
"Lucas?"
"Siapa pun namanya," jawab Ratih singkat. "Informan Mama taunya Eva menjalin hubungan dengan salah satu orang terdekat pria itu."
Ilham menghela napas. Dia mencoba mengingat-ingat kembali saat dia berada di apartemennya Yola waktu itu dan mendengar percakapan Eva dan seorang pria. Sepertinya itulah kekasih Eva yang dimaksud Mama Ratih.
Kalau Ilham tidak salah ingat, percakapan Eva dan pria yang Ilham duga kekasihnya itu memang sarat akan kebencian pada Yola, bahkan terkesan ingin menyingkirkan Yola, hingga membuat Ilham ingin cepat-cepat menyingkirkannya ke Alor Setar secepatnya seperti yang telah direncanakannya.
"Ape yang terjadi sebetulnya, Ma? Kenapa Eva memiliki nama yang sama dengan Yola juga? Dan ape yang membuat dia nampak benci sangat dengan Yola?" tanya Ilham.
Lalu tanpa menyembunyikan apa-apa lagi dari Ilham, Mama Ratih pun mulai bercerita tentang aib Abimanyu di masa lalu. Berhubungan di luar batas dengan kekasih yang tak direstui ayahnya, Salim Gunawan, hingga memiliki anak perempuan.
Ratih juga bercerita sedikit yang dia tahu tentang riwayat mertuanya yang pernah mendapat pengalaman menegangkan sekaligus yang megubah hidupnya di sebuah kapal pesiar bernama Yolanda.
"Jadi, kakeknya Yola ingin jika dia punya cucu perempuan, maka nama yang akan diberikan padanya adalah Yolanda. Dan kebetulan waktu anak papa dan Mira yang lahir itu perempuan, jadi dibikinlah oleh papa namanya Yolanda Gunawan, berharap kakek luluh, tapi kakek Salim tetap bersikeras tak mau menerima Mira dan tetap dengan pendiriannya menikahkan mama dan papa Abi. Waktu itu mama tak tahu masalah itu, dan you can see, mama akhirnya menikah dengan papa dan lahirlah anak perempuan pula. Kakek bersikeras memberi nama Yolanda Gunawan padanya. Dan dialah sekarang yang telah menjadi istrimu," kenang Mama.
"Apakah perkahwinan Ilham dan Yola juga termasuk dalam keinginan kakek?" tanya Ilham ingin tahu.
Mama Ratih mengangguk pelan.
"Ya, meski pun awalnya itu karena insiden hilangnya adikmu, Andini di rumah kami tapi sejujurnya Mama dan Papa tak pernah memusingkan hal itu karena waktu itu, kau dan Yola masih kecil, jadi obrolan itu tidak pernah dianggap serius oleh kami. Toh, kalau pun jodoh tak akan kemana, begitu pikiran kami. Tapi siapa yang sangka Mamahmu tetap bersikeras ingin menyunting Yola sebagai menantunya, yah termasuk memaksa menikahkan Yola yang masih bocah denganmu, huffft ..." Mama Ratih membuang napas panjang seraya mengembangkan tangannya pertanda dia tak bisa berbuat apa pun saat itu.
"Kerana itulah Mama Ratih selalu kurang friendly dengan Mamah tiap kali berjumpa?" tebak Ilham dengan senyum.
"Tepat!Tapi janji adalah janji, tak bisa menyalahkan Mamamu sepenuhnya. Dia juga kehilangan putri berharganya karena lalainya kami sebagai tuan rumah," sesal Ratih. "Mama harusnya merasa lebih beruntung. Yola hanya dinikahkan denganmu, meski masih kecil tapi dia masih tinggal dengan Mama, masih bisa menjalani kehidupannya sebagai anak kecil. Meski pun ... pada akhirnya kau tetap mengecewakan Mama juga, Ilham ..."
Ahhh, Ratih mengungkitnya lagi. Sungguh wanita adalah ahli sejarah terbaik!
Ilham segera beringsut mendekati Ratih lagi, dan memeluknya. Saat Ratih tak bosan mengungkit kesalahannya, dia pun ingin menunjukkan kalau dia juga tak akan bosan meminta maaf.
__ADS_1
"Maafkan Ilham, Ma! Ilham harusnya tak berbuat macam tu. Ilham menyesalinya dan itu tak akan terulang kembali, ok? Ilham akan jagakan dan bahgiakan Yola dan cucu-cucu Mama," bujuk Ilham sebelum tangis mertuanya itu pecah.
