Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Abang Kurang Apa?


__ADS_3

"Hahahaha ...!!" Ilham tergelak melihat reaksi Yola yang telah diprediksinya sedari tadi.


"Abaaang!!!" jerit wanita itu makin sebal.


"Ape???" Ilham pura-pura tak merasa ada yang salah.


"Aku mau ruangan kerjaku kembali. Apa-apaan ini, Abaaang?!!" pekik Yola tak terima.


Bagaimana tidak, saat Yola ingin ke ruang kerjanya di divisi marketing tadi, ternyata ruang kerjanya telah ditempati oleh wakil pengarah pemasaran yang telah ditunjuk Ilham menempati posisi Yola semenjak tidak datang bekerja di N-one. Dan oleh wakil pengarah marketing itu, Yola diberi tahu kalau sekarang ruang kerjanya ada di lantai paling atas. Satu lantai yang dikhususkan hanya untuk wilayah presiden direktur dan wakil presiden direktur.


Dan betapa terkejutnya Yola setelah sampai di atas. Satu lantai itu hanya memiliki satu ruang kerja saja. Di dalamnya telah tersedia dua meja kerja lengkap dengan kursinya.


"Kau dah bukan puan pengarah marketing lagi. Jadi bilik kerja kau yang sekarang bukan kat divisiyen marketing lagi. Tetapi ade kat sini!" kata Ilham lagi sembari menarik tangan Yola masuk ke ruang kerja presiden direktur lagi.


"Iya, tapi setidaknya nggak disinilah. Yang benar aja aku sama abang berada dalam ruang kerja yang sama. Ahhh, pokoknya nggak benar ini mah! Ini mah akal-akalannya abang aja biar bisa nempel-nempel terus sama aku. Ya kan???" tuding Yola.


"Akal-akalan tu macam mana? Presiden direktur dan wakil presiden direktur kan memanglah mesti selalu bersama, macam kite ni lah," kata Ilham lagi-lagi tak merasa bersalah.


"Selalu bersama itu kan nggak mesti abang bekerja pun berada dalam ruangan bersama. Ya ampuuuun! Pusing deh!!!" keluh wanita itu sambil memijat-mijat kepalanya yang sakit


Dan semakin Yola kesal, semakin lucu bagi Ilham. Dia semakin bersemangat membuat istrinya itu tambah jengkel lagi.


"Hahaha, usah pening, Sayang! Bilik kerja Yola yang dulu itu untuk Pengarah Marketing yang baru. Dan Yola bilik kerja mase ni bersama abang sahaja kat sini," kata Ilham dengan senyum yang licik.


"Mana boleh kayak gitu!!!!" bantah Yola.


"Kenape tak boleh? Selama ni Atok tak punye wakil presiden direktur sehingge tak de pula bilik kerjanya. Nah mase ni abang dah angkat wakil presiden direktur, abang tak boleh ego pula nak buat buat bilik kerja khusus untuk Yola. Kite nih dah kehabisan bilik. Duduk kat ruang bilik yang sama untuk bekerja, akan berhemat anggaran belanja syarikat," kata Ilham lagi-lagi dengan senyum penuh kemenangan.


Yola menggemeretakkan giginya gemas. Suaminya ini sangat licik terhadapnya.


Masih belum puas dengan jawaban Ilham, Yola masih ingin mengajukan banding dan meminta Ilham mempersiapkan ruangan lain untuknya.


"Abang, jangan begini ... Masa iya di lantai ini hanya ada kita aja, gimana ...."


"Tunggu sekejap, Yola!" kata Ilham saat ponselnya dalam kantongnya bergetar.


Yola mendengus kesal, tetapi tetap mempersilahkan Ilham mengangkat teleponnya lebih dahulu.


"Ape? Mereka dah sampai? Oke ... oke ... kau suruh dan kawani mereka antar semua barang tu kat sini," kata Ilham memerintahkan seseorang di telepon.

__ADS_1


Yola mengernyitkan keningnya heran.


"Siapa, Abang? Barang apa?" tanya Yola ingin tahu.


"Sabar sikit, nanti kau pun akan tahu," kata Ilham.


Yola mengangguk perlahan.


Biarlah, mungkin Ilham perlu beberapa barang sebagai fasilitas mereka untuk bekerja nanti, pikir Yola.


Kini bumil itu memilih untuk berkeliling-keliling lantai paling atas gedung N-one ini. Gedung N-one Grocery berlantai sepuluh ini, terbagi dua meski menyatu. Sisi timur merupakan gedung perkantoran dan pusat segala administrasi N-one. Sementara sisi barat merupakan supermarket pusat N-one Grocery.


