Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Ya Tuhaaan, apa yang terjadi?


__ADS_3

Pagi menjelang saat Yola kembali ke apartemennya. Dengan pelan dia menggesek kartu aksesnya. Dia berharap tidak ada seorang pun yang melihat dia masuk. Saat ini Yola merasa persis seperti maling di apartemennya sendiri.


"Kau dari mana sahaja?" tanya Diana begitu Yola membuka pintu. Terdengar nada kurang suka dari nada suaranya.


Wanita itu sepertinya baru saja selesai beres- beres. Yola bisa melihat itu dari sapu dan kemoceng yang ada di tangannya. Yoka memang jarang menyempatkan diri untuk sekedar membersihkan debu yang menempel di sembarang tempat.


"Oh .... Tadi malam aku menginap di hotel. Ada papa datang dari Jakarta," jawab Yola sedikit gugup.


"Pak Cik ade di KL sini? Kenape tak bermalam di sini?" tanya Diana.


"Entahlah. Papa memang suka bepergian kemana- mana. Dan biasanya sebelum bepergian dia akan memesan tiket pesawat sekaligus reservasi hotel," kata Yola.


"Mak Cik ikut?" tanya Diana lagi.


Yola menggeleng. "Papa sendiri aja," jawabnya.


Dia sudah ingin masuk ke kamar dan bermaksud bersiap- siap berangkat ke kantor. Tapi Diana menahannya lagi dengan pertanyaan- pertanyaan yang membuat dia sedikit jengah.


"Jadi kau dan Pak Cik hanya tidur berdua sahaja di hotel?" tanya wanita itu lagi.


Yola kembali membalikkan badannya. Dia tak suka dengan pertanyaan mengintimidasi semacam ini.


"Kak! Kalau kakak ingin bicara sesuatu atau ada yang ingin ditanyakan, sampaikan saja! Aku tidak suka permainan kata menebak- nebak seperti ini. Aku ke hotel papa tadi malam, karena papa membawa anakku Ammar, dari pagi. Jadi aku ingin memastikan kalau Ammar terurus di sana dan tidak merepotkan papa," jawab Yola.


"Terus macam mana? Dimana dia sekarang?" pancing Diana lagi.


"Dia ..."


Yola tak sanggup lagi berkata apa- apa . Alasan demi alasan pun dia katakan nanti pasti tak akan ada gunanya. Perempuan itu benar- benar pandai bersilat lidah.


"Dia bersama papanya?" tebak Diana. "Tadi malam kawan yang kau maksud adalah papanya anak tu?"


Tebakan Diana semakin gencar membuat Yola semakin terpojok.


"Baiklah, Kakak benar. Aku pergi dengan Daddy-nya Ammar, suamiku," jawab Yola dengan rasa yang teramat berat.


"Suami?? Bukannya korang berdua dah bercerai?" tanya Diana lagi.

__ADS_1


Yola menghela napas. Berat baginya untuk menjelaskan, tapi dia tak punya pilihan lain.


"Waktu itu aku juga berpikirnya begitu. Dia mengucapkan talak padaku, tapi ...."


Yola ragu ingin menceritakan tentang kehamilannya ini pada Diana tapi kakaknya itu tak menunggu lama untuk menanyakan hal yang membuatnya penasaran itu.


"Kau mengandung?" tanyanya lirih.


Hal itu tak urung membuatnya tersentak karena terkejut.


"Da- darimana Kakak tau?" tanyanya tergagap.


Diana menghela napas berat. Memang tak ada solusi lain untuk hubungan Hafiz dan Yola ini selain perpisahan


"Mestilah saye tahu. Saye pun perempuan juge. Saya dah punya punya anak dua orang, tak tengok ke? Jadi mestilah saye tahu ciri wanita mengandung macam mana," jawabnya.


"Oh ...." gumamnya lirih.


Yola sudah tidak punya alasan apa pun lagi untuk mengelak. Dan akhirnya dia pun mengangguk.


"Kakak benar, aku memang sedang mengandung. Aku sedang hamil 6 minggu," akunya. "Aku ingin memberitahukan ini pada Hafiz, namun aku tak tahu bagaimana memutuskan hubungan kami tanpa harus menyakitinya. Bagaimana pun dia sahabatku sedari kecil. Aku tak bisa begitu saja mengabaikan perasaannya."


Hafiz adalah anak yang orang tua mereka korbankan sewaktu bayi. Kemiskinan membuat ayah dan ibu mereka terpaksa merelakan bayi itu untuk diadopsi Zubaedah, salah satu Puan terkaya di kota Johor. Meski Hafiz pasti bergelimang materi di keluarga Nirwan, sudah pasti rasa bersalah itu ada di diri orang tua mereka khususnya sang Ibu. Hingga dirinya menghembuskan napas terakhir, yang ibu mereka ingat hanyalah bayi itu.