Setelah Ratih tenang kembali, akhirnya Ilham pun melanjutkan diskusinya kembali.
"Pasal kapal, Ilham pun sempat mendengar tapi tak banyak. Ilham hanya tahu kalau Atok dan kawan Atok, pernah kalahkan perompak dalam sebuah kapal pesiar. Ape itu kapal Yolanda yang mama maksud?" tanya Ilham penasaran.
"Kelihatannya sih begitu. Karena Kakek Salim sangat terkesan dengan kapal itu sampai ingin buatkan nama cucunya dengan nama kapal itu. Setahu Mama, mereka mendapatkan harta rampasan para perampok di sana, yang akhirnya mereka pakai untuk biaya pulang, kenapa?" Ratih balik tanya.
"Hanya tu? Tak ade sesuatu yang lebih berharga lagi?" tanya Ilham tak percaya.
"Yang lebih berharga lagi? Misalnya?" Kini Ratih yang bingung akan pertanyaan itu.
Lalu Ilham pun secara ringkas dan rinci menjelaskan perihal penemuan fakta yang dia dapat dari surat-surat yang sempat dibawa lari Melisa. Dan itu berujung pada keingintahuan Ratih pada surat itu, sehingga mau tak mau dia akhirnya menunjukkannya pada mertuanya itu.
"Tunggu sekejap, Ilham nak ambil dahulu kat kamar," kata Ilham dan segera disetujui Ratih dengan anggukan.
"Udah selesai meeting rahasia dengan Mrs. Mertua?" sindir Yola dengan cibiran.
Ilham hanya geleng-geleng kepala tak menghiraukan cibiran Yola. Segera dia menuju lemari dan mengambil amplop besar berisi surat-surat dari Salim Gunawan, kakeknya Yola.
"Apaan tu?" tanya Yola penasaran.
"Tak payang pening pasal ni. Kau peningkan sahaja dahulu barang beli belahmu tu. Nak taruh dimane semua tu?" ledek Ilham yang melihat tempat tidur mereka dipenuhi barang belanjaan sekarang.
Tak mempedulikan tanggapan Yola lagi, Ilham pun segera kembali ke ruang tamu tempat dia dan Mama Ratih bicara tadi.
"Ini, Mah," katanya seraya menyerahkan amplop besar yang diisi oleh surat-surat Atok Salim pada Atok Yahya.
Dengan sigap, Ratih pun segera mengeluarkan amplop-amplop kecil berisi surat itu dari amplop besar coklat di tangannya. Lalu ia pun mulai membaca satu persatu surat itu. Tak lama baginya untuk menuntaskan membaca semua itu.
__ADS_1
Ilham dapat melihat Mama Ratih yang terlihat sering mengernyitkan keningnya.
"Menurut Mama macam mana?" tanya Ilham meminta pendapat Ratih sebagai orang yang sangat kenal dengan Salim Gunawan.
Ratih menarik napas panjang sebelum akhirny dia meletakkan amplop berisi surat-surat itu di atas meja.
"Mama betul-betul nggak tau soal patung emas dan montha somnang yang dimaksud kakeknya Yola. Tapi menurut Mama sepertinya kita harus lihat juga surat balasan dari Atokmu pada kakek Salim agar kita bisa menyimpulkan dan tidak sepihak begini," usul Mama Ratih.
Ilham mengangguk-angguk setuju.
"Tapi macam mana?"
"Surat dari kakekmu sudah pasti nggak ada di sini, melainkan di Jakarta. Itu pun kalau masih ada. Gini aja deh, nanti kalau mama pulang mama cariin gimana? Terus Mama kirimin ke sini?"
Ilham akhirnya mengangguk setuju. Pembicaraan Ilham dengan Mama Ratih nampaknya menemui titik terang.
"Soal Yola ..." Mama Ratih bertanya hati-hati. "Dia nggak sampai tahu kan kalau Eva adalah anak Papa?"
Ilham mengangguk.
"Yola, tak tahu pasal tu ...."
Baru saja Ilham menjawab pertanyaan Mama Ratih, tiba-tiba suara seseorang terdengar syok mendengar percakapan mereka.
"Apaaa??!! Eva anak Papa gimana maksudnya??"
***
Nah lo? Gimana ini terbongkar satu-satu deh ... Jangan lupa likey dan komentnya ya reader aku ...
__ADS_1