Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Selalu Memikirkannya


__ADS_3

"Putri? Kamu ada di sini?" tanya Yola masih tercengang tak percaya sepupu tersayangnya kini ada di hadapannya.


"Iyalah. Memang kamu kira aku nggak nyata? Bangun bumil, bangun ... Lagian heran deh. Di kantor kayak gini kok ada kasurnya segala. Ihhh, nggak sabar amat berdua nih, pulang ke rumah dulu kek baru ehem ehem ..." Putri memandang sekelilingnya.


"Ehem-ehem apa tuh maksudnya?" protes Yola dengan wajah merengut.


Putri tak menjawab, melainkan kini duduk di samping Yola


"Jadi kamu nggak senang nih aku datang ke sini?"


Yola mengerutkan dahinya. Pura-pura berpikir.


"Ehmmm ...."


"Ya udah deh kalau gitu, aku pulang lagi aja!" Putri balas pura-pura merajuk.


"Issss ... Putriiii ..." rengek Yola. "Kamu itu sama nyebelinnya sama Abang!"


Ilham menunjuk dirinya sendiri. Memang dia nyebelin dimananya, coba? Aneh ... Ilham jadi geleng-geleng kepala sendiri akan sikap Yola. Sementara Putri terkekeh mendengar rengekan sepupunya itu sembari memeluk Yola.


"Jadi senang nggak aku datang ke KL? Demi kamu loh aku bela-belain kesini. Aku disuruh Tante Ratih buat temenin kamu. Katanya kamu lagi labil sensian, ngambek, nggak mau damai dengan semua orang," papar Putri.


"Diiih modus! Bilang aja kamu ke sini biar bisa ketemu Hafiz, kan? Gayanya sok-sok'an demi aku. Cuihh! Kamu mah jual-jual namaku pasti biar bisa diijinin ke Malay. Ye kaaaan?" ledek Yola usil.


"Iissss, Yola. Jangan ngomong gitu. Malu sama bang Ilham, tau ..." Putri buru-buru membekap mulut Yola sebelum sepupunya itu mengatakan hal-hal lain yang mungkin bisa membuatnya malu.


"Sejak kapan kamu berubah jadi pemalu? Preett! Sok-sok'an malu mentang-mentang depan calon kakak iparnya. Putri, jangan lupa aku juga bakal jadi calon kakak iparmu kali. Sungkem dulu!" Tak henti-hentinya Yola meledek Putri hingga membuat Putri menjadi sebal karenanya.


"Kakak ipar! Enak banget tu mulut ngoceh," balas Putri yang lama-lama tak terima dipojokkan oleh Yola.


"Memang, kan?" Yola masih saja gencar mengganggunya.


"Udah diem!" Lagi-lagi Putri membungkam mulutnya.


"Kerana korang berdua dah pun berjumpa, kalau macam tu, Abang tinggal bekerja dulu hmm?" pamit Ilham sembari melangkah keluar kamar setelah mendapat anggukan dari Yola.


Ilham memang sengaja ingin memberi ruang bagi Yola dan Putri bercengkrama. Sungguh dia merasa senang melihat Yola yang selama seminggu ini dalam suasana hati yang tidak baik, kini hanya dengan kedatangan Putri bisa mengubah Yola ceria kembali. Itu terbukti dari celotehan sang bumil yang tak henti-hentinya mengganggu Putri.


Tak sia-sia Ilham membujuk Mama Ratih untuk membujuk Putri datang ke KL. Dengan bantuan Mama Ratih untuk membujuk Mamanya Putri pulalah hingga Putri diijinkan datang ke Kuala Lumpur. Katanya untuk menemani Yola sepanjang Yola belum melahirkan. Ini sebenarnya adalah permintaan Hafiz pada Ilham sebelum dia berangkat ke Kamboja. Dan sekarang Ilham merasa permintaan Hafiz itu tidak buruk, malah cukup membantunya menenangka Yola juga.


Setengah jam melepas rindu saling tertawa cekikin, ledek meledek, akhirnya keduanya duduk santai berselonjor sambil menonton di sofa yang ada di ruang tunggu lantai khusus presiden direktur dan wakil presiden direktur N-one itu.


