
"Aku kesini untuk mengantarkan surat resign," kata Yolanda pada Nadira.
Nadira menatap Yola seperti tak percaya. Hampir sebulan wanita yang dia tahu adalah istri dari bosnya itu tidak bekerja. Dan beberapa hari ini Ilham sedang berada dalam mood yang buruk. Dan kini dia datang hanya untuk mengantar surat pengunduran diri?
"Hmm .... Yola, ape kau bertengkar dengan Ilham?" tanya Nadira hati- hati.
Biasanya Ilham selalu curhat padanya kalau dia ada masalah. Setelah kejadian di malam perhelatan ulang tahun N-one Grocery, Ilham sempat terlihat sangat bahagia selama beberapa waktu. Dan Nadira bisa menyimpulkan bahwa ada sesuatu yang indah terjadi antara Ilham dan Yola di malam itu. Nadira bisa menebaknya. Tapi beberapa hari ini Ilham terlihat murung dan sangat pemarah. Itu membuat Nadira merasa cemas karenanya.
Yola menarik napas.
"Aku akan menikah dengan Hafiz," kata Yola memberi tahu sekaligus menjawab pertanyaan Nadira.
"Ape????" Nadira terlihat tekejut. "Berkahwin? Dengan Hafiz? Yola! Kau sadar ke pade ape yang kau cakap tu? Hafiz itu adiknya Ilham, ta tak?"
Nadira sangat emosi mendengar kabar itu dari Yola.
Yola hanya diam melihat luapan emosi yang ditunjukkan Nadira. Nadira saja bisa emosi apalagi Ilham?
Melihat Yola hanya diam tak urung membuat emosi Nadira turun juga. Kemudian ia lalu duduk dan mencoba untuk tenang.
"Baiklah. Kite memang belumlah kenal lama. Tetapi aku tak percaya kalau kau sanggup berbuat macam ni tanpa alasan, betul tak, Yola?" tanyanya.
"Huffft .... Aku tak tahu harus jawab apa," keluh Yola. "Aku tak punya penjelasan untuk itu."
"Tapi kau cinte dengan Ilham, kan?"
Yola tersenyum pedih.
"Cinta pun nggak akan ada gunanya kalau orang tuaku nggak setuju," jawab Yola.
"Lalu dengan Hafiz mereka setuju?"
Yola mengangguk pasrah.
"Walau bukan dengan Hafiz, mereka tetap akan menikahkanku dengan orang lain. Aku tidak mau," jawab Yola.
"Aku baru melihat sisi egoismu ini Yola, lalu ape kau tak pikir macam mana perasaan Hafiz? Kau berkahwin dengannya hanya nak gunakan dia sahaja untuk kepentinganmu. Dimana perasaanmu?" balas Nadira.
"Aku tau. Tapi aku bisa belajar mencintainya nanti," jawab Yola.
"Kau yakin kau boleh mencintainya?"
Yola mengangguk meski ragu.
Di luar ruangan Nadira, Ilham diam- diam mendengarkan percakapan itu. Hatinya sakit mendengar pengakuan Yola itu. Ternyata memang benar, Yola masih mencintainya. Dia hanya tak berdaya melawan keinginan orang tuanya. Ilham sendiri tahu kalau Mamanya Yola itu memiliki gangguan jantung. Dan dia tau seberapa keras pendirian Abimanyu.
Setelah berhasil menguasai hatinya, Ilham pun mengambil langkah pasti dan mengetuk pintu ruangan Nadira. Hal itu membuat Yola dan Nadira terkejut setengah mati.
"Aku nak bicara denganmu," kata Ilham pada Yolanda. "Ikut aku!"
Yola tak membantah. Tak ada gunanya menghindar. Toh biar bagaimana pun dia tetap tak akan bisa memutuskan secara total hubungannya dengan Ilham. Biar bagaimana pun mereka memiliki anak bersama.
Sejak pertemuan keluarga antara keluarga Hafiz dan keluarganya, Papanya tidak terlalu mengekangnya lagi. Abimanyu bahkan memperbolehkan Yola ke Malaysia untuk menemui Ammar dengan catatan Hafiz harus ikut menemaninya. Karena itu Yola memanfaatkan hal ini untuk sekalian memberikan surat pengunduran dirinya pada Nadira selaku Pengarah Personalia atau pun Direktur HRD.
Ilham membawanya ke ruangannya.
"Sila duduk!" katanya mempersilahkan.
Yola duduk berhadapan dengan Ilham.