Perlahan Yola melangkah ke arah dinding kaca. Lantai ini terlihat seperti ruang kosong yang luas. Hanya ada ruangan kerja Atok Yahya yang diberi batas dan sekat dari kaca tebal lengkap dengan gorden mewahnya.


"Jangan dekat-dekat kat situ! Kau ni fobia tinggi, kan?" kata Ilham memperingatkan.


Dia masih ingat terakhir kali dia melamar Yola di skywalk di Penang. Istrinya itu gemetar ketakutan.


"Nggak kok, aku nggak terlalu gamang di sini, Abang. Mungkin karena disini tak setinggi skywalk yang abang bawa aku waktu itu," kata Yola dengan senyum.


Gedung N-one ini hanya berlantai sepuluh. Sementara skywalk di Penang kemarin saat Ilham membawanya ada di lantai 132. Jelas aja beda! Dan ini lantainya tidak transparan seperti skywalk.


"Kau suke?" bisik Ilham di telinga Yola.


Yola menarik lengan Ilham agar lebih erat memeluknya.


"Hmmm, ini agak sama dengan ketinggian apartemen. Ahhh, aku jadi rindu di apartemen, Abang," kata Yola.


Ilham tersenyum menggoda.


"Kenape? Kat rumah Atok terlalu ramai ke? Ohhh .... abang tahulah ... Yola ni mestilah rindu berdua sahaja dengan abang, kan?" goda Ilham.


"Abang, apaan ... sembarangan!" kata Yola jutek. "Rindu apaan sih? Tiap hari di rumah Atok juga dalam kamar berduaan jg, kan?" cibir Yola.


Ilham tertawa.


"Tetapi kalau kat rumah Atok, ade Mamah, ada Mamah Ratih, ade banyak pembantu rumah," kata Ilham. "Kite tak boleh bebas ehm , ehm ... kat bilik tamu, kat dapur macam kalau di apartemen ..."


"Abaaaang!!!" Yola buru-buru membekap mulut Ilham sebelum lelaki itu mengatakan hal-hal lain yang mungkin akan membuatnya malu. "Jangan ngomong gitu!!!"

__ADS_1


"Kenape? Kite kat sini hanya berdua sahaja," jawab Ilham. "Dan sekejap lagi abang akan buatkan tempat ni jadi macam apartemen kite."


"Haaaa? Maksudnya?"


Belum lagi Ilham menjawab pertanyaan Yola, tiba-tiba dari arah lift barang terdengar suara berisik.


"Pinggir sikit, pinggir sikit ... Hati-hati, hati-hati!"


Yola langsung bergegas mencari tahu ala yang terjadi. Dan alangkah terkejutnya Yola saat ini, karena dari dalam lift barang ada beberapa orang yang sedang mengeluarkan sebuah ranjang baru yang masih terbungkus plastik.


"Tuan, ini barang pesanan Tuan. Kami taruh ni kat mana?" tanya orang-orang itu.


Yola tercengang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"A-apa ini?" tanyanya tak mengerti.


Ilham tak sempat menjawab Yola. Dia memasukkan tangannya ke dalam kantong, merasa puas.


Tak lama terdengar bunyi lift lagi. Leon keluar dari sana.


"Macam mana? Puas tak dengan kasur yang saye pilihkan, Tuan dan Puan Nirwan?" godanya sambil tergelak.


Yola langsung tak sabar menepuk pundak Ilham.


"Abang! Ini apaan? Ada kasur di sini buat apaan?" tanya Yola bingung campur frustasi.


"Hahaha ... buat ape? Buat bumil rehatlah!" jawab Ilham tak merasa bersalah.


"Bu-buat, maksudnya? Abaaaaang!!! Abang ni aneh-aneh aja!Aku ke sini mau kerja, tau! Bukan mau istirahat!" pekik Yola kesal.


"Tak boleh macam tu, kalau kau masih nak bekerja, kau ikut sahaja apa mahu abang. Dengan ade kasur kat sini, kau boleh bekerja sambil tidur, berbaring. Abang ni kurang apa dengan Yola. Televisi mana, Leon?"


"Barang-barang lain masih ade kat bawah. Sekejap diantar kat sini!" kata Leon.


"Apa???" Yola tambah melongo tak percaya. "Abang!!! Abang mau tau abang kurang apa lagi? Abang kurang sehat pikirannya, tau nggak?!!!"


***


Hhahaha intermezzo dulu dari yang tegang-tegang ya beib... jangan lupa like dan komentarnya juga...

__ADS_1


__ADS_2