Dan Diana pun mengambil beban dari rasa bersalah itu. Hingga akhirnya di suatu hari, anak yang telah diberikan oleh keluarga Nirwan itu datang kembali mencari mereka, kembali ke keluarga mereka. Karena itu Diana sebisanya ingin membahagiaka adiknya itu apa pun yang terjadi. Termasuk menyelamatkan pertunangan antara Hafiz dan Yola.


Tapi kalau Yola sudah hamil begini dan otomatis telah rujuk dengan suaminya, apa yang akan dia lakukan sebagai seorang kakak? Dia tidak akan mungkin juga membiarkan Hafiz larut dan tenggelam dalam cinta buta ini. Dia harus membantunya meninggalkan Yola.


"Aku ingin memutuskan hubungan kami ini, bisakah kakak membantuku?" tanya Yola membuyarkan pikiran- pikiran Diana.


Diana mengangguk.


"Baiklah kalau macam tu, saya akan mencoba membantu. Tapi kau pun mestilah teguh pendirian. Meski awalnya Hafiz akan sakit hati, tak mengape asal dia boleh paham hubungan korang berdua tak boleh terjalin lagi," kata Diana.


"Aku tak bisa menyakitinya, Kak ...." jawab Yola lirih.


"Mesti!! Pahit dan sakit di awal masih lebih baik daripada manis yang berujung rasa sakit yang bekepanjangan!" kata Diana tegas.

__ADS_1


Benar juga. Yola mengakui itu. Dia tak bisa terus menerus memberi harapan palsu pada Hafiz. Lalu dengan menguatkan tekad dia mengumpulkan keberanian untuk bicara dengan Hafiz.


"Baiklah. Dimana Hafiz?" tanyanya.


"Dia tak pulang semalam. Kakak rasa dia dah pun tahu, soal kau mengandung. Kakak memberi tahunya soal dugaan kakak kalau kau mungkin saat ini tengah mengandung," jawab Diana dengan sedikit rasa yang bersalah.


Yola mengernyitkan keningnya. Kemana Hafiz?Tidak pulang semalaman? Memangnya kemana dia?


Yola segera mengambil ponsel dari dalam tasnya, ingin menghubungi Hafiz. Semalaman dari sore hingga ke pagi Yola mengaktifkan mode silent dan dengan sengaja mengabaikan panggilan Hafiz.


Di layar ponsel Yola bisa melihat ada banyak panggilan tidak terjawab dari Hafiz. Dia jadi merasa bersalah karenanya. Selain dari Hafiz, ada beberapa panggilan tidak terjawab juga dari Yuri. Lagi- lagi Yola heran. Tapi dia ingin menghubungi Hafiz duluan.


Yola belum mendial kontak yang bertuliskan nama Endut itu, saat Yuri kembali menelepon. Yola menerima panggilan itu.


"Iya, Yur? Kamu meneleponku dari tadi malam? Aduh maaf, ya aku baru lihat. Tapi bisa nanti aja ...."


"Si Gen ... eh maksudku Hafiz saat ini ada bersamaku. Dia mabuk berat dan memanggil-manggil namamu, Yol! Boleh ku tahu apa yang terjadi?"


"Mabuk?? Kalian dimana?"


***


Hafiz merasakan berat di kepalanya dan mencoba untuk bangun. Efek kebanyakan minum membuatnya teler seperti ini. Sebelumnya dia tak pernah mencoba untuk minum miras seperti ini. Tapi sakit hatinya pada Yola memaksanya pergi ke pub mencoba menghilangkan beban pikiran akibat Yola.


Hafiz menyingkap selimut yang menutupinya dan mencoba bangun dan duduk. Perlahan dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan ini sekedar untuk mencari segelas air putih. Kerongkongannya kering.


Tapi eh, ini dimana?


Hafiz merasa sisi ranjang di sebelahnya bergerak. Ada orang lain lagi di sini. Dan ya Tuhaaan .... Seorang wanita tengah terbaring membelakanginya di sisi ranjang yang lain. Gadis berselimut itu tampak tak menggunakan busana. Perlahan Hafiz melihat ke bagian bawah tubuhnya sendiri. Dia polos! Lalu dia dengan rasa cemas mencoba sedikit menyingkap selimut yang menutupi tubuh wanita itu.


Dan ya Tuhaaan .... apa yang terjadi? Gadis itu pun nampaknya polos tak mengenakan apa pun. Perlahan Hafiz membalik tubuh gadis itu untuk melihat wajahnya. Siapa dia?


Dan Hafiz rasanya hampir mati berdiri saat dia mengenali seraut wajah itu.


"Yu- Yuri??"


***

__ADS_1


Wah, wah apa yang terjadi ya kawan- kawan reader? Penasaran dengan kelanjutannya.


Like, koment yang banyak dulu gengs ....


__ADS_2