Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Pulang ke KL


__ADS_3

Usai segala urusan akad nikah dan masalah legalitas perkawinan, hari ini Yola, Ilham dan keluarga Nirwan akan bertolak pulang ke Kuala Lumpur. Resepsi pernikahan mereka di sana pun hanya tinggal 4 hari lagi. Oleh karena itu mau tak mau mereka harus gerak cepat karena masih banyak yang harus mereka urusi di sana.


"Ammar beneran mau berangkat dengan Nenek dan Kakek aja?" tanya Yola pada putranya yang tengah asyik bermain catur dengan sang Kakek di ruang depan.


Bocah itu sama sekali tak merasa keberatan ditinggal pulang duluan oleh Mommy, Daddy dan keluarga Nirwan lainnya untuk pulang ke Kuala Lumpur.


"Ya. No problem, Mom. Dua hari lagi pun Ammar akan bertolak pulang dengan Kakek dan Nenek nanti ke KL," kata bocah itu masih dengan keseriusannya bermain catur denga sang Kakek.


"Beneran kamu nggak mau ikut sama Mommy?" tanya Yola masih tak percaya.


"He um," jawabnya acuh. Lalu dia kembali serius pada barisan pion catur hitam miliknya itu.


Beberapa saat berpikir, kemudian Ammar pun melangkahkan pionnya mendekati barisan pion milik sang kakek.


"Checkmate, Kek!!! Uhuuuu!! Ammar menang. Uhuyyyy!! Yipppi!!!" seru anak itu girang saat langkah pion yang dipilihnya berhasil membuat "skak mat" pion raja milik Abimanyu.


Abimanyu memperhatikan lagi dengan seksama pion caturnya satu persatu, mencoba memastikan siapa tahu masih ada celah untuk melarikan diri dari skakmate yang dibuat sang cucu jeniusnya padanya.


"Ya ampun! Sebenarnya ada apa dengan otak anakmu ini?" tanyanya pada Yola yang terlihat sibuk mengecek barang-barang yang akan dibawanya pulang ke Kuala Lumpur.


"Kenapa, Pa?" tanya Yola penasaran.


"Ini Papa udah dua kali kalah loh. Bisa-bisanya anak umur 6 tahun tahu main catur segala," kata Abimanyu sembari mengerutkan keningnya.


Yola hanya terkekeh.


"Yah Papah ... Masa gitu aja heran? Sedangkan Ammar bisa aja memprediksi saham sampai membuat Papa memiliki lebih dari separuh saham PT. Surya Bersinar, apalagi kalau hanya catur? Papa harus tau, cucu Papa nih jenius! Jangan heran Papa kalau cuma beginian," kata Yola sambil tangannya bergerak mengancing restleting kopernya.


Mendengar kata-kata Yola itu Abimanyu spontan teringat akan sesuatu. Dia segera bangkit dari duduknya.


"Yola, kamu ikut Papa sebentar," katanya.


Yola mengernyitkan keningnya.


"Yah, Kakek. Ammar masih nak main. Kakek jangan curang! Kalah nak berhenti main pula!" protes Ammar.

__ADS_1


"Kakek cuma sebentar. Ammar tunggu di sini, ya! Kakek mau bicara dengan Mommy Yola dulu. Nanti kita main lagi," kata Abimanyu.


"Hmmm ... baiklah kalau macam tu," kata bocah itu pasrah.


Yola sendiri tidak paham apa kira-kira yang akan dikatakan sang ayah, Abimanyu padanya.


Dengan pikiran yang dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan, Yola mengikuti sang Papa ke kamar utama, kamar Ratih dan Abimanyu.


Abimanyu masuk ke dalam kamar sementara Yola menunggu Abimanyu di ambang pintu. Yola melihat pria nomor satu di hidupnya itu selain Ilham dan Ammar, membuka pintu lemari dan mengeluarkan map besar dari bawah lipatan baju.


Setelah menutup kembali pintu lemari itu, Abimanyu kembali keluar dan menyuruh Yola untuk mengikutinya.


"Ikut Papa!"


Yola manut mengikuti hingga mereka sampai di ruang kerja Abimanyu di ruang paling belakang lantai atas. Ruang paling tenang dan jauh dari keributan, meski di rumah itu memang jarang ada hal yang berisik karena tuan rumah yang hanya memiliki seorang anakk dan cucu yang tak tinggal dengan mereka.


