini Ilham sering memperhatikan dirinya yang tidak terlalu ramah dan bersahabat pada besannya itu.


Ratih mengakui sebenarnya Zubaedah baik, dia juga menyayangi Yolanda sama seperti putrinya sendiri.Tapi jika ingat cara Zubaedah menuntut Yola sebagai pengganti hilangnya Andini, Ratih menjadi sebal karenanya. Belum lagi saat Zubaedah menagih janji untuk menikahkan Yola dengan Ilham pada waktu itu. Benar- benar Ratih sangat kesal setengah mati. Andai mereka meminta Yola jadi menantu keluarga Nirwan setelah gadis itu cukup umur, mungkin Ratih tak akan sefrontal itu kalau bertemu dengan Zubaedah.


"Hanya itu?" tanya Ratih pada Ilham.


Ilham mengangguk.


"Oke. Asal Mamamu tidak keberatan dengan syarat pengalihan saham yang kamu miliki atas nama Yolanda," kata Ratih.


"Ilham akan jelaskan pasal tu pada Mamah. Dan InsyaAllah, Mamah pasti akan mengerti," jawabnya.


"Baiklah, Mama setuju dengan persyaratan kamu. Tapi ingat dengan persyaratan Mama yang lain," kata Ratih mengingatkan.


Ilham mengangguk.


"Ilham paham, Ma. Pasal perceraian Ilham ade sedikit problem. Sonia masih comma mase ni. Die belun sadarkan diri. Mama usah khawatir, secara agama, Ilham dah pun bercerai secara sah dengan die. Ini hanya perkara mengesahkan perceraian secara hukum negara sahaja, agar tak de problem di kemudian hari," kata Ilham mencoba membuat mertuanya itu mengerti.


"Ck, berarti masih ada kemungkinan donk kalian nggak jadi bercerai nanti?" kata Ratih sambil berdecak.


"Mestilah, jadi. Tunggu sahaja Sonia sadar dari comma, Ilham tetap akan memberikan padanya surat cerai tu. Mama usah merasa risau, Oke?" bujuk Ilham.


Mama Ratih masih tak menjawab. Di matanya Ilham sangat tidak tegas dalam hal menghadapi gadis itu. Tapi mau dipaksakan bagaimana pun, memang kenyataannya kan Sonia sedang koma?Jadi memang tak ada hal yang bisa dilakukan saat ini terkait perceraian Sonia dan Ilham.


"Mama .... percaya dengan abang, ya? Please ya Ma?" bujuk Yola sambil memeluk Ratih semakin erat dan manja.

__ADS_1


"Ihh, apa sih kamu? Lepasin Mama nggak?" kata Ratih sambil menggoyang- goyangkan bahunya yang diberati oleh Yola.


"Iyain dulu makanya, please ...." bujuk Yola.


Mama Ratih masih aja manyun melihat tingkah putri kesayangannya itu. Yola memang sangat manja padanya dari dulu. Dan begitu Ilham menyakiti putrinya itu 7 tahun lalu, sikap Yola yang manja itu tiba- tiba berubah drastis menjadi pendiam dan mandiri. Seperti tidak membutuhkan orang lain. Hal itu yang membuat Ratih bertambah jengkel pada Ilham.


"Mama ..." rengek Yola lagi.


"Udah diam ah, berisik deh. Ada kamar tamu lain nggak sih di sini?" tanya Ratih sambil duduk dan menurunkan kakinya di lantai.


"Ada sih, kenapa memangnya, Mama nggak suka tidur di kamar Yola?" tanya Yola polos.


Ratih segera bangkit dari ranjang dan berdiri.


"Ini bukan cuma kamar kamu kali. Ini kamarnya Ilham juga, kan? Memangnya kamu mau kita bertiga tidur barengan di sini?" jawab Mama Ratih ketus.


"Mama ihhhh ..."


Yola tersipu malu akan kata- kata sang Mama.


"Kalau memang Mamah mau tidur kat sini, tak ape," kata Ilham menimpali. "Ilham pun tak keberatan berbagi tempat tidur bertiga dengan Yola. Kerana Ilham pun dah anggap Mamah macam Mamah sendiri. Betul tak, Yola?"


Mengatakan itu, Ilham tak diduga merangkul Ratih hingga mertuanya itu jadi kaget karenanya. Lalu Ilham pun kembali memaksa Ratih duduk kembali masih dalam posisi dirangkul olehnya.


"Mama, maafkan Ilham, ya? Ilham selama ni belum pernah meminta maaf secara langsung pada Mama. Ilham meminta maaf, kerana telah menyakiti hati puteri kesayangan Mama. Ilham lupa, menyakiti Yola sama sahaja dengan menyakiti Mama sebagai ibunya. Maafkan Ilham, ya?"


Ratih bahkan Yola tak menyangka akan mendengar permintaan maaf yang tulus dari Ilham kali ini.


Tak lama Ratih pun tampak berkaca- kaca dan air mata menetes di wajahnya yang mulai ditumbuhi garis halus itu.


"Kamu jahaaattt!!! Kamu tak seharusnya memperlakukan Yola seperti itu, Ilhaaamm!"


Ratih memukul- mukul dada Ilham di sela tangisnya. Hingga kemudian dia menangis sesenggukan di pelukan menantunya itu.


"Maafkan Ilham, Ma," ucap lelaki itu.


Yola yang melihat pemandangan itu kini ikut haru melihatnya. Perlahan air matanya pun ikut menetes. Dan akhirnya Yola pun beringsut mendekati pasangan menantu dan mertua yang sedang berpelukan mengharu biru. Yola ikut memeluk Ratih yang masih menangis di pelukan suaminya itu.


Dari ambang pintu Tengku Yahya Nirwan turut menyaksikan bagaimana keluarga kecil cucu dan cucu menantunya itu bersatu kembali.


***


Selamat pagi reader JDM, jangan lupa like dan komentarnya ya. Jangan nangis baca part mengandung bawang ini yak ....

__ADS_1


__ADS_2