"Jadi ... dia dimana?" tanya Putri dengan mata tetap terpaku pada ponselnya.


"Dia siapa?" Yola pura-pura tak mengerti kalau yang dimaksud Putri adalah Hafiz.


"Ihhhh, Yolaaa!"


Putri merengut karena diledek terus oleh sepupunya itu.


"Hahaha, iya iya! Tau! Yang lagi jatuh cinta, cieeee," goda Yola.


"Apaaan sih, Yola ihhh!" Dengan gemas Putri mencubit kecil lengan Yola.

__ADS_1


"Loh, emang beneran kan? Kalau bukan karena jatuh cinta apa coba namanya kamu sampai nekad datang ke sini sendiri ke sini? Kemarin-kemarin sebelum kamu kenal Hafiz, boro-boro kamu datangin aku ke sini, nelpon aja kagak kepikiran pastinya. Dasar sepupu durhaka!" ledek Yola tak henti-henti.


"Ihhh, Yola udah ah. Kalau nggak mau jawab ya sudah. Ihhh, besok aku pulang aja deh!" Putri manyun dan melipat tangannya di dada, merajuk.


Yola tertawa geli akan sikap Putri.


"Tayang, tayang, tayang ... uluh, uluh ... yang ngambek ... ok deh, aku kasih tau. Hafiz sekarang lagi nggak di Malay. Dia ada di Kamboja sekarang. Ada misi penting dari perusahaan," kata Yola memberi info.


"Memang dia sekarang kerja di perusahaan mertuamu juga sekarang, ya? Bukannya dia ada sanggar gym kamu bilang?"


Yola menghela napas.


"Panjang ceritanya. Pokoknya sejak Atok meninggal ada banyak hal terjadi di sini. Hafiz juga harus kerja double ngurusin perusahaannya sekaligus N-one juga. Dia di sini bakal jadi CEO loh," kata Yola memberi tahu.


"So? Urusannya sama aku apaan?" Putri masih sok jual mahal, sok nggak peduli, padahal ehemmm ...


"Just information for you," kekeh Yola.


"Nggak penting kali ..."


"Ahhh, yang beneeerr?" goda Yola lagi.


"Iss, Yola apaan sih?" Putri merengut.


"Hahaha ..."


Yola menertawakan Putri yang lugu. Wajahnya saja sampai memerah seperti kepiting rebus. Yola tahu, Putri yang usianya hanya beberapa bulan di bawah Yola, sama sekali belum pernah pacaran. Berbeda sekali dengan dirinya yang bahkan sudah menikah di usia belia.


Sedang asyik-asyiknya bercengkrama dengan Putri, tiba-tiba Ammar datang diantar oleh Saida, pengasuhnya.


"Udah pulang dari tadika?" tanya Yola dengan penuh perhatian.


"He em." Ammar mengiyakan sambil mencium perut Yola.


"Ammar rindu dengan Mommy dan lil bro, Mom!"


"Ohh ... so sweeeet." Yola semakin memeluk Ammar dan mencium puncak kepala Ammar dengan sayang.


"Hello, Boy! Kamu masih ingat Tante nggak? Aunty ... aunty ..." sapa Putri sekalian mengingatkan Ammar.


Ammar menoleh.


"Oh, ya ampun ... Aunty kampungan?"


Mendengar celotehan Ammar membuat Yola semakin tertawa terbahak-bahak membuat Ilham yang tengah berada di meja kerjanya sampai tersenyum mendengar gelak tawa Yola yang sudah lebih dari seminggu ini tidak didengarnya. Bagaimana Yola tidak tertawa, dari sekian banyak hal yang harusnya bisa diingat Ammar tentang Putri ternyata kosa kata "kampungan" itu adalah yang paling melekat di memorinya.


"Kok kampungan sih?" protes Putri pada Ammar.


"Kan emang kamu kampungan, hahahaa," ledek Yola lagi membuat Putri semakin cemberut padanya.


Temu kangen antara Yola, Ammar dan Putri telah berlangsung selama hampir lebih 1 jam hingga tiba bagi Ammar untuk pulang lebih dulu ke kediaman keluarga Nirwan.


"Jadi gimana nih? Barang-barang kamu dimana?" Yola celingak-celinguk mencari koper Putri.