"Jadi ade keperluan ape kau datang kemari?" Tanya Ilham pada Yola. Dan itu terkesan formal.
"Aku hanya ingin memberikan surat pengunduran diri," jawab Yola.
"Tak! Kau tak boleh undur diri. Surat resignmu takk diterima!" Tolaknya datar.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa aku tak boleh resign?" tanya Yola keberatan. "Bukankah kita sudah bercerai?"
"Justru kerana kite telah bercerai, jadi untuk ape bawa urusan privacy ke dalam lingkup pekerjaan? Kamu direktur marketing yang berbakat, dan N-one Grocery membutuhkan kamu," kata Ilham menjelaskan.
"Saya tetap tak bisa," jawab Yola bersikeras menolak.
"Kamu ingat, kamu masih ade kontrak waktu 1 tahun 11 bulan di N-one Grocery," kata Ilham menegaskan.
"Saya akan bayar pinaltynya," jawab Yola.
Ilham tersenyum.
"Kamu mungkin boleh sahaja bayar pinalty, tetapi kalau kau menolak saye boleh pastikan kau takkan dapat berjumpe dengan Ammar lagi," ancam Ilham.
"Abaaang!!!!" jerit Yola tak terima.
Sedikit senyum mengembang di sudut bibir Yola tanpa disadari Ilham.
"Jadi kau pikirkan sahaja, kalau tak, aku dah pun ada planning nak bawa Ammar tinggal di Berlin. Kau takkan boleh bertemu dia lagi," kata Ilham.
"Kenapa kau lakukan ini?" tanya Yola kesal.
"Hmmm ...." Ilham terlihat berpikir. "Aku hanye ingin kemajuan bagi N-one. Kau tak perlulah khawatir. Aku tak tertarik pada wanita yang berselingkuh dengan adik iparnya sendiri."
Kata- kata Ilham itu seakan menusuk jantung hati Yola. Dia sedih mendengarnya. Tapi dia tak punya pilihan lain.
"Baik, kalau begitu berikan aku waktu untuk berunding dengan tunanganku terlebih dahulu," balas Yola getir.
Satu sama. Ilham terpukul mendengarnya.
"Oke. Saye beri waktu dua hari sahaja. Lusa kau bolehlah kembali bekerja atau kau tak boleh berjumpe dengan Ammar selamanya," jawab Ilham.
Yola mengangguk dengan berat hati.
"Kalau sudah selesai saya permisi dulu."
Sementara itu Ilham sepeninggalan Yola, memejamkan matanya sembari membuang napasnya berulang-ulang.
Aku akan dapatkan kamu kembali, Sayang. Bukan hanye sebagai menantu keluarga Nirwan, tetapi sebagai wanita yang aku kasihi. Mulai mase ni, aku akan mengejarmu sebagai seorang pria, batin Ilham.
Perceraian hanya awal untuk hubungan kita yang baru, Yolandaku.
******
"Apa kamu keberatan kalau aku kembali bekerja di N-one?" tanya Yola pada Hafiz.
Sore itu Yola berada di apartemen Gold Century bersama Hafiz.
"Die paksakan kau?" tebak Hafiz.
Yola menggeleng. Bagaimanapun dia tak mungkin berkata kalau Ilham memaksanya.
"Ini kemauanku sendiri. Aku masih ingin bisa melihat dan memeluk Ammar. Dan itu hanya akan terjadi kalau aku masih bekerja di N- one Grocery. Hafiz, kamu mengerti aku, kan?" rengek Yola.
Hafiz menatap Yola. Ya ampun, bagaimana dia bisa menolak ekspresi seperti anak kucing itu?
"Baiklah, tapi mungkin ini tak akan senang meyakinkan Papa," katanya.
Ya. Sekarang Hafiz memanggil Abimanyu dengan panggilan Papa atas permintaan Abimanyu sendiri.
"Justru itu aku meminta bantuanmu, Ndut" rayu Yola sambil tangannya mengelus pipi Hafiz.
Hafiz menangkap tangan calon istrinya itu dengan sayang.
"Meminta pertolongan padaku tak percuma, Sayang," kata Hafiz.
__ADS_1
"Memanglah tak percuma. Malah berguna," jawab Yola seolah tak paham maksud Yola.
"Maksudku tak gratis alias tak free," sahut Hafiz.
"Kamu ingin aku membayarnya dengan apa?" tanya Yola seakan menantang Hafiz. "Asal jangan dengan hal yang aneh- aneh, ya ...."
"Kau takut sangatkah dengan calon husband kau sendiri?" goda Hafiz.