Abimanyu membuka kunci pintu ruangan itu dan masuk begitu saja diikuti Yola tanpa diminta.


"Yola duduk dulu!" perintah sang Papa lagi sambil mengeluarkan beberapa berkas lagi dari dalam laci.


Abimanyu memasang kaca mata bacanya dan memberikan beberapa lembar kertas pada Yola.


"Kamu baca dulu," kata Abimanyu sembari dia memeriksa kertas yang lain.


"Apa ini Papa?" tanya Yola setelah menerima beberapa lembar kertas itu di tangannya.


Abimanyu tak menjawab melainkan dia menunggu Yola membaca sendiri surat itu.


"Surat pengalihan saham PT. Guna-1 Indonesia? Papa! Ini maksudnya gimana?" tanya Yola tak mengerti.


"Kamu tanda tangan di situ. Nanti kalau dapat waktu yang pas kita bisa ke notaris untuk melengkapi dokumen-dokumen lain yang perlu ditandatangani di depan notaris," kata Abimanyu.


"Tapi buat apaan, Pa? Papa jangan nambah pusing Yola deh," kata Yola frustasi.


"Anak Papa hanya kamu. Nggak ada salahnya Papa mulai menyerahkan PT. Guna-1 padamu mulai dari sekarang," kata Abimanyu.

__ADS_1


"Papa, Papa itu masih sehat kali. Papa jangan bikin Yola pusing deh ah .... Mana Yola lagi hamil. Di KL aja abang udah nggak bolehi Yola lagi masuk N-one, masa iya Yola lagi kondisi begini mesti ngurusin Guna-1 mondar-mandir Malay-Indo. Papa jangan kejam gitu ke Yola, napa?" keluh bumil itu.


"Udah! Kamu tanda tangan aja! Papa bukan nyuruh kamu ngurus N-one sekarang. Ini cuma jaga-jaga aja, siapa tahu besok-besok ada trouble," kata Abimanyu.


"Trouble apaan?" tanya Yola.


"Trouble apa aja bisa terjadi. Udah tanda tangan aja di sini!" suruh Abimanyu.


Yola masih menatap Abimanyu bingung.


"Tanda tangan, keburu yang lain ninggalin kami pulang nanti!" suruh Abimanyu lagi.


Yola akhirnya mau tak mau meski heran terpaksa menanda tangani surat pengalihan saham itu.


Usai menuruti kemauan Abimanyu, gadis itu pun kembali ke bawah, ingin melihat apakah semuanya sudah siap untuk berangkat.


Semuanya nampaknya sudah mulai berkumpul di depan, siap untuk berangkat. Semua koper sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Tak lupa barang seserahan yang dibawa oleh keluarga Nirwan dari Malaysia, dibawa kembali pulang ke sana.


Yola, Ilham dan Mama Zubaedah berada dalam satu mobil yang akan mereka tumpangi menuju bandara. sedangkan rencananya Atok Yahya, Hafiz dan salah seorang anggota keluarga yang dibawa dari Penang itu berada di mobil yang lain. Tetapi hingga semua sudah siap berangkat Hafiz belum terlihat batang hidungnya.


"Hafiz ade dimana? Macam mana kita ni?Dah pun nak bertolak menghilang pula tak nampak batang hidungnya! Nanti kite ketinggalan plane macam mana?" omel Atok dari mobil yang satunya.


"Kau coba tengok kawan kau tu dahulu kat dalam sana! Ade dimana dia ni!" suruh Ilham pada Yola. Pria itu sedang mengecek barang-barang apa yang kira-kira masih ketinggalan.


Yola mengangguk dan segera turun kembali dari mobil. Dicarinya Hafiz di sekitaran rumah besar keluarga Gunawan itu.


"Nduuut!!! O .... Nduuut!!!" panggilnya.


Hafiz tak ada di mana-mana. Namun saat Yola mencari ke belakang di tempat cuci pakaian darurat, Yola melihat pria itu sedang berjongkok sambil berbicara dengan seseorang di hadapannya. Yola maju sedikit lagi, namun saat melihat siapa yang berada di hadapannya, Yola jadi mengurungkan diri memanggil Hafiz dan malah ingin mendengar pembicaraan antara dua insan itu.


Hafiz dan Putri.


****


Kalian kepo juga nggak pembicaraan si Putri sama si Hafiz? Kira-kira apa ya? Like dan komentarnya dulu beib ....

__ADS_1


__ADS_2