__ADS_1


"Ada di bawah, dititipin sama resepsionis," jawab Putri.


"Jadi gimana? Kamu nungguin aku sama abang pulang kerja dulu atau kamu balik duluan sama Ammar?" tanya Yola memberi opsi pada Putri.


"Emmm ..." Putri nampak berpikir. "Aku duluan sama Ammar aja deh. Takutnya disini aku malah gangguin kamu sama bang Ilham berbuat hal-hal menyenangkan lagi," goda Putri.


"Aseeem ... udah dibilang kamar itu cuma tempat istirahat aku aja kalau lagi capek duduk. Kok kamu nggak percaya sih?" protes Yola yang mengerti apa yang ada di pikiran Putri.


"Memang aku nggak percaya. Kamar istirahat mah cuma modus. Aslinya mah pasti selalu terjadi hal-hal yang diinginkan disitu. You know what I mean," goda Putri lagi.


"Terseraaaah kalau nggak percaya," balas Yola. "Putri mah gitu. Sok-sok'an lugu, pura-pura nggak ngerti gituan padahal asli itu otak kotor banget sumpah!!!"


Putri menjulurkan lidahnya.


"Biarin ... memang kenyataanya, weeek!"


Keduanya sudah seperti anak kecil yang saling mengolok dan meledek satu sama lain.


"Udah deh, aku balik sama Ammar duluan, yak?" pamit Putri.


Tak cuma berpamitan pada Yola, Putri pun berpamitan pada Ilham juga.


"Bang Ilham, aku pulang duluan sama Ammar, ya!" katanya sambil menyeruakkan kepalanya di balik pintu ruang kerja presiden direktur itu.


"Oh, iya. Kau tak ape kan balik lebih dulu bersama Saida, Ammar dan Pak cik driver?" respon Ilham pada Putri.


"Nggak apa-apa, Bang!"


"Baiklah kalau macam tu, nanti abang talipon rumah nak suruh siapkan bilik untuk Putri. Dan kau sementara rehatlah dahulu sampai nanti malam kita pergi ke apartemen," kata Ilham.


Putri maupun Yola mengernyitkan keningnya.


"Ke apartemen ngapain?" tanya Yola tak mengerti.


"Hafiz balik dari Cambodia malam ni. Kite buat surprise untuk dia," kata Ilham.


"Surprise untuk apa?" Yola makin tak mengerti. "Hafiz kan nggak ulang tahun?"


"Yang suruh abang meminta Putri untuk datang kat sini siape?" tanya Ilham balik.


"Hafiz?" tanya Yola tak percaya.


Putri apalagi, membuat wajahnya semakin merona merah. Oh jadi Hafiz, yang meminta dia untuk datang ke Kuala Lumpur?


Ilham mengangguk.


"Iya. Hafiz. Nampaknya dia selesaikan misi dari abang dengan baik. Dan dia pun belum tahu kalau Putri ade kat sini. Jadi mestilah kite buatkan dia surprise. Hafiz mesti suke dengan adanya Putri kat sini," kata Ilham yakin.


Yola dan Putri hanya bisa saling tatap. Putri merasa tersipu mendengar kata-kata Ilham. Jadi Hafiz yang ingin dia datang ke sini? Itu artinya pria itu memang serius ingin menjalin hubungan dengannya. Ya Tuhan, ya Tuhan ... Bagaimana dia harus menghadapi Hafiz saat bertemu nanti? Ini terasa mendebarkan sekaligus membuatnya malu. Putri, stop it! Santai saja, pura-pura aja kamu nggak tahu apa-apa nanti. Eh, memang sebelumnya kalau nggak dikasih tau Ilham, dia nggak tahu apa-apa kok!


Dalam perjalanan pulang ke rumah keluarga Nirwan hingga sampai dan disambut oleh Zubaedah, Putri masih tak bisa melepaskan diri dari pikiran-pikiran tentang Hafiz. Oh yeah...


***

__ADS_1


Apa yang akan terjadi nanti ya reader beib... Like, like, dan komentnya ditunggu ya... btw, JDM nggak akan lama lagi kayaknya bakal tamat deh. Tetap setia baca ya!


__ADS_2