"Nggak juga," kata Yola meremehkan.
"Kalau macam tu, kau mesti kawani aku ke hotel malam ni. Macam mana?" bisik Hafiz. "Aku nak Yolanda Gunawan seutuhnya."
"Hafiz, kau jangan macam- macam, ya!" kata Yolanda tegas sambil melempar bantal sofa pada Hafiz.
Hafiz menangkap bantal itu dan tertawa melihat reaksi Yola.
"Hahaha .... Hanya bergurau je. Usahlah gusar sangat. Aku hanye nak ajak kau dinner bersama malam ni. Kau mau tak? Kalau tak, aku tak nak bantu kau bicara dengan Papa pasal bekerja kembali di N- one," ancam Hafiz.
"Baiklah, kalau cuma dinner. Ayolah!" sambut Yola.
"Dandanlah yang cantik, aku akan jemput kau malam nanti, kite akan dinner di hotel high class nanti," kata Hafiz.
"Cieeee .... Lagi banyak duit ya, Ndut? Sok- sok mau traktir di hotel bintang lima?" ledek Yola.
"Is,is, ish, begitu sikap kau pade calon suami yang nak beri dinner romantis dengan calon isterinya?" sahut Hafiz tak terima.
"Oke, oke baiklah."
Dan menjelang malam Hafiz benar- benar menepati janjinya. Dengan setelan jas berwarna hitam dia menjemput Yola di apartemen Gold Century. Dan bak gentleman sejati, dia membukakan pintu saat Yola ingin masuk ke mobilnya. Begitu pun saat keduanya sampai di depan Royale International Hotel, Hafiz membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Yola untuk keluar. Setelah menyerahkan kunci mobilnya pada staf hotel, Hafiz pun membuka sedikit lengannya dan berisyarat agar Yola menggandengnya.
Wanita itu cantik dengan dress berwarna peach yang terlihat sangat manis melekat ditubuh indahnya.
Mereka pun menaiki lift ke lantai paling atas yang telah direservasi sebelumnya oleh Hafiz hanya untuk mereka berdua malam ini.
"Waaaahhh ...." Mata Yola membulat sempurna melihat pemandangan kota Kuala Lumpur di malam hati dari atas.
Terlihat Menara Twin Petronas, tak jauh dari sana.
"Macam mana? Kau suka tak?" tanya Hafiz
Yola mengangguk senang sambil tak henti- hentinya takjub atas pemandangan indah itu.
"Hu uh, ini cantik sekali, Ndut ...."
"As beauty as you are ...." bisik Hafiz yang tiba- tiba saja telah berada di belakangnya.
Yola melihat wajah tampan yang dulunya berpipi gembul itu.
Tiba- tiba saja Hafiz berlutut di depannya sembari membuka sebuah kotak cincin.
"Yola, aku dah kenal kau semenjak lama. Sejak kite masih berusia belasan, kita saling tengok tumbuh kembang kite masing-masing. Selama ni mungkin kau tak tahu, kerana aku pun tak pernah memberi tahu, bahwa aku sudah semenjak lama cinte dengan kau, Yolanda Gunawan. Selama ini telah dua kali, kau ajak aku berkahwin, entah kerana apa. Tetapi malam ini, aku yang akan mengatakannya. Yolanda Gunawan, will you marry me?"
Yola menelan salivanya. Astaga, dia memang sudah setuju akan menikah dengan Hafiz. Tapi dia tidak menyangka Hafiz akan menyiapkan moment lamaran seperti ini untuknya. Yola menjadi gugup karenanya dan memandang Hafiz dengan kedipan mata tak percaya.
"Ayolah, kau mau terima atau tak? Aku malu kalau kau tak terima," bisik Hafiz dengan gurauan sambil melirik beberapa staf hotel yang memang dipersiapkannya untuk membantunya memperlancar moment lamaran ini.
Para staf itu senyum- senyum turut menantikan jawaban Yola. Yola memejamkan matanya. Terlihat Ilham dan Ammar di sana. Sambil menarik napas dalam-dalam, Yola menjawabnya.
"Ya. I will marry you."
Hafiz tersenyum bahagia dan menarik tangan Yola dan menyematkan cincin itu di jari manis wanita itu.
"Aku akan membahgiakanmu selalu, Yolaku!"
Tepuk tangan dan letusan kembang api yang telah dipersiapkan staf hotel menghiasi malam itu.
__ADS_1
Tak ada yang tau dalam hati Yola dia merasa hancur. Tapi .... Dia sudah tak bisa mundur.