
Malam itu di rumah duka tempat jenazah Atok Yahya disemayamkan sebelum dimakamkan esok hari, diadakan tahlilan (pengajian). Di sana terlihat wajah-wajah muram anggota keluarga yang ditinggalkan oleh sang Atok Yahya. Tak ketinggalan Yola dan kedua orang tuanya. Wanita itu tengah memeluk Ammar yang masih tak percaya Atok buyutnya kini telah terbujur kaku di hadapannya.
Nampak mata Ammar berkaca-kaca. Ammar sama halnya dengan Ilham, dia dekat dengan datuk buyutnya. Dia terbiasa tinggal dengan Atok Yahya, bahkan saat Ilham bertugas mengurus N-one Johor dalam waktu berbulan-bulan lamanya. Sekarang sang Atok buyut telah berpulang ke rahmatullah. Grandma Zubaedah dan Mommy Yola menjelaskan padanya bahwa lelaki tua yang selalu menyayanginya itu kini tak akan tinggal lagi bersama mereka. Sang Atok kini telah pindah ke surga-Nya Allah.
"Mom, kenape Atok pindah kat surga?Atok tak sayang lagi dengan kite ke?" tanya bocah itu.
Yola mengusap-usap kepala Ammar.
"Atok sayang dengan kita, dengan Ammar apalagi. Tetapi Allah lebih sayangkan Atok. Allah rindukan Atok. Allah ingin memberikan Atok tempat tinggal yang lebih baik," kata Yola mencoba memberi pengertian pada putranya meskipun dia sendiri sesungguhnya masih belum bisa percaya terhadap apa yang sedang mereka hadapi saat ini.
"Kat rumah kite tak baik ke? Kerana rumah kite kebakaran ke, Mom?" tanya Ammar polos. "Tetapi rumah kite dah pun bagus kembali. Kenape Atok masih pergi?"
Yola memeluk putranya itu.
"Nanti pun kita akan susulkan Atok, Sayang. Semua hanya menunggu giliran saja," kata Yola.
Dalam pelukan sang Mommy kini Ammar mendongak melihat Yola, mencoba mencerna kata-kata wanita yang telah melahirkannya itu.
"Berarti kite pun akan meninggal juge, Mom?" tanya Ammar membekap mulutnya agar tidak menganga.
"Ya, suatu hari nanti," jawab Yola.
"Tapi ... meninggal itu sakit," kata Ammar bergidik.
Yola mencoba tersenyum.
"Tak sakit kalau kita baik, Sayang. Atok orang baik. Tentu dia tidak akan kesakitan sekarang. Dia akan bahagia berada di sana," kata Yola lagi.
"Tapi ..." Ammar masih ingin protes dan menanyakan banyal hal yang masih abu-abu di pikirannya, tetapi kedatangan Ilham membuat sang Mommy Yola menjadi tak fokus lagi terhadap dirinya.
__ADS_1
Ilham yang masih mengenakan pakaian adat melayu karena belum sempat sama sekali untuk mandi, datang dan terburu-buru masuk ke dalam salah satu kamar yang dipilihnya secara sembarang.
"Ammar, kamu tunggu dulu di sini sama Grandma, ya?" bujuk Yola. "Mommy mau datangin daddy dulu."
Ammar mengangguk.
Lalu Yola pun beringsut keluar dari ruang tamu yang dipenuhi banyak orang yang datang untuk melakukan tahlilan dan doa bersama itu. Segera dia mendatangi Ilham ke kamar yang dia masuki tadi.
Tok!Tok!Tok!
Yola mengetuk pintu. Agak lama barulah Ilham membukakan pintu.
"Kenape?" tanya pria itu.
Nada suaranya seperti Yola sedang mengganggunya. Itu membuat Yola mengerutkan dahinya heran.
"Abang, keluar! Acaranya udah mau dimulai. Abang nggak mau ikutan baca doa untuk atok apa?" tanya wanita itu.
"Baiklah kalau macam tu, tunggu sekejap abang mandi dahulu dan berganti pakaian. Nanti abang ikut bergabung kat sana," katanya.
Yola mengangguk masih dengan perasaan bingung campur heran.
"Ya sudah, jangan lama-lama tapi," katanya.
Ilham mengangguk.
Tak lama setelah itu, Yola pun kembali bergabung dengan kumpulan ibu-ibu yang melakukan tahlilan. Sementara kumpulan bapak-bapak dan kaum lelaki pula berada di tempat terpisah.
Setelah Yola pergi, Ilham menyembunyikan tas yang dia bawa dari kantor polisi. Masalah penemuan surat itu belum saatnya orang lain tahu. Selama ini Atok Yahya tak pernah bercerita tentang asal muasal harta keluarga Nirwan pada siapa pun termasuk anggota keluarganya sendiri pastilah karena ada alasannya. Dan sampai semuanya jelas Ilham juga tak akan membiarkan orang lain tahu apa yang menjadi rahasia dari almarhum sang Atok.
__ADS_1
****
Beberapa hari telah berlalu semenjak Tengku Yahya Nirwan meninggal dunia. Kepergiannya masih meninggalkan bekas di hati orang-orang yang mengenalnya khususnya di hati para anggota keluarga. Bagaimana tidak, Tengku Yahya Nirwan dikenal sebagai sosok dermawan dan murah hati. Dan sebagai seorang pemimpin beliau selalu mengayomi para karyawan dan orang-orang yang bekerja dengannya meski pun di akhir-akhir hidupnya, beliau jarang datang ke N-one Grocery. Tetapi satu yang pasti kepergian orang tua itu membuat orang-orang di sekitarnya menjadi merasakan kehilangan yang teramat sangat. Khususnya di hati Ilham.
Pria itu akhir-akhir ini lebih senang menyendiri jika tidak ada hal penting yang perlu dia urus. Dan hari ini pun begitu, Ilham mengurung diri di kamar. Orang-orang rumah yang tak tahu apa-apa pastilah sedang berpikir kalau dia tengah menyendiri akibat masih terpukul karena kepergian orang yang sangat penting dalam hidupnya itu. Ya itu memang benar, tetapi alasan Ilham memilih mengunci dirinya sendiri hari ini adalah tak lain dan tak bukan adalah untuk memeriksa isi surat-surat Salim Gunawan pada atoknya, Tengku Yahya Nirwan. Selama beberapa hari ini dia benar-benar tak sempat untuk mencoba-coba mencuri waktu untuk membacanya dikarenakan dia pun sibuk mengurus pemakaman dan hal-hal yang berkenaan dengan kematian sang Atok di kantor polisi.
Perlahan tapi pasti, Ilham mulai membuka tas Melisa yang akan dibawa gadis itu untuk kabur keluar Malaysia. Di dalam ada beberapa lembar baju-baju wanita itu. Polisi sengaja menyuruh Ilham membawanya sekalian karena di kantor polisi pun barang-barang itu tidak akan ada gunanya.
Dan kini Ilham menemukan amplop besar berwarna coklat. Dari dalam amplop itu, Ilham menemukan banyak amplop-amplop kecil yang warnanya sudah buram termakan usia. Ilham mencoba mengambil satu dan membuka amplop yang ujung mnya sudah dirobek itu lalu mengeluarkan lembaran kertas berisi surat itu.
*Jakarta, 19 September 1998
Kepada Sahabatku Tengku Yahya Nirwan,
Sahabatku, bagaimana kabarmu? Aku harap kau baik-baik saja saat menerima surat ini.
Yahya, aku mengirimkan surat kali ini padamu karena ada yang mengganjal hatiku. Akhir-akhir ini entah cuma perasaanku aku merasa melihat dia. Kau tahu dia siapa maksudku, kan? Dia orang yang berada di kapal Yolanda. Orang yang telah kita ... Ah, sudahlah. Aku merasa tidak nyaman menyebutkannya. Aku melihatnya ada di Indonesia, Yahya. Di sini di Jakarta! Aku merasa sedang di awasinya. Beberapa kali aku hampir celaka karena sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Aku harap itu benar-benar cuma kebetulan. Karena kalau itu sebuah kesengajaan, itu artinya hidupku dalam bahaya*.
Tok!Tok!Tok
Ilham baru membaca sampai di situ saat terdengar seseorang mengetuk pintu. Ilham menghela napas sebal. Siapa lagi yang mengganggunya kali ini?
"Dad!! Dad!! Jom kite makan, Dad! Don't be sad! Atok tak akan suke kalau Daddy macam ni." Suara mungil terdengar membujuk Daddy-nya dari balik pintu.
Ilham akhirnya bangun dari duduknya. Dan saat dia hendak berjalan membuka pintu, ponselnya juga ikut berdering. Ilham memeriksanya. Telepon dari Leon.
"Ya, ada ape?" sapa Ilham.
"Ilham, ade kabar buruk. Jom datang kat N-one!" kata Leon.
__ADS_1
***
Ruwet!!Ruwett!!! Kasihan abang Ilham ne. Sudah jatuh tertimpa tangga dikejar anjing pula. Peribahasanya mungkin begitu kali tepatnya ya guys... Nanti kalau sempat author up 1 part lagi. Maaf akhir-akhir ini author ga up banyak part karena target 60 ribu kata untuk bulan ini sudah terpenuhi. Takutnya kalau keseringan up jadi kebanyakan bab.Mungkin mulai besok tanggal 1 author akan rajin crazy up lagi. Karena itu kalian jangan pelit-pelit like dan koment ya beib ...